Bersepeda ke Kota Bogor

January 24, 2012

Bersepeda adalah salah satu kesukaan saya yang masih bisa saya jalani saat ini. Setiap ada waktu saya akan berkeliling daerah-daerah di sekitar rumah dengan sepeda tua nan butut. Olah raga sekaligus jalan-jalan refreshing. Selain untuk mengenal daerah-daerah baru, dalam kesendirian saya melakukan refleksi dan pendekatan diri kepada Nya. Ini adalah bagian waktu khusus untuk menyendiri dan berfikir santai dan bebas. Dalam kesendirian saya merasa sering bis “mengobrol” denganNya. Bahkan saya merasa sering mendapatkan bisikan dan kekuatan dari Nya. SuaraNya sangat jelas terdengar saat saya benar-benar dalam kesendirian dan kesunyian. Saat saya tersesat di jalan dengan kondisi badan yang sangat lelah itulah saya bisa merasakan kesunyian itu. Hingga saya dengan mudahnya bisa “berdialog”. Hasil dialog ini adalah dengan cepat dan mudah jalan yang benar saya temukan. Atau saat saya kehabisan nafas dan otot-otot kaki sudah sulit digerakkan, tiba-tiba tenaga yang luar biasa muncul. Kadang kala saya sendiri heran dengan hasil yang saya peroleh. Dengan pikiran normal saya merasa tidak mampu, tetapi begitu saya berdoa dan percaya, semuanya tercapai dan terjadi.

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengatakan perjalanan seperti ini adalah bagian dari perjalanan spirtual saya. Bukan hanya jalan-jalan untuk senang-senang, tetapi saya berusaha mengisi sisi ruang spiritual saya yang kosong. Pada kesempatan seperti ini saya melakukan banyak doa, refleksi diri, dan pendekatan padaNya. Hasilnya, saya merasa “akrab” sehingga tanpa ragu dan segan saya berterimakasih, bersyukur, atau meminta sesuatu. Tanpa malu saya bisa berdoa dan minta sesuatu baik untuk diri sendiri, keluarga, atau orang-orang yang perlu saya doakan. Lebih lanjut lagi, saya mendapatkan kepuasan lahir batin, kesehatan badan, dan bertambahnya kedekatan saya denganNya.

Kembali ke bersepeda. Dulu pernah terbersit untuk bersepeda ke Bogor. Sudah lama dan tidak terpikir lagi. Kebetulan akhir tahun 2011 saya kembali ingat akan keinginan ini. Kebetulan saya cuti akhir tahun untuk mengurangi jumlah cuti yang begitu banyak. Tepat 28 Desember 2011 saya jalankan niat ini. Pagi-pagi pukul 5:00 saya sudah terbangun dan langsung gosok gigi dan cuci muka. Setelah berganti sepatu, baju, dan helm sepeda langsung ambil sepeda dan berangkat. Sebelumnya sempat ragu, saat bangun tidur cuaca gerimis. Tapi tidak lama kemudian gerimis berhenti. Akhirnya saya niatkan untuk berangkat. Saya percaya kalau saya punya niat semua halangan pasti akan dengan mudah dihadapi. Berbekal air 700 ml, uang saku sekedarnya, dan KTP saya berangkat. Saya tengok jarum jam menunjukkan pukul 5:30. Masih kelihatan gelap dan mendung tebal bergelayut. Sepeda mulai saya kayuh. Keluar kompleks BSD langsung ketemu jalan Rawabuntu, ambil arah kiri ke arah Taman Tekno BSD. Setelah Taman Tekno BSD akan ditemukan jalan Serpong Raya, ambil arah ke kiri lagi tujuan Perempatan Muncul. Biasanya perempatan ini macet parah. Kebetulan tidak macet, mungkinmasih pagi dan kendaraan belum padat. Dari perempatan ini ambil lurus terus ke arah Gunung Sindur. Tidak jauh dari Perempatan Muncul akan ditemukan kompleks Puspitek Serpong. Setelah komplek ini kanan kiri jalan banyak tanah dan kebun kosong dengan sedikit pemukiman warga. Ada juga komplek perumahan yang baru akan dibangun. Hanya ada gerbang utamanya saja. Tidak terlalu jauh dari sini akan ketemu Perempatan Pasar Prumpung. Arah kiri tujuan Parung, ke kanan saya tidak tahu arah tujuannya, sedangkan lurus terus ke depan arah Ciseeng. Saya ambil arah lurus terus ke arah Ciseeng. Di sepanjang kanan kiri jalan dipenuhi dengan rumah warga. Rasanya di sepanjang jalan ini banyak peternakan ayam. Hal ini terasa dengan aroma kotoran ayam yang sangat tajam. Bagi yang belum biasa aroma ini sangat menggangu sekali.

Di ruas jalan ini disebelah kiri jalan akan ditemukan tempat wisata air panas Batu Kapur. Lokasi persisnya tidak di sebelah jalan tapi harus masuk gang kira-kira 100 m. Masih lurus terus akan ditemukan perenpatan Ciseeng. Arah kiri ke pasar Parung, kanan arah ke Ciseeng, dan lurus terus arah Bogor. Saya ambil arah lurus. Sepeda terus saya kayuh. Jalan mulai menanjak, tanjakan landai yang sangat panjang harus saya atasi. Nafas mulai terengah-engah. Keringat deras mengalir dan sepenggal doa saya panjatkan. Hingga akhirnya ruas jalan ini terselesaikan dengan ketemunya jalan raya Bogor. Di pertigaan sisi sebelah kiri (arah pasar Parung) ada kedai kopi. Seperti biasanya, di sini saya sejenak beristirahat. Teh hangat manis saya pesan dan beberapa potong pisang goreng cukup untuk menggajal perut.

Kira-kira 20 menit kemudian, kembali sepeda saya kayuh ke arah Bogor. Jalan raya Bogor relatif lebar dan beraspal halus. Di kanan kiri jalan masih banyak pohon besar bertajuk rimbun. Hanya saja volume kendaraannya tinggi. Diperlukan kewaspadaan ekstra. Banyak sekali angkot yang berhenti mendadak di sembarang tempat. Ditambah lagi pengendaran motor yang kurang tertib berlalulintas. Saya selalu memposisikan diri berlalulintas yang aman dengan harapan keselamatan semua pengguna jalan terjaga.

Jalan Raya Bogor terus saya susuri, hingga ketemu Pertigaan Semplak. Seingat saya, ke arah kanan menuju Lanud Atang Sanjaya dan Bogor kota. Tapi saya tidak begitu yakin dan hal ini saya tanyakan pada warga setempat. Ternyata benar, pertigaan ini adalah Pertigaan Semplak. Kembali sepeda saya kayuh menyusuri jalan raya Semplak. Di kawasan ini terdapat komplek Angkatan Udara. Selain lapangan udara, komplek ini juga dilengkapi dengan perumahan untuk anggota AURI. Setelah komplek ini terlewati akan ditemukan perempatan Bubulak. Ke arah kiri menuju jalan raya Bogor-Parung, ke kanan menuju terminal Bubulak dan Dramaga, dan lurus ke arah Bogor. Saya ambil lurus ke arah Bogor. Tak jauh dari sini di kanan kiri mulai ditemui pohon-pohon kenari yang besar-besar sekali. Ini salah satu hal yang saya suka dari kota Bogor. Banyak jalan dinaungi dengan pohon-pohon besar. Ahaa… Saya sudah masuk kota Bogor. Semangat baru muncul lagi. Semakin semangat sepeda saya kayuh. Tidak lebih dari 15 menit saya sudah sampai di pertigaan jalan Semeru. Terus saya susuri jalan yang padat dengan pedagang kaki lima hingga tembus pertigaan di Jembatan Merah. Sepeda saya arahkan ke kiri menuju Jl. Kapten Muslihat hingga ketemu lampu merah sebelah gereja Kathedral Bogor. Saya ambil arah kanan ke arah pasar Bogor. Terus setelah melewati Pasar Ramayana belok melewati depan gerbang Kebun Raya Bogor. Jalan menurun dan sedikit menanjak hingga ketemu Tugu Kujang di depan kampus Institut Pertanian Bogor. Sampai di sini sepeda saya sandarkan di dinding tugu. Saya sujud syukur dengan hasil yang saya capai. Benar-benar saya tidak menduga bahwa saya bisa sampai di tempat ini hanya dengan sepeda tua. Terimakasih Tuhan, terima kasih Tuhan ….


Di tempat ini saya tidak lama, tidak lebih dari 10 menit. Rencana saya mau istirahat di tempat lain. Kembali sepeda saya kayuh ke arah Pasar Bogor. Sampai depan gerbang Kebun Raya Bogor sepeda saya tuntun masuk ke halaman depan loket tiket masuk. Sepeda saya parkirkan. Sebagian air di tromol air mulai berpindah ke perut. Sejenak saya tarik nafas dalam-dalam menikmati udara segar. Setelah saya kira-kira 20 kali tarikan nafas panjang badan mulai segar dan lebih tenang. Saya mulai menenangkan diri, mencoba menarik diri dari keramaian dengan menunduk konsentrasi. Kembali saya dekatkan diri saya padaNya. Semua puji dan syukur saya haturkan atas segala berkat-berkat, anugrah, dan kemurahan yang telah saya terima darinya. Tak lupa pula saya keluhkesahkan segala beban, derita, kesulitan, dan semua tantangan yang harus saya tanggung kepadaNya. Saya selipkan pula beberapa penggal doa untuk orang-orang yang saya kasihi. Ia berasa dekat sekali dengan saya. Saya sungguh percaya bahwa Ia mendengarkan keluh kesah dan doa-doa saya. Pendek kata saya bisa curhat sebebas-besarnya di sini.


Kurang lebih 40 menit kemudian, kembali sepeda saya kayuh. Tujuannya pulang ke rumah. Saya pulang melalui jalur yang sama dengan jalur berangkat. Ketika mulai masuk Jl Semeru saya baru sadar jalan menurun dengan tajam. Berarti saat berangkat tadi saya harus mengalahkan jalan yang menanjak. Jalan ini terus menurun hingga Pertigaan Semplak-Jl Raya Bogor Parung. Ruas jalan ini relatif mudah dilewati. Karena jalannya menurun tidak perlu tenaga yang banyak dan waktu tempuhnya pun singkat.

Dari jalan raya Parung Bogor kembali saya ambil jalan potong ke arah BSD, di Pertigaan setelah Telaga Kauhipan. Lurus terus ke perempatan Ciseeng, perempatan Prumpung, Puspitek Serpong, Taman Tekno BSD, dan masuk ke Perum BSD. Saya berangkat pukul 5:30 sampai di rumah lagi pukul 12:20 dan jarak yang saya tempuh kira-kira 82.5 km.
Begitu sepeda saya sandarkan di halaman rumah, kembali saya menunduk kepada mengucap syukur atas semua yang telah terjadi. Terimakasih Tuhan ….

Semoga bersepeda ke Bali atau ke Flores, atau keliling Eropa akan terjadi di suatu hari nanti. In deepest of faith ….

Gedung BEI, 24 Jan 2012


Jebakan Monyet di Cinangka, Anyer, Banten

January 12, 2012

Pada libur Lebaran Haji (Idul Adha) 6 November 2011 yang lalu saya diajak tepatnya diundang kakak ipar saya ke kebunnya di Cinangka, Anyer, Banten. Ipar saya dan beberapa temannya akan melakukan kurban di sini. Sekitar pukul 6:00 pagi saya berangkat ke Anyer. Sedangkan ipar saya bersama keluarga, beberapa orang saudara yang lain, dan teman-temannya sudah datang sejak sehari sebelumnya. Mereka menginap di sini. Keluar tol Cilegon Barat, mobil langsung saya arahkan ke Anyer. Sampai di pertigaan Cinangka, Anyer belok kiri. Tepat di pertigaan ini ada minimarket satu-satunya di kawasan ini. Jalan arah ke kiri mengarah ke Pondok Pesantren Nurul Fikri, atau bisa juga ke arah Pandarincang, Labuan, atau Serang kota. Kebun ipar saya ada di sekitar Pondok Pesantren Nurul Fikri.

Kira-kira pukul 8:00 saya sudah sampai kebun. Seekor kerbau muda sudah tertambat pada sebuah pohon besar. Beberapa orang warga sekitar sudah datang berkumpul. Tidak beberapa lama kerbau dipotong. Karena tidak tahan melihat kerbau dikuliti, saya ajak anak, mantan pacar, keponakan, dan kakak ipar yang lain jalan-jalan. Sambil menunggu kerbau diolah dan jam makan siang tiba. Kebetulan sedang di Anyer, tidak salahnya jalan-jalan ke pantai. Pasti menarik dan menyenangkan untuk melepasakan stress. Mobil kembali saya arahkan ke arah pantai. Sampai pertigaan Cinangka saya ambil kanan. Hanya beberapa puluh meter dari sini saya masuk kawasan pantai. Saya putuskan masuk tempat ini karena tidak terlalu jauh dari pertigaan Cinangka, sehingga kalau mau pulang ke kebunpun bisa lebih cepat.

Pertigaan Cinangka, Anyer, Banten (Sumber: Google.com)


Masuk area pantai dibatasi dengan pintu buka tutup semacam gerbang. Saya diminta uang masuk Rp 50 000 untuk satu kendaraan. Tiket (sangat) butut disodorkan. Mahal untuk ukuran saya, karena saya hanya masuk area kosong yang menghadap laut. Setelah tawar menawar akhirnya sepakat saya bayar Rp 40 000. Mobil saya arahkan ke arah pantai. Oooo, ternyata ada saung-saung kecil di antara pohon kelapa. Saya pikir layaklah saya bayar Rp 40 000 dengan tambahan fasilitas ini. Mobil saya parkirkan di sebelah salah satu saung. Turun mobil ada beberapa orang datang menghampiri. Ada yang menawarkan makanan, minuman, dan tikar untuk duduk. Semua saya tolak dan kebetulan tidak perlu.

Anak-anak langsung masuk ke laut. Main air, main pasir, lari kesana kemari, dan photo-photo. Saya hanya memperhatikan mereka tanpa ikut berbasah-basah. Cukup berdiri di bibir pantai dengan sesekali kaki terkena air yang terdorong oleh gelombang. Kira-kira 2 jam kemudian saya ajak anak untuk pulang. Kebetulan juga sudah siang dan perut mulai terasa lapar. Sementara anak-anak mandi dan berganti baju, saya kembali ke mobil. Saat itu datang orang yang menawarkan tato. Saya minta dibuatkan satu tato di tangan. Sambil ditato saya duduk di saung. Tidak lebih dari 20 menit kemudian tato selesai dan anak-anak yang ganti baju sudah selesai. Saat itu datang seseorang dengan mengendari motor datang dan bertanya “Jadi sewa saung, Pak?”. Saya kaget, pertama saya kira saung ini fasilitas gratis yang disediakan. Kedua saya hanya duduk sebentar dan kebetulan juga sudah mau pulang. Masa saya harus bayar. Saya jawab “Tidak, Pak.” Orang tersebut dengan ketus bilang kalau “Kalau gak mau sewa bilang dari tadi! Dan jangan duduk di situ!.” Dia terus-terusan mengomel yang tidak jelas maksudnya. Saya jadi kesal sekali. Di sekitar saung tidak tertulis saung disewakan atau ada yang datang dan bilang saung disewakan. Tak ada tanda saung tersebut disewakan. Jadi saya tidak tahu. Tapi kenapa saya dimaki-maki? Siapa yang salah? Mau ajak ribut orang bodoh macam gini juga tidak ada untungnya. Lebih baik cepat pergi dari sini. Dengan perasaan dongkol saya keluar dan pulang.

Saung sumber masalah itu.


Liburan dengan harapan senang karena bisa menghilangkan stress kantor malah dapat makian akibat jebakan monyet. Rasanya tidak ada keinginan untuk berlibur ke pantai Anyer lagi. Kapok !!. Kakak ipar saya pun bilang kejadian seperti ini banyak dan biasa terjadi di kawasan Anyer hingga Labuan. Makanya kawasan wisata ini dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja. Tidak tambah maju bahkan tambah sepi. Banyak orang yang sudah pernah datang tidak mau kembali lagi, imbuhnya. Haedeuuh….

Gedung BEI, 12 Jan 12


Dekat dengan Nya

January 5, 2012

Dalam budaya Jawa hidup diibaratkan sebagai bagian dari sebuah perjalanan. Hidup ini hanya sekedar perhentian untuk beristitahat sejenak dari suatu perjalanan panjang. Setelah beristirahat sejenak tiap orang harus melanjutkan perjalanan. Makanya dalam istirahat yang singkat ini orang dituntut untuk tetap waspada, bijaksana, dan tawakal sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan apakah itu? Hingga saat ini pun saya belum menemukan jawabannya.

Dalam hidup ini sudah hampir pasti tiap orang menghadapi masalah, lepas dari besar kecil atau berat ringannya masalah. Tiap orang juga punya kapasitas yang berbeda-beda dalam menghadapi masalah yang sama, tergantung dari pengalaman, kemampuan, dan resistensi masing-masing. Yang lebih penting lagi, kita harus selalu belajar dan terus belajar dalam menghadapi setiap permasalah. Semakin banyak belajar, kita menjadi semakin pandai dan dewasa dalam menyelessaikan permasalah-permasalahan yang ada.

Saya pribadi bukan orang yang sempurna. Jauh dari sempurna. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Untuk itu saya selalu terus belajar, belajar menggapai suatu bentuk yang ideal dan sempurna. Memang tidak mudah untuk belajar. Banyak sekali kesulitan dan tantangan yang menghadang. Bahkan sering jatuh. Tak jarang pula masalah yang ada melewati batas kesabaran dan kemampuan saya. Istilah saya melewati limit atau batas saya. Pada titik ini hanya satu cara yang bisa saya lakukan, pasrah dan berserah sepenuhnya padaNya. Dengan demikian saya merasa tidak sendiri. Bahkan merasa dekat, begitu dekatnya saya merasa ada yang menggendong, melindungi, bahkan memberikan kekuatan baru.

Logika terbaliknya adalah ketika saya ingin dekat denganNya saya membawa diri dalam kesulitan yang berat. Atau suatu kesusahan. Saya jadi ingat banyak orang menyusahkan atau menderitakan diri untuk dekat dengan Nya. Contohnya dengan melakukan aneka puasa, mati raga, atau melakukan tapa brata. Secara fisik hal ini membawa ke penderitaan, tetapi secara spiritual hal ini memberikan kekuatan dan mendekatkan diri pada Nya. Begitu dekat dan akrab dengan Nya, apa saja yang diminta atau dimohon pasti didengar dan dikabulkan. Cara ini sudah dilakukan sejak dulu kala dan hingga saat ini cara seperti ini masih dilakukan.

Spiritualitas adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan ini. Hampir pasti tiap orang memiliki nilai-nilai spiritualitas. Yang membedakan hanya tingkatannya saja. Dari pengamatan saya, orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi akan lebih ramah, dewasa, sabar, dan bijaksana. Bisa saja pengamatan saya salah. Tapi itu yang saya rasakan. Untuk itu, saya terus belajar untuk menggapai tingkatan spiritualitas yang semakin tinggi. Dengan harapan untuk hidup lebih tenang, damai, dan dekat dengan Nya. Amin

BEI, 5 Jan 2011


Dekat dengan Nya

January 5, 2012

Dalam budaya Jawa hidup diibaratkan sebagai bagian dari sebuah perjalanan. Hidup ini hanya sekedar perhentian untuk beristitahat sejenak dari suatu perjalanan panjang. Setelah beristirahat sejenak tiap orang harus melanjutkan perjalanan. Makanya dalam istirahat yang singkat ini orang dituntut untuk tetap waspada, bijaksana, dan tawakal sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan apakah itu? Hingga saat ini pun saya belum menemukan jawabannya.

Dalam hidup ini sudah hampir pasti tiap orang menghadapi masalah, lepas dari besar kecil atau berat ringannya masalah. Tiap orang juga punya kapasitas yang berbeda-beda dalam menghadapi masalah yang sama, tergantung dari pengalaman, kemampuan, dan resistensi masing-masing. Yang lebih penting lagi, kita harus selalu belajar dan terus belajar dalam menghadapi setiap permasalah. Semakin banyak belajar, kita menjadi semakin pandai dan dewasa dalam menyelessaikan permasalah-permasalahan yang ada.

Saya pribadi bukan orang yang sempurna. Jauh dari sempurna. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Untuk itu saya selalu terus belajar, belajar menggapai suatu bentuk yang ideal dan sempurna. Memang tidak mudah untuk belajar. Banyak sekali kesulitan dan tantangan yang menghadang. Bahkan sering jatuh. Tak jarang pula masalah yang ada melewati batas kesabaran dan kemampuan saya. Istilah saya melewati limit atau batas saya. Pada titik ini hanya satu cara yang bisa saya lakukan, pasrah dan berserah sepenuhnya padaNya. Dengan demikian saya merasa tidak sendiri. Bahkan merasa dekat, begitu dekatnya saya merasa ada yang menggendong, melindungi, bahkan memberikan kekuatan baru.

Logika terbaliknya adalah ketika saya ingin dekat denganNya saya membawa diri dalam kesulitan yang berat. Atau suatu kesusahan. Saya jadi ingat banyak orang menyusahkan atau menderitakan diri untuk dekat dengan Nya. Contohnya dengan melakukan aneka puasa, mati raga, atau melakukan tapa brata. Secara fisik hal ini membawa ke penderitaan, tetapi secara spiritual hal ini memberikan kekuatan dan mendekatkan diri pada Nya. Begitu dekat dan akrab dengan Nya, apa saja yang diminta atau dimohon pasti didengar dan dikabulkan. Cara ini sudah dilakukan sejak dulu kala dan hingga saat ini cara seperti ini masih dilakukan.

Spiritualitas adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan ini. Hampir pasti tiap orang memiliki nilai-nilai spiritualitas. Yang membedakan hanya tingkatannya saja. Dari pengamatan saya, orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi akan lebih ramah, dewasa, sabar, dan bijaksana. Bisa saja pengamatan saya salah. Tapi itu yang saya rasakan. Untuk itu, saya terus belajar untuk menggapai tingkatan spiritualitas yang semakin tinggi. Dengan harapan untuk hidup lebih tenang, damai, dan dekat dengan Nya. Amin


Singapore Edition: Park Regis Hotel

November 29, 2011

Salah satu hotel yang masih relatif baru di Singapore adalah hotel Park Regis. Hotel bintang 4 ini dibangun kira-kira 3 tahun yang lalu. Lokasinya sangat strategis dan berada tak jauh dari kawasan pusat bisnis Raffles Place. Untuk ke Raffles Place dari hotel tinggal menyusuri Chanal Road dan masuk Culia Street. Culia Street sudah masuk kawasan bisnis Raffles Place. Jalan kaki tak lebih dari 15 menit. Kalau malas jalan kaki bisa menggunakan jasa MRT. Di Depan hotel tinggal masuk underground Clarke Quay MRT Station (di bawah Central Mall). Naik MRT arah Harbour Front turun di Quatram Park untuk pindah jalur kereta. Di sini naik MRT ke arah Pasir Ris dan turun di Raffles Place MRT Station. Gampang sekali. Saran saya lebih baik jalan kaki saja. Sebab kalau naik MRT jalan ke peron MRT mungkin sudah separuh jalan hotel ke Raffles Place. Selain MRT bisa menggunakan alternative moda transportasi yang lain, taksi. Tapi perlu diingat, tarif taksi relatif mahal jika dibandingkan dengan MRT. Silahkan pilih alternatif transportasi sesuai dengan kemampuan kantong Anda.

Peta Lokasi Park Regis Hotel Singapore


Park Regis Hotel by Google


Di belakang hotel ini adalah kawasan China Town. Kawasan ini lebih mirip kawasan Glodok di Jakarta. Untuk menuju ke kawasan ini cukup jalan kaki tak lebih dari 10 menit. Atau kalau mau nongkrong untuk bengong, tinggal jalan kaki ke sebelah utara Central Mall. Di sini kalau malam banyak sekali anak muda nongkrong dan kongkow-kongkow di pinggir sungai Singapore. Pinggir sungainya jangan dibayangkan pinggir sungai Ciliwung dekat Jalan Sudirman Jakarta. Di Singapore, pinggir sungainya ditata sedemikian rapi dan bersihnya sehingga sangat nyaman untuk duduk-duduk santai.

Singkat cerita, secara umum hotel ini bagus, bersih, dan sangat mudah dijangkau.Dekat dengan pusat bisnis, dan sarana transportasi umum. Hanya saja menu sarapan paginya tidak terlalu banyak. Ada hotel lain yg lebih tua usianya, tapi pilihan menu sarapannya lebih bervariasi.

Gedung BEI, 29 Nov 2011

Trotoar di Depan Park Regis Hotel


Park Regis Hotel Building


Central Mall di depan Park Regis Hotel


Interior salah satu kamar Park Regis Hotel


Bad di salah satu kamar Park Regis Hotel


Shower


Toilet


Wastafel


Perlengkapan mandi


Singapore Edition: Masakan India

November 23, 2011

Saat itu saya stress dengan pekerjaan saya. Sudah susah kerjaannya, deadline-nya pun semakin dekat. Saking sibuknya sampai lupa makan. Ingat makan siang setelah jam makan siang lewat jauh. Kalau ingat kerjaan malas rasanya untuk turun gedung cari makan. Tapi demi kesehatan saya terpaksa turun cari makan. Sampai di foodcourt pun bingung mau makan apa. Sudah beberapa hari sebelumnya saya makan Singaporian food. Bosan juga rasanya. Pikir-pikir tidak ada salahnya untuk mencoba menu lain. Akhirnya saya pilih menu masakan India. Mumpung di sini ada, kalau di Jakarta menu masakan India akan lebih sulit ditemukan. Akhirnya saya memesan Nasi Briyani dan teh tarik.

Nasi Briyani

Ini kali pertama saya mencoba makan Nasi Briyani. Menu berisi nasi kuning, sayur acar, dan ayam goreng. Nasi kuning dengan buliran nasi yang panjang cenderung pera (sekali) dan sangat khas dengan rasa kapulaganya. Rasanya searah dan sejalan dengan Nasi Kebuli (masakan Arab). Hanya saja nasi Briyani tidak berminyak dan tidak dicampuri dengan potongan daging (kambing). Lauk ayam ada dua pilihan, ayam goreng atau ayam kari. Saya pilih ayam goreng.Ukuran paha ayamnya jauh lebih besar dibandingkan dengan ayam yang biasa dijual di warung-warung nasi di Jakarta. Rasanya dan tekturnya lebih mirip ayam kampung yang banyak dijual di warung-warung nasi di Jawa tengah. Sedangkan acar berisi kol, buncis, mentimun, dan buah nanas. Untuk saya, sayuran ini memberi sensasi rasa manis, pedas, dan renyah di mulut. Sangat segar sebagai pengimbang rasa kapulaga yang kuat.

Pada kesempatan lain saya mencicipi roti prata. Belakang saya baru tahu, nama lain roti prata adalah roti canai. Di Singapore biasa disebut dengan roti prata, sedangkan di Malaysia disebut dengan roti canai. Satu lagi, saya pernah mendengar roti maryam. Apakah roti maryam sama dengan roti prata ? Saya tidak tahu dan tidak begitu yakin kalau sama. Tapi kalau dilihat dari gambar-gambarnya tampak mirip.

Roti Prata

Roti prata kalau di Jakarta mirip dengan martabak telur. Adonan tepung terigu dibanting-banting hingga terbentuk lembaran tipis dan lebar. Kemudian lembaran di goreng di wajan yang lebar. Nah di sini bedanya. Kalau martabak telur lembar adonan tipis diberi isi daun bawang, telur, dagaing, dan bumbu kemudian digoreng dengan minyak yang berlimpah. Nyaris semua martabak tenggelam dalam minyak. Sedangkan roti prata diisi dengan telur ceplok atau keju atau bawang atau mutton (daging kambing) dan digoreng dengan sedikit minyak. Hasil akhirnya roti prata masih terasa sebagai roti, sedangkan martabak telur sudah tidak terasa sebagai roti. Roti prata disajikan bersama dengan kari ayam atau kari kambing.

Saya pernah juga mencoba roti canai di kawasan Serpong. Rasanya mirip dengan roti prata. Bedanya roti canai di Serpong lebih tipis seperti kulit lumpia sedangkan roti canai lebih tebal setebal martabak telur. Disajikan dengan gulai kambing, mirip gulai kambing Padang. Rasa gulai kambingnya lebih enak dibandingkan dengan kari di Singapora.

Pernah juga suatu malam saya jalan-jalan di kawasan Little India. Ada satu tempat makan yang sangat ramai sekali. Orang-orang makan begitu lahapnya. Iseng-iseng saya tanya ke salah seorang pelayannya. Apa makanan yang sedang dimakan orang-orang di sini. Dia jawab itu chapatti. Warung ini khusus menjual chappati. Akhirnya saya pesan dua chappati dengan kari ayam. Dari refensi yang saya peroleh di kemudian hari, chappati adalah masakan India, tapi kalau dilihat penjual dan pelayan-pelayannya lebih mirip orang-orang Pakistan. Tapi itu tidak penting. Tidak perluu lama menunggu menu yang saya pesan sudah keluar. Chappati berbentuk lembaran tipis bulat selebar piring makan lebih mirip dengan kulit lumpia. Chappati tidak digoreng tapi dipanggang sehingga tidak basah oleh minyak, dan relatif liat saat disobek. Bukan getas seperti layaknya roti tipis yang dipanggang.

Chappati


Kari ayamnya tidak lebih enak jika dibandingkan dengan kari ayamnya roti prata. Karena rasanya, saya kesulitan untuk menghabiskan 2-3 potong kecil ayam. Tapi saya sungguh menikmati suasana tempat ini. Orang-orang (mayoritas India) begitu menikmati dan makan begitu lahap. Pemandangan yang sungguh menarik dan atraktif. Apalagi saya mengamati mereka sambil minum kopi hitam yang dijual oleh orang China di warung sebelah.

Mantap……


Singapore Edition: Makan

November 22, 2011

Makan adalah salah satu kebutuhan manusia yang paling dasar. Di manapun orang tinggal sudah pasti butuh makan. Oleh sebab itu tiap daerah memiliki jenis dan ciri makan yang berbeda-beda. Secara otomatis pula makanan mempengaruhi kebiasaan dan selera makan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Karena sudah terbiasa makan dengan makanan di daerah tempat tinggalnya, orang biasanya akan kesulitan dengan jenis makanan jika ia pergi dan harus makan di daerah lain. Sebagai contoh; orang Yogya akan kesulitan ketika harus makan makanan Padang, Batak, atau Manado. Mereka akan mengeluh karena bersantan, pedas, dan keras. Demikian pula sebaliknya, orang Padang, Batak, dan Manado ketika mereka harus makan gudeg dan tempe bacem. Mereka akan mengeluh terlalu manis dan “anyep” (tidak ada rasanya). Ini sebuah kenyataan, makanan membentuk pola dan budaya makan dan sebaliknya budaya dan alam membentuk pola makan dan jenis makanan. Keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi dan pada gilirannya membentuk sebuah indentitas yang sangat khas. Maka sekarang dengan mudah kita bisa mengetahui jenis makanan kalau kita tahu budaya atau asal seseorang. Kita bisa tahu makanan orang Padang biasa berkuah santan dan pedas. Makanan orang Manado cenderung pedas, berbahan segar, dan sangat khas dengan masakan ikan. Makanan orang Surabaya cenderung pedas dan asing, dan seterusnya, dan seterusnya.

Demikian juga negara lain, akan memiliki ciri dan budaya makanan yang khas pula. Sebagai contoh negara Singapore memiliki makan yang sangat dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang tinggal di Singapore. Tiga etnis besar negara Singapore adalah Chinesse, India, dan Melayu. Secara otomatis pula tiga budaya masyarakat ini berpengaruh besar pada budaya makanan Singapore. Maka ketiga jenis makanan etnik ini sangat mudah ditemukan di seantero Singapore.

Masakan Chinesse cenderung berkuah bening. Lebih mirip rebus-rebusan. Sayuran dan daging atau sea food direbus bersama dengan kuah bening plus bumbu. Biasanya disajikan dengan kondisi panas. Sangat mirip dengan sabu-sabu masakan Jepang. Menu ini paling banyak dan mudah didapatkan di foodcourt-foodcourt Singapore.

Masakan Melayu lebih mirip dengan masakan Padang. Kebanyakan masakan Melayu bersantan. Untuk ukuran selera saya, masakan Melayu tidak ada enak-enaknya. Warna masakannya cenderung pucat dan tidak membangkitkan selera. Saya suka nasi pera khas masakan Sumatra. Tapi di sini nasinya jauh lebih pera lagi. Lebih mirip nasi setengah matang. Untuk rasanyapun jauh lebih enak masakan Padang di Jakarta. Bumbu dan rempah-rempahnya lebih berani dan sangat kuat terasa di mulut.

Masakan India, saya tidak banyak tahu. Saya hanya sekali atau dua kali saja mencoba India. Mencoba sekedar supaya tahu saja. Atau dengan kata lain pernah mencicipi masakan India. Masakan yang pernah saya coba adalah Nasi Briyani, Roti Prata, dan Chepati. Kuah kari sudah hampir pasti mennyertai menu-menu tersebut. Secara umum masakan India memiliki aroma khas rempah-rempahnya sangat tajam tercium. Mungkin ada campuran kapulaga yang begitu dominan.

Dari seorang temen yang tinggal di Singapore saya mendapat informasi, orang Singapore jarang masak di rumah. Apertemen yang sempit menyulitkan mereka untuk memasak. Sehingga mereka lebih senang makan di luar rumah/apartemen. Selain praktis juga efisien, tidak repot masak dan buang-buang waktu. Pulang kerja sudah makan di sekitar kantor. Sampai di apartemen bisa diisi dengan kegiatan yang lain. Bukan memasak dan makan.

Dengan kondisi seperti ini, warung makan sangat mudah ditemukan di setiap pojok Singapore. Dari mal hingga di pojok-pojok stasiun MRT. Hampir di lantai bawah gedung perkantoran tersedia foodcourt. Kadang kala di kompleks perkantoran tersedia foodcourt dengan ukuran yang sangat besar sekali. Ada satu lantai gedung dengan foodcourt berukuran 100 x 50 m. Dengan area seluas ini berbagai jenis makanan tersedia. Di tempat lain, hampir pasti di lantai bawah mall atau stasiun MRT selalu tersedia foodcourt. Tinggal pilih makanan sesuai dengan selera masing-masing.

Untuk saudara-saudara umat Muslim, tidak perlu khawatir dengan makan halal. Di Singapore foodcourt dengan nama “Banquet Food Court” sudah pasti menyediakan masakan halal. Ini foodcourt halal versi Singapore. Walaupun di foodcourt iini banyak warung makan halal, tapi tetap saja ada yang menjual masakan tidak halal. Hanya saja warung-warung ini menulis kata-kata mengandung babi atau semacamnya besar-besar sehingga sangat mudah tertangkap oleh mata. Kecuali kalau tidak mengerti bahasa Inggris.

Tempat-tempat makan ini biasanya pagi-pagi sudah buka. Dan biasanya tutup sekitar jam 9:00 waktu setempat (Singapore lebih cepat 1 jam dibandingkan dengan waktu Jakarta). Sepanjang minggu buka, bahkan hari Minggu sekalipun. Pernah pada satu hari minggu saya harus masuk kantor. Kantor berada di pusat bisnis Singapore (Raffless Place). Saya khawatir bakal tidak bisa membeli makan. Ternyata warung-warung tersebut buka secara normal. Jumlah pembelinya juga banyak. Sangat ramai tetapi sedikit lebih sepi jika dibandingkan dengan hari kerja.

Untuk harga makanan di Singapore sejauh pengamatan saya relative sama. Baik itu di fourtcourt mall, foodcourt perkantoran, ataupun foodcourt stasiun MRT. Sekali makan berkisar SGD 3 – 6 belum termasuk minum. Porsi dengan harga seperti ini sudah cukup mengenyangkan perut.

Untuk minuman relative mahal, dengan harga SGD 1.5 – 3. Karena minuman mahal warga Singapore jarang yang pesan minuman saat makan. Kebetulan juga masakan Singapore sudah berkuah, sehingga tidak perlu pesan minuman. Dengan sedikitnya orang yang pesan minuman, tiap foodcourt dengan puluhan penjual makanan paling hanya ada satu warung yang menjual khusus minuman termasuk juice. Konon penjual makanan tidak boleh menjual minuman sekaligus. Tapi kebetulan saya pernah melihat warung masakan India menjual minum kopi tarik dan teh tarik. Mungkin ini pengecualian.

Nah sekarang tidak perlu lagi khawatir mencari makanan di Singapore, bukan ??


Singapore Edition: 10 Tempat Berwisata Gratis di Singapura (Kompas)

November 10, 2011

Sumber: Kompas

KOMPAS.com – Mendengar tempat-tempat wisata di Singapura tentunya kita akan teringat pada tempat-tempat terkenal. Sebut saja seperti Universal Studio, Singapore Flyer, Singapore Zoo, Night Safari, Jurong Bird Park, Science Centre dan tempat lainnya.

Tempat-tempat wisata tersebut memang sangat menarik, namun harga yang harus dibayar juga tidak sedikit. Tahukan Anda bahwa di Singapura banyak tempat-tempat wisata yang tidak dikenakan biaya masuk alias gratis. Berikut sepuluh tempat tersebut.

Kampung Arab (Arab Street/Kampong Glam). Terletak di North Bridge Road. Daerah ini terletak Mesjid Sultan (Sultan Mosque) dan Malay Heritage Centre.

China Town. Terletak di area yang dibatasi dengan jalan Upper Pickering Street, Cantonment Road, New Bridge Road dan South Bridge Road. Tempat-tempat menarik yang dapat dikunjungi adalah Kuil Thian Hock Keng, Pura Sri Mariamman, Smith Street Wet Market, dan Food Street.

Little India. Terletak sepanjang Serangoon Road. Tempat menarik untuk dikunjungi adalah Masjid Abdul Gafoor, Sri Veeramakaliamman Temple, Tekka Marked and Little India Arcade.

Katong. Terletak di East Coast Road dan Joo Chiat Road, tempat jajanan makanan yang menarik dari berbagai penjuru, seperti di Geylang Serai, tempat beragam makanan melayu disajikan dengan menarik, tempat makan seafood sepanjang pantai timur dan lainnya.

City Hall dan Padang. Terletak di antara Connaught Drive dan St. Andrew’s Road. Lapangan luas tempat bersejarah berdirinya negara Singapura.

Raffles Hotel. Selain terkenal sebagai hotel pertama di Singapura dengan desian bangunan khas kolonial, di hotel ini terdapat Museum yang menampilkan sejarah mulai dari terbentuknya hotel Raffles hingga karya-karya perancang busana internasional.

Raffles Landing Site. Tempat pendaratan pertama Gubernur Singapura Sir Stamford Raffles. Di area ini yang menghadap Sungai Singapore, terdapat patung replika Raffles yang berwarna putih. Patung asli yang terbuat dari perunggu berwarna hitam terletak di Victoria Concert Hall, sekitar 500 meter dari tempat ini.

Tempat menarik di sekitar ini adalah Clarke Quay, Masjid Omar Kampong Malaka, Kuil Tan Si Chong Su, Esplanade, Patung Merlion, Berlayar di Sungai Singapore dan mengunjungi Asian Civilisations Museum atau Empress Place.

Esplanade/Merlion Park. Tempat yang paling banyak dijadikan obyek foto turis. Terletak di seberang hotel Fullerton, di Taman Merlion, One Fullerton. Cara ke sana bisa dengan naik MRT turun di stasion Raffles Place atau City Hall, dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Bideford Junction Crosswalk. Terletak di daerah Orchard, antara Paragon, Park Hotel at Orchard, Meritus Mandarin Hotel dan Ngee Ann City. Setiap hari mulai pukul 19.30, setiap 30 menit lalu lintas di Bideford Junction akan berhenti selama satu menit.

Selama waktu ini, daerah itu disirami oleh empat skenario tata cahaya yang memesona, yaitu: “Singapura Kota Taman”, “Berjalan Di Air”, “Aurora (Cahaya Kutub Utara)” dan “Langit Malam Berbintang”.

Haw Par Villa. Terletak di Pasir Panjang Road, taman berisi patung dan diorama tentang kebudayaan cina. Lihat juga patung Budha Tersenyum (Laughing Budha), the Goddest of Mercy (Dewa Kasih Sayang), dan Ten Courts of Hell. (Budi Sulis)

Informasi lebih detail tentang wisata gratis di Singapura bisa didapatkan di buku “Budget Traveling: Singapore Update”, diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.


Singapore Edition: Checkers Inn Hotel

October 27, 2011

Setelah pilih-pilih akhirnya saya memutuskan memilih hotel Checkers Inn di kawasan Little India. Saya hanya perlu hotel untuk tidur malam saja. Siang hari sudah pasti jalan ‘nglayap’. Saya sengaja memilih hotel ini karena jaraknya relatif dekat dengan MRT station. Terletak di tengah-tengah Little India MRT station (NS) dan Bugis MRT Station (EW). Jadi kalau mau pergi ke mana-mana mudah mendapatkan sarana tranportasi yang murah. Kebetulan tidak jauh dari lokasi hotel terdapat terminal bus (Victoria Street Bus Terminal) yang menyediakan banyak bus tujuan Johor Bahru, Malaysia. Sungguh strategis untuk saya.

Dari Little India MRT station pintu E hotel bisa dijangkau dengan jalan kaki melalui Buffalo Road lurus terus menyeberangi Serangoon Road. Lurus lagi masuk ke Campbell Street. Berikutnya ada perempatan Clive Street masih lurus lagi hingga menjelang Madras Street, di sebelah kanan akan tampak Checkers Inn hotel. Jalan lain yang bisa dilalui adalah dari Bugis MRT station. Keluar pintu Raffless Hospital masuk ke Rochor Road hingga bertemu dengan perempatan besar . Dari sini belok kanan masuk ke Jalan Besar. Tidak jauh dari sini di sebelah kiri jalan ada Mayo Street. Belok di jalan ini, lurus terus hingga bertemu Perak Road dan belok kanan. Tidak jauh dari titik ini di sebelah kiri ada gang kecil yang tembus langsung di pertigaan Madras Road dan Campbell road tepat di sebelah hotel. Mudah sekali dalam jangkauan.

Hotel ketemu, setelah checkin hotel kita akan diberi kartu akses pintu, gembok kombinasi, dan peralatan tidur (sprei, selimut, dan sarung bantal). Kartu akses digunakan untuk masuk pintu utama dan pintu kamar tidur. Tanpa kartu akses kita tidak bisa sembarangan keluar masuk pintu utama dan pintu kamar. Gembok kombinasi dipakai untuk mengembok locker. Sebisa mungkin semua barang dimasuk ke locker supaya aman. Kebetulan saya dapat satu kamar (ber-ac tentunya) dengan tiga tempat tidur susun (enam tempat tidur). Saya kebagian tempat tidur di atas bersama dengan satu orang Spanyol, satu orang Amerika, dan dua orang yang tidak saya kenal. Kedua orang terakhir masuk kamar setelah saya tidur pulas dan saat saya keluar hotel mereka berdua masih tidur pulas. Baru malam kedua saya benar-benar tidur sendiri.

Di lantai bawah ini ada 3 kamar yang semuanya untuk laki-laki. Sedangkan di lantai atas disediakan kamar khusus untuk wanita. Jumlah kamar persisnya saya tidak tahu. Mungkin tiga atau empat kamar. Lantai atas tidak boleh dimasuki oleh laki-laki. Di lantai satu hanya tersedia satu kamar mandi. Di dalamnya tersedia dua bilik toilet, dan dua bilik kamar mandi, dan dua wastafel. Dengan jumlah bilik yang sedikitpun saya tidak pernah bertemu orang lain saat mandi atau ke toilet. Dan yang pasti hotel ini penuh saat saya menginap.

Keesokan harinya, bangun pagi langsung mandi. Selesai mandi langsung ke pantri untuk sarapan. Di sini tersedia telur mentah dan silahkan goreng sendiri. Roti tawar dengan selai kacang juga tersedia. Mau makan roti tinggal dipanaskan di toaster. Untuk minum tersedia air putih, kopi mix instant, dan teh tarik instant. Sekali lagi semua harus disiapkan sendiri. Saya ambil dua tangkep roti dan kopi mix instant. Dengan cepat semuanya masuk perut. Selesai sarapan tamu hotel harus mencuci piring, sendok, dan gelas yang sudah dipakai. Saya pun melakukan kewajiban saya.

Di sebelah ruang pantri tersedia dua komputer yang terhubung dengan internet. Tamu hotel boleh memakai fasiltas ini. Yang penting tahu diri saja, yang membutuhkan komputer ini banyak orang. Kalau pas tidak ada orang yang antri bisa memakai internet sepuasnya. Sekali lagi kalau tidak punya malu.

Di sebelah ruang pantri tersedia ruang tamu lengkap dengan sofa hitam, buku-buku perpustakaan, dan televisi flat. Tampaknya yang disetel selalu televisi kabel. Saya tidak pernah secara khusus menonton di sini. Paling melirik sekilas sambil masuk ke arah kamar. Sementara buku-buku perpustakaan boleh dibaca di tempat. Itu yang saya baca pada poster kecil di rak buku.

Ruang tamu ini berada di depan meja resepsionis. Biasanya di belakang meja resepsionis duduk dua petugas hotel. Saat saya di sana yang bertugas adalah Ridwan dan Ebeth. Keduanya cukup ramah dan helpfull banget. Pernah saya mengalami masalah mereka cukup membantu mengatasi masalah saya.

Satu lagi, di sini di sediakan fasilitas penitipan tas. Jam check out jam 12 siang. Sebelum jam check out kita bisa menitipkan tas di sini. Sore kita ambil tas lagi dan langsung terbang. Penitipan ini tidak dikenakan biaya apapun. Penitipan tas cukup aman. Mereka menyimpan tas kita di kamar khusus untuk penyimpanan tas. Ruang ini terkunci dan hanya petugas hotel yang boleh masuk.

Buat backpakers yang suka jalan murah tidak ada salahnya untuk mencoba hotel ini. Cukup oke dan recommended !


Singapore Edition: Backpacker Hotel

October 25, 2011

Hotel di Singapore sangat banyak jumlahnya. Secara umum tarifnya mahal dibandingkan dengan kota-kota lain di Asia Tenggara, konon. Dari yang bertarif beberapa puluh Singapore Dollar hingga yang bertarif ratusan dollar per malam. Tapi untuk pelancong backpacker cukup cari hotel yang murah saja. Tidak usah mahal-mahal, yang penting bisa untuk tidur dengan tenang, beres untuk urusan mandi dan ke belakang. Yang lebih penting lagi mudah dijangkau atau dekat dengan sarana angkutan umum (MRT). Dengan demikian bisa mengurangi biaya tranportasi. Cita-cita jalan-jalan hemat bisa didapat.

Berdasarkan alasan di atas, saya mencari hotel yang dekat dengan keramaian dan dekat dengan sarana tranportasi umum. Dari mBah Google saya mendapatkan informasi beberapa hotel backpacker yang saya inginkan yaitu di kawasan Boat Quay dan Little India. Selain daerah ini menurut hemat saya jauh dari jangkauan sarana transportsi umum. Dari MRT Station harus naik taksi, tidak bisa jalan kaki.

Mbah Google mengatakan di kawasan Quay Boat (Clarke Quay) ada City Backpacker, Rucksack Inn, Rucksack Inn 2 (ketiganya di Hong Kong Street) dan Five Stones Hostel. Kawasan ini benar-benar berada di kawasan central businness. Di kawasan Little India ada Checker Inn dan Footprints Hotel. Semua hotel ini bertarif kurang dari SGD 30 sebelum pajak.

Secara umum hotel-hotel ini tipe dormitory (asrama). Satu kamar berisi beberapa tempat tidur susun. Harus rela sekamar dengan orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Wc dan kamar mandi ada di luar kamar dan dipakai beramai-ramai pula. Pengunjung/tamu hotel harus rela antri dan bergantian ke kamar mandi. Fasilitas mesin cuci, pantry, internet juga berada di ruang publik dan dipakai bersama-sama.

Hotel menyediakan sarapan pagi. Tersedia kopi dan teh instant, roti tawar dengan selai kacang. Telor mentah tersedia dan silahkan goreng sendiri. Air putih banyak. Menu sarapan harus disiapkan sendiri. Jangan berharap dan bermimpi ada pelayan yang mempersiapkan sarapan kita. Selesai sarapanpun kita harus mencuci sendiri semua gelas dan piring yang kita pakai.

Setelah mencari referensi di internet akhirnya saya memilih Checker Hotel di kawasan Little India. Rasanya hotel ini paling nyaman. Langsung voucher hotel saya pesan via www.agoda.com. Dalam hitungan menit voucher hotelpun langsung ke masuk ke email.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 149 other followers