Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Persiapan II)

Berhubung ini perjalanan jarak jauh beberapa perlengkapan tambahan dan suku cadang saya siapkan. Speedo meter CateyeVelo 9 dan pompa tangan mini saya beli di Rodalink SCBD. Kanvas rem, rantai sepeda, sling shifter, sling rem, toolkit penambal ban, toolkit obeng, dan penyambung rantai saya beli di toko Rodajaya (baru) BSD. Rantai atau kunci gembok sepeda saya ambil dari sepeda milik istri, tidak perlu beli baru. Dua roda dalam yang baru saja saya ganti kondisinya masih baik dan saya jadikan sebagai suku cadang. Satu lagi yang tidak kalah penting adalah chain lube untuk sepeda. Chain lube saya beli di toko Rumah Kita SCBD. Untuk tali temali saya siapkan tali dari ban dalam sepeda yang digunting memanjang menjadi tali. Tali dari ban sepeda jauh lebih elastis dibandingkan dari ban motor ataupun mobil. Daya ikat dan proses pengikatan ataupun melepas ikatan jauh lebih baik dan lebih mudah dibandingkan dengan tali berbahan plastik.

Perlengkapan Kecil

Perlengkapan Kecil

Tools dan spare aprt

Tools dan spare aprt


Barang-barang yang akan dibawa harus diorganisir dalam tas (pannier). Tas sepeda atau tas yang dipasang di rak sepeda tentu saja sangat diperlukan. Saya mencari cari tas di toko sepeda dan di internet. Ada tas sepeda kedap air model dan kualitasnya bagus dengan merek Hydra Knight di toko sepeda iSpeda Grand Luck SCBD. Tapi harganya relatif mahal untuk kantong saya. Saya coba cari merek Topeak di Rodalink dan kebetulan tidak ada barangnya. Kalaupun ada harganya relatif lebih mahal lagi. Coba cari merek Deuter juga tidak ada barangnya. Di internet ada beberapa alternatif pilihan. Tapi semuanya gelap buat saya, baik model, bahan, maupun kwalitasnya. Setengah bertaruh saya pesan dua tas sepeda merek Vincita B160WP yang harganya relatif murah di toko online Kcsport situs Bukalapak.com. Ketika saya coba pasang di rak sepeda, tas bisa terpasang dengan presisi yang baik. Bahan dan kwalitasnyapun tampak baik.

Dalam perjalanan nanti saya sepakat dengan diri sendiri untuk tidak tidur dipenginapan. Selain dana yang saya punya terbatas juga untuk “berlari lebih jauh dari zona nyaman saya”. Mau tidak mau saya harus bermalam dan tidur di sembarang tempat. Seketemu tempat, terserah Tuhan menaruh saya di mana. Dengan kondisi yang tidak pasti ini saya memerlukan alas tidur alias sleeping bag. Sebetulnya saya punya dua sleeping bag standar TNI. Sleeping bag ini cukup hangat dan nyaman untuk tidur. Tapi karena ukurannya yang begitu besar (digulung dg panjang 40 cm dan diameter 30 cm) tidak memungkinkan saya membawa sleeping bag ini. Mau tidak mau saya harus mencari alas tidur yang lain. Di toko online saya mendapatkan harga terbaik untuk sleeing bag yang saya inginkan. Saya pesan sleeping bag merek Jack Wolfskin di Tokobagus.com dengan nama penjual Ririyalfalih. Ketika saya coba untuk tidur di rumah dalam ruang ber-ac, sleeping bag ini cukup baik menahan dingin. Kelemahannya adalah ketika badan berbalik di dalam sleeping bag, sleeping bag mengikuti pergerakan badan. Sleeping bag ini lebih mirip selimut tidur baik dari sisi bahan maupun sisi penggunaannya. Kelebihannya, sleeping bag ini cukup hangat untuk menahan dingin, berat dan ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan sleeping bag standar TNI. Ketidakpastian akan kebersihan tempat yang akan saya tiduri sangat tinggi. Ada kemungkinan saya tidur di tempat yang tidak bersih seperti emperan toko atau emperan pom bensin. Karena sleeping bag ini lebih mirip selimut maka saya memerlukan alas tidur tambahan. Saya memerlukan sleeping mat alias karpet gulung yang berbahan karet sebagai alas tidur. Sewaktu kuliah dulu saya pernah punya karpet gulung seperti ini. Untuk keperluan yang sekarang ini saya mendapatkan karpet gulung merek Eiger di toko buku Gramedia Plasa Semanggi, Jakarta.

Sleeping bag dan sleeping mat

Sleeping bag dan sleeping mat

Alat mandi

Alat mandi

Baterai cadangan untuk lampu depan sepeda, lampu belakang sepeda, dan kamere saku

Baterai cadangan untuk lampu depan sepeda, lampu belakang sepeda, dan kamere saku


Perlengkapan lain yang saya siapkan adalah peralatan mandi, peralatan tulis menulis, dan peta perjalanan. Satu buku saya sediakan untuk menulis hal-hal yang perlu saya tulis untuk dokumentasi. Saya juga menyediakan potongan kertas kecil (ukuran A4 dibagi 4) untuk menulis hal-hal singkat seperti pengeluaran atau catatan-catatan kecil. Karena ukuran kecil potongan-potongan kertas ini dengan mudah keluar masuk tas kecil. Peta tentu akan saya gunakan sebagai panduan arah perjalanan. Tidak perlu peta yang mahal, cari yang gratis saja. Peta ini adalah peta Mudik Lebaran 2008 yang dikeluarkan oleh Kompas. Waktu itu saya memperolehnya di toko buku Gramedia Plasa Semanggi, Jakarta. Satu lagi peta yang berukuran lebih kecil keluaran Toyota edisi Tahun 2012

Helem sepeda saya sudah punya. Beberapa kaos juga sudah saya miliki sebelumnya. Jadi tidak perlu beli yang baru. Celana sepeda (bike pant) harus beli, saya hanya punya satu. Celana sepeda, manset, dan jas hujan Rebook saya beli di bazar sepeda Jalur Pipa Gas, BSD. Sekitar 6 stel pakaian sepeda (kaos dan celana pendek) dan tiga celana sepeda saya siapkan. Untuk tidur saya sediakan celana panjang trainning dan satu baju Jawa lengan panjang. Celana dalam cukup membawa celana kertas. Praktis, sekali pakai langsung buang. Tidak perlu mencuci celana dalam. Bandana fakultas warna merah berlabel “F” yang dulu saya dapat saat masuk fakultas dan bandana hadiah dari celana jeans Lea saya bawa. Tidak ketinggalan dua kaos kaki, sepasang sandal jepit dan sepasang sandal gunung. Sepatu saya tidak bawa. Kebetulan sepatu untuk sepedaan saya tidak punya.

Sebelum melakukan persiap-persiapan seperti di atas, saya harus memutuskan tujuan atau arah bersepeda jarak jauh ini. Tujuan yang saya inginkan dan saya putuskan adalah Senggigi, Pulau Lombok. Tapi kalau fisik tidak kuat Pulau Bali pun boleh. Pertimbangan utama saya menuju ke sini adalah alasan keamanan. Saya merasa Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Lombok relatif aman. Dari Google saya tahu hampir di sepanjang jalan dengan mudah dapat ditemui rumah penduduk. Aman dari sisi kejahatan, ketersedian warung penjual makanan, dan keselamatan perjalanan. Kalau keamanan dari serangan binatang buas saya relatif tidak takut, karena saya tahu sudah tidak ada lagi bintang buas yang membahayakan di rute ini. Mungkin kalau ke Sumatra kekhawatiran saya bisa saja terjadi, apalagi saya bersepeda seorang diri. Saya juga sangat yakin infrastruktur jalan di rute ini cukup baik sehingga perjalanan tidak akan terlalu berat.

Rute jalan yang saya rencanakan adalah jalur selatan Pulau Jawa, jalur utara Pulau Bali, dan menyeberang ke Pulau Lombok. Dulu, akhir Desember 2009 saya pernah ke Pulau Bali lewat jalur ini. Pulang ke Jakarta lewat jalur utara Pulau Jawa. Secara garis besar saya tahu jalur ini. Tetapi secara detail saya saya sudah tidak ingat apa-apa. Yang pasti, jalur selatan lalu lintas tidak seramai jalur utara. Hampir semua bis dan truk dari Jakarta ke arah Pulau Bali dan pulau-pulau di sebelah timurnya melalui jalur utara Pulau Jawa. Baru setelah masuk Pulau Bali kendaraan-kendaraan lewat jalur selatan hingga Denpasar. Setelah Denpasar mengarah ke utara menuju pelabuhan Padang Bai dan menyeberang ke Pulau Lombok. Demikian juga sebaliknya. Mungkin karena jalur ini adalah lintasan kendaraan jarak jauh, maka kecepatan kendaraan (terutama bus) relatif cepat. Relatif berbahaya untuk sepeda. Itulah sebabnya saya memilih jalur selatan Pulau Jawa dan jalur utara Pulau Bali.

Hari-hari keberangkatan semakin dekat. Tanggal sudah mendekati akhir April 2013. Dengan cepat dan tenaga ekstra semua pekerjaan kantor saya selesaikan. Surat cuti saya masukan ke bagian personalia. Saya menuliskan tanggal 3 – 18 Mei 2013 di bagian Date of Leaves. Jumlah hari cuti yang saya ambil adalah 10 hari kerja, karena tanggal 9 Mei 2013. Jadi total waktu yang tersedia adalah 16 hari kalender. Sebelum hari ke 16 saya sudah harus sampai di rumah lagi. Semua suku cadang, pakaian, dan semua yang harus saya bawa sudah saya masukkan ke dalam tas dan sudah saya naikkan ke atas sepeda. Istri juga sudah membekali dengan dua bungkus besar biskuit dan dua botol Aqua 1.5 liter. Iseng-iseng, semua bawaan saya timbang. Beratnya kira-kira 15 kg. Tidak terlalu berat.

Kartu-kartu yang tidak telalu penting (kartu kredit dan SIM) saya keluarkan dari dompet dan saya tinggal di rumah. Di dalam dompet tinggal tersisa KTP, 1 kartu ATM BCA, katu donor darah, dan 1 kartu asuransi. Ada dokumen lain yang saya bawa yaitu fotokopi passport dan fotokopi kartu keluarga untuk jaga-jaga kalau diperlukan. Keduanya saya simpan di tas sepeda. Kamera saku, dompet, handphone, blackberry, anak kunci sepeda dan gembok tas, pena, dan potongan kertas kecil saya masukkan ke dalam tas pinggang. Uang saku yang saya bawa Rp 1 000 0000. Menurut perhitungan saya, jumlah ini cukup sebagai bekal perjalanan. Separuh saya masukkan dalam dompet, dan separuhnya lagi saya simpan di dalam tas sepeda (pannier). Rencananya saya akan mengikatkan tas pinggang di stang sepeda, bukan saya ikatkan di pinggang. Saya berusaha meminimalkan beban di badan.

bersambung …

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 253 other followers

%d bloggers like this: