Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 12 dan 13)

11/11/2015

Tepat pukul 4:00 WITA, saya sudah terbangun. Untuk menghemat waktu, cepat-cepat saya mandi. Selesai mandi saya hanya perlu mengemasi alat mandi dan baju tidur yang saya pakai semalam. Barang-barang lain sudah saya kemas dengan rapi semalam. Sehingga pagi ini barang yang saya kemasi tidak banyak lagi. Selesai mengemasi barang saya keluar penginapan untuk mencari sarapan pagi. Di depan penginapan persis di depan pasar, warung-warung nasi masih tutup semua. Belum tampak satupun yang buka. Karena warung-warung ini masih tutup, saya berjalan ke arah Terminal Ubung. Dalam benak saya pasti di terminal ada banyak warung nasi yang buka. Tepat sebelum terminal ada warung nasi yang sudah buka. Saya hentikan langkah di warung ini. Seporsi mie instant rebus dan segelas kopi hitam saya pesan. Ketika menu keluar cepat-cepat saya makan walau mie instant masih relatif panas. Saya sudah janji dengan Pak Yanto petugas Bus Kramatjati untuk datang pukul 06:30 dan saya tidak mau tertinggal bus. Kira-kira 20 menit kemudian saya kembali ke penginapan. Saya segera check out dari penginapan. Kunci saya kembalikan dan KTP saya terima kembali dari pihak penginapan.

Sepeda saya tuntun keluar penginapan. Tas-tas panier sudah tidak saya pasang di boncengan belakang lagi. Panier saya gantungkan di stang sepeda sehingga nanti di terminal tidak perlu membongkar lagi. Jarak antara penginapan dan terminal hanya beberapa ratus meter saja. Tidak dibutuhkan waktu lama untuk sampai di terminal. Sesampainya di terminal Pak Yanto sudah berada di ruang loketnya. Segera biaya tiket saya selesaikan dan dengan sigap kru Bus Kramatjati membantu memasukan sepeda dan pannier ke dalam bagasi. Tidak sampai 10 menit semua barang penumpang sudah masuk bagasi. Sayapun segera naik ke atas bus dan duduk di bangku yang sudah ditentukan oleh petugas. Tepat pukul 07:00 bus mulai berjalan meninggalkan terminal. Dalam hati saya berdoa dan bersyukur bahwa saya sudah boleh menyelesaikan perjalanan ini lengkap dengan suka dan dukanya. Saya juga mohon perlindunganNya dalam perjalanan pulang ini. Semoga semuanya lancar dan bisa sampai di rumah dengan selamat. Sementara itu bus terus melaju. Jalan-jalan yang dilalui bus kemungkinan besar sama dengan jalan-jalan yang saya lalui kemarin tetapi saya tidak mengenali jalan-jalan ini. Bus terus melaju meninggalkan Denpasar menuju Pelabuahan Gilimanuk.

Penempatan sepeda di bagasi bus

Penempatan sepeda di bagasi bus

Bus Kramatjati yang akan membawa saya pulang ke rumah

Bus Kramatjati yang akan membawa saya pulang ke rumah

Dalam perjalanan ini saya mulai mengantuk tapi mata tidak mau dipejamkan sama sekali. Dengan terpaksa saya mengamati pemandangan sepanjang jalan. Tanpa terasa bus sampai di kawasan Tabanan. Tepat di pertigaan besar dengan tugu di tengahnya bus belok ke kanan dengan memutari tugu ini. Tak jauh dari pertigaan ini ada terminal kecil. Nama terminal ini kalau tidak salah Terminal Pesiapan. Di sini bus berhenti tidak lebih dari 3 menit. Ada satu atau dua penumpang yang naik. Bus kembali berjalan ke arah tugu. Tepat sebelum tugu, lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Saya memandang keluar tepat di sisi bus kiri. Kebetulan saya duduk di sisi paling kiri dan deretan paling paling dekat dengan pintu belakang. Saya perhatikan batu agak besar di situ. Kemarin saya duduk di situ dengan kondisi kelelahan. Di situ pula kemarin saya sempat ambil beberapa foto. Ya, saya kemarin ada di situ. Batu ini menjadi saksi bisu kalau saya pernah mendudukinya. Mendudukinya dalam waktu relatif lama karena terlalu lelah. Sekarang saya memandanginya dari atas bus. Ada berbagai rasa bercampur aduk di hati antara sedih, senang, bahagia, dan syukur. Setelah lampu lalu lintas menunjukan warna hijau kembali bus belok ke kanan melaju ke arah Pelabuhan Gilimanuk. Selepas dari titik ini saya tertidur walau tidak terlalu pulas. Saya terbangun ketika bus berhenti tidak jauh sebelum Pelabuhan Gilimanuk. Beberapa paket dinaikkan ke atas bus. Beberapa penumpang turun untuk pergi ke toilet. Saya pun ikut turun untuk pergi toilet. Kira-kira 10 menit kemudian bus kemabali melaju. Tidak berapa lama kemudian bus sudah masuk kawasan Pelabuhan Gilimanuk.

Area parkir Pelabuhan Gilimanuk,Bali dilihat dari atas kapal

Area parkir Pelabuhan Gilimanuk, Bali dilihat dari atas kapal

Kawasan pelabuhan boleh dikatakan sepi. Saat bus yang saya naik parkir di area pelabuhan, tidak ada bus lain di sini. Bus cukup lama parkir sebelum memasuki kapal mungkin lebih dari 30 menit. Akhirnya bus memasuki kapal ferry. Di atas kapal saya turun dari bus untuk berkeliling melihat suasana kapal. Perlahan-lahan kapal meninggalkan Pelabuhan Gilimanuk. Kapal bergerak jauh ke utara sebelum berbelok ke arah barat. Mungkin untuk menyiasati arus Selat Bali yang kuat. Dengan kondisi seperti ini kapal tidak mungkin mengambil arah garis lurus ke arah barat menuju Pelabuhan Ketapang. Kalau kapal mengambil arah lurus ke barat, kapal akan terbawa arus laut ke arah selatan. Dengan demikian kapal akan tiba di pesisir P. Jawa jauh di selatan Pelabuhan Ketapang.

Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur dilihat dari atas kapal

Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur dilihat dari atas kapal

Kapal terus melaju ke arah utara dengan melawan arus yang kuat hingga di titik tertentu kapal berbelok ke arah kiri. Ketika kapal mendekati Pelabuhan Ketapang, kapal cukup lama tertahan di laut sebelum bisa bersandar di dermaga. Tampaknya tidak ada dermaga ferry yang kosong. Saya perhatikan beberapa kapal LCT (Landing Craft Tank) jauh lebih cepat bersandar di pantai. Hal ini tampak dari beberapa kapal LCT yang berada di kapal ferry ini lebih dulu sandar, bahkan tampak ada kapal LCT yang sudah menyeberang lagi ke arah P. Bali. Beruntung saat menyeberang ke P. Bali beberapa hari yang lalu saya naik kapal LCT. Jadi saat itu tidak banyak waktu yang terbuang jika dibandingkan dengan naik kapal ferry. Perut mulai terasa lapar dan kira-kira pukul 12:00 WIB kapal bisa sandar dan bus melanjutkan perjalanan lagi. Bus melaju dengan sangat cepat. Ketika bus memasuki kawasan Taman Nasional Baluran saya kembali tertidur pulas. Saya tidak ingat apa-apa lagi. Saya terbangun ketika bus memasuki sebuah rumah makan. Bus berhenti di Rumah Makan Puritama, Situbondo. Rumah makan tampak sepi sekali. Di situ ada dua bus lain yang terparkir untuk makan siang. Tampaknya rumah makan ini adalah rumah makan yang tersisa dari sisa kejayaan bus antar pulau atau antara provinsi. Angkutan bus, terutama antar provinsi sudah hancur dengan banyaknya penerbangan bertarif murah. Hal ini tampak dari konsidi rumah makan yang sepi, kusam, dan kurang terawat.

Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Suasana depan Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Suasana depan Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Semua penumpang bus turun untuk makan siang. Penumpang mendapat jatah makan siang dari pihak bus. Menu makanannya sangat sederhana sekali. Menu makan siang berupa nasi, mie, sayur asam, tahu, ayam, sambal, dan teh botol. Selain makan penumpang juga pergi untuk urusan belakang (toilet). Kira-kira 45 menit kemudian bus mekanjutkan perjalanan. Sebelum naik bus saya menyempatkan diri untuk membeli makanan kecil untuk berjaga-jaga kalau jam makan malam molor lagi. Siang ini saja jam makan siang molor sampai pukul 13:45. Setelah bus melaju, saya kembali tertidur. Sesekali terbangun ketika bus berhenti untuk menaikkan penumpang atau paket. Yang saya ingat, di kawasan antara Situbondo – Probolinggo ada seorang (maaf) kakek bersama dengan wanita muda yang menggendong anak kecil berumur kira-kira 1.5 tahun naik bus ini. Saya sempat berfikir yang tidak-tidak aja. Sang wanita muda duduk di blok kanan sederet dengan bangku yang saya duduki, sedangkan sang kakek duduk di bangku paling belakang.

Di kawasan Probolinggo dua orang naik dengan membawa jerigen (jerry can) 20 liter yang berisi cairan bening. Jerigen dimasukkan di bagasi. Salah seorang dari mereka duduk di sisi saya. Selanjutnya bus berhenti untuk menaikkan beberapa kardus dalam bungkusan besar. Tetapi saya tidak tahu persis lokasinya. Di sepanjang jalan saya banyak teridurnya dan baru terbangun lagi di kawasan Sidoarjo saat jalanan macet parah dan hari sudah gelap. Perut mulai terasa lapar, tapi belum ada tanda-tanda bus berhenti untuk makan malam. Untungnya, saya kembali tertidur sehingga perut lapar tidak terasa. Mungkin saya sudah kelelahan setelah bersepeda selama 10 hari sehingga tubuh memaksa untuk mengistirahatkan diri. Kira-kira pukul 24:00 bus berhenti untuk makan malam (tanpa makan sore tentunya). Belakangan kru bus mengatakan kepada saya kalau bus terkena macet parah yang lama di sekitar Sidoarjo dan Gresik. Kali ini bus singgah di Rumah Makan Mitra di kawasan Rembang. Menu makan malam di sini juga teramat sederhana. Sama dengan makan siang tadi, nasi dengan kualitas beras yang rendah, mie, sayur tahu, opor ayam, sambal, dan teh tawar. Tapi sudahlah tidak usah dipikirkan, yang penting makan kenyang dan tidak kelaparan.

Rumah Makan Mitra, Rembang, Jawa Tengah

Rumah Makan Mitra, Rembang, Jawa Tengah

Selesai istirahat makan bus melanjutkan perjalanan lagi. Lagi-lagi saya tidur dengan pulas. Saya terbangun ketika bus mengisi bahan bakar di kawasan Weleri. Di sini saya sempat turun untuk ke toilet. Rasanya saat itu waktu sudah menjelang subuh. Tapi beruntung di atas bus kembali saya tidur dengan pulas sekali. Menjelang matahari terbit saya terbangun. Penumpang di sebelah saya mengajak ngobrol. Ternyata beliau ini adalah tukang yang baru pulang kerja dari kawasan Probolinggo. Jerigen yang dia bawa berisi cairan thinner. Dalam hati saya sempat berfikir, semoga saja jerigen ini tidak bocor dan menimbulkan kebakaran. Kedua tukang ini turun di kawasan Tegal. Setelah Tegal kembali bangku di sebelah kanan saya kosong.

Hari semakin siang. Matahari semakin tinggi. Bus tetap menderu melaju dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan waktu pukul 09:00, perut juga semakin lapar rasanya. Akhirnya di kawasan Indramayu bus berhenti untuk beristirahat. Kali ini bus berhenti di rumah makan Singgalang Jaya. Semua penumpang berebut ke toilet. Saya juga turut serta dalam antrian kamar mandi. Pagi ini tak perlu mandi, cukup cuci muka dan gosok gigi saja. Selesai urusan mandi langsung makan pagi. Masih seperti makan semalam dan kemarin, menunya cukup sederhana. Menu berupa nasi, sayur, tempe, ayam goreng, orek kentang, dan teh tawar. Di sini ukuran ayam gorengnya kecil sekali dan tiap orang hanya boleh ambil satu potong. Tidak lama kemudian, setelah selesai makan, saya keluar untuk membeli kopi. Masih bagian dari rumah makan ini, kopi seduh instant di jual dengan harga Rp 5,000. Wuih, harga yang fantastis. Luar biasa! Berhubung tidak ada pilihan lain, terpaksa saya merogoh kantong.

Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Sambil menikmati kopi dalam gelas plastik, saya berjalan-jalan di depan rumah makan ini. Tampak jelas sekali kalau rumah makan ini sepi bahkan dapat dikatakan hampir mati. Suasana lingkungan rumah makan sangat tidak terurus. Bangunan rumah makan juga tampak kusam. Saat saya makan di tempat ini tidak ada bus lain selain bus yang saya naiki. Tampaknya jaman keemasan bus antar kota sudah benar-benar habis. Tahun 1980-2000 rasanya masa jaya angkutan bus jarak jauh. Kala itu jalur pantura dipadati dengan bus-bus jarak jauh. Banyak rumah makan di sepanjang jalur ini yang selalu dipadati dengan bus-bus yang berhenti untuk makan atau sekedar istirahat. Tapi sekarang kejayaan angkutan darat ini sudah terganti dengan angkutan udara atau angkutan kereta api. Secara otomatis ekomoni jalur ini jauh mengendur dibandingkan dengan waktu ini.

Suasana depan Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Suasana depan Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Saat hendak kembali naik ke atas bus sang kru bus memberitahu saya kalau sepeda dinaikkan di atas bus. Sebelumnya, sepeda diletakkan dalam bagasi di kolong bus. Saya tanyakan apakah posisinya aman. Dia jawab aman. Semalam sepeda terpaksa dinaikkan ke atas bus karenanya banyaknya angkutan paket. Ketika naik ke atas bus saya baru tahu kalau sepeda diletakkan dalam kabin bus. Sebelumnya, saya mengira sepeda diletakkan di atas atap bus. Maka saya sangat khawatir dengan keamanannya. Sepeda diletakkan persis di belakang tempat duduk saya. Belakang bangku saya adalah pintu belakang bus. Di atas tangga dipasangi papan sehingga tangga tertutup dengan papan yang rata dengan lantai bus. Di tempat ini terdapat banyak barang kiriman termasuk sepeda saya.

Sepeda yang sudah dipindahkan ke dalam kabin bus

Sepeda yang sudah dipindahkan ke dalam kabin bus

Bus kembali melaju ke arah Jakarta. Bangku sebelah kanan saya kosong. Kakek yang tadi duduk di belakang pindah di sebelah saya. Dia mulai becanda dengan anak kecil yang digendong oleh wanita muda yang naik bus ini bersama-samanya. Sekali-kali ngobrol dengan wanita muda tersebut. Setelah duduk agak lama dia mengajak ngobrol saya.

“Dari mana, Dik ?” tanyanya.

“Dari Bali, Pak” jawab saya.

“Sekarang mau ke mana?”

“Serpong, Tangerang Selatan.”

“Tugas di Bali?” lanjutnya

“Tidak Pak, saya baru menyelesaikan bersepeda dari Serpong ke Bali”

“Oh, jadi sepeda yang di belakang itu sepeda Anda”

“Iya” jawab saya singkat.

Tiba-tiba dengan suara keras dia bilang ke wanita muda yang duduk di seberang kanannya. “Sepeda itu punya bapak ini! Sepeda itu punya bapak ini!” Wanita itu hanya tersenyum dan saya jadi malu.

Bapak itu akhirnya bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Ia mengatakan kalau dirinya baru pulang menengok ayahnya yang sakit. Usia ayahnya sudah 90 tahun lebih sementara dirinya sendiri sudah berumur 70 tahun. Ayahnya sakit karena jatuh dari pohon saat memotong dahan pohon. Sebelumnya sudah diingatkan oleh cucu yang tinggal bersamanya untuk tidak memanjat pohon tapi sang kakek tetap nekat. Akhir sang kakek jatuh dari pohon. Kakek yang duduk bersama saya ini berusaha menyempatkan diri menengok ayahnya selagi masih ada kesempatan. Karena dirinya sudah cukup tua, dalam perjalanan ini ia terpaksa diantar oleh anak perempuan dan cucunya. Kakek ini tampak gagah dan sehat walau usianya sudah 70 tahun. Bahkan tadi saya melihat sendiri beliau makan karang goreng. Giginyapun tampaknya masih kuat. Wah, hebat sekali.

Lebih lanjut lagi dia bercerita, dulu ia tinggal di sekitaran Terminal Bus Pulogadung. Usaha di sekitaran terminal. Tapi dilihatnya perkembang anak-anaknya tidak sehat dengan lingkungan terminal. Anak-anaknya dengan mudah bisa mendapatkan uang. Caranya bermacam-macam, entah dengan berjual minuman, koran, atau jadi penyemir sepatu. Dia berfikir kondisi ini tidak baik untuk perkembangan mental dan jiwa anak-anaknya. Oleh sebab itu dia memutuskan pindah ke kawasan Cibinong. Di sanalah dia membesarkan anak-anaknya. Saat ini anak-anaknya sudah bekerja dan sudah menikah semua. Tapi sang istri sudah lama meninggal. Anak-anaknya menyarankan agar dia menikah lagi supaya ada yang mengurus dirinya. Tetapi sang kakek ini tidak memilih untuk tidak menikah lagi. Dia lebih mencintai anak-anaknya. Menurutnya, kalau dia menikah lagi pasti akan muncul jarak antara dirinya dengan anak-anak dan anak-anak dengan ibu tirinya. Kondisi ini akan memunculkan banyak masalah-masalah baru. Dia lebih senang dengan kodisi seperti ini yang selalu dekat dengan anak-anaknya. Dalam hati saya hanya bisa merenungkan apa dia katakan. Akhirnya setelah lama mengobrol kakek yang bercelana panjang blue jeans pindah lagi ke bangku paling belakang. Dan saya kembali teridur.

Saya terbangun ketika bus berada di tol Cikampek Km 54. Waktu menunjukkan pukul 11:45. Di luar tampak mendung tebal. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras. Rencananya bus ini akan ke Terminal Rawamangun terlebih dahulu. Baru kemudian ke terminal Pulogadung dan setelah itu ke Terminal Lebak Bulus. Rencananya saya akan turun di Terminal Lebak Bulus. Hujan berhenti ketika bus masuk wilayah Jakarta. Bus terus melaju tol dalam kota dan akhirnya bus berhenti di Terminal Rawamangun tepat pukul 13:00. Banyak penumpang yang turun di terminal ini. Sebelumnya banyak juga penumpang yang turun di sekitar Brebes dan Cirebon. Berhubung tidak ada penumpang yang turun di Terminal Pulogadung, bis langsung menuju Terminal Lebak Bulus. Bus melaju dengan menggunakan jalan tol dan tidak menggunakan jalur arteri, sehingga bus tiba di terminal lebak bulus dalam waktu yang relatif singkat.

Bus masuk Terminal Lebak Bulus tepat pukul 13:45. Sepeda dan tas-tas pannier saya turunkan dan sepeda saya tuntun ke depan terminal. Rencananya saya akan menyewa angkot untuk mengantar saya ke BSD. Dari beberapa angkot yang saya mintai tolong untuk mengantar tidak ada satupun yang mau. Alasanya jauh. Dengan terpaksa panier saya naikkan ke atas boncengan sepeda lagi. Saya kembali akan menggowes sepeda untuk pulang. Di situ ada tukang ojek yang bertanya:

“Mau ke mana Pak?”

“BSD, Serpong” jawab saya.

“BSD sektor berapa, Pak ?”

Saya menyebutkan satu sektor di perumahan BSD, termasuk nama kelurahan. Dia langsung menyebut blok tempat tinggal saya. Dan saya mengiyakan. Ternyata dia warga satu kelurahan dengan saya. Orang tua dan keluarganya masih tinggal di perkampungan tepat di sebelah komplek rumah tinggal saya. Bahkan kakaknya bekerja sebagai tenaga security di blok saya dan salah seorang kakaknya yang lain anggota security di blok sebelah blok tempat tinggal saya. Akhirnya dia mengawarkan untuk mengantar. Wah, bagaimana cara mengantar saya bersama sepeda dengan dengan kendaraan motor roda dua? Dengan halus tawarannya saya tolak. Kebetulan juga semua pannier sudah terpasang dengan kuat dan rapi di atas boncengan sepeda.

Kembali sepeda saya gowes menuju arah Ciputat, tepat di perempatan Sekolah Polwan sepeda saya belokkan ke arah kanan menuju Kebayoran lama. Tidak jauh dari Gedung Fedex bertemu dengan Jl. Deplu terus hingga bertemu Jl.Veteran. Tidak jauh dari petigaan ini bertemu dengan pertigaan Jl. Kesehatan. Terus lurus hingga melewati kolong rel kereta api, Plaza Bintaro, dan rumah sakit Bintaro. Dari rumah sakit ini ambil jalan arah Sektor 9 Bintaro yang tembus dengan Jl. Jombang Raya. Tiba di perempatan Jl. Jombang Raya ambil arah kiri yang menuju Stasiun Kereta Sudimara atau Pasar Jombang. Sebelum stasiun kereta ada jalan ke arah kanan yang biasa disebut dengan kawasan Rawalele. Ambil jalan ini terus lurus hingga melewati Jalur Pipa gas dan muncul di kawasan BSD Sektor 14. Keluar Sektor 14 tepat di sebelah Kantor Pos BSD persis seberang sekolah Santa Ursula. Dari sini sepeda saya arahkan ke gereja yang letaknya tidak jauh dari sini.

Petunjuk arah jalan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Petunjuk arah jalan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Suasana jalan di Kawasan Bintaro, Tangerang Selatan

Suasana jalan di Kawasan Bintaro, Tangerang Selatan

Sesampainya di gereja, sebelum masuk gereja saya membersihkan diri di kamar mandi dan berganti baju. Di dalam gereja saya lepaskan semua yang saya rasakan ke hadiratNya. Segala syukur, terima kasih atas segala kemurahanNya dan perlindungan yang telah diberikan. Saya juga boleh berjalan bersamanNya dalam perjalanan panjang ini. Selama perjalanan ini saya sungguh merasakan kehadiranNya. Dia hadir begitu dekat. Banyak kesulitan selama perjalanan (yang saya percayai) dimudahkan seperti kemudahan memperoleh penginapan, memperoleh makan, sepeda tanpa masalah sama sekali, dan masih banyak hal lainnya. Juga saya merasa di temani dalam kesepian dan kesunyian, bahkan saya merasa Ia banyak mengisi ruang-ruang kosong dalam hati. Perjalanan ini adalah sungguh perjalanan spritual, bukan sekedar jalan-jalan piknik. Ini adalah kemurahan lain yang boleh saya alami dan nikmati. Sunggu besar kemurahanNya dan saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih untuk semuanya ini. Amin.

Selesai berdoa sepeda kembali saya kayuh. Kali ini perjalanan pulang ke rumah. Rasanya semua sudah saya selesaikan. Ada rasa lega dan plong di hati. Tidak lebih dari 15 menit saya sudah sampai di rumah. Tepat pukul 15:45 saya sampai di rumah. Speedo meter menunjukkan angka 1377. Ya, saya sudah mengayuh sejauh 1377 km. Istri dengan wajah khawatir menyambut di pintu rumah, saya cium dan peluk erat-erat. Tak terasa air mata menetes dari sudut-sudut mata.

Posisi terakhir odometer saat tiba di rumah

Posisi terakhir odometer saat tiba di rumah

Seperti tulisan sebelumnya, berikut ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Tiket penumpang Denpasar – Jakarta 320,000
Tiket sepeda Denpasar – Jakarta 250,000
Sarpan mie instant + kopi hitam + 2 bungkus keripik pisang 9,000
Nasi + mie + sayur asam + tahu + ayam + teh (Rm Puritama, Situbondo) 0
Toilet 1,000
Makanan kecil 10,000
Nasi + mie + sayur tahu + opor ayam + teh (Rm Mitra, Rembang) 0
Aqua sedang + toilet 5,000
Toilet pom bensin Weleri 1,000
Nasi + sayur + tempe + ayam goreng + orek kentang + teh (Rm Singgalang Jaya, Indramayu) 0
Es cendol (3 bungkus) BSD 15,000
Total : 611,500

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time) 1:14:08
DST (Trip Distance in km) 20.92
AV (Everage Speed in km/hr) 16.1
MX (Maximum Speed in km/hr) 54.2
CAL (Calorie Consumption in kcal) 235
CO2 (Carbon Offset in kg) 3.14
ODO (Total Distance in km) 21

 

Serpong, 10 Nov 2015


Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 11-d)

09/06/2015

Selesai menghabiskan kopi, kembali sepeda kayuh. Di sisi laut tampak mendung semakin gelap. Kini saat untuk kembali ke Terminal Bus Ubung dan dari penginapan di sana. Semoga saja hujan tidak turun sebelum saya sampai di Ubung. Jujur saja saya tidak tahu sama sekali tentang jalan-jalan di P. Bali. Dengan mengikut petunjuk arah dan rajin bertanya akhir saya sampai juga di Terminal Bus Ubung. Beruntung sekali doa saya didengar Tuhan, saya sampai di Terminal Ubung dan hujan tidak jadi turun. Waktu sudah menunjukkan pukul 17:30 Kini saat mencari penginapan di belakang terminal bus. Ketika melewati loket penjual tiket, kembali saya bertemu dengan Pak Yanto yang sedang duduk di depan loket. Pak Yanto mengingatkan saya untuk datang pukul 6:00 tepat di loket ini besok pagi. Terus sepeda saya kayuh ke sebuah gang di belakang termainal seperti yang ditunjukkan oleh Pak Yanto. Di gang ini saya menemukan beberapa penginapan. Tepat di depan sebuah pasar saya berhenti di sebuah penginapan dan menanyakan apakah masih tersedia kamar kosong. Beruntung sekali di tempat ini masih ada kamar kosong dan itu satu-satunya yang masih tersedia. Menurut petugas penginapan, kamar ini tidak ada televisinya. Saya katakan tidak televisi tidak masalah buat saya. Saya hanya butuh tempat untuk mandi dan tidur saja malam ini. Tarifnya kamar ini Rp 60,000 per malam.

Trotoar jalan Pantai Kuta, Bali

Trotoar jalan Pantai Kuta, Bali

Sepeda saya masukkan ke dalam kamar. Pannier saya turunkan dan semua isinya saya keluarkan. Semua ini pannier harus diatur dan disusun ulang supaya lebih efisien dan praktis ketika naik di bus. Untuk menghemat waktu saya segera mandi. Setelah mandi semua barang termasuk baju kotor yang baru saya pakai saya susun ulang. Kira-kira 30 menit kemudian semua barang sudah teratur dengan rapi. Kini saaat untuk mencari makan. Di sisi depan pasar yang menghadap jalan saya menemukan sebuah warung nasi Jawa Timur. Saya pesan nasi pecel dengan lauk ati/ampela ayam plus jeruk hangat. Untuk menu ini saya cukup merogoh kocek Rp 7,500 saja. Murah bukan.

Selesai makan saya berencana mencari oleh-oleh di depan terminal. Ketika keluar warung nasi, tepat di depan warung nasi ada lapak yang ramai dikelilingi oleh banyak orang. Iseng-iseng saya mendekat dan ternyata lapak ini adalah lapak judi bola. Sebuah lembaran plastik bertulisan sejumlah angka dikelilingi oleh banyak orang. Orang-orang tersebut meletakan uang di angka-angka yang mereka pilih di lembaran plastik ini. Di sisi lain seseorang duduk (bandar) menghadap papan bertuliskan angka seperti yang di lembaran plastik. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Sebuah bola digelindingkan dari sisi papan. Ketika bola berhenti di atas sebuah angka berarti angka tersebut adalah angka yang keluar dan menang. Orang yang memasang uang di angka di atas lembaran plastik tersebut akan dibayar oleh bandar. Saya tidak tahu pasti angka pengali yang diperoleh oleh pemenang. Bagi yang tidak menang, uangnya akan ditarik/diambil oleh bandar.

Saya tersenyum sendiri melihat tingkah laku orang-orang di tempat ini. Persis di sebelah lapak judi bola, saya menemukan penjual lotre. Lotre ini lebih mirip penjual permen telur cicak (permen yang terbuat dari sebutir kacang berbalutkan gula dengan warna yang beraneka ragam). Bentuknya mirip dengan telur cicak dan oleh sebab itu permen ini disebut dengan permen telur cicak. Beberapa butir permen dibungkus plastik dan dilipat. Di ujung lipatan ada kertas kecil yang dilipat dan disteples dengan rapat pada selembar karton tebal. Di bagian atas lembaran ada sejumlah hadiah yang turut ditempelkan. Jika membeli permen ini dan kalau beruntung di kertas tersebut ada tertulis angka. Berikutnya tinggal mencari angka yang tertulis pada hadiah yang ditempelkan di bagian atas lembaran karton dan hadiah tersebut diserahkan kepada pembeli permen. Hadiah yang tampak di di sini adalah berbagai jenis rokok kretek, dvd player, dan handphone dengan merek yang tidak terkenal tentunya.

Jujur saja, saya menemukan permainan seperti ini terkahir kali berpuluh tahun yang lalu. Mungkin ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Di tempat keramaian terutama tontonan seperti pagelaran wayang, ludruk, ketoprak, atau janger selalu saja ada bandar yang menggelar judi seperti ini. Hanya saja bedanya, di tempat saya waktu kecil orang tidak menggunakan bola, terapi menggunakan dadu yang bisa kami sebut judi koprok ” (huruf “O” dilafalkan seperti dalam kata “kodok”). Empat buah dadu dikocok dalam sebuah kotak kayu dan terdengar suara “klothok” (huruf “O” dilafalkan seperti dalam kata “mobil”). Karena bunyi demikian sering pula judi ini disebut judi klothok. Sedangkan untuk judi lotre cukup banyak tersedia di warung-warung kelontong seantero desa. Bahkan di warung-warung jajan dan main anak-anak di sekitar sekolah juga tersedia. Buat anak-anak kala itu, hal ini bukan dianggap judi karena anak-anak membeli permen dengan kemungkinan mendapat hadiah sebagai bonus. Saya sampai saat ini masih terkagum-kagum dengan kedua permainan yang saya lihat ini. Di sekitar saya tinggal, baik di Sumatra maupun di Jawa saya tidak pernah melihat kedua permainan ini sejak saya duduk sekolah dasar. Justru setelah dewasa menemukan keduanya di P. Bali.

Satu lagi yang menarik. Di deretan warung arah terminal, masih sejajar dengan warung nasi tempat saya makan tadi ada satu atau dua kios penjual tembakau. Berbagai jenis tembakau dalam kantong plastik dipajang di kios ini. Aroma harum tembakau begitu kuat tercium di jalan depan kios. Dulu kala saya masih kecil sangat umum orang-orang dewasa melinting rokok sendiri sebelum menghisapnya. Melinting rokok sendiri kala itu disebut ‘tingwe’ alias ‘mlinting dewe’ (melinting sendiri). Kalau sekarang orang tinggal datang ke warung untuk membeli satu bungkus rokok, buka bungkusnya, sambil satu batang, bakar dengan api, dan hisap. Kalau dulu orang sudah biasa ke mana-mana membawa kira-kira dua genggam tembakau, kertas rokok (paper), dan rempah-rempah rokok. Sebelum merokok orang harus mengambil kertas rokok dan diisi dengan tembakau. Di atas tembakau ditaburi dengan rempah-rempah rokok seperti cengkeh. Tapi tidak jarang pula orang menambahkan bubuk klembak dan kemenyan. Tembakau kemudian digulung dengan padat. Besar kecilnyan gulungan tergantung dari banyak sedikitnya tembakau serta tergantung dengan selera masing-masing. Nah, gulungan ini yang dibakar dan dihisap. Cara merokok ini sangat umum ditemui hampir di semua tempat. Bahkan ketika saya duduk di bangku SMA (tahun 90an) saya masih melihat orang merokok dengan cara ini, termasuk orang-orang bule yang saya kenal. Selain itu tembakau juga bisa digunakan para ibu yang mengunyah sirih. Selesai mengunyah sirih mulut yang merah karena buah gambir dibersihkan dengan sejumput tembakau gulung dengan diamater kira-kira 3-4 cm. Tembakau pembersih ini biasa disebut “susur”.

Sama seperti judi yang tersebut di atas, saya tidak pernah lagi menjumpai pedagang tembakau semacam ini sejak duduk di sekolah dasar, baik di Sumatra ataupun di Jawa. Tetapi di sini, kembali saya menemukan ingatan yang lama terpendam. Sangat mungkin di Sumatra dan di Jawa tidak ada konsumen tembakau seperti ini lagi. Kalau di P. Bali masih ada penjual tembakau berarti masih ada konsumen atau pembeli tentunya. Dengan kata lain perokok dengan cara melinting sendiri atau ibu-ibu yang mengunyah sirih (mungkin) masih banyak di sini. Atau tembakau untuk keperluan yang lain selain yang saya sebutkan di atas. Ah, itu hanya logika sederhana yang terlintas dalam pikiran saya.

Selesai melihat-lihat saya suasana pasar saya menuju depan termainal. Saya inginmencari oleh-oleh khas Bali, kacang asin dan brem cair khas Bali. Beberapa toko saya tanyakan kedua jenis oleh-oleh ini dan tidak ada satupun toko yang menjualnya. Justru saya memperoleh oleh-oleh ini di deretan kios-kios dalam terminal dengan harga yang relatif mahal. Oleh-oleh sudah di tangan kini saatnya kembali ke penginapan untuk istirahat tidur.

Di penginapan saya menulis catatan perjalanan untuk hari ini. Secara keseluruhan ada perasaan lega. Semua niat saya sudah terlaksana dengan baik. Terimakasih banyak Tuhan! Selanjutnya adalah perjalanan pulang. Semoga semua nya dapat berjalan dengan baik, sehingga saya bisa sampai rumah dengan selamat dan bertemu dengan malaikat-malaikat yang cantik. Badan saya rebahkan dan tidak lama kemudian saya tertidur.

Berikut ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

 

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Nasi + sayur + ikan peda + kopi + teh manis

17,000

Pocari Sweat (Indomaret Bajera)

6,000

Buah potong (terminal Ubung)

5,000

Nasi soto + kopi (pantai Sanur)

11,000

Kopi hitam Bali + kopi hitam instant

4,000

Kaos Joger (3 pc)

193,000

Pocari Sweat (penginapan)

6,000

Nasi pecel + ati/ampela + jeruk hangat

7,500

Kacang dan brem Bali

186,000

Penginapan

60,000

Total :

495,500

 

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time)

7:10:08

DST (Trip Distance in km)

116.03

AV (Everage Speed in km/hr)

16.1

MX (Maximum Speed in km/hr)

54.2

CAL (Calorie Consumption in kcal)

1557

CO2 (Carbon Offset in kg)

17.40

ODO (Total Distance in km)

1356

 

 

Serpong, 4 Jun 2015

 


Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 11-c)

09/06/2015

Sekarang kondisinya sudah berubah. Di sini sekarang sudah ada jalur underpass. Bentuknya sudah berubah dan berbeda dengan bayangan saya. Dengan susah payah akhirnya saya menemukan jalan ke arah Pantai Kuta. Dari arah Jl. By Pass Ngurah Rai belok kiri. Tidak jauh dari sini putar balik. Dari putaran balik kira-kira 500 meter ada jalan ke arah kiri, itulah jalan ke arah Pantai Kuta. Setelah belokan ini jalur jalan sangat banyak ditemui dengan perempatan yang ramai. Kondisi ini sangat awam untuk saya. Mau tidak mau saya harus bertanya pada warga sekitar. Tepat di pertigaan besar saya berhenti dan bertanya kepada petugas parkir sebuah toko.

“Mas, toko kaos Dagadu di mana?”

“Di Jogja” jawabnya pendek. Wah, bodoh sekali saya rupanya. Konsentrasi saya sudah hilang dan saya sudah tidak bisa berfikir dengan jernih lagi.

“Eehh, kaos Joger maksud saya.” Petugas parkir itu tersenyum. Kemudian ia menunjukan jalan yang harus saya ambil. Tak lupa ia mengucapkan agar saya berhati-hati. Jalan yang ditunjukkan saya susuri. Di sini benar-benar saya tidak kenal jalan. Banyak jalan-jalan kecil yang ramai dan penuh dengan perempatan. Dengan bertanya beberapa kali pada warga sekitar, akhirnya saya sampai juga di Toko Joger. Sepeda saya parkirkan dan cepat-cepat saya masuk toko. Hari mulai gelap, tampaknya hujan akan segera turun. Kalau bisa secepatnya saya sampai ke Pantai Kuta sebelum hujan turun. Setelah mendapatkan kaos yang saya cari saya segera keluar toko. Sebelum saya gowes sepeda saya tanyakan arah jalan ke pantai Kuta kepada petugas parkir di toko ini. Setelah tahu arah yang benar, sepeda kembali saya gowes. Jalan di kawasan Kuta ini relatif sempit dan (sekali lagi) banyak perempatan jalan yang padat. Untuk sampai Pantai Kuta saya sempat bertanya beberapa kali di sepanjang jalan ini.

Toko Joger, Kuta, Bali

Toko Joger, Kuta, Bali

Akhirnya sampai juga saya di Pantai Kuta. Yang pertama saya lakukan adalah membuat beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Halaman depan Hard Rock Café Kuta tampaknya menjadi landmark yang baik untuk berfoto. Buktinnya beberapa orang asyik membuat foto diri di tempat ini secara bergilir. Sayapun tidak mau ketinggalan untuk berfoto selfie di tempat ini. Beruntung juga ada bule yang berbaik hati da menawarkan untuk memotret saya bersama dengan sepeda. Tawaran oom bule ini saya terima dengan senang hati. Selesai foto di depan Hard Rock Café, sepeda saya tuntun ke pantai yang berpasir. Saya ambil waktu sejenak untuk beristirahat sambil menikmati suasana sekitar yang ramai ini. Tampak banyak orang berenang di laut. Beberapa anak berlarian di garis pantai menghindari ombak yang datang. Di sisi kanan belakang ada beberapa penjual minuman dan penjual jasa penyewaan papan selancar. Secara garis besar suasana di pantai ini relatif ramai.

Halaman Hard Rock Cafe, Kuta, Bali

Halaman Hard Rock Cafe, Kuta, Bali

Halaman Hard Rock Cafe, Kuta, Bali

Halaman Hard Rock Cafe, Kuta, Bali

Di seberang laut tampak mendung semakin tebal. Warna hitam semakin pekat tanda akan turun hujan. Segera saya membuat beberapa foto sebelum hujan benar-benar turun. Selesai membuat foto sepeda kembali saya tuntun ke arah luar pantai menuju jalan raya. Sambil menikmati suasana jalan Pantai Kuta ini, sepeda tetap saya tuntun di sepanjang trotoar. Mendekati ujung pantai yang lain (di depan Circle K mini market) ada penjaja kopi yang menawarkan kopi Bali. Kopi yang dijajakan adalah jenis kopi tubruk dengan kopi asli dari Bali (katanya). Saya pesan satu gelas. Berhubung panas, terpaksa saya menunggu kopi hingga cukup hangat untuk bisa diminum. Dengan demikian saya harus berhenti lagi. Saya berada di seputaran Pantai Kuta selama kurang lebih1.5 jam.

Suasana Pantai Kuta, Bali

Suasana Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

 

bersambung …


Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 11-b)

09/06/2015

Rasanya saya sudah mulai masuk kota Denpasar. Suasana jalan, rumah, dan pertokoan semakin padat. Tadi sempat melewati rumah sakit milik pemda. Kanan kiri jalan juga banyak ditemui pertokoan dan perkantoran. Perempatan jalan yang besar semakin banyak ditemui dan tentu dengan lalulintas yang sangat padat. Dengan kondisi ini memaksa saya untuk sering bertanya dengan orang-orang di jalan agar tidak salah jalan dan tersesat. Sebisa mungkin saya tidak salah jalan dan segera sampai di termainal bus Ubung, Denpasar. Sekali lagi, sebisa mungkin sore ini saya mendapatkan bus untuk pulang ke Jakarta. Dengan hati-hati sepeda saya gowes menyusuri jalan-jalan kota Denpasar. Kira-kira pukul 9:50 saya sampai di terminal bus Ubung, Denpasar. Wah rasanya lega sekali. Target selanjutnya adalah mencari tiket pulang ke Jakarta, baru kemudian lanjut lagi gowes ke Pantai Sanur. Setelah finish di Pantai Sanur kembali ke terminal bus Ubung dan kembali pulang ke Jakarta. Sepeda saya belokkan ke kanan jalan menyeberangi jalan raya. Persis di depan pintu masuk terminal ada penjual buah kupas. Rasanya sudah lama tidak makan buah. Saya berhenti sejenak untuk membeli dan makan beberapa potong buah segar. Enak juga buah potong ini. Saya makan beberapa potong melon, nanas, dan pepaya. Setelah membayar Rp 5,000 untuk buah yang saya makan, sepeda saya gowes masuk terminal.

Saya masuk lewat pintu utama bus. Masuk lurus terus tapi loket penjualan tiket bus tidak tampak sama sekali. Sampai di ujung jalan sepeda saya belokkan ke arah kiri. Tapi loket bus juga tetap tidak tampak. Sampai di ujung jalan kembali sepeda saya belokkan ke arah kiri (ke arah luar terminal). Tidak jauh dari sini baru tampak loket bus berjajar. Loket berbagai perusahaan bus dan berbagai tujuan tampak berjejer rapi. Di semua loket tampak penjual tiket duduk siap melayani calon penumpang. Ketika saya lewat, dari dalam loket mereka mulai berteriak menawarkan tiket yang mereka jual. “Mas, mau ke mana?”. “Mas ke Yojya, Bandung, atau Jakarta !?”. “Mas, pakai bus saya saja!?”. Begitulah mereka menawarkan jasa tiket bus. Saya terus maju untuk mencari loket bus Kramatjati. Dan ternyata loket tersebut tutup. Ketika ada orang di sekitar bertanya saya mau pakai bus apa dan saya saya jawab saya mau ke Jakarta dengan bus Kramatjati semua orang yang tadi menawarkan tiket berhenti menawarkan tiket. Seseorang di depan loket bus Kramatjati mengaku sebagai petugas loket yang tertutup ini. Wah, jangan-jangan calo pikir saya. Ternyata petugas ini tidak bisa masuk ke dalam loket karena loketnya dikunci oleh temannya dan sang teman saat ini belum datang. Kepada petugas ini saya katakan saya pesan satu tiket ke Jakarta untuk sore ini. Petugas loket yang bernama Yanto ini mengatakan kalau tiket bus untuk sore hari ini sudah habis terjual. Ada rombongan yang berangkat ke Jakarta sore ini. Ada tiket bus tapi untuk pemberangkatan besok pagi pukul 7:00. Waduh, bingung juga jadinya. Malam nanti saya mau tidur di mana? Pak Yanto menyarankan agar saya tetap berangkat berangkat besok pagi dan malam ini menginap di penginapan belakang terminal. Banyak penginapan murah di belakang terminal. Tarifnya paling tidak lebih dari Rp 75,000 semalam. Pikir-pikir saran Pak Yanto adalah jalan terbaik yang bisa saya dapat. Boleh juga nanti malam tidur dipenginapan. Bukankah saya sudah finis. Saya sudah berjanji dalam diri sendiri untuk tidak tidur di penginapan (yang berbayar) selama perjalanan besar ini.

Akhirnya saya setuju dengan saran PakYanto. Saya akan pulang dengan Bus Kramatjati besok pagi pukul 7:00 dan malam ini saya akan menginap di penginapan belakang terminal. Untuk tiket seharga Rp 320,000 belum bisa di ‘issued’ karena semua berkas ada di dalam loket yang terkunci. Pak Yanto meminta saya untuk datang ke loket besok pagi pukul 6:00 tepat. Oke, saya setuju. Selanjutnya Pak Yantio menanykan saya akan pergi ke mana setelah ini. Saya katakan kalau saya akan ke Pantai Sanur. Pak Yanto menyarankan saya untuk mengikut jalan di depan terminal ini ke arah kanan. Nanti setelah bertemu dengan jalan Bypass belok kanan lagi. Lokasi tidak terlalu jauh dari belokan ini. Beberapa orang yang ada di sekitar loket menyarankan saya untuk lewat tengah kota. Pemandangannya lebih menarik katanya. Tapi setelah saya pikir-pikir saya mengikuti saran Pak Yanto. Menurut saya jalurnya lebih gampang diikuti dan tidak ribet.

Jalur dari Terminal Ubung hingga Bypass sangat ramai. Jalan dipenuhi dengan kendaraan besar yang berjalan lambat. Diperlukan kehati-hatian ekstra berkendaraan di sini. Belum lagi kendaran kecil dan kendaraan roda dua juga tidak kalah banyaknya. Mahklum saja, ini jalur utama penghubung P. Jawa dan P. Lombok serta pulau-pulau di sisi timur P.Lombok. Bisa dikatakan ini adalah jalur nadi perekonomian sisi selatan Indonesia. Dengan sangat hati-hati saya telusiri jalan ini. Matahari bersinar dengan sangat terik. Cuaca sangat panas dan ditambah lagi asap kendaraan membuat pedal terasa berat dikayuh. Dengan susah payah akhirnya saya sampai juga di Jl. By Pass Ngurah Rai. Setelah tikungan besar saya “resmi” masuk jalan By Pass Ngurah Rai. Jalan besar dan halus ini belum juga memberikan rasanya nyaman bersepeda. Mungkin (sekali lagi) saya sudah terlalu lelah. Rasanya ingin segera sampai di Pantai Sanur.

Walau lelah, terus sepeda saya gowes secepat saya mampu. Saya ingin sesegera mungkin sampai di garis finis. Udara semakin terasa panas. Sinar matahari semakin terik menyengat kulit yang terbuka. Akhirnya saya sampai di perempatan Jl. I Gusti Ngurah Rai (By pass) – Jl. Hang Tuah dengan tanda Pantai Sanur belok kiri. Tepat di perempatan ini sepeda saya belokkan ke kiri. Terus saya susuri jalan ke arah pantai. Kira-kira 500 meter kemudian saya sampai di Pantai Sanur. Horeee…. Pantai Sanur, saya datang!. Akhir, saya finis juga di pantai paling timur dari P. Bali ini. Jarak 1,325 km sudah saya tempuh hingga saya sampai di tempat ini. Syukur saya ucapkan padaNya karena atas kekuatan dariNya saya bisa bertahan dalam segala kondisi hingga waktu dan di tempat ini. Kalau semuanya ini kekuatan dari dalam diri saya sendiri sudah pasti saya sudah kalah dari awal perjalanan. Saya percaya semua ini adalah kekuatan, perlindungan, dan berkatNya. Sepeda saya parkirkan berjejer dengan sepeda motor yang sudah terlebih dahulu diparkirkan di sini. Sejenak saya ambil waktu untuk berdoa dan bersyukur untuk semua yang boleh terjadi. Terimakasih Tuhan.

Pantai Sanur,  Jl. Hang Tuah, Bali

Pantai Sanur, Jl. Hang Tuah, Bali

Waktu menunjukkan pukul 10:45, udara terasa semakin panas. Rasa kantuk yang sangat membuat mata terasa berat dan kepala sedikit pusing. Saya rebahkan badan di tembok pinggir pantai agar badan tertidur walau hanya sejenak. Tapi walaupun badan sudah direbahkan mata tidak mau tertutup juga. Mungkin suasana pantai yang ramai penuh dengan orang lalu lalang membuat saya tetap terjaga. Banyak sekali anak-anak sekolah yang datang berwisata ke tempat ini. Tampaknya mereka berasal dari P. Jawa. Akhirnya, daripada tidak bisa tidur lebih baik saya cari makan siang. Di lokasi ini ada penjual nasi soto dan saya pilih warung ini. Di sini saya pesan nasi soto dan satu gelas kopi hitam. Selesai makan siang, sepeda saya tuntun ke pantai yang berpasir. Saya ambil beberapa foto diri bersama sepeda sebagai kenang-kenangan.

Pantai Sanur,  Jl. Hang Tuah, Bali

Pantai Sanur, Jl. Hang Tuah, Bali

Waktu belum juga menunjukkan waktu pukul 12:00. Saya sudah finis dan saya masih punya waktu hingga sore hari untuk mencari penginapan di sekitar terminal bus Ubung. Setelah saya pikir-pikir akhirnya saya putuskan untuk bersepeda ke Pantai Kuta. Tadi sesaat sebelum masuk Jl. By Pass Ngurah Rai sempat melihat petunjuk jalan yang menunjukkan Pantai Kuta berjarak 17 km. Kalau dari Pantai Sanur ini berarti jaraknya kurang dari 17 km tentunya. Kembali sepeda saya gowes ke arah Jl. By Pass Ngurah Rai. Ketika bertemu dengan jalan ini sepeda saya belokkan ke arah kiri. Kembali Jl. By Pass Ngurah Rai ini saya susuri. Suasana kering, gersang, dan panas sangat terasa. Walau kondisinya tidak terlalu nyaman, saya berusaha menikmatinya. Toch, saya tidak punya beban lagi di perjalanan ini karena saya sudah finish. Kini saatnya jalan-jalan santai. Atau boleh dikatakan ini adalah jalan-jalan piknik. Setealh menggowes tidak lebih 2 km ada petunjuk Pantai Sanur (Jl. Segara Ayu) yang lain. Sepeda saya belokkan ke arah kiri. Sesampainya di pantai suasananya begitu sepi. Tidak banyak pengunjung di sini. Mungkin saat ini matahari tepat di atas kepala, sehingga tidak banyak orang yang keluar di sekitaran pantai. Tak perlu berlama-lama disini. Setelah mengambil beberapa foto sepeda kembali saya arahkan ke Jl. By Pass Ngurah Rai. Dalam jarak tarusan meter dari pertigaan ini saya ketemu dengan Bank BCA. Ya, saya perlu ke ATM BCA untuk mengambil uang untuk membeli tiket pulang ke Jakarta.

Pantai Sanur, Jl. Segara Ayu,  Bali

Pantai Sanur, Jl. Segara Ayu, Bali

Urusan bank juga tidak terlalu lama. Tidak banyak orang yang antri di ATM ini. Kembali sepeda saya gowes ke arah selatan. Pantai Kuta tujuan akhir. Rencananya saya akan membeli kaos khas Bali untuk anak pempuan semata wayang dan mamanya tentunya. Oleh-oleh sebagai tanda kalau saya sudah sampai di Bali dengan selamat. Nanti kalau urusan kaos sudah selesai saya akan mampir sebentar ke Pantai Kuta dan kembali ke Terminal Ubung untuk bermalam. Sepeda terus saya gowes menyusuri jalanan yang gersang dan panas ini. Lama-kelamaan saya bosan juga menyusuri jalan ini. Sampai-sampai saya merasa salah jalan. Sempat saya tanyakan kepada seorang anak kecil, apakah benar ini jalan ke arah Kuta. Sang anak mengatakan memang benar ini jalan ke arah Kuta. Saya masih on the track. Tapi menurut perassan saya, saya sudah menggowes lama sekali. Mungkin sudah lebih dari 17 km tapi nyatanya kawasan Kuta tidak juga tampak. Tapi bagaimana lagi, saya tidak mungkin balik arah bukan? Dengan susah payah akhirnya saya sampai juga di Simpang Siur (Tugu Dewa Ruci). Dulu saya pernah ke Bali dalam acara outing kantor. Seingat saya dulu di sini Tugu Dewa Ruci menjadi simpang yang sangat ramai. Mungkin simpang dari 4 atau 5 jalan yang menyatu menjadi satu. Makanya simpang ini disebut Simpang Siur.

 

bersambung …


Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 11-a)

09/06/2015

Alarm di handphone saya set untuk berbunyi pukul 3:30. System jam di handphone tidak saya rubah ke waktu Indonesia Tengah, saya tetap menggunakan setting waktu Indonesia Barat. Jadi alarm akan berbunyi tepat pukul 4:30. Ketika bangun ternyata suasananya masih gelap gulita. Tidak jauh dari tempat saya tidur (dalam jarak 2-3 m) ada seseorang yang sedang tidur pulas. Tampaknya bapak ini warga di sekitar sini karena dia tidak membawa barang apa-apa. Atau mungkin juga bapak ini tidak punya tempat tinggal tetap (homeless). Semalam secara samar terdengar suara orang berjalan di bebatuan persis di samping samping tempat saya tidur. Semalam tidurpun tidak nyenyak. Entah pukul berapa, ada mobil yang diparkirkan beberapa meter dari tempat saya tidur dengan mesin menyala. Secara berkala suara mesin bertambah keras ketika kompresor AC menyala. Suara keras ini cukup mengganggu tidur dan rasanya mobil ini lama sekali ada di tempat ini. Ketika bangun tidur pagi ini, mobil tersebut sudah tidak ada. Mungkin pengendara mobil ini juga pengembara jarak jauh seperti saya. Berhenti di sini hanya untuk istirahat tidur sebentar.

Teras tempat tidur semalam dan di sisi kiri foto adalah alas tidur orang lain.

Teras tempat tidur semalam dan di sisi kiri foto adalah alas tidur orang lain.

Bangun pagi hari ini, Selasa, 13 Mei 2014 tidak lupa berdoa. Syukur saya haturkan kepadaNya karena semalam hujan tidak turun sama sekali, walau kemarin sore sempat hujan dan mendung gelap. Rupanya doa saya didengarkanNya. Kalau semalam hujan sudah pasti saya tidak bisa tidur sama sekali. Tampat saya tidur pasti basah karena tersiram air hujan. Di tempat ini tidak ada tempat teduh untuk tidur. Juga saya berdoa untuk perjalanan hari ini. Semoga semuanya berjalan lancar tanpa halangan. Tak lupa saya juga berdoa untuk orang-orang yang saya kasihi dan juga untuk pom bensin ini beserta karyawannya. Selesai berdoa segera saya menyelesaikan urusan kamar mandi dan berbenah. Semua perlengkapan perjalanan saya aktifkan. Kaos tangan dan helm juga sudah saya pakai. Setelah berpamitan dengan penjaga pom bensin (SPBU 54.82209) sepeda saya tuntun keluar pom bensin. Sepeda mulai saya gowes ke arah kanan dari pom bensin menuju arah Denpasar.

Kondisi jalan masih gelap gulita. Agak sulit juga berjalan dalam gelap seperti ini. Lampu sepeda juga tidak terlalu membantu karena hanya menerangi jarak 2 meter di depan. Tapi cukup untuk menerangi jalan agar saya tidak keluar dari badan jalan. Cukup beruntung juga kadang-kadang ada kendaran besar yang lewat. Cahaya lampunya lumayan membantu menerangi jalan yang akan saya lewati. Dalam kondisi gelap, sepeda terus saya gowes dengan cepat. Saya tidak ingin kehabisan waktu. Target saya hari ini sebelum pukul 12:00 saya sudah harus sampai di Denpasar. Sebisa mungkin sore hari saya sudah bisa naik bis untuk pulang ke Jakarta. Saya merasa tidak perlu untuk jalan-jalan atau piknik dengan mengambil waktu eksta di Bali sebelum pulang. Semakin lama di Bali berarti saya semakin dalam saya harus merogoh kantong sementara isi kantong semakin tipis. Belum lagi cuti kerja yang sangat terbatas dan hampir habis. Saat ini saya merasa target utama perjalanan ini ada bersepeda Jakarta – Bali sudah saya selesaikan. Juga target-target spirtualitas perjalanan sudah saya raih. Jadi lebih baik sore hari ini juga pulang ke Jakarta. Semakin cepat saya sampai di rumah semakin banyak waktu untuk istirahat sebelum masuk kerja lagi. Sebisa mungkin hari ini saya melakukan finis saya di Pantai Sanur. Pantai Sanur menurut saya adalah ujung paling timur Pulau Bali yang bisa saya raih. Kalau sudah finis di sini berarti semua ‘paket’ perjalanan ini sudah selesai.

Setelah bersepeda kira-kira 20 km saya menemukan warung Nasi Arema. Tampaknya warung ini buka 24 jam. Ada beberapa truk yang diparkirkan di sekitar warung nasi ini. Tapi para pengemudi dan kernet tidak tampak di dalam warung. Mungkin mereka parkir di sini untuk istirahat tidur. Mumpung masih pagi dan ada warung nasi yang buka, sepeda saya belokkan ke warung ini yang terletak di sisi kanan jalan. Lebih baik saya sarapan dulu untuk mengisi energi. Kalau perut sudah kenyang saya bisa lebih fokus mengejar waktu untuk cepat sampai di Denpasar. Untuk sarapan saya pesan nasi, sayur, dengan lauk ikan laut (di belakang hari saya baru sadar kalau ini ikan peda). Mungkin hari masih pagi sehingga pilihan menu di warung ini belum tersedia banyak pilihan. Untuk menghangatkan badan saya pesan teh panas. Segera saya makan cepat-cepat. Setelah makan sambil beristirahat saya pesan kopi hitam. Demi mengejar waktu, kira-kira 30 menit kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan.

Hari masih gelap walau cakrawala mulai tampak mulai terang. Sepeda terus saya gowes dengan cepat. Permukaan jalan yang mulus cukup membantu untuk berjalan cepat. Di beberapa tempat masih ditemui jalan yang naik turun. Kalau kemarin saya banyak menemui rambu lalu lintas dengan gambar bra dengan jalan naik turun tajam. Hari ini jalan naik turun tidak terlalu tajam. Kalau boleh saya mengatakan kemarin lambang lalu lintas jalan naik turun itu adalah bra ukuran ekstra, hari ukuran biasa saja. Secara nyata jalan naik turun ini juga masih cukup menguras tenaga dan melelahkan. Jalan naik turun ini terus dapat dijumpai hingga kawasan Soka. Jalur jalan dari Pelabuhan Gilimanuk hingga kawasan Soka bisa dikatakan menyusuri pantai selatan P. Bali. Banyak titik badan jalan bersentuhan dengan pantai. Baru mulai Soka menuju Tabanan jalan mulai menjauh kawasan pantai mengarah ke utara P. Bali.

Kantor bank BRI tepat di depan minimarket Indomaret di kawasan Banjera, Bali

Kantor bank BRI tepat di depan minimarket Indomaret di kawasan Banjera, Bali

Sudut lain kawasan Banjera dengan latar adalah jalan ke arah Gilimanuk, Bali

Sudut lain kawasan Banjera dengan latar adalah jalan ke arah Gilimanuk, Bali

Mungkin kekuatan fisik saya semakin menurun. Badan cepat terasa lelah. Di beberapa titik sepeda saya tuntun ketika melewati jalan menanjak. Di kawasan Banjera saya sempat mampir di sebuah minimarket Indomaret untuk beristirahat dan membeli minuman Pocari Sweat dan air Aqua. Jalur Soka – Tabanan ini masih memiliki banyak jalan yang naik/turun, tapi tidak sebanyak dan separah jalur Pulukan – Soka. Saya lebih banyak berhenti untuk istirahat hari ini. Di kawasan yang rimbun dan jalan menanjak tepatnya di patok KM DPS 23 saya berhenti untuk istirahat (lagi) dan menghabiskan sisa Pocari Sweat. Setelah beberapa menit istirahat sepeda saya tuntun sampai di puncak tanjakan. Tepat di puncak tanjakan ini ada pertigaan besar dan di tengah pertigaan ada sebuah tugu besar. Tugu ini khas sekali bentuk dan rupanya dengan gaya Bali tentunya. Kembali saya istirahat lagi di sini. Saya duduk di sebuah batu di bawah pohon persis di sisi kanan pos penjagaan polisi. Beberapa kali tugu saya foto untuk kenang-kenangan.

Patok KM 23 DPS jalur Denpasar - Gilimanuk, Bali

Patok KM 23 DPS jalur Denpasar – Gilimanuk, Bali

Tugu bundaran terminal Pesiapan Tabanan, Bali

Tugu bundaran terminal Pesiapan Tabanan, Bali

Kira-kira 10 menit kemudian saya melanjutkan perjalanan. Mulai dari tugu ini suasana jalan jauh lebih ramai dibandingan sebelum tugu. Jumlah kendaraan relatif lebih banyak dan lalu lintas sangat ramai. Kendaraan roda dua juga tidak kalah banyaknya. Badan jalanpun jauh lebih lebar. Suasana ramai ini meningkatkan semangat, semangat untuk menggowes lebih cepat. Rasanya banyak teman seperjalanan dan rasa bersaing dengan sepeda motor mulai muncul. Rasa lelah dan bosan mulai sedikit pudar dan sepedapun saya pacu secepat saya mampu.

 

bersambung …


Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 10-c)

17/02/2015

Untuk mengejar waktu, sepeda saya gowes dengan cepat. Karena permukaan jalan yang sangat halus kecepatan 30 km/jam sangat mudah didapat. Roda sepeda berputar dengan ringan sekali. Untuk mempercepat laju sepeda, saya menunduk kepala dan hanya memperhatikan jalan 1-2 meter di depan roda sepeda. Saya ikuti terus garis lurus marka jalan. Cara ini menurut saya aman, karena saya masih berada satu meter dari pinggir jalan yang tidak beraspal dan jalur kendaraan di sisi kanan masih bisa menampung 3 kendaraan kecil. Tapi sebenarnya cara ini tidak 100% aman. Di daerah Negara, saya hampir tertabrak sepeda motor. Saya melaju dengan menunduk dan ternyata ada sepeda motor yang melawan arus. Saya sempat kaget karena sepeda motor sudah 20 meteran di depan saya. Sepeda sedikit saya belokkan ke kanan, dan motor masih bisa lewat di bahu jalan dengan aman dan saya terhindar dari bahaya tabrakan. Terimakasih Tuhan…

Masih di daerah Negara saya sempat melihat dua sepeda yang dilengkapi dengan tas pannier hitam. Salah satu pengendaranya adalah cewek bule. Yang satu lagi saya tidak melihatnya. Mungkin sedang belanja atau ke toilet. Kebetulan saya melihat kedua sepeda ini sedang diparkirkan di depan sebuah pasar kecil. Memang sebuah kenikmatan tersendiri bisa berkeliling P. Bali dengan sepeda. Apalagi suasana P. Bali sangat berbeda dengan suasana negara mereka atau suasana daerah laindi Indonesia.

Sepeda terus saya gowes dengan cepat. Saya berdoa semoga hujan tidak turun. Di depan tampak mendung tebal dan hitam. Tidak lebih dari 5 menit kemudian hujan mulai turun dan semakin deras. Mungkin Tuhan sudah mengaturnya. Tepat saat hujan turun saya sampai di sebuah pom bensin. Cepat-sepat sepeda belokkan di pom bensin ini. Di sisi belakang pom bensin terdapat bangun dengan dinding setinggi 1 meter. Bangunan ini dijadikan semacam “food court”. Ada 2-3 stand/warung di sini. Sambil menunggu hujan reda, saya pesan Pop Mie rebus dan kopi. Lumayan untuk menambah tenaga. Di luar hujan semakin deras dan belum menunjukan tanda-tanda untuk berhenti ketika mie instant dan kopi habis masuk perut. Dalam benak saya, kalau dalam 30 menit hujan tidak berhenti, saya akan nekat menerobos hujan. Saya pesan satu gelas kopi lagi untuk iseng dan melawan rasa kantuk. Tapi rasa kantuk itu sulit dilawan. Mata terasa berat dan sulit dibuka, mungkin saya sudah terlalu lelah. Tanpa terasa saya tertidur sambil duduk. Kira-kira 40 menit kemudian saya terbangun dan hujan mulai reda. Terimakasih Tuhan hujan berhenti dan saya melanjutkan perjalanan

Kembali saya susuri jalan raya Gilimanuk-Denpasar ini. Jalan masih basah dan ada banyak genangan kecil di tengah jalan. Belum juga menggowes 15 menit, kembali hujan turun dengan deras. Wah, bisa gawat kalau cuacanya begini. Waktu semakin banyak yang terbuang percuma. Dengan terpaksa saya minggir dan berteduh di sebuah bengkel sepeda motor yang tutup. Ada beberapa penggendara sepeda motor yang berteduh di sini. Salah seorang dari mereka mengajak ngobrol. Bapak ini ternyata punya saudara yang berdagang garmen di Pasar Tanahabang, Jakarta. Beliau sering ke Jakarta mengunjungi saudaranya ini. Biasanya ia berangkat ke Surabaya dengan bus, baru dari Surabaya ke Jakarta menggunakan angkutan kereta api. Pernah juga dia ke Jakarta dengan menggunakan bus. Bus barangkat dari Terminal Ubung, Bali dan akan sampai ke Terminal Pulogadung dalam 24 jam. Wah cepat juga. Dan yang pasti buat saya, ada bus langsung dari Bali ke Jakarta.

Kira-kira 20 menit kemudian hujan reda. Semua orang yang berteduh di bengkel ini mulai bergerak untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Sepeda mulai saya gowes lagi. Dalam hati saya berdoa semoga Tuhan memberikan cuaca yang lebih bersahabat dan hujan di pindahkan ke tempat lain untuk warga yang lebih membutuhkan. Jalan basah, relatif masih banyak genangan di jalan. Saya harus lebih berhati-hati melaju. Permukaan jalan yang halus dan basah relatih lebih licin. Saya berharap roda sepeda masih baik untuk mencengkeram permukaan jalan.

Tiba-tiba hujan turun lagi. Wadeuh … Tapi kali ini tidak sederas sebelumnya. Dengan terpaksa saya berhenti lagi. Tapi kali ini saya harus membongkar tas untuk mengambil jas hujan. Saya tidak mau terganggu lagi dengan hujan. Jas hujan yang berbentuk baju dan celana panjang saya kenakan. Dengan berjas hujan kembali saya membelah hujan gerimis. Lumayan, badan tidak jadi basah. Untuk barang-barang di dalam tas relatif aman dari air. Tas pannier yang saya gunakan terbuat dari bahan yang tidak tembus air (waterproof). Tapi semakin lama-lama badan terasa semakin panas. Uap air tidak bisa keluar dan terjebak di dalam jas hujan. Lama-kelamaan badan semakin panas dan terasa tidak nyaman. Beruntung, hujan mulai reda. Akhirnya jas hujan saya lepaskan.

Sepeda terus saya kayuh dengan cepat. Saya masih ingin mengurang sebanyak mungkin jatah gowes untuk esok hari. Jalan masih relatif halus, namun di sejumlah titik jalan dijumpai tanda lalu lintas yang bergambar bra pertanda jalan yang naik turun. Memang tanjakannya tidak seekstrim jalur Wonogiri-Ponorogo, tapi cukup melelahkan juga untuk mengatasinya. Waktu sudah menunjukan waktu pukul 18:00. Untuk membah tenaga, di kawasan Pulukan saya berhenti di sebuah warung pinggir jalan. Saya langsung habiskan 600 ml Pocari Sweat tanpa sisa sama sekali. Semantara itu, 1.5 lt Aqua saya dijadikan bekal tambahan air minum. Ibu pemilik warung sempat mengingatkan, jalan masih relatih baik hingga menjelang daerah Tabanan. Di daerah Tabanan ada jalan yang relatif buruk dan masih dalam proses perbaikan. Saya diminta untuk berhati-hati. Ibu ini juga bilang kalau dengan bus, Kota Denpasar bisa dicapai dalam waktu 1 jam perjalanan. Terimaksih Ibu.

Hari semakin sore. Di arah depan cuaca mendung tebal menggantung. Tuhan, semoga tidak turun hujan. Masih dengan semangat tinggi sepeda saya gowes secepatnya. Sempat saya bertemu dengan pelangi yang besar sekali. Sungguh indah pelangi ini. Kaki pelangi menyentuh area persawahan di sisi depan sebelah kiri dari arah saya datang. Saya sempat berhenti untuk memperhatikan pelangi ini, jangan-jangan ada bidadari yang sedang naik atau turun ke sawah di ujung kaki pelangi. Tapi bidadari itu tidak ada. Ha ha ha ha haaa… Tapi jujur saja, pelangi ini besar dan indah sekali. Warnanya sungguh terang dan kontras dengan latar mendung hitam gelap. Seumur hidup saya, baru pertama kali ini saya melihat pelangi sebesar dan seindah ini. Sungguh, ciptaan Tuhan yang luar biasa.

Hari semakin gelap. Tiba saat untuk cari tempat menginap. Semoga segera bertemu dengan pom bensin. Dan semoga Tuhan segera memberikan tempat untuk bermalam yang aman dan nyaman. Sambil melaju saya perhatikan kalau-kalau ada pom bensin. Kira-kira pukul 18:45 saya menemukan pom bensin di kawasan Panelokan. Komplek bensin yang berada di sisi kanan jalan ini dan dikelilingi dengan sawah yang luas. Di depan sisi kiri pom bensin terdapat rumah makan yang juga dikeliling dengan sawah yang luas pula. Tidak ada pilihan lain, saya harus menginap di sini. Kepada petugas yang berjaga saya minta izin untuk menginap. Memang tidak ada tempat yang layak untuk menginap. Saya katakan katakan kepada petugas ini saya akan tidur di teras samping kantor pom bensin. Dalam hati saya berdoa, semoga Tuhan tidak menurunkan hujan di sini pada malam nanti karena mendung masih tebal menggelayut. Kalau hujan turun, pasti saya tidak bisa tidur sama sekali. Area yang akan saya jadikan tempat untuk menginap akan basah tesiram hujan. Petugas mempersilahkan saya untuk menginap di tempat ini.

Pom Bensin 54.822.09 Panelokan, Bali

Pom Bensin 54.822.09 Panelokan, Bali

Sepeda segera saya parkirkan dan saya kunci. Untuk menghemat waktu, saya segera mencari makan malam. Tampaknya tidak ada tempat makan yang lain selain rumah makan yang ada di seberang pom bensin. Mau tidak mau harus makan di sana. Di rumah makan ini hanya menjual menu ayam bakar, ayam muda bakar. Ukurannya tidak besar, kira-kira pas untuk makan dua orang dewasa. Parahnya lagi, ayam dijual per ekor. Saya tidak bisa memesan setengah saja. Dengan terpaksa saya pesan satu ekor ayam muda bakar, nasi dan segelas teh manis. Berhubung hari sudah malam, saya secepatnya menghabiskan makan malam ini. Secepatnya, setelah selesai makan saya bayar menu makan malam ini. Untuk ukuran kantong saya cukup dalam untuk merogoh kantong. Mahal! Saya harus mengeluarkan uang Rp 25,000 untuk makan malam. Tapi sudahlah, itu resiko perjalanan.

Kembali saya ke pom bensin. Pom bensin ini relatif ramai, hampir setiap saat ada bus yang datang untuk mengisi bahan bakar. Hampir pasti, setiap bus yang mengisi bahan bakar, penumpangnya turun untuk ke toilet. Relatif lama saya menunggu untuk bisa mandi. Ketika agak sepi dari penumbang bus, saya masuk kamar mandi untuk mandi dan membersihkan badan. Badan sudah terasa kotor sekali. Belum juga di dalam kamar mandi 5 menit, pintu kamar mandi sudah digedor-gedor oleh rombongan ibu-ibu. Dengan logat Jawa Timur yang kental, salah seorang ibu berteriak: “Jangan pakai mandi, ini banyak orang yang kebelet kencing”. Di dalam kamar mandi saya tidak bisa berbuat apa-apa, kebetulan saya belum selesai mandi. Saya hanya senyum-senyum sendiri.

Pemandangan sawah di sisi kanan pom bensin Panelokan, Bali

Pemandangan sawah di sisi kanan pom bensin Panelokan, Bali

Selesai mandi, perlengkapan tidur saya keluarkan. Semua pakai basah saya jemur di atas sepeda untuk menutupi sepeda. Pannier dan sepeda saya kunci semua. Barang berharga saya masukkan ke dalam tas pinggang dan saya ikatkan di pinggang. Karpet tidur saya gelar dan saya mulai menulis catatan perjalanan untuk hari ini. Kira-kira 40 menit kemudian catatan sudah selesai. Kini saat untuk istirahat dan tidur. Sebelum tidur, tidak lupa berdoa, doa malam. Terimakasih Tuhan untuk semua yang telah Kau berikan. Berkati orang-orang yang saya cintai, juga bapak dan ibu saya, dan semua orang yang sudah saya temui hari ini. Saat saya rebahkan badan dan saya lihat langit. Mendung tampak tebal dan gelap sekali rupanya. Tuhan, kumohon jangan Kau turunkan hujan di sini untuk malam ini…

Bersama ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Sarapan nasi pecel + kopi hitam 8,000
Pocari Sweat (Rp 5,900) + Aqua 1.5 l (Rp 3,550) 9,550
Nasi bungkus daging + 3 tahu goreng + kopi hitam instant 6,500
Tiket kapal Ketapang – Gilimanuk 8,000
Pop mie (Rp 5,000) + 2 kopi hitam instant (Rp 4, 000) 9,000
Pocari Sweat (Rp 6,000) + Aqua 1.5 l (Rp 5,000) 11,000
Makan malam ayam bakar + teh manis 25,000
Toilet 5,000
Total : 45,550

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time) 7:58:04
DST (Trip Distance in km) 147.24
AV (Everage Speed in km/hr) 18.4
MX (Maximum Speed in km/hr) 44.7
CAL (Calorie Consumption in kcal) 2120
CO2 (Carbon Offset in kg) 22.08
ODO (Total Distance in km) 1240

Serpong, 12 Feb 2015


Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 10-b)

17/02/2015

Istirahat rasanya sudah cukup. Badan kembali terasa segar. Puncak Gunung Gumitir ini berupa celah (pass) batu yang sempit . Bentuknya mirip dengan pintu gerbang. Setelah melewati celah ini kembali sepeda saya gowes. Sekitar 100 meteran setelah gerbang jalan masih relatif datar. Setelah itu jalan menurun dengan tajam. Tanpa gowes sepeda meluncur dengan cepat. Dari speedometer kecepatan sepeda sudah hampir melewati angka 45 km/jam. Demi keamanan kecepatan saya tahan di kecepatan 40 km/jam. Terus sepeda melaju dengan kencang. Kebetulan juga tidak ada kendaraan yang searah dengan perjalanan saya. Sambil terus melaju dengan cepat, saya senandungkan lagu “Ode to Joy”. Ada rasa ringan, melayang, dan damai yang memenuhi dada. Rasa senang sungguh-sungguh terasa dan mengalir ke seluruh tubuh. Terimakasih Tuhan…

Gerbang di puncak Gunung Gumitir (Gumitir Pass)

Gerbang di puncak Gunung Gumitir (Gumitir Pass)

Saat meluncur turun saya sempat hampir menyusul 2-3 truk yang berjalan pelan menuruni jalan yang berkelok. Sulit juga berjalan pelan di belakang iring-iringan truk dengan kecepatan 10-15 km/jam dan saya dipaksa untuk jalan lambat. Apalagi di sini jalannya menurun tajam sekali. Saya tidak bisa menyalip di jalan yang sempit ini. Ada perasaan saya harus meluncur turun dengan kecepatan tinggi tanpa gowes untuk “balas dendam” setelah bersusah payah menuntun sepeda di jalan yang mendaki curam. Akhirnya saya biarkan truk-truk itu berlalu terlebih dahulu. Sepeda saya hentikan di pingir jalan. Sambil menunggu saya sempat buang air kecil dan minum air putih banyak-banyak. Kira-kira 10 menit kemudian kembali saya melanjutkan perjalanan. Sepeda meluncur dengan cepat sekali tanpa gowesan sedikitpun. Kecepatan saya pertahankan di kecepatan 40 km/jam. Di sepanjang jalan sempat dua-tiga kali berpapasan dengan pesepada yang sedang mendaki tanjakan. Hebatnya mereka tetap menggowes sepeda walaupun medannya menanjak tajam, tidak menuntun sepeda seperti yang saya lakukan. Selanjutnya saya melewati kawasan wisata Gunung Gumitir. Mungkin tempat ini semacam tempat makan dan taman bermain. Terus sepeda melaju dengan cepat. Akhirnya saya melewati gerbang Banyuwangi. Tidak jauh setelahnya ada patung penari Remo. Karena sedang melaju dengan kecepatan tinggi dalam suasana yang senang, saya tidak sempat berhenti di sini. Setelah jauh melewati patung ini, ada sedikit penyesalan karena saya tidak menyempatan diri untuk berhenti di tempat ini. Tapi sudahlah. Terus sepeda melaju dengan cepat. Ketika sampai daerah pemukiman warga, saya tengok puncak Gunung Gumitir dan puncaknya berada hampir membentuk sudut 90 derajat dari posisi saya berada. Artinya turunan yang baru saya lalaui adalah turunan yang sangat curam. Pantas saja dari puncak sampai daerah pemukiman saya tempuh dengan waktu yang sangat singkat. Sedangkan dari pom bensin Sempolan sampai puncak Gumitir memerlukan waktu 2.5 jam untuk jarak kurang lebih 20 km.

Sepeda terus saya kayuh dengan cepat. Adrenalin masih mengalir dengan deras. Saya secepatnya harus segera menyeberang ke P. Bali. Menurut perhitungan saya, jarak Pelabuhan Gilimanuk – Denpasar 140 km. Kalau agak ngotot sedikit, jarak ini dapat saya selesaikan dalam satu hari. Artinya kalau pagi-pagi saya berangkat dari Pelabuhan Gilimanuk sore harinya saya sudah sampai Denpasar. Tapi yang jadi masalah adalah ketika sore saya sampai di Denpasar saya harus bermalam lagi. Repot lagi untuk cari tempat bermalam. Apalagi Bali adalah tujuan wisata maka Denpasarpun akan ramai dengan pendatang dari banyak daerah bahkan banyak negara. Jadi menurut perkiraan saya tidak mudah cari tempat untuk bermalam. Kalaupun harus cari penginapan tentu harganya juga tidak murah. Dan yang pasti saya harus mengeluarkan pengeluaran extra untuk bermalam. Rasanya lebih enak sore itu juga pulang ke Jakarta dengan bus.

Berdasarkan pemikiran di atas, saya harus cepat-cepat menyeberang ke P. Bali. Selanjutnya saya harus mengurangi jarak 140 km Gilimanuk-Denpasar untuk memperpendek jarak tempuh hari berikutnya. Dengan demikian saya berharap saya sudah tiba di Denpasar sebelum sore hari. Selanjutnya sore itu juga saya pulang ke Jakarta. Demi mengejar target waktu ini, mulai turun dari G. Gumitir saya konsentrasi penuh pada gowesan dan pandangan 2-3 meter di depan roda sepeda. Speedometer menunjukkan angka 30 km/jam. Saya hampir tidak memperhatikan kanan kiri jalan lagi. Tidak banyak daerah yang saya kenali atau ingat di sini. Yang pasti saya ingat, saya melewati daerah Kalibaru dengan jalan yang masih relatif menurun. Lanjut terus masuk daerah Genteng. Di Genteng saya sempat beristirahat sejenak untuk membeli air putih dan Pocari Sweat. Udara di daerah Genteng ini terasa sangat panas. Untuk mendinginkan badan, bandana, lap leher, kaos tangan, dan kaos kaki saya basahi dengan air dingin di sebuah pom bensin. Cara ini cukup membantu melawan udara panas. Dengan badan sedikit dingin, gowes sepeda lebih terasa nyaman dan sepedapun dibisa digowes dengan optimum. Sepeda melaju cepat dan tanpa terasa Rogojampi terlewati.

Semakin siang udara semakin panas. Tidak ada mendung sedikitpun yang bisa menghalangi sedikit terik matahari. Sepeda masih dengan cepat tinggi saya kayuh. Saya sudah tidak mau menengok kanan kiri lagi supaya tidak mengganggu konsentrasi. Hampir saya tidak ingat apa-apa di jalur Rogojampi hingga pinggiran kota Banyuwangi. Dengan bersusah payah akhirnya tampak juga Kota Banyuwangi. Kota Banyuwangi bukan kota yang mudah untuk dilalui. Tidak banyak penunjuk arah jalan, sementara itu arus lalulintas banyak di belokkan ke jalan-jalan yang lebih kecil. Beberapa kali saya harus bertanya kepada warga yang berada di pinggir jalan arah menuju Pelabuhan Ketapang. Di suatu titik di tengah kota saya sempat melihat plang besar bertuliskan Pelabuhan Ketapang – 17 Km. Wah, masih jauh pikir saya. Terus saya susuri jalan Kota Banyuwangi yang sangat padat. Ketika sampai di jalan yang tidak terlalu padat baru tampak petunjuk arah Pelabuhan Ketapang.

Ada perasaan aman dan lega ketika sampai di sini. Tidak jauh dari sini ada gerobak pinggir jalan yang menjual makanan. Tampaknya di sini tempat berkumpulnya angkot berwarna kuning yang sedang istirahat. Beberapa pengemudinya sedang duduk sambil makan siang. Tidak ada salahnya istirahat dan makan siang sebelum menyelesaikan jarang kurang lebih 15 km menuju Pelabuhan Ketapang. Saya ambil satu bungkus nasi isi daging dan ditambah 3 tahu goreng. Tak lupa saya pesan kopi hitam instan. Dengan santai saya menyelesaikan makan siang. Sekali-kali tengok kanan kiri memperhatikan pengemudi yang sedang mengobrol. Makan siang sudah selesai kini, saatnya menghabiskan kopi yang masih panas. Salah seorang pengemudi bertanya: “Mau ke mana, Pak?”. Saya jawab saya mau ke P. Bali via Pelabuhan Ketapang. Dengan santai ia mengatakan kalau Pelabuhan Ketapang sudah dekat, tidak lebih jauh dari 7 km dari tempat ini. Glek… Bukan tadi, tidak jauh dari sini ada plang bertuliskan Pelabuhan Ketapang – 17 km? Tidak mungkin saya salah baca. Wah, bener nich!?. Cepat-cepat kopi saya habiskan. Setelah membayar menu makan siang, segera sepeda saya gowes ke arah Pelabuhan Ketapang.

Gerobak warung makan pinggir jalan di Banyuwangi

Gerobak warung makan pinggir jalan di Banyuwangi

Jalan raya menuju Pelabuhan Ketapang tidak seramai dalam Kota Banyuwangi. Tapi saya tetap harus waspada sambil sesekali menengok ke kanan untuk menemukan Pelabuhan Ketapang. Kira-kira 15 menit bersepeda saya menemukan semacam jalan ke arah kanan dengan plang kecil bertuliskan kecil Pelabuhan Ketapang. Dari depan tampak kapal, tapi bentuk tidak seperti kapal ferry. Di depan kapal tampak beberapa truk besar. Karena ragu saya tanyakan kepada petugas security yang berjaga di mulut jalan. Dari beliau saya mendapatkan informasi kalau saya bisa menyeberang ke P. Bali lewat dermaga ini. Sepeda saya belokkan ke arah pelabuhan. Beberapa puluh meter dari jalan ada loket penjual tiket kapal. Bentuknya mirip dengan loket parkir di Jakarta. Saya tanyakan harga tiket ke Pelabuhan Gilimanuk. Petugas mengatakan kalau harga tiketnya Rp 8000. Wah tidak salah nich? Ini saya penumpang kapal dengan membawa sepeda loh. Kok murah sekali, apakah tidak salah harga? Petugas menjawab tidak salah harga, harga tiketnya memang Rp 8000. Harga ini adalah harga sepeda plus pengendaranya. Petugas sempat bertanya, saya bersepeda dari mana, terus mau ke mana dan seterusnya. Ketika saya menjawab kalau saya bersepeda dari Jakarta tampak sekali wajah herannya. Sebelum berlalu ia sempat berpesan agar saya berhati-hati di jalan. Terimakasih Pak….

Akhir sampai juga saya di bibir paling timur Pulau Jawa. Sejenak saya ambil foto didepan sebuah kapal sebagai kenang-kenangan. Ternyata pintu kapal tersebut akan segera ditutup. Buru-buru saya serahkan tiket kapal dan saya masuk kapal. Saya adalah penumpang terakhir dari kapal ini. Sepeda saya parkirkan berjajar dengan beberapa sepeda motor. Di depan jejeran sepeda tampak truk-truk besar. Tidak lama kemudian kapal mulai bergerak. Perlahan saya perhatikan kapal bergerak meninggalkan pantai. Dan ternyata kapal tidak bersandar di dermaga, tapi langsung bersandar di pantai. Saya juga baru tahu kalau dermaga kapal ferry ada di sisi kanan ketika saya menghadap arah pantai. Jaraknya kira-kira 100-200 meter dari dermaga yang saya lalui tadi. Belakangan hari saya baru tahu kalau jenis kapal yang saya naik ini jenis LCT (Landing Craft Tank). Kapal yang biasa untuk mengangkut kendaraan tanpa perlu darmaga. Kapal cukup merapat ke pantai, kemudian membuka pintu kapal yang sekaligus dijadikan jembatan. Dengan jumbatan ini kendaranya mendarat di pantai.

Menjelang naik kapal LCT Adinda tujuan Pelabuhan Gilimanuk, Bali

Menjelang naik kapal LCT Adinda tujuan Pelabuhan Gilimanuk, Bali

Ada beribu perasaan bergejolak di hati. Saya perhatikan speedo meter di sepeda, waktu menunjukkan angka 11:30 WIB, Odometer menunjukkan angka 1187 km, dan last distance 94.27 km. Artinya saya sudah bersepeda hari rumah hingga titik ini sejauh 1187 km. Jarak dari tempat saya menginap semalam (Pom Bensin Sempolan) sampai titik berjarak 94.29 km. Ya, saya sudah menggowes sejauh 1178 km. Sudah 10 hari saya meninggalkan rumah. Saya jadi ingat malaikat-malaikat cantik yang ada di rumah. Sudah lama sekali saya meninggalkan mereka. Rasanya kangen sekali dan ingin cepat-cepat pulang. Tak terasa ada air yang menetes dari sudut mata.

Posisi odometer ketika berada di atas kapal penyeberangan Ketapang - Gilimanuk

Posisi odometer ketika berada di atas kapal penyeberangan Ketapang – Gilimanuk

Kapal terus melaju semakin jauh meninggalkan Pulau Jawa. Untuk mengisi kekosongan waktu saya mengobrol dengan beberapa pengemudi truk yang berteduh di bawah kendaraannya. Ternyata beberapa truk ini adalah rombongan truk yang sedang melakukan perjalanan dari Jember menuju Pulau Sumba. Truk-truk ini akan sampai tujuan dalam 4-5 hari lagi. Wah, jauh dan lama sekali. Sambil terus mengobrol kapal juga terus melaju. Tanpa terasa, setelah 1 jam berlayar kapal mulai merapat di pantai Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Masuk P. Bali berarti masuk wilayah waktu yang berbeda dengan waktu di P. Jawa. P. Bali masuk wilayah waktu Indonesia Tengah. Satu jam lebih cepat dibandingkan dengan wilayah P. Jawa yang masuk wilayah waktu Indonesia Barat. Kapal berlayar selama 1 jam. Menurut waktu Indonesia Barat sekarang pukul 12:30, tapi di P. Bali waktu sudah menunjukkan waktu pukul 13:30. Berarti saya rugi waktu satu jam.

Sepeda parkir bersama dengan beberapa sepeda motor lainnya di atas kapal

Sepeda parkir bersama dengan beberapa sepeda motor lainnya di atas kapal

Keluar kapal tidak perlu antri. Begitu pula keluar area pelabuhan, tidak ada pengecekan apapun. Masuk P. Bali udara terasa sangat panas dan kering. Sepeda saya kayuh menyusuri jalan keluar pelabuhan. Permukaan jalan kering dan tidak terlalu bagus. Jalan mulai mulus setelah melewati pertigaan jalur utara dan jalur selatan P. Bali. Di pertigaan ini kalau belok ke arah kiri adalah jalur utara P. Bali, sedangkan yang lurus adalah arah jalur selatan P. Bali. Saya ambil jalur yang lurus, jalur selatan P. Bali. Selepas pertigaan ini adalah wilayah Taman Nasional Bali Barat. Kondisi jalan di sisi sangat baik. Permukaan jalan berasapal hotmix yang sangat halus. Tanda marka jalan di buat sangat jelas. Di sisi kiri jalan dibuat bahu jalan selebar kurang lebih satu meter dengan dibatasi dengan marka jalan garis lurus tanpa putus. Ketika masuk wilayah ini udara terasa berubah, terasa segar dan sangat sejuk.

bersambung …