Ibu Sepuh di Stasiun Tanah Abang, Jakarta

Beberapa hari sebelum lebaran kemarin, seperti biasa saya turun dari KRL AC Ekonomi Ciujung di Stasiun Tanah Abang. Perjalanan saya belum berhenti di sini. Saya harus menunggu kereta arah ke Bogor untuk mencapai Stasiun Sudirman, dan dilanjutkan lagi dengan Kopaja 19 arah ke Blok M. Biasa, saya termasuk warga yang tinggal di pinggir Jakarta. Harus bersudah payah untuk mencapai tempat kerja di tengah kota. Cara tercepat dan termurah mencapai tempat kerja adalah menggunakan kereta. Kebetulan dekat rumah ada stasiun kecil Rawa Buntu, Serpong. Dalam komunitas kereta apai, kaum urban seperti kami sering disebut Roker alias Rombongan Kereta. Kaum pinggiran pengguna moda kereta. Jadi kami warga yang naik di Stasiun Rawa Buntu disebut Roker Rabun (rombongan kereta Rawa Buntu).

 

Pagi itu sambil terkantuk menunggu kereta arah ke Bogor, saya memperhatikan kereta-kereta disel yang baru masuk dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Biasanya pada jam 6:30, jalur 2 akan masuk kereta dari Jawa Tengah atau Jawa Timur. Atau RKL dari Manggarai ke arah Jakarta Kota, yang hanya berhenti sesaat saja. Kemudian di jalur 3 sudah siap kereta yang akan berangkat ke Kutoarjo, Jawa Tengah. Jalur 4 adalah jalur untuk langsir kereta, lokomotif atau yang sekedar parkir. Sulit untuk naik turun kereta di jalur ini. Di jalur ini tidak tersedia peron yang memudahkan akses ke kereta. Kemudian Jalur 5 biasnya digunakan kereta KRL dari Serpong atau dari Manggarai yang berhenti sampai di Tanah Abang dan kembali ke Serpong atau Manggarai lagi. Satu lagi jalur 6 hanya digunakan untuk kereta dari Serpong habis di Tanah Abang atau yang lanjut ke arah Stasiun Jakarta Kota. Sebaliknya, kereta dari Stasiun Kota ke arah Serpong / Rangkas Bitung akan memakai jalur ini.

 

Kembali ke Jalur 4, jalur ini sering sekali digunakan untuk parkir kereta batubara. Tapi pagi itu ada kereta dari Jawa Tengah atau Jawa Timur. Tumben, tidak seperti bisanya, kereta ini masuk di Jalur 4. Saya hanya berfikir, mungkin kesibukan menjelang mudik Lebaran membuat semua jalur jadi padat. Saat saya berandai-andai tentang kereta tersebut, kereta mulai bergerak lambat ke arah Manggarai. Mungkin mau langsir. Setelah bergerak kurang lebih 100 meter, kereta kembali berhenti. Tepat di seberang saya berdiri, ada Ibu Sepuh (maaf tua, manula), dugaan saya berumur 60 tahunan berdiri di pintu kereta. Tampak dia kebingungan. Dia bertanya kepada salah seorang di dalam kereta, apakah stasiun ini Stasiun Tanah Abang? Orang tersebut mengiyakan. Dia berusaha turun dari Jalur 4. Kebetulan sekali ada dua orang satpam kereta yang yang sedang berjalan di rel membantu menurunkan dirinya dari kereta. Tapi hanya sampai di situ saja, dan satpam tersebut berlalu begitu saja. Ibu Sepuh kebingungan lagi. Kemudian saya panggil ke arah saya berdiri di Jalur 5. Saya khawatir sebentar lagi akan masuk dari KRL Ekonomi dari  Bogor yang masuk di jalur ini. Kalau tidak cepat  keluar dari jalur 5 bahaya,  bisa tertabrak kereta.

 

Ibu sepuh menggendong bungkusan dari bahan kantung terigu, dan menjinjing tas keranjang yang terbungkus kain. Belakang saya tahu kedua bawaannya sangat ringan setidaknya menurut ukuran saya. Dugaan saya pula itu semua adalah harga yang dia miliki.Ya, yang dia miliki saat ini. Sangat sedikit !!

 

Tinggi rel ke peron mungkin sekitar 130 cm. Untuk orang biasapun sulit untuk naik ke atas peron. Dengan dibantu oleh seorang Bapak (belakangan saya tahu Bapak tersebut tinggal di depan kampus STAN, Bintaro) Ibu Sepuh kami angkat kedua tangannya hingga dia bisa naik ke atas peron. Tidak terlalu berat. Badannya cukup kurus. Setelah sampai di atas, Ibu tersebut kembali bertanya, apakah benar dia sudah sampai Stasiun Tanah Abang. Saya jawab, iya. Pendek kata, saya dan Bapak yang membantu menggangkat Ibu Sepuh ngobrol bareng. Dari obrolan tersebut, saya tahu, Ibu Sepuh baru datang dari Solo, Jawa Tengah. Di sana ia tinggal di kawasan Purosari (Purwosari?) untuk pensiun menikmati hari tua tentunya. Di Solo ia tinggal dengan saudaranya, karena tidak punya suami dan anak. Ia sebatang kara. Dia pikir, lebih enak menikmati hari tua di kota kecil Solo, dari pada Jakarta. Sebelumnya ia tinggal di kawasan Angke, Jakarta. Merasa sudah tua akhirnya mudik ke kampung halamannya, Solo.

 

Setelah beberapa waktu tinggal di Solo (dia tidak bilang berapa lama), dia merasa tidak betah. Tidak enak tinggal sama saudara, dan yang lebih pasti dia merasa membebani saudaranya. Di Solo dia tidak bekerja (baca: tidak ada pekerjaan!), dengan begitu tidak ada penghasilan, sulit untuk hidup. Akhirnya Ibu Sepuh memutuskan untuk kembali mengadu nasib di Jakarta lagi. Mengadu nasib lagi di Jakarta?? Saya hanya bisa tertegun dan geleng-geleng kepala. Dalam benak saya, mau apa lagi ke Jakarta? Bukan tinggal di daerah lebih nyaman dan enak? Ketertegunan saya terjawab. Dia bilang dengan umur 60 tahunan, di Jakarta dia masih bisa kerja apa saja. Sejelek-jeleknya jadi tukang cuci atau pekerjaan kasar apapun masih bisa dapat uang untuk makan. Kalau di Solo untuk jadi tukang cucipun susah alias tidak ada. Pekerjaan kasar lainpun, tidak ada. Menurut Ibu Sepuh sulit buat hidup di Solo. Kalau dia tetap bertahan di Solo, dia merasa akan lebih cepat mati.

 

Saya lirik kanan kiri saya. Ada beberapa Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang biasa nunggu kereta arah Stasiun Sudirman ikut nguping. Tidak terlibat pembicaraan. Tapi saya tahu mereka mengikuti pembicaraan kami. Tampak keprihatinan di wajah mereka terhadap Ibu Sepuh.

 

Terakhir kali Ibu Sepuh bertanya kalau mau ke Angke, mesti ke mana dan pakai angkutan apa ?  Saya jawab, naik kereta ke arah Jakarta Kota. Nanti turun di Stasiun Angke. Bisanya pada jam-jam segitu ada kereta ke arah Jakarta Kota. Kebetulan sekali di jalur 5 masuk KRD dari Rangkas Bitung ke Stasiun Jakarta Kota. Saya sarankan agar ibu sepuh naik kereta tersebut. Saya bantu dia naik dan saya titipkan pada penumpang di situ agar membantu Ibu Sepuh turun di Stasiun Angke. Sesaat sebelum dia naik KRD, saya buka dompet, saya ambil selebar uang dan saya sisipkan digenggamannya. Pada saat yang bersamaan beberapa Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang ikut nguping tadi, ikut memberikan uang. Saya tahu pasti lebaran yang diberikan minimal pecahan 5 ribuan. Bahkan ada yang memberi lebaran 20 ribuan. Saya tersentak dan sedikit tertegun dengan moment ini. Masih banyak orang baik di Jakarta yang konon keras ini. Kota yang konon penuh persaingan. Juga penuh dengan bajingan dan penjahat. Sesaat kemudian kereta mulai bergerak, jalan ke arah Jakarta kota

 

Dari sorot matanya, saya menangkap Ibu Sepuh orang yang baik dan jujur. Dia tidak berbohong. Mungkin aura kejujurannya membuat orang disekitarnya trenyuh dan tersentuh. Orang dengan rela dan iklas mau memberinya uang ala kadarnya.

 

Saya jadi ingat kedua orang tua yang sudah cukup tua (bulan Juli 2008 kemarin merayakan 50 tahun perkawinan) tinggal berdua saja di rumah. Tanpa pembantu, tanpa sanak famili. Dari enam anak, lima diantaranya tinggal di Jakarta, dan satu tinggal di Solo. Mengapa tidak anak yang tinggal di rumah ? Jawabannya sederhana sekali. Di tempat tinggal kami tidak resources yang bisa menjadi gantungan hidup. Dengan kata lain, kalau kami tetap tinggal di rumah (orang tua sekarang) kami tidak bisa hidup. Tidak harapan. Bagaimana kami bisa mengejar mimpi-mimpi. Bagaimana resources yang ada bisa memenuhi angan-angan kami? 

 

Fenomana yang sama juga terjadi di desa-desa di daerah Jawa Tengah. Saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana masyarakat setempat begitu sulit mendapatkan uang. Sudah bekerja seharian penuh, dari padi hingga sore, paling hanya dapat Rp 5000 – Rp 10000. Kira-kira sama dengan 5-10 bungkus mie instant. Pertanyaan berikutnya, apakah mereka hanya perlu mie instant saja? Apakah mereka tidak perlu beras, gula, garam? Apakah anak-anak mereka tidak perlu sekolah? Bagaimana dengan SPP, buku, seragam, dan lain-lain? Trus, bagaimana kalau mereka sakit ? Kepala saya jadi berdenyut, sakit dan pusing!

 

Pantas saja semua orang datang ke Jakarta, seperti Ibu Sepuh. Di Jakarta hanya orang malas yang kelaparan. Kalau mau bekerja dan tidak malu, tidak akan lapar!. Dengan tengadah di pinggir jalan sudah pasti bisa makan, pakai ayam lagi. Bahkan saya pernah melihat penghuni gubuk liar dekat Stasiun Sudirman (Dukuh Atas) tiap pagi minum susu. Hebat !!

 

Buat kita sudah bekerja (di Jakarta) dan mendapat gaji bulanan harus bersyukur. Kerja di gedung ber-ac, makan kenyang bisa 3 kali sehari, atau bahkan bisa makan dan kongkow di kafe. Weekend jalan-jalan ke luar kota atau nonton bisokop kelas atas. Kesehatan dijamin asuransi. Baik kalau kita melihat ke atas, tapi lebih baik kalau kita juga sesekali melihat ke bawah. Dengan begitu kita tahu (dan sadar) kita ada di ketinggian mana dan bersyukur (kepada Tuhan) bahwa kita sudah setinggi titik ini. Berikutnya pula, jangan lupa dari setiap gaji yang kita terima ada yang menjadi hak orang lain, alias hak Tuhan. Bagian itu harus diserahkan (kembali) kepada Tuhan. Menurut saya.

 

Tuhan ajari aku untuk selalu bersyukur atas semua yang telah Kau berikan dan yang telah aku terima.

 

Gedung Bursa Efek Indonesia, 8 Okt 2008

 

Rudi Kismo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s