Boy dan Desy

Dulu, sewaktu saya masih kecil, saya punya seekor anjing betina. Saya sudah lupa namanya. Tapi yang saya ingat pasti, anjing tersebut mempunyai tiga ekor anak. Yang pertama laki-laki, kedua perempuan, dan ketiga perempuna. Nasib si bungsu kurang beruntung. Masih kecil sudah tewas tertabrak mobil. Laki-laki pertama saya beri nama Boy, dan yang kedua, saya beri nama Desy. Jaman itu film Catatan Si Boy sedang booming, dan model remaja Desy sedang naik daun. Jadi bahan pembicaraan teman-teman sekolah. Model Desy orangnya cakep, kata teman-teman. Pendek kata nama keduanya saya pakai untuk nama anjing saya. Anyway, walaupun saya bukan bapaknya, saya berhak memberi nama mereka berdua. Lha wong, saya yang ngurus mereka …..

Waktu mereka kecil, mereka berdua selalu main berdua. Lari kesana, lari kemari. Kayak nggak punya capek. Kadang main adu fisik alias berantem. Yang kecil, Desy sudah menjadi kebiasaannya, selalu kalah. Kalau sudah kalah ia akan teriak-teriak. Berisik. Ganti saya yang ngomel. Ngomelin kakaknya, Boy. Kalau sudah begini, kakaknya cuma bengong, plonga-plongo, sok polos. Sebel banget…… !!!

Saat makan, mereka bisa makan sepiring berdua. Akur. Sampai habispun, mereka tidak saling berebut. Tapi kalau makan di piring terpisah, yang besar makannya cepet banget. Begitu porsinya habis ia akan pindah ke piring adiknya. Ambil bagian adiknya. Adiknya nggak terima. Ya bisa ditebak, mereka berdua berantem dan seperti adat kebiasaan yang biasa terjadi si kecil kalah dan teriak-teriak. Saya bilang pada mereka, kenapa sich nggak makan dengan akur dan tenang. Bukankah mereka berdua bersaudara. Kalau bisa makan berdua dengan tenang, bukannya akan muncul kedamaian. Bukannya damai itu indah….

Mereka tumbuh terus. Hobbynyapun tidak berubah. Selalu bermain. Mereka suka sekali main di halaman depan rumah. Kebetulan depan rumah luas banget plus ditanami dengan rumput manila. Rumput manila tumbuh dengan subur, dan berdaun lebat hingga membentuk lapisan yang cukup tebal. Tempat yang nyaman untuk berguling-guling, berlari-lari, atau latihan jungkir balik. Sering sebelum mandi sore saya berolah raga kecil di sini. Olah raga tidak jarang disisipi bermain dengan Boy dan Desy. Ini yang saya sebut olah raga sambil bermain. Sering sekali Boy dan Desy mengejar saya. Saat mereka di sebelah saya, kaki saya ditangkap dan digigit. Saya tahu mereka menggigit kaki saya dalam konteks becanda. Mereka tahu persis, saya yang mengurus mereka. Termasuk memandikan. Jadi mereka tidak serius dalam hal ini.

Semakin besar, hobby keduanya mulai berubah. Boy lebih demen di rumah. Keluarpun paling sampai depan pagar rumah. Setelah itu balik lagi ke rumah. Walaupun dia cowok, Boy nggak suka kelayapan malam. Kadang saya bingung, apa Boy nggak pingin punya pacar? Kok demennya tinggal di rumah. Apa jangan-jangan Boy termasuk kelompok homo? Suka sama laki-laki? Seperti perilaku yang lagi marak di jaman sekarang ini? Tapi rasanya nggak begitu. Buktinya, dia tetap banyak di rumah. Kalaupun dia homo, pasti dia keluar cari pacar. Atau paling tidak ada teman yang rajin datang nyambangi rumah. Udah gitu Boy nggak resek. Nggak brengsek. Nggak banyak buat masalah. Dia baik-baik saja. Atau, jangan-jangan ada masalah dengan kepribadiannya. Saya semakin bingung sama Boy. Sebaliknya, Desi semakin parah kelakuannya. Kerjaannya nglayap melulu. Jarang di rumah. Walau sudah jam makan Desy lebih sering ogah pulang kerumah. Walau sebentar untuk makan sekalipun. Selidik-punya selidik, Desy yang mulai jadi ABG, kerjaan nongkrong di rumah tetangga. Di sana ada cowok. Saya lihat, cowok tersebut nggak ada ganteng-gantengnya. Nggak ada bagus-bagusnya, Apalagi handsome. Jauh ……!!!

Tapi saya binggung sama Desy, kenapa dia mulai kegenitan. Ganjen habis. Dimana-mana laki-laki yang nyambangi cewek. Yang nyamperin cewek. Tapi kebalikannya, cewek yang ngapelin cowok mulu. Dalam tradisi Jawa hal seperti ini disebut ngunggah-unggahi. Suatu hal yang tidak baik, tidak sopan, dan pamali!!. Untuk itu, kadang saya omelin dia. Saya maki habis-habisan. Paling dia cuma diam dan menunduk sok innocent. Karena terlalu sebel sama Desy, pernah saya doain dia semoga jadi janda seumur hidup (saya tidak tahu hal ini kejadian atau tidak). Ini Benar-benar cewek gila…..

Pernah suatu ketika, mungkin Desy tidak makan dan nglayap hingga larut. Sedari sore tidak kelihatan batang hidungnya. Pas pagi-pagi buta saya bangun, di depan pintu Desy tertidur bersebelahan dengan muntahan dan pupnya sendiri. Seketika itu juga saya teriak sekerang-kerasnya, hingga seisi rumah terbangun. DESSSYYYYYYYY, ANJIIIIINNNNNNNGGGGGGGGGGG LOH, YA….. !!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s