Rindu Adinda Pujaan Hati

Oleh: Rudi Kismo

Tugas melemparkan ku ke negeri singa
Negeri penuh hutan beton belantara
Di sini orang diam tutup mulut seribu bahasa
Persis laksana badan tanpa jiwa
Tak lebih dari mesin tanpa senyum dan tawa

Saat itu senja hari
Dalam Merlion Park ku duduk diam sendiri
Di depanku ikan berkepala singa tegak berdiri
Kokoh dan tegap sombong memamerkan diri
Air memancar dari mulut bagai lenggok penari

Di barat mentari beringsut di telan bumi
Hutan beton mulai memancarkan sinarnya sendiri
Berkedip laksana kunang-kunang saat malam hari
Perlahan dan pasti, di timur bulan perlahan menari
Tersenyum manja merangsang orang menikmati

Seharusnya ku riang hati
Tapi, kegalauan rapat menyelimuti
Membenamkan dalam-dalam di lumpur sunyi
Juga, kegundahan membuat ku seakan mati
Melemparkan jauh ke dunia kesendirian nan abadi

Sang waktu telah menjadikan ku karang keras
Tidak lagi lunak laksana batu cadas
Walau masa terus menerus menggilas
Ku tetap berdiri menahan topan hujan deras
Tak lekang ditimpa sinar mentari panas

Kini, ku masih duduk diam seorang diri
Di beranda hati kehancuran nan sunyi
Segelas kopi manis masih setia menemani
Tak sadar air mata berlinang di pipi
Ku rindu senyum dan kerling mata Adinda pujaan hati

Gedung BEI, 2 Sep 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s