Soto Bogor Pa Salam

Bogor, Kota Hujan sekarang bukan kota yang sunyi lagi. Sekarang sudah menjadi kota yang sangat ramai sekali. Di tahun 1995 an, lewat pukul 21:00 semua toko sudah tutup. Jalanan sudah sepi. Kalau pun ada orang yang berjalan di jalanan bisa dipastikan orang ini orang yang akan pulang ke rumah. Bukan orang yang mau jalan untuk menikmati malam atau cari hiburan malam. Sekarang kota ini tidak lagi sepi seperti dulu. Sudah ramai sekali. Sudah banyak mall dan cafe yang buka hingga larut malam. Banyak kawasan pemukiman yang sekarang sudah berubah menjadi pertokoan/ factory outlet. Coba lihat kawasana jalan Pajajaran. Dulu kawasan ini banyak ditinggali pensiunan pejabat. Sekarang rumah-rumah tinggal ini sudah berubah menjadi tempat usaha.

Dulu saya sangat senang berjalan kaki di kota ini. Bangun pagi-pagi, jalan menyusuri jalan mengelilingi Kebun Raya Bogor. Tak lupa mampir ke pasar Bogor sekedar melihat-lihat orang berjual dan berbelanja di pasar. Atau siang hari jalan dari arah Sukasari menyusuri jalan Suryakencana, Pasar Bogor, dan berakhir di kawasan Baranangsaiang. Yang tak kalah menariknya adalah jalan di antara Kebun Raya Bogor dan Pasar Bogor. Di sini banyak sekali pedagang kaki lima menjajakan buah-buahan, sayur mayur, bunga, dan hewan peliharaan kelinci. Aroma basah dan segar bunga lumayan untuk menyegarkan badan dan pikiran.

Setelah sekian tahun tidak menjajakkan kaki di kota ini, saya sungguh terperangah. Kota Bogor sudah berubah sama sekali. Banyak sudut kota yang sudah tidak saya kenali lagi. Banyak area yang dulu kosong sudah dipenuhi dengan bangunan. Bahkan ada bangunan yang sudah berubah fungsi, seperti kampus IPB Baranangsiang. Belum lagi arus lalu lintas dalam kota yang sudah berubah, plus angkot yang banyak sekali. Konsekuensi logisnya kemacetan terjadi di mana-mana.

Untuk tempat makan saya tidak tahu banayak. Saat sebagian besar fakultas IPB masih menggelar perkuliahan di Kampaung Barangsiang, banyak sekali kantin makan yang tersebar di sekeliling kampus. Harga murah, kualitas dan kuantitasnya lumayan. Variasi makanannya cukup banyak. Dengan uang pas-pasan bisa makan enak dan banyak di sini. Di luar kawasan ini saya tidak banyak tahu. Paling yang yang saya tahu mie ayam Pasar Anyar, rumah makan sebelah RS Salak, dan sate di kawasan Air Mancur. Selebihnya gelap, saya tidak tahu. Mahklum, saya bukan orang yang suka makan.

Teman bercerita ada makanan khas Bogor yang cukup enak, soto kuning Bogor. Konon lokasinya ada di jalan Suryakencana, dekat Gg. Aut. Namanya Soto Bogor Pa Salam. Berbekal informasi ini tidak ada salahnya untuk melacak dan mencicipi soto Pa Salam. Kawasan ini saya tahu, tetapi lokasi tempat warung soto ini saya tidak tahu. Bisa jadi waktu dulu saya sering jalan kaki di kawasan ini saya tidak tahu/mengenal Soto Bogor Pa Salam. Cari dan dicari akhirnya ketemu juga. Lokasinya persis di seberang Bank Mutiara saat ini. Ternyata warung Soto Bogor Pa Salam bukan warung dalam rumah atau toko. Tapi warung tenda di atas trotoar jalan. Gerobak panjang diparkir di trotoar, di bagian atasnya dipasang tenda biru, dan bangku duduk disusun di depan gerobak.

Warung tenda Soto Bogor Pa Salam buka sekitar pukul 15:00. Saking larisnya, jam 18:00 soto sudah habis. Warung sudah tutup. Konon, dalam sehari Soto Bogor Pa Salam menghabiskan 20 kg daging, belum termasuk jeroan dan lidah. Kebetulan saya datang jam 15:00 dan sudah ada beberapa orang antri. Di meja digelar aneka pilihan isi soto. Ada daging, usus, hati, paru-paru, lidah, perkedel, dan lain-lain. Yang menjadi ciri khas soto ini adalah sate jackson. Saya bingung, apa itu sate jackson. Ternyata jackson adalah jengkol!!. Jengkol ditusuk seperti sate dan digoreng. Sate jackson sangat banyak peminatnya. Dalam waktu sekejap sate jackson habis terjual. Sate Jackson dihidangkan bersama dengan daging dalam kuah soto. Sambil mengantri, saya memperhatikan cara pemesanannya. Pembeli memilih isi soto yang ada di meja dan dimasukkan ke dalam mangkok. Mangkok diserahkan kepada penjual (Pak Salam ?). Isi soto dipotong-potong dan diberi kuah soto yang berwarna kuning dengan sedikit warna kehijauan.

Biasa, saat melayani pembeli Pak Salam banyak mengeluarkan kata-kata, ”Siap, dimonitor”. Saat pembeli meminta tambahan ini-itu, Pak Salam dengan enteng dan segar akan menjawab ”Siap, dimonitor”. Atau ketika pembeli menanyakan jumlah uang yang harus dibayar, kembali dijawab ”Siap dimonitor”. Pak Salam mulai menghitung dan pembeli senyum-senyum sendiri.

Hampir satu jam saya mengantri untuk mendapatkan soto pesanan saya. Suap pertama kuah soto, rasannya sungguh luar biasa. Enak sekali. Kunyit yang memberi warna kuning tidak terasanya getirnya. Warna kehijauan saya tidak tahu datang dari mana mungkin ini yang membuat rasanya jadi enak. Daging, jeroan, lidah, hati, dan paru empuk sekali. Tidak ada liat-liatnya (alot). Soto dimakan dengan nasi agak pera (mirip nasi orang Sumatra) semakin mantap setelah ditambahi sambel rawit dan sedikit kecap manis. Ukuran makan saya satu piring, di sini saya bisa makan dua piring. Mantap sekali!!

Selesai makan langsung bayar. Pak Salam pun bilang ”Selamat, selamat ya…” Kok selamat bukan kata terima kasih. ”Pak kenapa bilang selamat?” Jawabannya ,”Ya, selamat, karena Anda sudah makan soto saya.” Saya termenung sesaat. Ya betul, selamat!, saya sudah menikmati soto kuning Pak Salam yang enak sekali. Terimakasih banyak Pak Salam.

Gedung BEI, 3 Aug 2011

2 Responses to Soto Bogor Pa Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s