Singapore Edition: Makan

Makan adalah salah satu kebutuhan manusia yang paling dasar. Di manapun orang tinggal sudah pasti butuh makan. Oleh sebab itu tiap daerah memiliki jenis dan ciri makan yang berbeda-beda. Secara otomatis pula makanan mempengaruhi kebiasaan dan selera makan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Karena sudah terbiasa makan dengan makanan di daerah tempat tinggalnya, orang biasanya akan kesulitan dengan jenis makanan jika ia pergi dan harus makan di daerah lain. Sebagai contoh; orang Yogya akan kesulitan ketika harus makan makanan Padang, Batak, atau Manado. Mereka akan mengeluh karena bersantan, pedas, dan keras. Demikian pula sebaliknya, orang Padang, Batak, dan Manado ketika mereka harus makan gudeg dan tempe bacem. Mereka akan mengeluh terlalu manis dan “anyep” (tidak ada rasanya). Ini sebuah kenyataan, makanan membentuk pola dan budaya makan dan sebaliknya budaya dan alam membentuk pola makan dan jenis makanan. Keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi dan pada gilirannya membentuk sebuah indentitas yang sangat khas. Maka sekarang dengan mudah kita bisa mengetahui jenis makanan kalau kita tahu budaya atau asal seseorang. Kita bisa tahu makanan orang Padang biasa berkuah santan dan pedas. Makanan orang Manado cenderung pedas, berbahan segar, dan sangat khas dengan masakan ikan. Makanan orang Surabaya cenderung pedas dan asing, dan seterusnya, dan seterusnya.

Demikian juga negara lain, akan memiliki ciri dan budaya makanan yang khas pula. Sebagai contoh negara Singapore memiliki makan yang sangat dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang tinggal di Singapore. Tiga etnis besar negara Singapore adalah Chinesse, India, dan Melayu. Secara otomatis pula tiga budaya masyarakat ini berpengaruh besar pada budaya makanan Singapore. Maka ketiga jenis makanan etnik ini sangat mudah ditemukan di seantero Singapore.

Masakan Chinesse cenderung berkuah bening. Lebih mirip rebus-rebusan. Sayuran dan daging atau sea food direbus bersama dengan kuah bening plus bumbu. Biasanya disajikan dengan kondisi panas. Sangat mirip dengan sabu-sabu masakan Jepang. Menu ini paling banyak dan mudah didapatkan di foodcourt-foodcourt Singapore.

Masakan Melayu lebih mirip dengan masakan Padang. Kebanyakan masakan Melayu bersantan. Untuk ukuran selera saya, masakan Melayu tidak ada enak-enaknya. Warna masakannya cenderung pucat dan tidak membangkitkan selera. Saya suka nasi pera khas masakan Sumatra. Tapi di sini nasinya jauh lebih pera lagi. Lebih mirip nasi setengah matang. Untuk rasanyapun jauh lebih enak masakan Padang di Jakarta. Bumbu dan rempah-rempahnya lebih berani dan sangat kuat terasa di mulut.

Masakan India, saya tidak banyak tahu. Saya hanya sekali atau dua kali saja mencoba India. Mencoba sekedar supaya tahu saja. Atau dengan kata lain pernah mencicipi masakan India. Masakan yang pernah saya coba adalah Nasi Briyani, Roti Prata, dan Chepati. Kuah kari sudah hampir pasti mennyertai menu-menu tersebut. Secara umum masakan India memiliki aroma khas rempah-rempahnya sangat tajam tercium. Mungkin ada campuran kapulaga yang begitu dominan.

Dari seorang temen yang tinggal di Singapore saya mendapat informasi, orang Singapore jarang masak di rumah. Apertemen yang sempit menyulitkan mereka untuk memasak. Sehingga mereka lebih senang makan di luar rumah/apartemen. Selain praktis juga efisien, tidak repot masak dan buang-buang waktu. Pulang kerja sudah makan di sekitar kantor. Sampai di apartemen bisa diisi dengan kegiatan yang lain. Bukan memasak dan makan.

Dengan kondisi seperti ini, warung makan sangat mudah ditemukan di setiap pojok Singapore. Dari mal hingga di pojok-pojok stasiun MRT. Hampir di lantai bawah gedung perkantoran tersedia foodcourt. Kadang kala di kompleks perkantoran tersedia foodcourt dengan ukuran yang sangat besar sekali. Ada satu lantai gedung dengan foodcourt berukuran 100 x 50 m. Dengan area seluas ini berbagai jenis makanan tersedia. Di tempat lain, hampir pasti di lantai bawah mall atau stasiun MRT selalu tersedia foodcourt. Tinggal pilih makanan sesuai dengan selera masing-masing.

Untuk saudara-saudara umat Muslim, tidak perlu khawatir dengan makan halal. Di Singapore foodcourt dengan nama “Banquet Food Court” sudah pasti menyediakan masakan halal. Ini foodcourt halal versi Singapore. Walaupun di foodcourt iini banyak warung makan halal, tapi tetap saja ada yang menjual masakan tidak halal. Hanya saja warung-warung ini menulis kata-kata mengandung babi atau semacamnya besar-besar sehingga sangat mudah tertangkap oleh mata. Kecuali kalau tidak mengerti bahasa Inggris.

Tempat-tempat makan ini biasanya pagi-pagi sudah buka. Dan biasanya tutup sekitar jam 9:00 waktu setempat (Singapore lebih cepat 1 jam dibandingkan dengan waktu Jakarta). Sepanjang minggu buka, bahkan hari Minggu sekalipun. Pernah pada satu hari minggu saya harus masuk kantor. Kantor berada di pusat bisnis Singapore (Raffless Place). Saya khawatir bakal tidak bisa membeli makan. Ternyata warung-warung tersebut buka secara normal. Jumlah pembelinya juga banyak. Sangat ramai tetapi sedikit lebih sepi jika dibandingkan dengan hari kerja.

Untuk harga makanan di Singapore sejauh pengamatan saya relative sama. Baik itu di fourtcourt mall, foodcourt perkantoran, ataupun foodcourt stasiun MRT. Sekali makan berkisar SGD 3 – 6 belum termasuk minum. Porsi dengan harga seperti ini sudah cukup mengenyangkan perut.

Untuk minuman relative mahal, dengan harga SGD 1.5 – 3. Karena minuman mahal warga Singapore jarang yang pesan minuman saat makan. Kebetulan juga masakan Singapore sudah berkuah, sehingga tidak perlu pesan minuman. Dengan sedikitnya orang yang pesan minuman, tiap foodcourt dengan puluhan penjual makanan paling hanya ada satu warung yang menjual khusus minuman termasuk juice. Konon penjual makanan tidak boleh menjual minuman sekaligus. Tapi kebetulan saya pernah melihat warung masakan India menjual minum kopi tarik dan teh tarik. Mungkin ini pengecualian.

Nah sekarang tidak perlu lagi khawatir mencari makanan di Singapore, bukan ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s