Singapore Edition: Masakan India

Saat itu saya stress dengan pekerjaan saya. Sudah susah kerjaannya, deadline-nya pun semakin dekat. Saking sibuknya sampai lupa makan. Ingat makan siang setelah jam makan siang lewat jauh. Kalau ingat kerjaan malas rasanya untuk turun gedung cari makan. Tapi demi kesehatan saya terpaksa turun cari makan. Sampai di foodcourt pun bingung mau makan apa. Sudah beberapa hari sebelumnya saya makan Singaporian food. Bosan juga rasanya. Pikir-pikir tidak ada salahnya untuk mencoba menu lain. Akhirnya saya pilih menu masakan India. Mumpung di sini ada, kalau di Jakarta menu masakan India akan lebih sulit ditemukan. Akhirnya saya memesan Nasi Briyani dan teh tarik.

Nasi Briyani

Ini kali pertama saya mencoba makan Nasi Briyani. Menu berisi nasi kuning, sayur acar, dan ayam goreng. Nasi kuning dengan buliran nasi yang panjang cenderung pera (sekali) dan sangat khas dengan rasa kapulaganya. Rasanya searah dan sejalan dengan Nasi Kebuli (masakan Arab). Hanya saja nasi Briyani tidak berminyak dan tidak dicampuri dengan potongan daging (kambing). Lauk ayam ada dua pilihan, ayam goreng atau ayam kari. Saya pilih ayam goreng.Ukuran paha ayamnya jauh lebih besar dibandingkan dengan ayam yang biasa dijual di warung-warung nasi di Jakarta. Rasanya dan tekturnya lebih mirip ayam kampung yang banyak dijual di warung-warung nasi di Jawa tengah. Sedangkan acar berisi kol, buncis, mentimun, dan buah nanas. Untuk saya, sayuran ini memberi sensasi rasa manis, pedas, dan renyah di mulut. Sangat segar sebagai pengimbang rasa kapulaga yang kuat.

Pada kesempatan lain saya mencicipi roti prata. Belakang saya baru tahu, nama lain roti prata adalah roti canai. Di Singapore biasa disebut dengan roti prata, sedangkan di Malaysia disebut dengan roti canai. Satu lagi, saya pernah mendengar roti maryam. Apakah roti maryam sama dengan roti prata ? Saya tidak tahu dan tidak begitu yakin kalau sama. Tapi kalau dilihat dari gambar-gambarnya tampak mirip.

Roti Prata

Roti prata kalau di Jakarta mirip dengan martabak telur. Adonan tepung terigu dibanting-banting hingga terbentuk lembaran tipis dan lebar. Kemudian lembaran di goreng di wajan yang lebar. Nah di sini bedanya. Kalau martabak telur lembar adonan tipis diberi isi daun bawang, telur, dagaing, dan bumbu kemudian digoreng dengan minyak yang berlimpah. Nyaris semua martabak tenggelam dalam minyak. Sedangkan roti prata diisi dengan telur ceplok atau keju atau bawang atau mutton (daging kambing) dan digoreng dengan sedikit minyak. Hasil akhirnya roti prata masih terasa sebagai roti, sedangkan martabak telur sudah tidak terasa sebagai roti. Roti prata disajikan bersama dengan kari ayam atau kari kambing.

Saya pernah juga mencoba roti canai di kawasan Serpong. Rasanya mirip dengan roti prata. Bedanya roti canai di Serpong lebih tipis seperti kulit lumpia sedangkan roti canai lebih tebal setebal martabak telur. Disajikan dengan gulai kambing, mirip gulai kambing Padang. Rasa gulai kambingnya lebih enak dibandingkan dengan kari di Singapora.

Pernah juga suatu malam saya jalan-jalan di kawasan Little India. Ada satu tempat makan yang sangat ramai sekali. Orang-orang makan begitu lahapnya. Iseng-iseng saya tanya ke salah seorang pelayannya. Apa makanan yang sedang dimakan orang-orang di sini. Dia jawab itu chapatti. Warung ini khusus menjual chappati. Akhirnya saya pesan dua chappati dengan kari ayam. Dari refensi yang saya peroleh di kemudian hari, chappati adalah masakan India, tapi kalau dilihat penjual dan pelayan-pelayannya lebih mirip orang-orang Pakistan. Tapi itu tidak penting. Tidak perluu lama menunggu menu yang saya pesan sudah keluar. Chappati berbentuk lembaran tipis bulat selebar piring makan lebih mirip dengan kulit lumpia. Chappati tidak digoreng tapi dipanggang sehingga tidak basah oleh minyak, dan relatif liat saat disobek. Bukan getas seperti layaknya roti tipis yang dipanggang.

Chappati


Kari ayamnya tidak lebih enak jika dibandingkan dengan kari ayamnya roti prata. Karena rasanya, saya kesulitan untuk menghabiskan 2-3 potong kecil ayam. Tapi saya sungguh menikmati suasana tempat ini. Orang-orang (mayoritas India) begitu menikmati dan makan begitu lahap. Pemandangan yang sungguh menarik dan atraktif. Apalagi saya mengamati mereka sambil minum kopi hitam yang dijual oleh orang China di warung sebelah.

Mantap……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s