Dekat dengan Nya

Dalam budaya Jawa hidup diibaratkan sebagai bagian dari sebuah perjalanan. Hidup ini hanya sekedar perhentian untuk beristitahat sejenak dari suatu perjalanan panjang. Setelah beristirahat sejenak tiap orang harus melanjutkan perjalanan. Makanya dalam istirahat yang singkat ini orang dituntut untuk tetap waspada, bijaksana, dan tawakal sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan apakah itu? Hingga saat ini pun saya belum menemukan jawabannya.

Dalam hidup ini sudah hampir pasti tiap orang menghadapi masalah, lepas dari besar kecil atau berat ringannya masalah. Tiap orang juga punya kapasitas yang berbeda-beda dalam menghadapi masalah yang sama, tergantung dari pengalaman, kemampuan, dan resistensi masing-masing. Yang lebih penting lagi, kita harus selalu belajar dan terus belajar dalam menghadapi setiap permasalah. Semakin banyak belajar, kita menjadi semakin pandai dan dewasa dalam menyelessaikan permasalah-permasalahan yang ada.

Saya pribadi bukan orang yang sempurna. Jauh dari sempurna. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Untuk itu saya selalu terus belajar, belajar menggapai suatu bentuk yang ideal dan sempurna. Memang tidak mudah untuk belajar. Banyak sekali kesulitan dan tantangan yang menghadang. Bahkan sering jatuh. Tak jarang pula masalah yang ada melewati batas kesabaran dan kemampuan saya. Istilah saya melewati limit atau batas saya. Pada titik ini hanya satu cara yang bisa saya lakukan, pasrah dan berserah sepenuhnya padaNya. Dengan demikian saya merasa tidak sendiri. Bahkan merasa dekat, begitu dekatnya saya merasa ada yang menggendong, melindungi, bahkan memberikan kekuatan baru.

Logika terbaliknya adalah ketika saya ingin dekat denganNya saya membawa diri dalam kesulitan yang berat. Atau suatu kesusahan. Saya jadi ingat banyak orang menyusahkan atau menderitakan diri untuk dekat dengan Nya. Contohnya dengan melakukan aneka puasa, mati raga, atau melakukan tapa brata. Secara fisik hal ini membawa ke penderitaan, tetapi secara spiritual hal ini memberikan kekuatan dan mendekatkan diri pada Nya. Begitu dekat dan akrab dengan Nya, apa saja yang diminta atau dimohon pasti didengar dan dikabulkan. Cara ini sudah dilakukan sejak dulu kala dan hingga saat ini cara seperti ini masih dilakukan.

Spiritualitas adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan ini. Hampir pasti tiap orang memiliki nilai-nilai spiritualitas. Yang membedakan hanya tingkatannya saja. Dari pengamatan saya, orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi akan lebih ramah, dewasa, sabar, dan bijaksana. Bisa saja pengamatan saya salah. Tapi itu yang saya rasakan. Untuk itu, saya terus belajar untuk menggapai tingkatan spiritualitas yang semakin tinggi. Dengan harapan untuk hidup lebih tenang, damai, dan dekat dengan Nya. Amin

BEI, 5 Jan 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s