Jebakan Monyet di Cinangka, Anyer, Banten

Pada libur Lebaran Haji (Idul Adha) 6 November 2011 yang lalu saya diajak tepatnya diundang kakak ipar saya ke kebunnya di Cinangka, Anyer, Banten. Ipar saya dan beberapa temannya akan melakukan kurban di sini. Sekitar pukul 6:00 pagi saya berangkat ke Anyer. Sedangkan ipar saya bersama keluarga, beberapa orang saudara yang lain, dan teman-temannya sudah datang sejak sehari sebelumnya. Mereka menginap di sini. Keluar tol Cilegon Barat, mobil langsung saya arahkan ke Anyer. Sampai di pertigaan Cinangka, Anyer belok kiri. Tepat di pertigaan ini ada minimarket satu-satunya di kawasan ini. Jalan arah ke kiri mengarah ke Pondok Pesantren Nurul Fikri, atau bisa juga ke arah Pandarincang, Labuan, atau Serang kota. Kebun ipar saya ada di sekitar Pondok Pesantren Nurul Fikri.

Kira-kira pukul 8:00 saya sudah sampai kebun. Seekor kerbau muda sudah tertambat pada sebuah pohon besar. Beberapa orang warga sekitar sudah datang berkumpul. Tidak beberapa lama kerbau dipotong. Karena tidak tahan melihat kerbau dikuliti, saya ajak anak, mantan pacar, keponakan, dan kakak ipar yang lain jalan-jalan. Sambil menunggu kerbau diolah dan jam makan siang tiba. Kebetulan sedang di Anyer, tidak salahnya jalan-jalan ke pantai. Pasti menarik dan menyenangkan untuk melepasakan stress. Mobil kembali saya arahkan ke arah pantai. Sampai pertigaan Cinangka saya ambil kanan. Hanya beberapa puluh meter dari sini saya masuk kawasan pantai. Saya putuskan masuk tempat ini karena tidak terlalu jauh dari pertigaan Cinangka, sehingga kalau mau pulang ke kebunpun bisa lebih cepat.

Pertigaan Cinangka, Anyer, Banten (Sumber: Google.com)


Masuk area pantai dibatasi dengan pintu buka tutup semacam gerbang. Saya diminta uang masuk Rp 50 000 untuk satu kendaraan. Tiket (sangat) butut disodorkan. Mahal untuk ukuran saya, karena saya hanya masuk area kosong yang menghadap laut. Setelah tawar menawar akhirnya sepakat saya bayar Rp 40 000. Mobil saya arahkan ke arah pantai. Oooo, ternyata ada saung-saung kecil di antara pohon kelapa. Saya pikir layaklah saya bayar Rp 40 000 dengan tambahan fasilitas ini. Mobil saya parkirkan di sebelah salah satu saung. Turun mobil ada beberapa orang datang menghampiri. Ada yang menawarkan makanan, minuman, dan tikar untuk duduk. Semua saya tolak dan kebetulan tidak perlu.

Anak-anak langsung masuk ke laut. Main air, main pasir, lari kesana kemari, dan photo-photo. Saya hanya memperhatikan mereka tanpa ikut berbasah-basah. Cukup berdiri di bibir pantai dengan sesekali kaki terkena air yang terdorong oleh gelombang. Kira-kira 2 jam kemudian saya ajak anak untuk pulang. Kebetulan juga sudah siang dan perut mulai terasa lapar. Sementara anak-anak mandi dan berganti baju, saya kembali ke mobil. Saat itu datang orang yang menawarkan tato. Saya minta dibuatkan satu tato di tangan. Sambil ditato saya duduk di saung. Tidak lebih dari 20 menit kemudian tato selesai dan anak-anak yang ganti baju sudah selesai. Saat itu datang seseorang dengan mengendari motor datang dan bertanya “Jadi sewa saung, Pak?”. Saya kaget, pertama saya kira saung ini fasilitas gratis yang disediakan. Kedua saya hanya duduk sebentar dan kebetulan juga sudah mau pulang. Masa saya harus bayar. Saya jawab “Tidak, Pak.” Orang tersebut dengan ketus bilang kalau “Kalau gak mau sewa bilang dari tadi! Dan jangan duduk di situ!.” Dia terus-terusan mengomel yang tidak jelas maksudnya. Saya jadi kesal sekali. Di sekitar saung tidak tertulis saung disewakan atau ada yang datang dan bilang saung disewakan. Tak ada tanda saung tersebut disewakan. Jadi saya tidak tahu. Tapi kenapa saya dimaki-maki? Siapa yang salah? Mau ajak ribut orang bodoh macam gini juga tidak ada untungnya. Lebih baik cepat pergi dari sini. Dengan perasaan dongkol saya keluar dan pulang.

Saung sumber masalah itu.


Liburan dengan harapan senang karena bisa menghilangkan stress kantor malah dapat makian akibat jebakan monyet. Rasanya tidak ada keinginan untuk berlibur ke pantai Anyer lagi. Kapok !!. Kakak ipar saya pun bilang kejadian seperti ini banyak dan biasa terjadi di kawasan Anyer hingga Labuan. Makanya kawasan wisata ini dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja. Tidak tambah maju bahkan tambah sepi. Banyak orang yang sudah pernah datang tidak mau kembali lagi, imbuhnya. Haedeuuh….

Gedung BEI, 12 Jan 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s