Bersepeda ke Kota Bogor

Bersepeda adalah salah satu kesukaan saya yang masih bisa saya jalani saat ini. Setiap ada waktu saya akan berkeliling daerah-daerah di sekitar rumah dengan sepeda tua nan butut. Olah raga sekaligus jalan-jalan refreshing. Selain untuk mengenal daerah-daerah baru, dalam kesendirian saya melakukan refleksi dan pendekatan diri kepada Nya. Ini adalah bagian waktu khusus untuk menyendiri dan berfikir santai dan bebas. Dalam kesendirian saya merasa sering bis “mengobrol” denganNya. Bahkan saya merasa sering mendapatkan bisikan dan kekuatan dari Nya. SuaraNya sangat jelas terdengar saat saya benar-benar dalam kesendirian dan kesunyian. Saat saya tersesat di jalan dengan kondisi badan yang sangat lelah itulah saya bisa merasakan kesunyian itu. Hingga saya dengan mudahnya bisa “berdialog”. Hasil dialog ini adalah dengan cepat dan mudah jalan yang benar saya temukan. Atau saat saya kehabisan nafas dan otot-otot kaki sudah sulit digerakkan, tiba-tiba tenaga yang luar biasa muncul. Kadang kala saya sendiri heran dengan hasil yang saya peroleh. Dengan pikiran normal saya merasa tidak mampu, tetapi begitu saya berdoa dan percaya, semuanya tercapai dan terjadi.

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengatakan perjalanan seperti ini adalah bagian dari perjalanan spirtual saya. Bukan hanya jalan-jalan untuk senang-senang, tetapi saya berusaha mengisi sisi ruang spiritual saya yang kosong. Pada kesempatan seperti ini saya melakukan banyak doa, refleksi diri, dan pendekatan padaNya. Hasilnya, saya merasa “akrab” sehingga tanpa ragu dan segan saya berterimakasih, bersyukur, atau meminta sesuatu. Tanpa malu saya bisa berdoa dan minta sesuatu baik untuk diri sendiri, keluarga, atau orang-orang yang perlu saya doakan. Lebih lanjut lagi, saya mendapatkan kepuasan lahir batin, kesehatan badan, dan bertambahnya kedekatan saya denganNya.

Kembali ke bersepeda. Dulu pernah terbersit untuk bersepeda ke Bogor. Sudah lama dan tidak terpikir lagi. Kebetulan akhir tahun 2011 saya kembali ingat akan keinginan ini. Kebetulan saya cuti akhir tahun untuk mengurangi jumlah cuti yang begitu banyak. Tepat 28 Desember 2011 saya jalankan niat ini. Pagi-pagi pukul 5:00 saya sudah terbangun dan langsung gosok gigi dan cuci muka. Setelah berganti sepatu, baju, dan helm sepeda langsung ambil sepeda dan berangkat. Sebelumnya sempat ragu, saat bangun tidur cuaca gerimis. Tapi tidak lama kemudian gerimis berhenti. Akhirnya saya niatkan untuk berangkat. Saya percaya kalau saya punya niat semua halangan pasti akan dengan mudah dihadapi. Berbekal air 700 ml, uang saku sekedarnya, dan KTP saya berangkat. Saya tengok jarum jam menunjukkan pukul 5:30. Masih kelihatan gelap dan mendung tebal bergelayut. Sepeda mulai saya kayuh. Keluar kompleks BSD langsung ketemu jalan Rawabuntu, ambil arah kiri ke arah Taman Tekno BSD. Setelah Taman Tekno BSD akan ditemukan jalan Serpong Raya, ambil arah ke kiri lagi tujuan Perempatan Muncul. Biasanya perempatan ini macet parah. Kebetulan tidak macet, mungkinmasih pagi dan kendaraan belum padat. Dari perempatan ini ambil lurus terus ke arah Gunung Sindur. Tidak jauh dari Perempatan Muncul akan ditemukan kompleks Puspitek Serpong. Setelah komplek ini kanan kiri jalan banyak tanah dan kebun kosong dengan sedikit pemukiman warga. Ada juga komplek perumahan yang baru akan dibangun. Hanya ada gerbang utamanya saja. Tidak terlalu jauh dari sini akan ketemu Perempatan Pasar Prumpung. Arah kiri tujuan Parung, ke kanan saya tidak tahu arah tujuannya, sedangkan lurus terus ke depan arah Ciseeng. Saya ambil arah lurus terus ke arah Ciseeng. Di sepanjang kanan kiri jalan dipenuhi dengan rumah warga. Rasanya di sepanjang jalan ini banyak peternakan ayam. Hal ini terasa dengan aroma kotoran ayam yang sangat tajam. Bagi yang belum biasa aroma ini sangat menggangu sekali.

Di ruas jalan ini disebelah kiri jalan akan ditemukan tempat wisata air panas Batu Kapur. Lokasi persisnya tidak di sebelah jalan tapi harus masuk gang kira-kira 100 m. Masih lurus terus akan ditemukan perenpatan Ciseeng. Arah kiri ke pasar Parung, kanan arah ke Ciseeng, dan lurus terus arah Bogor. Saya ambil arah lurus. Sepeda terus saya kayuh. Jalan mulai menanjak, tanjakan landai yang sangat panjang harus saya atasi. Nafas mulai terengah-engah. Keringat deras mengalir dan sepenggal doa saya panjatkan. Hingga akhirnya ruas jalan ini terselesaikan dengan ketemunya jalan raya Bogor. Di pertigaan sisi sebelah kiri (arah pasar Parung) ada kedai kopi. Seperti biasanya, di sini saya sejenak beristirahat. Teh hangat manis saya pesan dan beberapa potong pisang goreng cukup untuk menggajal perut.

Kira-kira 20 menit kemudian, kembali sepeda saya kayuh ke arah Bogor. Jalan raya Bogor relatif lebar dan beraspal halus. Di kanan kiri jalan masih banyak pohon besar bertajuk rimbun. Hanya saja volume kendaraannya tinggi. Diperlukan kewaspadaan ekstra. Banyak sekali angkot yang berhenti mendadak di sembarang tempat. Ditambah lagi pengendaran motor yang kurang tertib berlalulintas. Saya selalu memposisikan diri berlalulintas yang aman dengan harapan keselamatan semua pengguna jalan terjaga.

Jalan Raya Bogor terus saya susuri, hingga ketemu Pertigaan Semplak. Seingat saya, ke arah kanan menuju Lanud Atang Sanjaya dan Bogor kota. Tapi saya tidak begitu yakin dan hal ini saya tanyakan pada warga setempat. Ternyata benar, pertigaan ini adalah Pertigaan Semplak. Kembali sepeda saya kayuh menyusuri jalan raya Semplak. Di kawasan ini terdapat komplek Angkatan Udara. Selain lapangan udara, komplek ini juga dilengkapi dengan perumahan untuk anggota AURI. Setelah komplek ini terlewati akan ditemukan perempatan Bubulak. Ke arah kiri menuju jalan raya Bogor-Parung, ke kanan menuju terminal Bubulak dan Dramaga, dan lurus ke arah Bogor. Saya ambil lurus ke arah Bogor. Tak jauh dari sini di kanan kiri mulai ditemui pohon-pohon kenari yang besar-besar sekali. Ini salah satu hal yang saya suka dari kota Bogor. Banyak jalan dinaungi dengan pohon-pohon besar. Ahaa… Saya sudah masuk kota Bogor. Semangat baru muncul lagi. Semakin semangat sepeda saya kayuh. Tidak lebih dari 15 menit saya sudah sampai di pertigaan jalan Semeru. Terus saya susuri jalan yang padat dengan pedagang kaki lima hingga tembus pertigaan di Jembatan Merah. Sepeda saya arahkan ke kiri menuju Jl. Kapten Muslihat hingga ketemu lampu merah sebelah gereja Kathedral Bogor. Saya ambil arah kanan ke arah pasar Bogor. Terus setelah melewati Pasar Ramayana belok melewati depan gerbang Kebun Raya Bogor. Jalan menurun dan sedikit menanjak hingga ketemu Tugu Kujang di depan kampus Institut Pertanian Bogor. Sampai di sini sepeda saya sandarkan di dinding tugu. Saya sujud syukur dengan hasil yang saya capai. Benar-benar saya tidak menduga bahwa saya bisa sampai di tempat ini hanya dengan sepeda tua. Terimakasih Tuhan, terima kasih Tuhan ….


Di tempat ini saya tidak lama, tidak lebih dari 10 menit. Rencana saya mau istirahat di tempat lain. Kembali sepeda saya kayuh ke arah Pasar Bogor. Sampai depan gerbang Kebun Raya Bogor sepeda saya tuntun masuk ke halaman depan loket tiket masuk. Sepeda saya parkirkan. Sebagian air di tromol air mulai berpindah ke perut. Sejenak saya tarik nafas dalam-dalam menikmati udara segar. Setelah saya kira-kira 20 kali tarikan nafas panjang badan mulai segar dan lebih tenang. Saya mulai menenangkan diri, mencoba menarik diri dari keramaian dengan menunduk konsentrasi. Kembali saya dekatkan diri saya padaNya. Semua puji dan syukur saya haturkan atas segala berkat-berkat, anugrah, dan kemurahan yang telah saya terima darinya. Tak lupa pula saya keluhkesahkan segala beban, derita, kesulitan, dan semua tantangan yang harus saya tanggung kepadaNya. Saya selipkan pula beberapa penggal doa untuk orang-orang yang saya kasihi. Ia berasa dekat sekali dengan saya. Saya sungguh percaya bahwa Ia mendengarkan keluh kesah dan doa-doa saya. Pendek kata saya bisa curhat sebebas-besarnya di sini.


Kurang lebih 40 menit kemudian, kembali sepeda saya kayuh. Tujuannya pulang ke rumah. Saya pulang melalui jalur yang sama dengan jalur berangkat. Ketika mulai masuk Jl Semeru saya baru sadar jalan menurun dengan tajam. Berarti saat berangkat tadi saya harus mengalahkan jalan yang menanjak. Jalan ini terus menurun hingga Pertigaan Semplak-Jl Raya Bogor Parung. Ruas jalan ini relatif mudah dilewati. Karena jalannya menurun tidak perlu tenaga yang banyak dan waktu tempuhnya pun singkat.

Dari jalan raya Parung Bogor kembali saya ambil jalan potong ke arah BSD, di Pertigaan setelah Telaga Kauhipan. Lurus terus ke perempatan Ciseeng, perempatan Prumpung, Puspitek Serpong, Taman Tekno BSD, dan masuk ke Perum BSD. Saya berangkat pukul 5:30 sampai di rumah lagi pukul 12:20 dan jarak yang saya tempuh kira-kira 82.5 km.
Begitu sepeda saya sandarkan di halaman rumah, kembali saya menunduk kepada mengucap syukur atas semua yang telah terjadi. Terimakasih Tuhan ….

Semoga bersepeda ke Bali atau ke Flores, atau keliling Eropa akan terjadi di suatu hari nanti. In deepest of faith ….

Gedung BEI, 24 Jan 2012

One Response to Bersepeda ke Kota Bogor

  1. […] Ciater. Sekali waktu ke Pamulang 1, Reni Jaya, Pondok Petir hingga Parung. Bahkan pernah sampai di Bogor kota, depan Kebun Raya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s