Bersepeda Serpong – Puncak Pass. (bagian I)

Tiba-tiba saja HRD Manager di kantor mengirimi saya email. Dalam email tertulis pesan agar saya segera menghabiskan sisa cuti tahun lalu. Sisa cuti masih ada 10 hari kerja dan harus diambil paling lambat tanggal 1July 2012. Sekedar informasi cuti saya tahun ini sebanyak 24 hari kerja masih utuh. Tanpa pikir panjang saya putuskan untuk ambil cuti. Langsung saya ambil cuti 5 hari kerja mulai tanggal 7 Mei sampai 11 Mei 2012. Yang penting saya ambil cuti dulu supaya tidak hangus walau belum ada rencana kegiatan selama cuti.

Masa cuti tiba, satu dua hari cuti di rumah masih enak. Baru setelah itu mulai berasa bosennya. Biasa kerja, sekarang harus menganggur. Akibatnya badan tidak capek sehingga malam mata susah dipejamkan. Sampai lewat tengah malampun mata masih segar. Kalau cuti dengan cara seperti ini terus bakalan tidak beres. Setelah pikir-pikir mau mengerjakan apa, akhirnya saya putuskan berjalan-jalan dengan bersepeda. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah arah tujuan bersepeda. Pikir-pikir dan timbang-timbang akhirnya saya pilih tujuan ke Puncak Pass, Jawa Barat. Jauh dan berat, rasanya tidak mungkin alias mustahil tercapai. Saya pernah bersepeda ke Bogor, itupun rasanya sudah berat sekali. Tapi di sini saya ingin menguji kekuatan fisik dan mental saya. Sampai di titik mana saya akan mempu mengejar tekad, mimpi, dan kemampuan saya. Dengan cara ini pula saya berusaha mendekat diri denganNya. Kala saya berada di titik letih, lelah, dan lapar akan sangat terasa sekali Ia begitu dekat. TanganNya terasa sekali menggandeng saya dan bisikanNya memberikan kekuatan hingga saya mampu untuk terus melangkah. Melangkah untuk maju terus. Itulah cara saya untuk selalu dekat denganNya.

Tekad dibulatkan niat dikuatkan, tepat hari Kamis 10 Mei 2012 dengan diawal dengan doa sepeda saya kayuh. Waktu tepat menunjukan pukul 6:00 pagi saat saya berangkat dari Serpong. Sepeda saya kayuh menyusuri Taman Tekno BSD, Puspitek, Ciseeng, dan jalan raya Parung-Bogor. Tepat di pertigaan ini ada warung mie instant. Saya sudah biasa beristirahat di sini untuk sarapan kala bersepeda pagi ke arah Parung dan Pamulang. Berhubung belum sarapan dari rumah, saya pesan mie instant dan teh manis. Sambil menunggu mie instant dimasak beberapa potong pisang goreng berpindah ke perut. Begitu pesanan mie instant datang dengan cepat saya habiskan. Segelas teh hangat manis menutup sarapan pagi. Setelah 20 menit beristirahat di sini, kembali sepeda saya kayuh lagi. Jalan raya Parung-Bogor kembali saya susuri hingga bertemu pertigaan Semplak. Dari sini sepeda saya belokkan ke kanan ke arah Bogor kota. Jalan mulai terasa menanjak dan kaki mulai pegal-pegal. Sampai depan RS Karya Bakti di jalan Semeru Bogor saya istirahat sejenak untuk minum dan meluruskan kaki. Kurang lebih 5 menit kemudian kembali sepeda saya kayuh. Tidak terlalu lama kemudian saya sudah masuk kota Bogor. Sepeda tetap saya arahkan ke arah Sukasari, Bogor. Tanjakan Sukasari mulai terasa menyiksa. Mungkin saya sudah terlalu lelah setelah mengayuh sepeda sekitar 30 km. Ada rasa ingin menyerah untuk balik badan dan pulang. Tapi saya masih sedikit penasaran untuk mencoba melanjutkan lagi. Terus sepeda saya kayuh. Sampai di pertigaan Ekalosari kembali saya istirahat. Sudah tidak kuat rasanya.

Kembali doa saya panjatkan dan saya mohon diberi kekuatan untuk terus melangkah maju terus. Jalan menanjak Tajur – Ciawi kembali saya susuri. Tanjakan yang begitu curam dan sangat panjang tampak menakutkan. Godaan untuk balik badan dan pulang semakin rajin menggangu. Tapi saya masih ingin terus berjalan maju dan berusaha untuk tidak menyerah. Jalan terus menanjak, hingga di titik tertentu saya merasa tidak kuat lagi. Apalagi air minum bekal dari rumah sudah habis. Terpaksa saya berhenti mampir di sebuah minimarket untuk membeli minuman. Sejenak saya beristirahat sambil minum. Kembali saya renungkan; akankah saya menyerah di titik ini? Kalau saya menyerah berarti saya kalah. Saya kalah melawan diri sendiri. Apakah saya sudah mencapai titik batas akhir saya? Ah, tidak! Saya belum mau menyerah, saya masih ingin lanjut. Kembali sepeda saya kayuh. Perempatan besar Ciawi terlewati sudah. Jalan ke arah Gadog kembali menanjak. Beruntung tanjakannya tidak terlalu panjang. Setelah pertigaan Tapos jalan cenderung menurun. Dan akhirnya sampai juga di pertigaan Gadog, ke kiri masuk tol Jagorawi, ke kanan arah Puncak.

Sepeda saya arahkan ke kanan. Jalan menanjak tapi tidak terlalu curam. Tidak jauh dari sini jalan menurun. Tapi tiba-tiba saya harus mengayuh di jalan yang menanjak curam (Tanjakan Selarong?). Saya tidak kuat lagi, terpaksa sepeda saya tuntun. Beberapa angkutan kota (angkot) berhenti dan menawarkan jasa mengangkut sepeda ke Puncak. Tawaran mereka saya tolak. Terus sepeda saya tuntun dan paha depan bagian bawah mulai terasa sakit sekali. Nanti saya akan berhenti sejenak kalau jalanan mulai agak datar, pikir saya. Menjelang akhir tanjakan kembali sepeda saya kayuh. Hanya dalam jarak beberapa meter paha saya terasa keram. Kedua paha tidak bisa digerakkan untuk mengayuh sepeda, dengan bersusah payah saya berusaha menepi di pinggir jalan. Tepat di depan sebuah restoran dengan pohon-pohon besar di depannya sepeda saya robohkan. Saya tidak bisa berdiri lagi dan terjatuh di trotoar, kedua paha kaku dan kejang. Tanpa pikir panjang badan saya rebahkan di trotoar tepat di gerbang restoran yang masih tutup. Mata saya pejamkan menghindari silau oleh matahari. Saya pikir, kalau kondisi saya seperti alamat pulang ke rumah. Pelan-pelan kejang dan rasa sakit di paha mulai lenyap. Badan mulai terasa lebih enak. Kira-kira 30 menit kemudian rasa sakit hilang sama sekali.

Beberapa angkot kembali menawar jasanya untuk mengangkut sepeda ke Puncak. Saya masih belum mau menyerah dan tawaran mereka kembali saya tolak. Perjalanan saya lanjutkan tapi tidak ngoyo lagi, semampunya saja. Kalau tidak kuat gowes sepeda saya tuntun, tapi kalau benar-benar tidak kuat saya akan pulang. Itu keputusan saya. Doa terus saya panjatkan, terutama saya berdoa untuk orang-orang yang saya kasih. Entah sudah berapa kali doa yang sama saya ucapkan. Juga saya mohon untuk tetep diberi kekuatan. Sambil terus berdoa sepeda saya kayuh menyusurui daerah Cipayung. Pelan tapi pasti sepeda masih bisa saya kayuh. Tepat di sebuah pom bensin sebelum pasar Cisarua saya istirahat lagi. Istirahat agak lama di sini, kira-kira 30 menit. Setelah istirahat sepeda saya kayuh lagi, kebetulan jalanan macet menjelang pasar. Saya bisa menyusuri jalan menanjak tanpa berasa tanjakan karena selap-selip di antara kendaraan. Terasa asyik sehingga jalan menanjak tidak membaut lelah. Selepas pasar jalan lalu lintas lancar dan tidak jauh dari pasar saya bertemu dengan pertigaan Taman Safari. Wah kaget juga saya, ternyata saya masih mampu dan sudah mengayuh sepeda sejauh ini. Semangat baru muncul dengan pencapaian ini. Sepeda terus saya kayuh melawan tanjakan selepas pertigaan Taman Safari. Karena tanjakan begitu tajam, kayuhan sepeda sering saya ganti dengan jalan kaki.

Comments are closed.