Sepeda: Kenal Sepeda

Saya dilahirkan di sebuah desa kecil di lereng gunung. Sudah pasti daerah ini memiliki kontur tanah yang tidak rata. Banyak tempat berbukit dan sisi lain, tidak sedikit daerah berlembah. Kalau Anda pernah ke daerah Puncak, Jawa Barat kira-kira kontur tanah desa saya seperti itu. Pasar, rumah sakit, sekolah, dan pusat keramaian jauh ada di bawah. Sedangkan rumah saya (baca: rumah orang tua) ada di atas.

Untuk pergi ke sekolah, pasar, atau tempat lain di bawah, jaman itu yang bisa saya dan kebanyakan orang lakukan dengan jalan kaki. Memang betul, dari depan rumah ada angkutan umum. Tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Angkutan lain yang ada adalah sepeda motor. Di desa kami yang memiliki moda angkutan ini pun tidak banyak. Biasanya yang memiliki sepeda motor adalah guru, pendeta, atau pedagang. Itupun jumlahnya tidak lebih dari 10 orang. Untuk keluarga petani,hampir dapat dipastikan tidak ada yang memilikinya.

Sebenarnya ada angkutan lain yang mungkin lebih murah harganya dibandingkan dengan sepeda motor, yaitu sepeda. Sepeda angin alias sepeda onthel. Seingat saya yang memiliki sepeda di desa saya tidak lebih 5 orang. Salah satunya adalah kakak angkat saya. Beliau waktu itu sudah menjadi pegawai Dinas Perkebunan, Departemen Pertanian. Sepeda ini sangat jarang dipakai. Seperti saya sebutkan sebelumnya, kontur tanah yang tidak mendukung kenyaman bersepeda. Sepeda sangat nyaman dinaiki saat pergi ke pasar. Sebaliknya saat pulang besar kemungkinan sepeda harus dituntun. Atau kalaupun dinaiki, nafas tersengal-sengal plus badan bercucuran keringat. Secara umum (saat itu) orang memiliki sepeda hanya untuk gengsi, jauh dari fungsi sebenarnya.

Ibu saya pernah cerita, saat masih kecil (tinggal di pinggiran Yogyakarta) sepeda bukan suatu hal yang istimewa di desanya. Hampir tiap rumah tangga memiliki sepeda. Bisa jadi dalam satu rumah tangga memiliki sepeda lebih dari satu. Secara fungsi, sepeda sangat membantu sebagai sarana tranportasi yang sangat umum digunakan. Ke sekolah, ke pasar, ke sawah, bahkan nonton Sekaten di Alun-alun Yogyakarta sudah pasti naik sepeda. Mahklum, sepeda motor apalagi mobil masih teramat sangat jarang. Yang punya sepeda motor paling pegawai-pegawai perkebunan Belanda atau pejabat pemerintahan Belanda. Untuk mobil, hampir dipastikan Ibu jarang melihatnya. Kalaupun melihat mobil, besar kemungkinan itu mobil Sultan Hamengkubowono IX yang sedang keliling desa. Itupun paling banyak setahun sekali.

Sepanjang ingatan saya, saya memegang sepeda untuk pertama kalinya, ya punya kakak angkat saya itu tadi. Saat pertama kali sepeda itu datang ke rumah, saya sungguh mengaguminya. Hebat dalam benak saya. Saya benar-benar memegangnya, mengelus-elus, dan berhayal, nanti kalau saya sudah besar saya pasti akan beli sepeda seperti ini. Sepeda ini modelnya sepeda besar. Ada yang bilang model ini sebagai model sepeda kumbang, sepeda unta, dikemudian hari ada yang bilang sepeda Kebo. Mungkin kakak angkat saya tahu saya mengaguminya, untuk itu saya diperbolehkan untuk menuntunnya keliling halaman rumah. Saya berusaha keras untuk menjalankan sepeda dengan menuntunnya. Tapi rasanya setengah mati. Pertama, butuh tenaga extra besar agar sepeda tidak roboh menjatuhi saya. Kedua, saya harus mendorongnya agar sepeda bergerak maju. Sepeda bisa bergerak, mungkin 10 meter dan saya menyerah dan menghentikan sepeda. Mahklum saat itu tinggi badan saya belum melebihi tinggi sadle sepeda. Tapi ada rasa bangga, bahwa saya sudah bisa “membawa” sepeda.

Sekitar kelas 5 SD, orang tua saya pindah ke tempat lain. Secara geografis kontur tanah lebih datar. Bukan daerah gunung seperti tempat tinggal saya yang sebelumnya (beda kabupaten). Pertama saya datang di desa ini saya sungguh terkagum-kagum. Begitu banyak sepeda saya lihat. Sepanjang jalan dan setiap saat terlihat sepeda. Tua muda, besar kecil naik sepeda. Ke pasar, ke sekolah, ke sawah semua orang menggunakan sepeda. Tidak jarang anak kecil, mungkin berumur 5-6 tahun mahir naik sepeda unta. Sudah tentu ia naik sepeda sambil berdiri, karena tinggi badannya tidak memungkin untuk duduk di sadel.

Setelah tinggal kurang lebih satu bulan di desa ini, saya tertentang untuk bisa naik sepeda. Saya berfikir kenapa saya tidak bisa naik sepeda? Bukankah banyak anak yang jauh lebih kecil bisa naik sepeda yang begitu besar? Bukankah kalau bisa naik sepeda saya bisa bermain ke tempat lain yang jauh? Dengan keyakinan bahwa saya pun pasti bisa naik sepeda, saya putuskan meminjam sepeda sepupu. Tiap sore hari saya belajar naik sepeda. Sepeda yang saya pinjam untuk ukuran saya masih tinggi. Tinggi badan saya tidak memungkinkan duduk di sadel sepeda. Dengan sepeda ini saya belajar naik sepeda. Jatuh dari sepeda beberapa kali terjadi. Nabrak pagar hidup (tanaman) sering. Yang sakit saat badan saya jatuh ke bawah dan (maaf) selangkang menghantam batangan sepeda. Rasanya sakit sekali. Ngilu. Sambil meringgis menahan sakit, saya harus berdiam diri. Mungkin sekitar 15 menit kemudian sakit mulai berkurang (tidak hilang). Setelah rasa sakitnya hilang belajar sepeda dilanjutkan lagi. Begitu seterusnya.

Kurang lebih belajar sepeda selama satu bulan saya sudah mulai bisa naik sepeda. Artinya, sepeda roda dua bisa saya naiki dan sepeda dapat bergerak maju. Kalau jatuh, masih beberapa kali terjadi. Melihat kemampuan saya naik sepeda, Ibu saya senang dan bercampur heran. Dia bilang, kok saya bisa naik sepeda. Selama ini ibu tidak tahu kalau saya sudah dan sedang belajar naik sepeda. Seiring waktu saya semakin mahir naik sepeda. Hanya saja saya baru bisa naik sepeda “perempuan”(sepeda jengki), belum bisa baik sepeda “laki-laki”. Sebagai gambaran, batangan sepeda “prempuan” mirip bentuk huruf “V”, dan batangan sepeda “laki-laki” mirip bentuk segitiga. Pada saat yang sama, anak-anak lain yang seusia saya sudah mahir naik sepeda laki-laki. Caranya, kaki kanan menginjak pedal kanan dengan melewati lubang batang yang berbentuk segitiga. Sementara itu badan (masih) ada di sebelah kiri (batangan) sepeda. Saya baru bisa naik sepeda model ini (mungkin) 1-2 tahun kemudian.

Kira-kira 1.5 tahun kemudian, Bapak mampu membeli sepeda “laki-laki”. Sepeda unta. Tidak baru alias bekas alias second. Ada teman Bapak, kasihan pada Bapak karena kalau ke sawah yang sangat jauh Bapak harus jalan kaki. Kebiasaan yang tidak umum saat itu. Bapak boleh memiliki sepeda itu (kalau tidak salah) dengan harga Rp 75 000. Pembayaran tidak harus langsung lunas tunai. Tapi boleh dicicil. Dicicil semampunya. Sebagai gambaran, saat itu harga seporsi gado-gado Rp 100. Sampai tulisan ini saya buat, sepeda ini masih ada di rumah Bapak/Ibu. Saya sudah pesan kepada Bapak / Ibu untuk tidak menjual sepeda ini. Apapun alasannya, mengingat nilai sejarahnya yang luar biasa.
Sepeda ini banyak dipakai oleh Bapak untuk pergi ke sawah yang sangat jauh letaknya dari rumah kami. Saat sepeda ada di rumah dengan leluasa saya bisa pergi ke tempat yang jauh pula dengan sepeda. Dari siang habis pulang sekolah saya pergi ke tempat yang saya suka. Pulang ke rumah sore hari menjelang magrib. Kadang Ibu marah juga dengan kelakuan saya ini. Kewajiban saya membantu orang tua terlupakan. Tidak jarang pula saya diminta Ibu untuk mengangkut padi dengan sepeda ini ke penggilingan padi. Padi digiling menjadi beras untuk dimasak/makan.

bersambung …

One Response to Sepeda: Kenal Sepeda

  1. Laura says:

    I was here🙂 Will read more ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s