Sepeda: Sekolah

Saat musim kemarau panjang, terjadi paceklik panjang. Saya masih duduk di kelas 1 SMP saat itu. Warung es miliki Ibu tidak terlalu menguntungkan lagi. Dengan kata lain banyak ruginya. Di sisi lain, secara otomatis sawah tidak bisa diolah. Sementara itu kebutuhan keluarga tidak bisa distop. Ada pekerjaan yang mungkin bisa dilakukan oleh Bapak. Bapak mendapat kabar dari temannya, seorang mandor bangun, ada pekerjaan pembangunan irigasi di daerah hulu saluran irigasi teknis. Ada kendala, Bapak tidak punya cukup bekal uang untuk pergi ke sana. Dengan jarak sekitar 10 km kemungkinan besar hanya bisa dijangkau dengan sepeda atau motor. Selain itu tidak ada cara lain untuk menjangkau tempat ini. Sudah menjadi rahasia umum, untuk menuju tempat ini bukan hal mudah. Selain kondisi jalan yang jelek, keamanan tidak mendukung. Sudah banyak cerita tantang orang ditodong, dirampok atau dibegal di daerah ini. Sungguh cerita yang mengerikan, waktu itu.

Kembali karena keterbatasan uang, Bapak minta saya untuk mengantarkan ke tempat ini. Suatu tempat yang belum pernah saya tahu, apalagi saya datangi. Ibu keberatan dengan keputusan ini. Tetapi tidak ada pilihan lain. Akhirnya dengan berat hati Ibu setuju dengan keputusan ini. Pada hari yang ditentukan saya berangkat mengantar Bapak. Bapak membawa tas berisi beberapa potong pakaian, dan sebungkus nasi. Bapak mengayuh sepeda dan saya duduk di boncengan. Sepeda berjalan pelan di gang-gang desa yang tidak rata. Kira-kira berjalan sekitar dua km, hampir sampai batas desa dengan desa tetangga terjadi kecelakan. Entah saya sedang bengong, atau sedang mikir apa, kaki kiri saya masuk ke jari-jari sepeda. Tidak tanggung-tanggung, kaki masuk di antara jari-jari sepeda sampai pergelangan kaki. Saat itu juga sepeda berhenti mendadak dan kami berdua jatuh ke tanah. Ada rasa yang sakit sekali di pergelangan kaki kiri, plus lecet-lecet di bagian tubuh yang lain. Luka di atas mata kaki kiri bagian luar mungkin berdiameter 5 cm. Tidak berdarah, tapi kelihatan daging atau tulang putih. Di kemudian, luka ini menjadi borok salama berbulan-bulan. Saya meringis menahan sakit dan akhirnya saya menangis. Bapak kelihatan marah. Saya tidak bisa berjalan. Dengan terpaksa Bapak mendorong sepeda dan saya tetap duduk di sadel belakang. Sepanjang jalan sampai di rumah saya menangis terus. Ketika Ibu melihat saya di rumah, mata Ibu berkaca-kaca dan tidak bilang apa-apa. Keesokan harinya Bapak menuju ketempat kerja dengan dibonceng sepeda motor. Itupun karena kebaikan tetangga yang memiliki sepeda motor yang rela mengantarkan. Rasanya ini kali pertama saya jatuh dari sepeda dan mendapat luka yang serius.

Mungkin karena kotor atau tidak higienis, luka di dekat mata kaki menjadi borok. Benar-benar borok yang dalam dan bau sekali. Saya sudah berusaha untuk mengobati sendiri, tapi kenyataannya tidak kunjung baik juga. Setalah cukup lama borok saya tidak sembuh, mantri kesehatan, Pak Suroyo (alm) tahu dan minta saya datang ke rumah. Kebetulan rumahnya persis di depan rumah saya. Beliau mengobati kaki saya. Hari-hari berikutnya saya diminta datang ke rumah Pak Mantri untuk mengobati borok saya sendiri. Beliau sudah menyediakan Revanol dan kasa di laci ruang prakteknya. Saya dipersilahkan ambil obat dan peralatan, kemudian mengobati borok sendiri. Kebetulan juga, saya sering diminta membantu beliau kalau beliau sedang menjahit pasien karena kecelakaan atau sunat. Akhirnya sekitar 3-4 bulan kemudian borok saya sembuh.

Setamat dari SD, saya ingin melanjutkan sekolah SMP. Banyak teman-teman yang tidak melanjutkan sekolah dengan berbagai alasan, seperti harus membantu orang tua, tidak ada gunanya sekolah, letak sekolah yang jauh, dan lain sebagainya. Memang betul, di desa kami tidak ada sekolah dengan tingkat lebih tinggi dari SD. Ada sekolah SMP negeri dan swasta yang letaknya di sekitar kota kecamatan yang berjarak 7-12 km dari desa saya. Sudah menjadi kebiasaan di desa saya, anak yang melanjutkan ke SMP sudah pasti melanjutkan ke smp negeri yang letaknya di kota kecamatan tersebut. Jaman itu angkutan umum dari kota kecamatan ke desa kami hanya ada satu. Pagi hari berangkat dari kota kecmatan ke desa saya sore kembali ke kota kecamatan. Jadi tidak memungkinkan angkutan ini menjadi andalan transportasi ke sekolah. Untuk mememecahkan masalah ini, orang tua anak (secara umum) sudah pasti akan membelikan sepeda untuk anaknya. Sang anak ke sekolah akan menggunakan moda transportasi sepeda. Sepeda yang dipilih biasanya sepeda kecil, bukan jenis sepeda unta. Model ini cocok untuk anak-anak usia smp. Rasanya tidak anak yang pergi sekolah dengan sepeda unta.

Bapak saya tidak mampu untuk membeli sepeda baru. Di sisi lain saya tetap ingin melanjutkan sekolah ke SMP di kota kecamatan. Dengan suatu alasan tertentu, sekolah yang saya pilih adalah sekolah swasta, bukan smp negri seperti kebanyakan teman-teman saya. Letaknya juga di kota kecamatan, hanya berbeda arah. Untuk jaraknya sedikit lebih pendek dan sepanjang jalan lebih ramai dengan rumah penduduk. Sementara sekolah negeri harus melewati persawahan, kebun, dan semak belukar. Bapak tanya kepada saya, kalau sekolah mau naik apa. Saya tahu Bapak tidak mampu membelikan sepeda baru. Dengan ringan saya jawab, saya akan memakai sepeda yang ada, sepeda unta yang sangat tinggi itu. Setelah berdiskusi agak lama Bapak/Ibu setuju saya memakai sepeda unta ini untuk pergi kesekolah. Konsekuensinya, Bapak pergi ke sawah jalan kaki. Beruntungnya, dalam setahun paling lama 4 bulan saja Bapak pergi kesawah. Selebihnya tidak ada air, secara otomatis sawah tidak bisa diolah dan Bapak tidak perlu ke sawah. Ibu sempat tanya, apalah tidak malu, saya yang berbadan kecil (sekali) pergi ke sekolah naik sepeda unta. Dengan mantap, saya jawab: tidak!

Akhirnya saya berangkat sekolah dengan sepeda unta. Karena ukuran badan yang pendek saya punya teknik tersendiri untuk bisa naik sepeda unta ini. Sepeda saya dorong dengan kuat. Setelah kira-kira kecepatanya cukup untuk tidak menjatuhkan sepeda, kaki kiri saya injakkan pada as gir. Dengan cepat kaki kanan saya angkat untuk melangkahi batangan sepeda dan duduk di sadel. Dengan posisi ini kedua kaki tidak cukup untuk memutar gir 360 derajat. Kaki hanya mampu menjangkau separuhnya. Ujung telapak kaki yang diluruskan ujungnya hanya mencapai 5 cm di bawah as gir. Tidak mampu mencapai putaran pedal paling bawah. Apalagi menyentuh tanah. Kembali ke posisi duduk di sadel, untuk memutar pedal sepeda, saat kaki kanan di putaran paling atas ketiak itu juga ujung kaki kiri saya gunakan untuk menarik batang pedal kebelakang. Dengan bantuan tekanan pedal kanan yang turun ke bawah kerja kaki ujung kaki kiri tidak terlalu berat. Setelah pedal lurus menghadap ke depan, ujung kaki kiri bekerja keras untuk menarik batang pedal ke atas dengan bantuan tekanan kaki kanan pada batang pesal. Setelah pedal kiri sampai di titik paling atas prosesnya sama seperti saat pedal kanan di atas. Hanya saja cara kerja kaki kiri berubah menjadi kaki kanan, dan sebaliknya. Pantat kanan akan turun jauh saat kaki kanan berusaha menjangkau batang pedal kanan. Demikian juga sebaliknya. Mirip banget simpanse naik sepeda di sirkus-sirkus. Gerakan ini yang membuat sadel sepeda yang terbuat dari kulit keras berubah menjadi bentuk seperti huruf U.

Hari pertama saya berangkat ke sekolah dengan sepeda ini saya senang sekali. Tapi saya menangkap kesedihan, kecemasan, kekhawatiran atau apalah namanya di wajah Ibu saya. Ibu serperti orang yang mau menangis. Saya sekolah siang hari. Saat pulang sore hari menjelang magrib, Ibu dengan kedua adik saya sudah menunggu di halaman rumah dengan wajah cemas.

Pendek kata, cara mengendari sepeda yang saya lakukan sangat lucu. Kelucuan ini menjadi bahan tertawaan dari anak-anak hingga orang dewasa yang nongkrong sore hari depan rumah mereka di sepanjang jalan. Ada yang bilang, gaya naik sepeda saya seperti monyet, ada yang bilang saya anak orang miskin yang tidak mampu beli sepeda. Bahkan ada yang mengatakan gerakan pantat saya yang naik turun kanan kiri mirip pantat cewek. Tetapi saya tidak peduli dengan kata-kata mereka. Saya berfikir ini hanya ejekan, tidak usah dipedulikan. Yang penting saya bisa sekolah. Saya berfikir kalau saja mereka mengganggu sampai menghentikan sepeda, saya akan turun dan menghajar mereka. Tidak peduli siapa mereka. Karena saya berprinsip, selama ini saya tidak pernah menggangu mereka. Tidak pernah merugikan mereka. Malah menguntungkan mereka, sebab mereka bisa tertawa tiap sore melihat saya bersepeda, bukan??

Seperti disebutkan di atas, sawah hanya bisa menghasilkan padi setahun sekali (sekitar 4 bulan kerja). Selebihnya tidak bisa diolah. Sawah sangat tergantung dengan irigasi teknis yang masuk ke desa kami, paling lama 4 bulan saja. Selebihnya saluran irigasi akan kering kerontang. Untuk menambah penghasilan, Ibu membuka usaha berjual bakso dan es. Sebagian besar bahan baku dibeli di pasar kota kecamatan. Bahan bisa dibeli seminggu sekali. Tetapi untuk es batu harus beli tiap hari. Saat itu tidak ada di desa saya yang memiliki kulkas apalagi pabrik es. Untuk membeli es batu, Ibu selalu minta tolong tetangga yang memiliki sepeda motor untuk membeli es batu di depot es batu kota kecamatan. Sebagai balasnya Ibu akan mengganti uang bensin. Letak depot es selalu saya lewati setiap saya berangkat atau pulang ke sekolah. Saya bilang kepada Ibu kalau pagi saya saja yang pergi membeli es batu. Dengan demikian ada sejumlah uang yang bisa dihemat. Saya mengusulan kepada Ibu saya amabil alih tugas membeli es batu. Tidak usah dibayar dan penghematan bisa dilakukan. Toh, saya sekolah siang hari. Sementera beli es pagi hari. Jadi waktunnya tidak berbenturan. Ibu akhirnya setuju. Pagi-pagi saya berangkat ke kota kecamatan untuk membeli es batu. Es yang dibeli dalam satuan balok. Satu balok kira-kira berukuran 30 x 30 x 100 cm. Es dimasukan dalam karung plastik dan disela-sela karung dan es batu diisi dengan sekam padi kering. Tujuan untuk menjaga es tidak cepat meleleh. Karung saya naikkan ke sadel belakang dan diikat dengan tali karet ban dalam mobil. Cukup berat untuk ukuran saya saat itu. Walau berat karena kondisi saya cukup menikmati tugas ini. Waktu terus berjalan. Seiring berjalannya waktu saya kenal baik dengan juragan penjual es. Acap kali saya boleh minta tambahan es batu secara cuma-cuma. Bisa dapat ukuran 15 x 15 x 25 cm, bahkan tidak jarang saya bisa dapat dua kalinya.

Sampai di rumah saya harus bantu-bantu Ibu sebentar urusan warung. Masih ada waktu sebentar untuk main-main. Jam 11:30 siang berangkat ke sekolah denga rute yang sama dengan rute beli es batu. Selepas desa saya, ada teman satu sekolah yang tinggal di desa ini. Nama Eko. Saya sering mampir di rumahnya untuk berangkat bersama. Lumayan ada teman ngobrol di perjalanan. Tidak jarang Eko tidak mau membawa sepeda. Dia ikut naik sepeda saya dengan duduk di bangku belakang. Secara fisik, badan Eko jauh lebih tinggi dari saya. Karena perbedaan fisik ini, saya tidak sangggup membonceng Eko. Akhirnya dia mengusulkan untuk mengayuh sepeda secara bersamaan. Saya duduk di depan mengendalikan stang sepeda, pedal sepeda kita kayuh bersama. Karena kaki saya tidak sampai putaran bawah pedal, Eko setuju kalau saya menginjak kakinya. Pendek kata, teknik ini membuat sepeda berlari sangat cepat. Jauh lebih cepat dibandingkan kalau kami mengendari sepeda masing-masing.

Ada suatu kasus, pulang ke rumah dari sekolah saya harus menuntun sepeda kira-kira sepertiga perjalanan. Seperti biasa sepeda saya parkirkan di tempat parkir sepeda. Caranya roda depan dimasukkan sedalam sepertiga tinggi roda di suatu celah yang terbuat dari susunan kusen, tanpa perlu memasang standar. Sepeda sudah dapat berdiri. Waktu saya pulang, roda depan bergesekan keras dengan garbu. Ternyata pelek sepeda sudah bengkok. Tidak bulat lurus lagi. Sehinga kira-kira sepertiga putaran, roda bergesekan dengan garbu. Dugaan saya sepeda jatuh atau roboh di tempat parkir. Karena sepeda saya sangat berat, membuat pelek bengkok. Alhasil sepeda sulit dinaiki dan terpaksa dituntun. Ada rasa takut akan kemalaman di jalan. Belum lagi, jangan-jangan ada begal di jalan.

Kira-kira sepertiga perjalan kebetulan lewat di depan rumah teman sekelas. Sudah pasti dia sudah sampai di rumah lebih dulu. Dia juga pulang dengan sepeda, sementara saya jalan dengan menuntun sepeda. Dia tahu saya punya masalah dengan sepeda. Ternyata dia menunggu saya di sini bersama dengan dua teman yang lain. Dengan dua sepeda ketiga teman mengantar saya pulang. Satu sepeda dinaik dua teman saya, satu duduk di depan mengayuh sepeda, yang lain duduk diboncengan dengan tangan menuntun sepeda saya. Sementara itu saya di bonceng dengan sepeda yang lain. Karena problem ada pada roda sepeda saya, perjalan berjalan lambat. Lambat untuk ukuran perjalanan sepeda. Tapi masih lebih cepat dari pada jalan kaki. Dengan kondisi normal saya bisa sampai rumah dalam waktu 45 menit, kali ini hampir 2 jam.

Pernah suatu kali, saya jatuh sakit di sekolah. Badan saya deman tinggi. Oleh guru saya disarankan untuk pulang lebih awal. Saya bingung juga. Bagaimana saya pulang dengan sepeda, semantara badan saya demam dan sakit semua. Rasanya tidak mungkin saya pulang naik sepeda. Kebetulan ada teman yang baik hati. Dia akan mengantarkan saya pulang dengan sepeda motor. Tapi saya bingung dengan sepeda saya. Bagaimana saya membawa sepeda pulang ke rumah. Tidak mungkin saya meninggalkan sepeda di parkiran sekolah, walau sepeda terkunci. Di waktu malam di sekolah tidak ada penjaga malam, bisa hilang. Akhirnya sepeda saya titipkan di rumah warga sebelah sekolah. Esok harinya saya tidak masuk sekolah. Saya sakit cacar air. Dan dengan terpaksa Bapak datang hanya untuk ambil sepeda.

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s