Sepeda: Sepeda Pertama

Selepas bangku kuliah saya langsung dapat pekerjaan di sebuah bank swasta nasional. Kebetulan sekali divisi/group saya masuki cukup terpandang di perusahaan. Staff di divisi ini sering ditraktir makan oleh pihak luar. Hampir tiap Juma’at malam selalu ada yang mengajak makan. Gratis. Saya yang notabene karyawan baru, selalu diajak tiap kali ada undangan makan. Rasanya hampir semua restoran mahal di Jakarta pernah saya datangi. Belum lagi bos (Division General Manager) saya, kalau makan siang senangnya makan beramai-ramai. Tiap kali makan siang, beliau selalu mengajak bawahannya. Yang pasti anak buah tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Tiap hari tinggal gantian saja yang pergi makan bareng bos. Makan siang model ini sudah pasti makan di restoran yang tidak murah. Paling tidak sekelas restoran Jepang yang menyediakan makanan panggang dan rebus.

Kurang dari enam bulan bekerja berat badan saya naik lebih dari 7 kg. Otamatis semua baju dan celana jadi semakin ketat. Hari-hari berikutnya tengkuk sering berasa pegal dan kaku. Ada rasa khawatir juga jangan-jangan saya kena asam urat atau kolesterol. Saya mulai olah raga lari di sekitar Stadion Utama Senayan (Gelora Bung Karno). Minimal dua kali seminggu saya lari lima kali keliling Stadion Utama. Istirahat sebentar kemudian saya ikut senam aerobik selama kurang lebih satu jam.

Saya merasa olah raga ini kurang menantang. Dari THR (tunjangan hari raya) pertama yang kurang dari satu bulan gaji (saat pembagian THR saya belum satu tahun bekerja), saya membeli sepeda di Komplek Roxy, Jakarta. Sepeda merek Dignity saya bawa pulang setelah membayar Rp 250 000. Waktu itu saya tidak mengenal merek sepeda. Yang saya tahu sepeda tersebut bagus, saya suka, dan cocok dengan budjet. Di kantong hanya ada uang kurang lebih Rp 300 000. Target sebelumnya saya bisa beli sepeda yang cocok dengan uang yang ada. Sepeda baru saya naiki dari Komplek Roxy ke belakang Pasar Slipi, seberang Plaza Slipi sekarang. Saya kos di komplek DPA Slipi, persis di belakang pasar Slipi.

Sejak saat ini minimal tiga kali seminggu saya olah raga bersepeda. Pagi-pagi saya bangun pukul 4:30. Terus saya bersepeda dengan rute Jembatan Layang Slipi – jembatan Layang Tanah Abang – Kebun Sirih – Jl. Thamrin – Jl. Sudirman – Semanggi – Jl. S. Parman – Slipi. Kurang lebih pukul 5:30 saya sudah sampai di rumah lagi terus langsung mandi dan berangkat kerja.

Saya kos bersama dengan kakak saya. Dikarenakan kakak saya menikah, saya pindah kos di daerah Tanjung Barat, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sepeda saya bawa tentunya. Sepeda saya gunakan seperlunya saja. Suatu kali, saya mengikuti kampanye partai besar pada putaran terakhir. Dengan kendaran sepeda, saya ikut pawai dari Lenteng Agung ke Bundaran Hotel Indonesia. Jalur saya lalui adalah Jl. Raya Lenteng Agung – Jl. Raya Pasar Minggu – Tugu Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Putaran Semanggi – Jl. Sudirman – Bundaran Hotel Indonesia. Pulang ke rumah dengan mengikuti jalur yang sama. Di sini saya benar-benar kelelahan. Sudah lama sekali saya tidak bersepeda dengan jarak yang jauh.

Setelah saya menikah, saya pindah rumah ke Perumahan Bumi Serpong Damai (BSD) Serpong. Kembali sepeda, satu-satu aset saya yang berharga saya bawa. Di rumah baru, kalau hendak berpergian harus menggunakan angkutan ojek sebelum sampai di jalur kendaraan umum. Kalau mau bekerja saya juga harus menggunakan ojek ke terminal bis, atau ke jalan raya yang dilalui oleh angkutan kota. Tapi ini tidak masalah. Yang jadi masalah adalah, kalau hendak ke pasar atau sekedar ke warung. Jaraknya tanggung, tidak jauh tapi tidak dekat juga. Jika harus memakai ojek tentu akan mengeluarkan uang ekstra. Sepeda adalah solusi terbaiknya. Sepeda membantu kemana saya akan pergi. Pergi ke warung, ke pasar, atau cari makan siang hari Sabtu Minggu selalu bersepeda. Konsukensinya saya harus mengeluarkan tenaga ekstra, apalagi saya harus membonceng istri. Istri selalu duduk dengan tenang dan manis di boncengan sepeda sementara saya mandi keringat. Kelihatan romantis memang. Semua terpaksa karena saya tidak punya moda transportasi pribadi lain selain sepeda. Pergi kemana-mana dengan istri selalu naik sepeda. Sampai-sampai seorang tetangga bilang, saya dan istri seperti Ratna dan Galih. Saya hanya senyum-senyum senang kecut dan istri tertawa. Sebagai informasi, Ratna dan Galih adalah tokoh dalam film (lama) yang diperankan oleh Yessy Gusman dan Ratno Karno dalam film Gita Cinta Di SMA (?) yang sangat romantis di jaman itu.

Sepeda semakin tua. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak bagian sepeda yang sudah diganti. Diganti karena rusak, seperti ban (dalam dan luar), pelek, as (depan dan belakang), rear free wheel, rantai, sadel, dan rem. Batangan, garbu depan, pedal, front free wheel, front and rear draulier masih belum pernah diganti. Sudah tua memang. Tetapi sepeda ini sudah sangat berjasa. Dengan sepeda tua ini saya bisa berkeliling dari BSD ke daerah Cisauk, Rumpin, Putat Nutug hingga Ciseeng. Pernah juga ke daerah Gunung Sindur hingga Parung (Bogor). Pernah juga ke daerah Jombang dan Bintaro Sektor 9. Pernah juga daerah Pamulang 1, Jombang, Pamulng 2 dan Ciater. Sekali waktu ke Pamulang 1, Reni Jaya, Pondok Petir hingga Parung. Bahkan pernah sampai di Bogor kota, depan Kebun Raya Bogor.

Hingga tulisan ini ditulis sepeda ini masih mengantarkan saya dari rumah ke Stasiun KA Rawabuntu, BSD setiap hari kerja. Sepeda saya titipkan di penitipan motor. Ke tempat kerja di Jakarta saya menggunakan moda transportasi kereta listrik.

Selain berjasa, sepeda ini juga pernah membawa kesialan. Saya pernah jatuh cukup fatal dari sepeda ini. Kejadiannya tanggal 11 Maret 2009. Seperti biasa dari stasiun pulang ke rumah saya naik sepeda. Kurang lebih 200 meter sebelum sampai rumah, ada jalan yang menurun tajam. Saya salah ambil keputusan saat mengendari sepeda. Memang ada kesalahan pemasangan handle rem saat penggantian rem yang terakhir. Handle rem roda belakang dikendalikan oleh tangan kanan dan handel rem roda depan dikendalikan tangan kiri. Seharusnya pemasangannya sebaliknya. Saya sempat bersitegang dengan montir sepeda yang mengganti rem. Tetapi montir bersikukuh yang benar ya, seperti itu. Akhirnya saya mengalah. Toh tidak akan ada masalah, pikir saya. Dengan settingan ini saya selalu menarik kedua handle rem saat mengurangi kecepatan sepeda.

Pada hari naas itu, sepeda melaju dengan cepat. Untuk mengurangi kecepatan, saya lupa akan settingan rem. Yang saya tarik handele rem di tangan kiri. Dengan kondisi kanvas rem basah membuat pegangan kanvas rem pada pelek semakin kuat. Roda depan langsung berhenti berputar sementara daya dorong dari belakang masih tinggi. Akibatnya saya jatuh dari sepeda dan nyungsrep ke beton jalanan. Kacamata tidak bisa dipakai lagi, beruntung lensa dari plastik sehingga tidak pecah. Mungkin kalau berbahan gelas, kaca hancur dan mengenai mata saya. Berikutnya, ada luka di kening, batang hidung, dan bagian antara bibir dan hidung (sebelah kanan). Di bahu kanan memar dan sedikit lecet karena terlindungi dengan lapisan baju bagian bahu dua lapis yang cukup tebal. Walau berbahan tebal lapisan baju robek berlubang dengan diameter 10 cm.

Ada luka di bagian lain, yaitu kulit kedua telapak tangan sedikit terkelupas, lutut kanan dan kiri terkelupas, dan lecet di pergelangan kaki kanan. Luka di lutut kiri agak lebar, kulit luar terkelupas dan sakit sekali saat kaki dibengkokkan. Bagian muka relatif aman. Hanya, bibir kanan atas jontor, satu gigi patah dan tiga gigi goyah (oplak). Ada ada luka yang agak sakit di bagian bawah lidah. Beruntung (puji Tuhan) luka saya hanya itu saja.

Satu lagi yang saya heran, sepeda saya tidak ada rusak-rusaknya sedikitpun. Lecetpun tidak. Sementara saya, bonyok…… !!!

Gedung BEJ, Jan 2013

One Response to Sepeda: Sepeda Pertama

  1. Laura says:

    Kenapa heran? Sepeda terbuat dari besi!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s