Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Persiapan I)

Seingat saya, saat saya duduk di bangku SLTP, harian Kompas atau pemerintah mengadakan Tour de Java. Kegiatan ini adalah tour bersepeda di pulau Jawa dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Selama tour harian Kompas melaporkan kegiatan ini dalam bentuk tulisan lengkap dengan denah, jarak, dan ketinggian di tiap etapenya. Berita ini adalah berita pertama yang harus saya baca tiap harinya selama tour diselenggarakan. Tidak ada satu etapepun yang tidak saya baca. Rasanya asyik sekali bersepeda ramai-ramai di sepanjang pulau Jawa. Sebelumnya saya sudah biasa bersepeda, tapi sejak saat itu ketertarikan saya akan sepeda semakin tinggi. Saya membayangkan suatu hari nanti saya bersepeda jarak jauh semacam Tour de Java.

Sepeda sudah menjadi bagian keseharian saya. Bertahun-tahun kemudian sepeda semakin melekat dalam diri saya. Kadang saya berfikir atau berhayal suatu hari nanti saya bersepeda keliling Indonesia atau keliling Eropa. Atau paling tidak menyusuri jalan di tanah Jawa seperti jalan Anyer-Panarukan. Jalan ini adalah jalan yang dibuat para bupati atas perintah Daendels memanjang mulai dari Anyer (Banten), Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya, Probolinggo, dan berakhir di Panarukan (Situbondo). Tapi semua keinginan ini terpendam dan hanya hidup dalam angan-angan. Belakangan hari Harian Kompas mengadakan tour persis dari Anyer ke Panarukan. Dan lebih sering lagi mengadakan acara sepedaan, baik jarak dekat, sedang, bahkan jarak jauh.

Kira-kira pertengahan Februari 2013 bagian personalia di kantor mengeluarkan pengumuman bahwa cuti tahun 2012 harus habis paling lambat akhir Juni 2013 ini. Kalau sampai akhir Juni 2013 cuti tidak habis, hak cuti akan hangus dan dihapus. Tapi kalau ada alasan yang kuat cuti tersebut masih bisa ditunda. Kebetulan cuti saya masih 10 hari kerja. Saya jadi ingat keinginan saya untuk bersepeda jarak jauh. Rasanya saat ini saat yang tepat untuk mewujudkannya. Sepeda ada, uang saku ada (walau tidak berlebih), dan keinginan itu masih kuat dalam hati. Kalau tidak sekarang saya khawatir keinginan ini terkubur hingga saya tua. Di hari tua saya hanya bisa menyesali mimpi yang tidak pernah terwujud.

Kira-kira dua minggu kemudian saya minta izin dari istri untuk melaksanakan niat ini. Istri hanya dia saja ketika saya katakan maksud saya. Saya juga tidak memaksakan niat saya saat itu. Karena istri diam, tema masalah ini tidak saya lanjutkan dalam pembicaraan saat itu. Mungkin dua minggu setelah itu, saya ungkapkan maksud saya lagi. Istri diam sejenak dan dengan berat ia berkata “Terserah kamu saja. Sebenarnya saya ingin kamu tidak jalan, tapi saya tidak bisa menghalangi kemauanmu.” Ahaaa, jawaban yang selama ini saya nanti akhirnya datang juga. Rasanya seperti kejatuhan bulan di siang hari. Saya harus cepat-cepat melaksanakan niat saya sebelum istri berubah pikiran.

Pertama yang saya lakukan adalah menentu tanggal keberangkatan. Saya tidak mungkin berangkat bulan April. Biasanya curah hujan di bulan ini masih tinggi. Bulan Mei mungkin intensitas hujan mulai turun. Bulan Juni libur sekolah dan cuaca cenderung kering dan panas. Rasanya tidak mungkin jalan di bulan ini. Di sisi lain saya harus menyediakan waktu cadangan cuti kalau anak minta jalan-jalan. Sedangkan bulan Juli sudah memasuki bulan puasa. Rasanya berat jalan di bulan puasa. Belum lagi bulan ini sudah memasuki musim kemarau yang lebih kering lagi. Saya berusaha menghindari perjalanan di jalanan yang panas dan kering. Ada hal lain yang perlu saya pertimbangkan, saya baru bisa meninggalkan pekerjaan kantor pada minggu ke dua dan ke tiga di tiap bulannya. Minggu pertama dan keempat saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantor. Minggu-minggu ini pekerjaan kantor relatif padat yang berhubungan dengan pekerjaan rutin bulanan yang harus saya selesaikan. Rasanya juga tidak mungkin saya jalan di bulan Agustus. Lebaran jatuh di bulan ini. Setelah bulan Agustus lebih tidak mungkin lagi. Kelamaan. Kalau kelamaan keburu izin dari istri dicabut lagi. Setelah dipikir-pikir dan ditimbang-timbang saya memutuskan untuk jalan pada bulan Mei 2013. Pertimbangan saya, bulan ini curah hujan belum benar-benar habis. Masih ada hujan yang akan membantu mendinginkan udara dan jalanan. Saya juga cukup punya cukup waktu (1-2 bulan) untuk persiapan. Sedangkan bulan-bulan selanjutnya sudah memasuki musim libur sekolah, bulan puasa, lebaran, dan musim kemarau. Pasti di bulan-bulan ini sulit buat saya untuk mewujudkan niat bersepedaan ini.

Dengan waktu yang semakin pendek saya harus segera mempersiapkan diri secepatnya. Pertama yang saya persiapkan tentu saja fisik. Untuk latihan fisik tiap hari Sabtu atau Minggu saya latihan bersepeda dengan jarak kira-kira 50 km. Biasanya saya latihan bersepeda keliling kawasan Foresta, Bumi Serpong Damai (BSD). Kadang juga bersepeda ke arah Parung, Pamulang, dan kembali ke BSD. Porsi jalan kaki juga saya tambah. Biasanya saya pulang kantor dari kawasan Sudirman Central Bussiness District (SCBD) Jakarta ke Stasiun Palmerah berjalan kaki sejauh 3.25 km. Mulai saat itu berangkat kantorpun saya jalan kaki. Jalur yang saya lalui sama dengan jalur pulang. Jadi tiap hari saya jalan kaki minimal 6.50 km. Kebiasaan jalan kaki pulang pergi Stasiun Palmerah – SCBD terbawa terus hingga tulisan ini saya buat.

Sepeda juga mulai saya persiapkan. Sepeda ini relatif baru, rasanya tidak banyak bagian (parts) yang harus saya ganti. Yang saya ganti hanya ban dalam (inner tube) depan dan belakang. Ban dalam saya peroleh di toko sepeda Maxibikes di kawasan SCBD Jakarta dan penggantian ban saya minta tolong teknisi bengkel sepeda Rodajaya (lama) BSD. Untuk ban luar, ada keingingan mengganti tipe hybrid ke ban tipe jalan raya. Saya yakin hampir 100% jalan yang akan saya lalui adalah jalan raya. Ban untuk jalan raya yang lebih halus kembangannya (grip) tentu akan meringankan laju sepeda di jalan raya. Berhubung dana yang saya miliki terbatas maka keinginan ini saya pendam dalam-dalam. Komponen lain yang sebenarnya ingin saya ganti adalah crank. Crank bawaan sepeda bergigi 42 (paling besar). Sebenarnya saya ingin mengganti dengan gigi 48. Paling tidak dengan gigi yang lebih banyak penggunan tenaga lebih efisien ketika mengayuh di jalanan yang datar dengan permukaan yang halus. Kembali karena keterbatasan dana, niat ini saya buang jauh-jauh. Biar saja pakai crank yang ada, bawaan dari pabrik. Yang penting sepedaannya dan bukan sepedanya.

Kemudian untuk lampu depan dan belakang sepeda sudah lama terpasang. Seingat saya, saya beli kedua lampu ini di toko sepeda iSpeda swalayan Grand Lucky SCBD. Spakbor juga sudah lama terpasang. Waktu itu saya beli merek BBB berbahan plastik di Ace Hardware Pondok Indah mall. Kelemahan spakbor ini adalah spakbor belakang tidak bisa menahan air yang menyiprat akibat perputaran ban. Akibatnya, air kotor masih mengenai punggung. Semakin cepat sepeda berjalan, semakin banyak air kotor menyiram punggung. Untuk spakbor depan relatif aman dan tidak masalah. Untuk memecahkan masalah ini, saya mengganti spakbor belakang dengan spakbor setengah lingkaran ban berbahan alumnium dari sepeda milik istri. Spakbor plastik sepeda saya pindahkan ke sepeda istri. Satu masalah lagi terselesaikan. Spakbor depan tetap pakai yang ada, tidak saya tukar. Penampakannya saja yang kelihatan aneh. Spakbor depan berbahan plastik hitam dan spakbor belakang berbahan allumunium. Lupakan penampakan, yang penting fungsinya optimal.

Berpergian jauh tentu harus membawa bekal atau barang dalam jumlah relatif banyak. Untuk itu saya memerlukan boncengan sepeda atau rak (rack) untuk membawa barang-barang tersebut. Sudah lama mencoba mencari rak untuk sepeda saya ini. Saya ingin punya rak yang bagian bawah perpasang di sekitar as belakang. Bukan rak tipe gantung yamg biasa tergantung di seatpost. Tapi yang jadi masalah saya tidak menemukan rak yang bagian bawahnya bisa di-mur pada as. Biasanya rak dipasang pada lubang mur di sekitar as yang biasa disebut eyelet. Sepeda saya tidak ada eyelet-nya sama sekali. Mungkin karena sepeda saya tipe sepeda gunung, sehingga pembuatnya tidak mendesain sepeda dengan rak belakang. Karena waktu keberangkatan semakin dekat terpaksa saya membeli rak gantung yang dipasang pada seatpost. Rak saya beli di Rodalink Melati Mas, Serpong. Saya yakin kemampuan rak gantung ini tidak sebaik dengan rak yang terikat di sekitar as. Menurut perkiraan saya barang yang akan saya bawa relatif banyak maka saya harus menambah penguat pada rak gantung ini. Penguat rak saya buat dari bilah bambu yang pada satu sisinya saya ikat dengan karet di bagian belakang rak. Sisi yang lain saya ikat pada batangan sepeda dekat as (lihat foto).

Rak dengan penguat dari bilah bambu

Rak dengan penguat dari bilah bambu

bersambung …

3 Responses to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Persiapan I)

  1. ikhsan says:

    salam kenal…
    berwisata sambil bersepeda memang mengasikkan. apalagi bersepeda sambil melihat pemandangan yang indah dan masih alami.
    maka dari itu kami mengadakan paket perjalanan bersepeda ria di wilayah Sumatra Barat
    terima kasih

  2. Wijayanto says:

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s