Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Persiapan III)

Walaupun saya bersepeda seorang diri ada peraturan untuk diri sendiri yang harus saya patuhi selama perjalanan. Disiplin tetap harus ditegakkan agar perjalanan aman dan nyaman. Saya akan melakukan perjalanan hanya pada siang hari saja. Malam hari harus berhenti dan beristirahat. Semakin ke timur matahari terbit semakin lebih pagi. Oleh karena itu saya harus berangkat dari tiap pemberhentian pukul 5:00 atau paling telat pukul 5:30. Sebisa mungkin pukul 6:00 – 8:00 saya sudah sarapan pagi untuk modal tenaga. Pukul 11:00 – 12:00 jalan sambil cari makan siang. Paling telat pukul 12:30 sudah harus makan siang. Sore hari, pukul 16:00 – 17:00 jalan sambil cari makan malam. Sebisa mungkin saya sudah makan sebelum pukul 17:30. Jadi di tempat menginap tidak perlu sibuk mencari makan malam. Pukul 17:00 – 18:00 jalan sambil cari tempat bermalam. Nah, kalau sudah dapat tempat bermalam sebisa mungkin pukul 20:00 sudah istirahat dan tidur. Alat komunikasi handphone dan blackberry akan saya aktifkan pada pagi hari, siang hari, dan malam menjelang tidur. Itupun tdk lebih dari 15 menit, hanya untuk menginformasikan posisi buat istri, ibu, dan kakak saya. Selebihnya saya matikan untuk menghemat baterai. Saya harus berhemat baterai sebab selama perjalanan saya tidak tahu di mana saya bisa mengisi baterai untuk alat-alat komunikasi ini.

Jujur saja, perjalanan ini buat saya lebih ke sebuah perjalanan rohani. Perjalanan spiritual. Bukan jalan-jalan nikmat atau jalan-jalan untuk bersenang-senang. Saya ingin mendekatkan diri dengan Tuhan saya. Untuk sesaat saya akan meninggalkan zona nyaman saya, keluar meninggalkan kebiasaan hidup rutin saya. Saya percaya dan yakin ketika dalam senang tanpa masalah, semuanya ada dan cukup, saya merasa jauh dari Tuhan. Beda dengan kondisi berkurangan, sengsara, susah dan sulit, saya dekat dengan Tuhan. Di sini rasanya bisa akrab dan bisa “berdialog mesra” denganNya. Serasa Dia selalu berada persis di sebelah kanan saya. Sebagai bentuk kerendahan hati (saya rendah dan hina di hadapanNya) saya potong rambut. Saya minta tukang potong rambut Ole, BSD untuk menyisakan rambut dengan panjang satu cm saja. Sebelumnya rambut cukup panjang menggapai punggung, sudah lebih dari 15 bulan rambut tidak saya potong.

Perjalanan ini juga penuh resiko. Resiko paling bahaya dan ekstrim bisa terjadi. Tetapi saya pasrahkan semuanya kepada Yang Di Atas sana. Saya serahkan sehabis-habisnya. Pikiran saya set semuanya ke arah yang positif. Tidak berfikir pada hal-hal yang negatif, atau berandai-andai tentang hal-hal yang buruk. Seperti jangan-jangan nanti terjadi kecelakaan, atau saya mendapat masalah dengan sepeda, atau nanti saya dirampok. Semua saya buang jauh. Saya yakin perjalanan ini akan baik-baik dari awal hingga akhir. Kalaupun hal yang terburuk terjadi, itu karena atas kehendakNya yang menginginkan semuanya terjadi. Apa yang kita pikirkan di bawah alam sadar akan menjadi iman (believe). Semua hal yang kita imani itulah yang akan terjadi.

Sebagai bentuk persiapan jika Tuhan berkehendak yang lain, saya titip pesan dan surat-surat penting kepada teman satu bagian di kantor, Agung Lystiawan. Kunci laci kantor juga saya serahkan padanya. Pin ATM bank juga sudah saya berikan kepada istri. Beberapa teman kantor (tidak semua) saya salami satu persatu. Mereka bertanya mau kemana ? Resign ? Saya jawab saya mau cuti panjang. Itu saja, tidak lebih. Mereka tetap tidak percaya. Saya pun tidak memberitahu satu orangpun di kantor kalau saya akan bersepeda ke Bali atau Lombok. Di lingkungan rumah saya tidak memberitahu siapapun. Sebenarnya saya juga tidak ingin memberitahu keluarga. Tapi istri minta supaya saya memberitahu kakak dan ibu saya. Dengan berat hati saya beritahukan rencana perjalanan saya. Ibu cukup shock mendengarnya. Saya cukup mengerti akan perasaan ibu. Sementara itu, kakak (laki-laki) lebih santai menanggapi rencana saya, bahkan malah mendukung rencana saya. Untuk hal petualangan seperti ini kakak saya sedikit berfaham “gila” dan termasuk “pelaku”.

Secara khusus saya menulis surat elektronik untuk beberapa teman dekat seperti di bawah ini. Dan keesokan harinya saya mulai cuti dan memulai perjalanan panjang ini.

Teman-teman dan Shabat-sahabat yang terkasih.

Pada kesempatan ini izinkan saya untuk mengucapkan banyak terimakasih untuk pertemanan dan persahabatan kita selama ini. Sudah banyak sekali hal positif yang saya peroleh dari perteman kita selama ini. Itu sungguh sangat berarti buat saya.

Teman-teman dan Sahabat-sahabat, dalam dua minggu ke depan saya akan menghabis cuti tahun lalu yang harus habis sebelum Juni tahun ini. Untuk itu saya akan menyingkirkan diri dan menyindiri untuk mengisi sisi spritual dan sisi hati yang masih kosong. Semua atribut diri akan saya lepaskan, baik itu pekerjaan, status, kesombongan, keangkuhan, maupun keegoan saya, hingga saya tinggal seonggok daging dengan jiwa di dalamnya. Menjadi manusia, manusia yang sangat biasa. Seorang manusia yang bukan siapa-siapa dan apa-apa hingga di bagian akhir saya boleh menjadi manusia yang bersih lagi.

Ibaratnya sebuah gelas yang sudah lama terisi dengan air, pada dinding dan dasarkan akan banyak tumbuh lumut, kerak, dan edapan kotoran. Akibatnya gelas tidak bening lagi dan air yang ditambahkan akan ikut tercemar. Air bersih yang masukpun akan ikut menjadi kotor dan rusak. Untuk itulah gelas harus dikosongkan kemudian di bagian dalam dicuci dan digosok hingga menjadi bersih lagi. Gelas yang bersih akan tampak bening dan air yang dituangkan ke dalamnya pun akan tetap bening tanpa tercemar. Air ini dapat diminum untuk memberi kesegaran dan kehidupan bagi yang meminumnya. Saya sebagai manusia mirip gelas itu. Bagian dalamnya sudah kotor sehingga air di dalamnya harus dikosongkan supaya bisa dicuci dan bisa menjadi bersih kembali.

Semuanya berat dan tidak mudah untuk saya, tapi semuanya harus saya lakukan. Harus dihadapi dan dijalani bukannya dihindari. Persis layaknya hidup kita di dunia ini. Semua harus berproses. Saya lebih percaya pada proses dari pada hasil akhir. Seperti film Le Grand Voyage (film Perancis) di mana ada seseorang akan pergi berhaji. Dia tidak memilih naik pesawat terbang dari Paris kota asal menuju ke Mekah. Ia justru memilih naik kendaraan pribadi dengan ditemani sang anak. Dia percaya pada proses karena perjalanan itu sendiri sudah bagian dari proses perbersihan dan penyucian diri. Proses pembersihan dan penyucian diri ini sangat berat. Apalagi proses ini berhubungan dengan keegoan, kesombongan, keangkuhan, dan kesalahan/dosa diri yang harus dikikis habis. Tidak mudah untuk menghilangkan semua kerak ini. Ada contoh lain yang bagus untuk ini. Coba tengok film jadul The Mission. Di sana ada seorang prajurit tega membunuh adik kesayangannya karena sang adik meniduri tunangannya. Ada penyesalan yang sangat mendalam setelah itu. Hampir gila dia dalam penjara karena telah membunuh sang adik yang sangat disayang. Di satu sisi dia begitu menyayangi sang adik dan di sisi lain dia sangat benci sang adik adik karena telah meniduri sang tunangan. Pendek kata, dia memutuskan untuk melakukan pembersihan diri dengan cara melakukan perjalanan ke pedalaman hutan Amazon bersama para biarawan mengunjungi suku pedalaman Amazon. Semua peralatan perang yang dimiliki diangkut dengan cara digendong. Medan seberat apapun dia lalui tanpa melepaskan gendongan, karena gendongan ini merupakan silih atas dosa dan kesalahannya. Bahkan sempat hampir mati karena dia tidak mau melepaskan gendongannya saat mendaki tebing dengan seutas tali. Sampai titik tertentu dia berhenti dan semua gendongannya dibuang oleh seorang biarawan. Begitu cara veteran perang ini untuk menyucikan diri dan mengalahkan diri sendiri.

Teman-teman dan Sahabat, semua orang mempunyai caranya sendiri-sendiri untuk mengisi ruang hati yang kosong. Masing-masing punya cara yang berbeda-beda untuk memperkaya spiritulitas diri. Saya juga punya cara sendiri. Mungkin apa yang saya lakukan buat Teman-teman dan Sahabat-sahabat bukan apa-apa atau cuma begitu-begitu saja. Tapi untuk saya sangat berat. Segala kemungkinan bahkan kemungkinan yang terburukpun sekalipun bisa terjadi. Rambut sudah saya potong nyaris gundul sebagai bentuk kepasrahan, kerendahan, pertobatan, dan kenisbian yang terendah di hadapanNya dalam proses ini. Untuk itu saya sangat membutuhkan dukungan terutama doa dari Teman-teman dan Sahabat-sahabat semua.

Terakhir saya mohon maaf jika ada kata-kata, tindak tanduk, dan tingkah laku saya yang salah dan tidak berkenan di hati, terutama yang saya sengaja. Sekali lagi dari dasar hati yang paling dalam saya mohon maaf lahir bathin. Dan saya mengucapkan banyak terima kasih karena selama ini saya bisa saling berbagi dengan Teman-teman dan sahabat-sahabat semua. Ada sepenggal hidup saya yang terisi oleh Teman-teman dan Sahabat-sahabat sekalian. Itu semua pengalaman yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. I LOVE YOU, ALL !! …..

Mulai besok pagi hingga dua minggu ke depan saya akan seminimal mungkin bahkan mematikan semua akses email, BBM, Twitter, Facebook, SMS, dan telepon. Maaf untuk itu dan mohon pengertiannya.

Terima kasih dan Tuhan memberkati.

Salam,

Rudi Kismo

Ps: Tidak semua teman dapat email ini. Tolong email ini jangan di forward ke manapun.
@ Agung : Gung maaf, cutinya saya ambil. Saya sudah tidak ada waktu dan moment ini di waktu lain. Titip semua dukumen pribadi saya yang ada dilaci.

Gedung BEJ, 18 Jun 2013

2 Responses to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Persiapan III)

  1. Oom Rudi, walau aku ga sempet kenal lama sama Oom tp aku sampe nangis kelar baca surat ini… Aku merasa terhormat boleh terima email ini & aku menghormati Oom dgn tidak mem-forward kemanapun. Aku mendukung sepenuhnya Oom.

    Tuhan Yesus, mohon senantiasa berikan oom Rudi kesabaran & dijauhkan dari yang jahat. Amin #Doaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s