Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 1-a)

Hari itu tanggal Jum’at 3 Mei 2013. Kira-kira pukul 4:00 mata sudah terbuka lebar, walau semalam tidur agak terlambat karena melakukan pengecekan terakhir terhadap sepeda dan semua barang bawaan. Selesai mandi langsung sarapan dan minum kopi hitam yang sudah disiapkan oleh istri. Sarapan tak perlu berlama-lama, setelah sarapan langsung sepeda saya keluarkan dari rumah, sekalian buka gembok pagar. Rasanya semuanya sudah siap, termasuk ganti baju untuk bersepeda. Saya pakai pakaian yang sederhana saja. Yang saya utamakan fungsi dan keamanan, kaos tipis yang mudah menyerap keringat sekaligus mudah kering. Celana sepeda saya lapisi dengan celana pendek di atas lutut. Kaos kaki panjang hingga di atas betis melengkapi sandal gunung sebagai alas kaki. Manset merah dan kaus tangan merah menutup rapat lengan hingga ruas pertama jari tangan. Kepala saya ikat dengan bandana di bagian dalam dan di bagian luar tertutup rapat dengan helm. Handuk kecil putih merek Good Morning saya kalung di leher untuk menahan terik matahari di leher sekaligus sebagai lap keringat. Kaca mata minus saya pakai kacamata yang sudah lama sekali tidak dipakai. Sedangkan kacamata yang biasa saya pakai saya bawa dalam kotaknya sebagai kaca mata cadangan.

Rasanya semuanya sudah lengkap. Oh ya, helm saya berwarna putih dengan motif merah. Kemudian manset dan kaos tangan berwarna merah, dan tas (pannier) saya juga memilih warna merah. Saya memilih warna merah bukan karena warna ini adalah warna favorit. Tapi saya memilih warna merah dengan alasan keamanan. Warna merah adalah warna yang paling mudah ditangkap oleh mata dibandingkan warna lain. Mata lebih responsif terhadap warna ini. Lihat saja, untuk tanda berhenti di lampu lalu lintas memakai warna merah. Satu lagi tanda berhenti atau rem di kendaraan juga digunakan warna merah. Begitu orang melihat warna merah di jalanan ada kecenderungan orang akan lebih hati-hati dan waspada. Itu sebabnya saya memakai warna dominan merah. Saya berharap orang (kendaraan) lain lebih waspada ketika melihat sepeda dengan banyak warna merah. Dengan demikian resiko tertabrak kendaraan bermotor lain bisa dikurangi.

Semuanya sudah siap. Gladys anak saya satu-satunya sudah bangun dari tidur. Kami bertiga (dan memang tidak orang lain lagi di rumah) berkumpul dan berdoa bersama. Doa singkat saja dan satu per satu mereka saya peluk dan cium. Tepat pukul 5:25 pagi saya keluar rumah. Lampu merah kedip di bagian belakang saya nyalakan. Di stang, lampu senter sepeda juga saya nyalakan dengan mode berkedip. Speedo meter juga mulai saya aktifkan. Sepeda mulai saya gowes pelan. Dengan beban bawaan sekitar 15 kg gowesan terasa masih ringan. Sepeda mulai menyusuri jalan Rawa Buntu, kemudian masuk kawasan industri Taman Tekno BSD. Lanjut terus ke selatan melewati Pusat Riset dan Teknologi (Puspitek), Serpong. Dari Puspitek hingga pertigaan pasar Prumpung kondisi jalannya sangat jelek. Jalan banyak berlubang mirip kubangan dan dibutuhkan kehati-hatian ekstra tinggi untuk melewati jalan ini. Dari pertigaan pasar Prumpung ambil jalan yang lurus. Kalau  ke kiri adalah jalan ke arah Parung, Ciputat dan Jakarta. Jalan dari pasar Prumpung hingga perempatan Ciseeng kondisinya relatif baik. Nanum tetap ditemui beberapa titik jalan yang rusak relatif parah. Di perempatan Ciseeng masih ambil jalan lurus hingga bertemu dengan pertigaan jalan Parung-Bogor. Tepat di sebelah kiri pertigaan ada warung kopi dan mie instan. Kalau bersepeda pagi melewati kawasan ini saya selalu berhenti dan beristirahat di tempat ini.

Jalan raya Parung – Bogor merupakan jalur jalan bernomor 12. Pemerintah sudah memberikan nomor jalur di tiap ruas jalan sepanjang pulau Jawa. Nomor jalur ini tampak jelas di Google (dunia maya) dan dengan mudah diikuti. Di sepanjang jalanpun banyak rambu yang mencantumkan no jalur jalan. Selama kita masih menemukan tanda jalur jalan berarti kita masih berjalan di jalur yang benar. Berarti saat ini saya juga masih berada di jalur yang benar. Jalan Parung – Bogor kondisnya relatif bagus. Permukaan jalan diaspal dengan hotmix halus, tapi permukaan jalan bergelombang. Sepeda dengan kecepatan tinggi masih bergetar naik turun. Di jalan ini, ada sebagian jalan dalam proses pelebaran jalan. Jalur ke arah Bogor, di jalur lambatnya baru saja selesai dibeton. Permukaannya masih dalam belum diaspal. Sangat kasar dan sangat tidak nyaman untuk sepeda. Sebaliknya jalan kearah Parung sudah selesai dibeton dan sudah dilapisi dengan aspal hotmix.

Sepeda terus melaju hingga bertemu pertigaan jalan ke arah Semplak. Saya belok ke kanan masuk jalan raya Semplak kawasan lapangan udara milik AURI menuju Bogor kota. Jalan ini relatif kasar. Sudah banyak permukaan jalan yang aspalnya mengelupas. Tidak diperlukan waktu lama untuk menyelesaikan jalur ini. Lanjut terus menyusuri Jl. Semeru, terminal Merdeka, Jl. Muslihat, dan masuk Jl. Juanda. Sebagian sisi Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor ada di jalan ini. Jalan-jalan yang baru saja saya lewati cukup baik saya kenal. Saya sering melewati jalan-jalan ini karena dulu saya cukup lama tinggal di Bogor. Sepanjang jalan dari Semplak hingga tempat ini relatif menanjak. Kemiringan jalan tidak terlalu tajam, tapi kemiringan ini sangat panjang. Cukup menguras tenaga juga. Badan mulai lelah. Tepat di depan Raya Hotel (dulu lokasi ini adalah asrama mahasiswa IPB) saya beristirahat sejenak. Di odometer tertulis 40.77. Berarti saya sudah meninggalkan rumah sejauh 40 km. Sejenak menarik nafas dan membasahi tenggorokan dengan air putih.

Kira-kira 15 menit kemudian sepeda saya gowes lagi. Tapi heran, perut mulai terasa lapar sementara waktu baru menunjuk pukul 8:00 dan di rumah tadi sudah makan nasi. Perut lapar tapi belum terlalu menggangu maka sepeda terus saya gowes. Masuk Jl. Sukasari jalan terus menanjak dengan kemiringan yang relatif rendah. Tiba di kawasan Sukasari kebetulan ada warung nasi uduk di pinggir jalan. Tepatnya persis di sebelah lapak Soto Pak Salam depan bank Mutiara. Daripada perut lapar terus menggangu, saya putuskan untuk berhenti makan. Nasi uduk dijual dengan cara dibungkus daun pisang ukuran kecil mirip nasi uduk khas Jakarta yang dijual dipinggir-pinggir jalan. Dengan cepat tiga bungkus nasi ditemani empat gorengan masuk perut. Penutup cukup satu gelas teh hangat cukup membuat perut tenang kembali. Perut aman sekarang.

Lanjut lagi, sepeda saya kayuh. Jalanan semakin naik dengan kemiringan yang relatif lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Sukasari lewat langsung masuk kawasan Tajur. Jalan semakin menanjak. Saya tidak memaksakan diri. Sekiranya jalan terlalu tajam menanjak saya turun dari sepeda dan sepeda saya tuntun. Kondisi badan saya jaga jangan sampai kena cidera kaki. Kalau cidera, semua rencana perjalanan jadi berantakan dan pulang ke rumah sebagai orang kalah. Di sini, mungkin tiap 200 meter saya berhenti sejenak untuk menarik nafas. Medan jalan memang benar-benar berat untuk saya. Tepat di depan Pabrik Unitex ada gangguana kecil. Ada desakan yang sangat besar untuk buang air kecil. Karena sudah tidak tertahan lagi saya terpaksa buang air kecil tepat di halte Unitex tepat di bawah pohon mahoni. Sebenarnya malu juga melakukan hal ini, tapi ini adalah pilihan yang sulit dan tidak ada alternatif lain. Jadi terpaksa saya lakukan.

Kembali ke jalan, jalan ke arah Ciawi semakin menanjak tajam. Dengan bersusah payah akhirnya perempatan Ciawi terlewati. Setelah perempatan Ciawi jalan semakin tajam menanjak hingga pertigaan Tapos. Baru setelah pertigaan Tapos jalan menurun hingga pertigaan exit tol di Gadog. Sedikit setelah Gadog jalan menurun dan di depannya tanjakan Selarong sudah menghadang. Sepeda terpaksa saya tuntun. Tanjakan ini benar-benar tinggi dan panjang. Jalan kaki dengan menuntun sepeda pun terasa semakin berat. Perjalanan terasa semakin berat saja. Sepeda semakin banyak dituntunnya dibandingkan dengan dinaiki. Tiap meter langkah semakin banyak tenaga yang terkuras. Pukul 12:00 saya masih berada jauh sebelum pasar Cisarua. Badan sudah benar-benar lelah. Kaospun sudah basah kuyup oleh keringat. Untuk memulihkan tenaga saya beristirahat dan tiduran di pinggir jalan. Beberapa saat saya kehilangan kesadaran kerena tertidur. Kira-kira pukul 13:00 saya melanjutkan perjalanan. Jalan terus menanjak. Satu persatu, Pasar Cisarua dan pertigaan Taman Safari terlewati.

Selepas pertigaan Taman Safari ada sepenggal ruas jalan menurun. Lumayan, sepeda saya naiki tanpa perlu menggowes. Kembali perut mulai terasa lapar, sudah lewat jam makan siang. Di desa Tugu, di sebuah pom bensin saya kembali beristirahat dan mencari makanan. Roti sobek dan Pocari Sweat saya beli. Sungguh nikmat minum Pocari Sweat yang dingin apalagi dalam kondisi badan lelah, badan dan udara panas, dan lapar. Roti sobek dengan ukuran yang relatif besar dengan cepat saya habiskan. Kira-kira 30 menit kemudian perjalanan saya lanjutkan lagi. Jalan semakin naik tajam dan sepeda sudah tidak pernah saya naiki lagi. Hanya beberapa meter di depan permukaan jalan sudah lebih tinggi dari kepala saya. Terus sepeda saya tuntun. Perjalanan semakin berat karena badan semakin lelah. Tenaga sudah terkuras habis. Sempat juga terpikir, tanjakan Puncak Pass saja sudah sangat berat apa mungkin saya kuat bersepeda hingga P. Lombok. Apakah lebih baik kalau saya pulang saja? Tapi kalau pulang mau naik apa? Dan lagi, ini rasanya saya masih di teras rumah, kok pulang. Kan belum dapat apa-apa. Rasanya juga malu, bukan malu dengan orang-orang di rumah tapi malu terhadap diri sendiri.

Dalam kondisi yang berat ini sudah tak terhitung lagi berapa banyak doa yang sudah saya daraskan. Sejak dari Bogor, ketika jalan menanjak separuh konsentrasi saya arahkan ke doa. Saya percaya doa menguatkan segalanya. Dalam doa, sedikit demi sedikit jalan menanjak saya lalu. Tak terasa saya memasuki perkebunan teh Gunung Mas milik PTPN VIII. Surprised sekali rasanya. Saya sudah sampai Puncak! Semangat muncul kembali. Walaupun badan terasa lelah tetapi terselip rasa senang dan gembira. Walau jalan terus menanjak tajam rasanya beban tidak seberat saat masih di bawah. Jalan penuh semangat dan sedikit demi sedikit jalan terlewati. Riung Gunung, Mesjid At Ta’awun, dan Rm. Rindu Alam terlewati. Tak perlu waktu lama lagi untuk sampai di tugu perbatasan Kab. Bogor dan Kab. Cianjur. Akhirnya sampai juga di tugu perbatasan ini. Horreee…. Saya luang waktu sejenak di tempat ini untuk mengambil gambar. Gambar sebagai bukti untuk diri sendiri bahwa saya sudah mengalahkan tanjakan Puncak Pass. Perjuangan sangat berat untuk mengalahkan tanjakan ini dan harus dibayar mahal dengan tenaga, keringat, dan darasan doa. Tidak lebih dari 10 menit saya berhenti di sini. Saya harus melanjutkan perjalanan. Masih ada kira-kira 100 m lagi tanjakan yang harus saya daki untuk benar-benar mengalahkan Puncak Pass. Masih dengan sepeda dituntun akhir saya bisa melewati seluruh tanjakan Puncak Pass yang berada di Jalur 11. Thanks God! Untuk merayakan sukses kecil ini saya memesan mie instant dan kopi susu di sebuah warung kecil di dekat pos polisi Puncak Pass. Menu ini sekaligus sebagai menu makan malam saya. Kebetulan waktu sudah menunjukkan 16:35.

Tugu perbatasan Kab. Bogor dan Kab. Cianjur

Tugu perbatasan Kab. Bogor dan Kab. Cianjur

Sambil menunggu mie instant dimasak saya merenungkan perjalanan yang baru saja saya selesaikan. Sewaktu masih di Ciawi saya berfikir kalau saya akan sampai di Puncak Pass paling lambat pukul 15:00. Tapi nyatanya saya tidak mampu. Medan jauh lebih berat dari apa yang saya bayangkan. Walau sangat berat saya sunguh “menikmati” setiap meter jalan yang saya lewati. Berjalan sambil berdoa saya merasa “dikuatkan dan dituntun” olehNya. Rasa syukur saya panjatkan untuk “kenikmatan” ini. Juga saya boleh menikmati pemandangan yang indah, kebun teh yang hijau, udara yang sejuk, serta mur dan baut yang bertebaran di sepanjang jalan. Thanks God !

Mie instant keluar. Walau tidak terlalu lapar, makan mie instant di sini rasanya enak sekali. Mungkin karena saya sudah kelelahan. Apalagi ditambah dengan kopi susu. Sangat cocok untuk menu di tempat yang dingin seperti ini. Kira-kira 20 menit kemudian saya melanjutkan perjalanan lagi setelah sebelumnya saya membayar menu yang baru saja saya makan. Karena jalan menurun tajam sepeda dapat melaju dengan sangat cepat. Speedometer menunjukkan angka 50 km/jam. Pada kecepatan ini sepeda bergetar keras. Terpaksa kecepatan saya turunkan dan saya tahan di antara 35-40 km/jam. Kecepatan yang pas dan nyaman untuk daerah ini. Saya tidak berani melaju lebih dari kecepatan ini. Selain jalan yang kasar juga karena kondisi tubuh yang sudah kehabisan tenaga bisa membahayakan.

bersambung …

One Response to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 1-a)

  1. Hi there it’s me, I am also visiting this web site regularly, this site is truly pleasant and the people are truly sharing nice thoughts.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s