Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 2-a)

Hari ini Sabtu, 4 Mei 2013. Pukul 4:00 mata sudah terbuka, sementara alarm (waker) belum berbunyi. Alarm yang bertugas membangunkan saya hari ini libur alias bebas tugas. Segera saya matikan system alarm. Rasanya semalampun tidur tidak nyenyak. Seharusnya saya tertidur pulas karena kecapaian, tetapi kali ini tidak. Semalampun saya masih dengar beberapa kali ada orang lewat ke toilet walau samar-samar. Pagi-pagi begini saya sudah terbangun dengan kondisi segar. Tidak ada rasa ngantuk, lemas, ataupun pegal-pegal. Rasanya segar saja.

Khawatir kesiangan, cepat-cepat saya selesaikan urusan kamar mandi. Tidak perlu mandi, cukup sikat gigi dan cuci muka. Selain udara yang dingin rasanya badan juga badan tidak kotor. Baju tidur sudah diganti dengan baju “dinas”. Sama seperti hari kemarin, kaos tipis Reebok, manset, celana sepeda dilapisi dengan celana pendek, dan kaos kaki tinggi hampir menjangkau betis. Satu lagi yang tidak ketinggalan, handuk kecil Good Morning tersampir di leher. Barang-barang yang lain sudah saya kemas dan dinaikkan ke atas sepeda. Kaos dan celana sepeda yang saya pakai semalam saya cuci dan pagi ini belum kering. Pakai kotor sengaja dicuci karena saya tidak mau membawa pakai kotor di dalam atas pannier. Kalau pakaian tidak langsung dicuci akan bertambah terus dan menimbulkan bau tidak sedap. Dan untuk hari-hari selanjutnya tiap malam saya akan mencuci pakaian yang dipakai siang harinya. Karena belum kering kaos dan celana saya jepit dengan paper clip di atas tas pannier. Berjalan sambil menjemur pakaian. Dengan demikian siang nanti semua pakai pasti sudah kering dan dapat disimpan di dalam tas pannier bersama pakaian yang bersih lainnnya.

Tepat pukul 5:30 saya pamit kepada petugas pom bensin. Tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih karena boleh bermalam di sini. Sepeda saya tuntun ke jalan besar. Doa saya panjatkan dan sepeda mulai saya gowes. Jalan ke arah Cianjur masih menurun tajam. Saya tidak perlu menggowes keras sepeda sudah melunjur cepat sekali. Pernah saya biarkan tanpa saya rem. Kecepatan bisa mencapai kecepatan 50 km/jam. Rasanya kecepatan masih bertambah terus. Untuk keamanan sepeda saya rem dan kecepatan saya jaga di 35-40 km/jam. Kecepatan ini relatif aman dan nyaman buat saya. Udara pagi juga masih terasa sangat dingin. Semua kondisi memberikan suasana yang indah. Saat itu juga saya ucapkan syukur kepadaNya.

Jalan masih terus menurun. Tak terasa tikungan tajam terlewati. Mungkin ini yang disebut atau dinamai tikungan Tapal Kuda. Oh, ya baru ingat kalau air minum tinggal sedikit dalam tromol air, harus beli satu lagi. Sambil jalan terus memperhatikan kalau-kalau ada minimarket. Akhirnya bertemu dengan minimarket Indomaret. Saya beli dua botol Aqua 1.5 liter. Satu saya buka dan saya tuang sebagian ke dalam tromol air yang terletak di frame sepeda. Tidak lama kemudian lanjut jalan lagi dan jalan masih terus menurun. Tak perlu bersusah payah untuk mencapai kota Cianjur. Di bundaran kota Cianjur sempat saya tanyakan arah jalan ke kota Bandung pada sekelompok pemuda yang sedang duduk-duduk di pingir jalan. Salah satu dari mereka menunjukan jalan ke arah kiri dan sepeda saya arahkan yang ditunjuk.

Mumpung masih dalam kota kesempatan untuk cari sarapan. Biasanya di kota atau pusat-pusat keramaian selalu banyak penjual makanan. Seperti biasa, sebisa mungkin cari makanan yang murah. Sambil jalan mata melirik kanan-kiri untuk cari tempat makan murah. Tepat di depan kantor PLN Cianjur ada penjual nasi uduk di pinggir. Karena jalan menurun dan kecepatan relatif tinggi sepeda sempat melewati gerobak nasi uduk ini beberapa meter. Sepeda saya hentikan dan terpaksa sepeda saya tuntun balik arah. Sepeda saya parkirkan di sebelah gerobak dan saya pesan nasi uduk plus kopi instan Indocafe Coffeemix. Sepiring nasi uduk dengan sambal oncom plus 2 gorengan segera saya lahap walaupun rasanya sangat biasa. Rasa adalah selera. Untuk ukuran saya rasa nasi uduk ini rasanya biasa-biasa saja bahkan sangat biasa. Tidak cocok dengan selera saya. Tapi yang penting saya makan untuk menambah tenaga sebagai modal untuk menggowes hari ini.

Warung nasi uduk Cianjur

Warung nasi uduk Cianjur

Saat sedang asyik makan, suami penjual nasi uduk bertanya “Dari mana, Mas? Mau ke mana “. Saya jawab kalau saya dari Jakarta dan sedang bersepeda ke arah timur. Sekuatnya saja. Kalau sampai Bandung sudah tidak kuat, ya pulang. Kalau masih kuat jalan lagi ke arah timur. Kalau sampai Ciamis sudah tidak kuat, ya pulang. Demikian seterusnya. Juga ditanyakan “Semalam tidur dimana ? Di penginapan? Selanjutnya, mau tidur di mana?” Saya jawab, semalam saya tidur di pom bensin Ciherang. Selanjutnya saya akan tidur di sembarang tempat. Seketemunya tempat. Ketemu pom bensin ya tidur di pom bensin. Ketemu pos polisi ya tidur di pos polisi. Ketemu pasar ya tidur di emper toko. Obrolan terus berlanjut pada hal-hal yang tidak terlalu penting. Obrolan ringan dan santai. Lumayan buat hiburan.

Kira-kira 20 menit kemudian, setelah membayar menu sarapan, kembali sepeda saya gowes. Jalan masih juga menurun hingga kawasan Karang Tengah. Mulai daerah ini jalanan mulai datar. Sudah tidak ada jalan naik turun. Tidak lama kemudian masuk kawasan Ciranjang. Tetap dengan kecepatan yang stabil sepeda saya gowes dengan santai. Yang penting tetap maju dengan tenaga yang tetap dihemat. Jalan sedikit menurun dengan pedagang makanan dan minuman di kanan kiri jalan menjelang perbatasana Kab. Cianjur dan Kab. Bandung. Sebenarnya ada keinginan untuk istirahat sejak di sini tapi rasanya sayang dengan kenikmatan jalan yang menurun. Baru setelah jembatan besar saya berhenti untuk istirahat. Mungkin ini jembatan Sungai Citarum, daerah Rajamandala. Ada beberapa sepeda motor yang beristirahat di sini. Beberapa dari mereka membeli es kelapa muda. Tampak asyik dan segar. Tapi saya tidak berniat untuk membeli es kelapa muda. Ada tip dari beberapa bikepacker untuk tidak minum es ketika saat badan panas sehabis menggowes. Konon tidak baik untuk kesehatan. Badan panas diisi dengan air es yang dingin akan menurunkan atau menggangu kesehatan. Apalagi es kelapa muda. Konon air kelapa muda bisa membuat badan jadi lemas dan menghilangkan tenaga. Itu kata orang, saya belum pernah mencoba.

Kira-kira 15 menit kemudian kembali sepeda saya gowes menyusuri jalan yang lurus, lebar, dan sepi kendaraan. Kondisi ini membuat perasaan jadi malas dan tidak bersemangat. Rasanya tidak ada gairah. Satu titik di depan rasanya cukup lama untuk dilewati. Walaupun jalan dengan kecapatan di atas 25 km/jam rasanya tetap saja pelan. Tapi walaupun bagaimanapun kesulitan jalan tetap harus dijalani. Tidak ada kata untuk mundur atau berbalik badan walaupun hanya satu langkah. Nikmati saja semua kesulitan ini tanpa perlu mengeluh. Mengeluh hanya akan menambah berat beban perjalanan. Terus sepeda saya kayuh dan kawasan Raja Mandala terlewati. Tapi masalah mulai muncul di sini. Jalan mulai menanjak. Sepeda sudah mulai sering saya tuntun ketika bertemu dengan tanjakan yang curam atau ketika paha bagian bawa mulai terasa sakit. Begitu tanjakan tidak curam sepeda kembali saya naiki. Kondisi semakin parah ketika masuk kawasan Cipatat. Jalan semakin menanjak tajam. Sepeda sudah tidak saya naiki lagi. Tuntun dan tuntun terus. Ditambah lagi udara di kawasan ini sangat panas. Belum lagi jalan yang sangat berdebu. Maklum, di kawasan ini terdapat banyak tambang kapur dan pabrik kapur. Daun-daun tanaman pun tertutup oleh lapisan tipis debu kapur.

Saya tidak menduga jika medan ini berat. Dalam benak saya sebelumnya dari Bogor hingga Bandung hanya ada tanjakan Puncak Pass saja. Ternyata saya harus menghadapi tanjakan Cipatat ini. Kawasan Puncak Pass masih lumayan segar, kanan-kiri hijau dengan tanaman dan udaranya bersih dan segar. Sementara itu kawasan Cipatat jalannya berdebu, di kanan-kiri jalan penuh dengan debu kapur, dan udara yang sangat panas. Ingin rasanya cepat menyelesai tanjakan ini. Beberapa kali saya tanya pada warga setempat apakah puncak tanjakan masih jauh. Jawaban mereka tetap sama. Masih jauh. Sepeda terus saya tuntun. Nafas mulai terengah-engah dan tiap 200 meter berhenti untuk tarik nafas. Sudah banyak sekali air yang saya habiskan. Karena kelelahan saya sempat berhenti sejenak di warung kecil untuk membeli Pocari Sweat.

Setelah sedikit segar saya lanjutkan perjalanan. Sambil jalan saya mencari menara BTS (pemancar signal telepon genggam) di arah depan. Menurut dugaan saya, BTS akan dibangun di titik tertinggi di jalan tersebut. BTS membutuhkan listrik sehingga besar kemungkin BTS akan dibangun di dekat jalan raya. Dekat jalan raya juga memudahkan pengangkutan bahan-bahan dan komponen BTS. Jadi kalau saya bertemu atau melewati BTS ini berarti saya sudah melewati titik tertinggi di jalan ini. Itu dugaan saya. Dan BTS di depan saya masih jauh dan masih kelihatan berada di titik yang tinggi. Artinya saya harus terus menuntun sepeda untuk melewati puncak tanjakan ini.

Puncak Cipatat, jalan menurun ke arah Cianjur

Puncak Cipatat, jalan menurun ke arah Cianjur

Setapak demi setapak, semeter demi semeter jalan terlewati. Tidak cara lain selain menikmat ‘pil pahit’ ini. Sambil berdoa, setiap butirnya saya telan pelan-pelan. Ketika saya telan dan nikmati “kepahitan” ini lama kelamaan mulai terasa sedikit “manis”. Dan tak terasa jalan sedikit menurun tepat di depan pabrik kapur yang sangat besar. Besar dugaan saya, ini adalah titik tertinggi dari jalan ini. Jalan Jalur 3 di petanya mBah Google. Saya sempatkan berhenti sejenak untuk mensyukuri sukses kecil ini. Terimakasih Tuhan untuk bimbing dan tuntunanNya. Dan ternyata benar, setelah titik ini jalan mulai menurun tajam dengan kanan kiri jalan yang sangat padat dengan pemukiman penduduk. Pemukiman tidak hanya rumah warga tapi juga toko-toko dan juga kendaraan. Saya sempat beberapa kali berhenti karena jalan macet dengan padatnya lalu lintas. Ternyata kawasan ini adalah kawasan Padalarang. Ya, saya sudah masuk Padalarang. Tepat di pertigaan besar saya sempat bertanya pada petugas polisi arah jalan ke Cimahi. Petugas mengarahkan saya ke arah kanan. Kalau lurus saya akan masuk Tol Cikampek-Padalarang.

Puncak Cipatat, jalan menurun ke arah Padalarang, Cimahi, dan Bandung

Puncak Cipatat, jalan menurun ke arah Padalarang, Cimahi, dan Bandung

bersambung …

One Response to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 2-a)

  1. Jubah Fesyen says:

    Walaupun saya agak kurang arif mengenai hal nie… tapi artikel nih memberi imput baru kepada saya… terima kasih atas penulisan yg bermanfaat nie… teruskan berkarya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s