Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 2-b)

Sepeda saya arahkan ke arah Cimahi. Waktu sudah menunjukkan waktu pukul 11:30, waktunya makan siang. Kebetulan ada warung makan Padang tepat di depan pom bensin (SPBU) 34.40513. Saya hentikan sepeda dan masuk warung makan Padang untuk makan siang. Menu siang ini nasi, sayur, sambal cabe hijau, dan ayam bakar plus teh manis hangat. Selesai makan sepeda saya tuntun menyeberang jalan ke pom bensin untuk istirahat. Odometer di sepeda menunjukkan 59.32. Berarti dari pagi saya sudah bersepeda hampir 60 km. Kemarin seharian hanya dapat 87 km. Sebuah prestasi yang buruk. Sementara bikepacker lain bisa dapat lebih dari 130 km per hari. Kalau begini, kapan saya akan sampai P. Lombok? Tapi saya menghibur diri kalau saya bukan penggowes sejati. Perjalanan inipun modalnya lebih karena tekat dan semangat saja. Bukan karena saya sudah terbiasa bersepeda jarak jauh. Lihat saja, saya bersepeda paling seminggu sekali. Itupun tidak lebih dari 60 km. Sudahlah, jalan sekuatnya saja. Sekuat semangat yang ada saja. Saat ini yang penting istirahat, dan badan saya rebahkan di teras kantor pom bensin.

Warung nasi Padang, Padalarang

Warung nasi Padang, Padalarang

Walau tidak sempat tertidur, istirahat ini lumayan mengembalikan tenaga. Apalagi habis makan siang. Istirahat sekitar 1 jam sudah cukup membuat badan segar kembali. Sepeda mulai saya gowes lagi ke arah Cimahi. Kehati-hatian dan kewaspadan mulai saya tingkatkan. Lalu lintas di jalur ini relatif lebih ramai dibandingkan dengan jalur sebelumnya. Banyak sekali kendaraan, terutama sepeda motor. Ditambah lagi perilaku pengendara motor lebih tidak disiplin dibandingkan pengguna jalan yang lain. Jalan ke arah Cimahi terus saya susuri. Di arah depan cuaca mendung sangat tebal. Sementara itu di arah belakang langit terang benderang dengan sinar mathari yang cukup terik. Wah sebentar lagi pasti turun hujan. Benar saja tidak lama kemudian hujan turun dengan lebat.
Sepeda saya parkirkan di bawah tangga turun jembatan penyeberangan. Saya sendiri berteduh di teras toko yang tutup dan berdiri kira-kira 2 meter dari sepeda. Banyak juga yang berteduh di sini. Ada beberapa anak sekolah dan beberapa pengendara sepeda motor. Teras toko hanya cukup untuk berjajar satu baris saja. Itupun bagian kaki sudah kena cipratan air yang jatuh di titisan. Tidak ada tempat bagi orang lain lagi yang mau berteduh di sini. Sementara itu hujan masih terus turun teras dan di selingi dengan gemuruh guntur. Wah, kalau begini terus bisa gawat. Perjalanan nisa tergangu. Kalau hujan tidak juga berhenti dalam 30 menit, saya akan membuka jas hujan dan melanjutkan gowes. Ternyata doa saya didengar oleh Tuhan, tepat 30 menit sejak hujan turun air berhenti menetes dari langit. Thanks God! Sepeda kembali saya angkat di badan jalan dan mulai saya gowes lagi.

Jalan raya Cimahi banyak sekali genang air. Air belum sempat masuk ke saluran air. Di beberapa titik kedua kaki saya angkat tinggi-tinggi untuk menghindari cipratan air dari roda sepeda. Sempat juga saya di tegur oleh seorang ibu yang duduk di sebelah sopir sebuah angkutan kota ketika kedua kaki saya angkat tinggi-tinggi. “Kenapa, Pak?”. Saya jawab, kalau saya takut basah. Takut kaos kaki dan sandal gunung basah tersiram air. Sang ibu dan beberapa orang di angkutan kota tertawa. Semua terlihat jelas karena angkutan kota berjalan pelan sekali.

Mungkin karena habis hujan jalanan macet. Mulai dari kolong tol kemacetan sudah terjadi. Kemacetan semakin parah ketika melewati sebuah jalan layang. Setelah jalan layang di jalur lawan ada pohon tumbang yang menutup separuh badan jalan. Jadi banyak kendaraan mengambil sebagian jalur saya. Selepas titik ini tidak macet lagi. Tapi jalanpun masih harus pelan bahkan kadang berhenti karena padatnya lalu lintas. Layaknya kota Jakarta, kota Bandung sangat ramai. Hampir selalu terjadi kemacetan panjang di tiap lampu lalulintas. Saat itu rasanya sungguh membosankan untuk menyelesaikan jalur ini. Untuk mengisi kekebosanan, sebagian konsensentrasi saya arahkan untuk berdoa. Berdoa untuk perjalanan ini dan ujud khusus yang telah siapkan dari rumah. Pelan tapi pasti sepeda tetap melaju. Terminal Leuwipanjang terlewati. Kemudian perempatan Jl. Moh. Toha dan perempatan Jl. Buah Batu juga terlewati. Trus perempatan Jl. Kiara Condong dan perempatan Jl. Gedebage terlewati. Dalam bayangan saya tentang kota Bandung yang terekam dari peta Google sebentar lagi saya akan mencapai Ujung Berung. Seingat saya ujung Tol Cileunyi berada di Ujung Berung ini. Tapi ternyata ketika sampai di Ujung Berung saya tidak menemukan ujung Tol Cileunyi. Dari warga setempat yang sempat saya tanyai ternyata ujung tol tersebut masih sangat jauh. Masih harus melewati Cibiru, Cinunuk, dan Cileunyi. Hadeuh… Selain badan sudah lelah, matahari sore juga sudah semakin condong kerah barat. Jempol kanan juga sudah terasa sakit dan sulit untuk mengerakkan tuas shifter pemindah gigi. Dengan sisa tenaga yang ada jalan raya yang turun naik di Cibiru, Cinunuk, dan Cileunyi saya lewati. Tepat di pertigaan terminal Cileunyi saya ambil arah kanan ke arah ujung tol. Di ujung tol ada perempatan besar. Arah kiri menuju kota Sumedang, kanan masuk tol arah Jakarta, dan lurus arah kota Garut dan Tasikmalaya. Kendaraan tidak boleh langsung lurus dan harus belok kiri kemudian putar balik dan kemudian belok kiri ke arah Garut dan Tasikmalaya. Aturan ini saya ikuti. Lega juga akhirnya sampai di ujung Tol Cileunyi ini. Target saya hari ini saya lewati kawasan Cileunyi dan masuk kawasan Rancaekek sebelum malam. Ternyata target ini tercapai.

Target selanjutnya adalah mencari makan malam dan tempat untuk menginap. Sepeda terus saya gowes ke arah timur. Posisi sekarang berada di sekitar Rancaekek. Sambil jalan terus tengok kanan kiri untuk mencari tempat makan. Berhubung semakin sore target makan bukan lagi mencari yang tempat yang murah. Yang penting mendapat makan secepatnya. Kebetulan ada rumah makan yang menjual sop buntut. Tidak pikir panjang lagi langsung sepeda saya belokkan ke rumah makan ini. Saya pesan sop buntut, nasi, dan teh panas manis. Nikmat sekali ketika badan sangat lelah dan lapar bisa mendapatkan makan yang enak. Rasa nikmat dan syukur meliputi seluruh jiwa raga. Ini bener-benar anugerah Tuhan. Tidak perlu lama untuk menghabis porsi makanan ini sebelum ditutup dengan beberapa pisang susu yang tersedia secara gratis.

Sop buntut RM. Cipacing, Rancaekek

Sop buntut RM. Cipacing, Rancaekek

Waktu magrib sudah lewat. Setelah saya membayar makanan yang mahal untuk ukuran saya, sepeda saya gowes lagi. Dalam hati harus segera dapat tempat menginap. Setelah melewati kawasan pabrik akhirnya ketemu pom bensin, SPBU 34-45307. Rasanya saya harus menginap di sini. Waktu sudah menunjukkan pukul 18:15. Kalau lanjut lagi saya tidak tahu seberapa jauh pom bensin atau kantor polisi setelah pom bensin ini. Kepada petugas pom bensin saya minta izin untuk menginap. Tapi petugas tersebut menyarankan untuk minta izin kepada manager pom bensin Pak Adi. Saat itu Pak Adi tidak di tempat dan saya harus menunggu. Sambil menunggu saya mengobrol dengan petugas parkir pom bensin. Beliau menyaran agar saya tidur di mesjid yang berada di sebelah masjid. Tapi baru bisa masuk masjid telah jam 21:00 dan sepeda harus parkir di tempat parkir dengan posisi sepeda terkunci. Sudah banyak kasus sepeda motor hilang di sini, imbuhnya. Pikir-pikir punya pikir rasanya saya tidak mungkin tidur di mesjid. Saya harus cepat tidur supaya beristirahat lebih panjang. Selain badan sudah terlalu leleh, juga perlu istirahat lebih panjang untuk modal gowes esok hari. Satu lagi, saya tidak mau jauh dengan “kuda” saya. Saya tidak mau kehilangan tunggangan saya. Akhirnya saya putuskan untuk tidak tidur di mesjid.

SPBU 34.40513 Rancaekek, Kab. Bandung

SPBU 34.40513 Rancaekek, Kab. Bandung

Sambil menunggu Pak Adi, saya duduk-duduk di depan kantor sekaligus gudang oli. Di depan kantor, sisi kanan terdapat tumpukan botol gas dan botol Aqua serta mesin kompresor angin untuk tambah angin roda motor dan mobil. Tepat di kanan kantor adalah parkiran motor karyawan. Dari area parkiran motor hingga tumpukan tabung gas tertutup dengan atap asbes. Beberapa kali karyawan lalu lelang di depan saya melayani pembeli gas ataupun pembeli Aqua. Banyak sepeda motor datang untuk mengisi angin. Kompresor menyala dan mengeluarkan suara berisik sekali. Tengah asyik memperhatikan sekitar dari jauh saya melihat seorang berseragam anggota TNI melihat ke arah saya. Saya merasa dia memperhatikan saya. Tak lama kemudian dia berjalan ke arah saya duduk. Hadeuh, jangan-jangan saya kena masalah. Ada rasa tidak nyaman dan was-was. Benar saja dia menghampir saya dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. “Saya Turis”, katanya. Terus dia duduk di sebelah tangan saya dan menepuk-nepuk punggung saya. “Nama Anda siapa? Trus mau ke mana”. Masih dalam rasa takut, saya jawab semua pertanyaannya. Sungguh mengaget ketika beliau menawari saya untuk menginap di rumahnya. Katanya rumah tidak begitu jauh dari lokasi ini dan saya bisa makan dan istirahat lebih baik di rumahnya dibandingkan di pom bensin ini. Tapi semua tawarannya saya tolak dengan halus. Selain tidak mau mengganggu keluarganya saya merasa lebih nyaman di sisi. Setiap saat bisa ke kamar mandi dan pergi jalan lagi tanpa perlu menganggu siapapun. Akhirnya kami ngobrol banyak. Ternyata beliau juga goweser yang sering berjalan jauh. Hanya saja, beliau jalan dalam hitungan satu hari, berangkat pagi-pagi dan pulang sore atau malam hari. Kami ngobrol banyak tentang sepeda. Terakhir juga saya tahu ternyata beliau anggota Koramil Sumedang yang ditugaskan di kawasan Rancaekek. Di tengah serunya mengobrol dengan Pak Turis, Pak Adi datang. Jadi kami mengobrol bertiga. Semakin seru saja kami mengobrol. Pak Adi ternyata seorang penggowes juga. Terakhir Pak Turis meminta izin kepada Pak Adi, agar saya boleh menginap di sini. Pak Adi mengizinkan dan kamipun membubarkan diri.

Segera saya mandi, cuci baju, dan ganti baju. Karpet tidur saya gelar di sela tumpukan botol Aqua dan dinding pembatas parkiran motor. Sambil duduk dalam lelah saya mulai menulis jurnal perjalanan. Rasanya sudah habis tenaga. Sebelum tidur tak lupa saya berdoa. Berdoa untuk syukur atas perjalanan yang sudah saya lewati dan mohon perlindungan untuk tidur malam ini dan perjalanan esok hari. Dan badanpun saya rebahkan. Cukup lama untuk bisa memejamkan mata. Mungkin karena badan terlalu lelah sehingga badan sulit untuk rileks. Belum lagi gangguan petugas yang mengambil tabung gas atau botol Aqua plus bunyi suara kompresor. Tapi saya menikmatinya semuanya …

Kembali saya lampirkan catatan pengeluaran hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Toilet di SPBU Ciherang

2,000

2 Botol Air Indomaret (@ 1.5 liter)

5,700

Nasi uduk + kopi

6,000

Pocari Sweat

6,000

Nasi padang ayam bakar + teh manis

16,000

Sop buntut + nasi + teh panas manis

44,000

Total :

79,700

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time)

6:34:00

DST (Trip Distance in km)

103.32

AV (Everage Speed in km/hr)

15.5

MX (Maximum Speed in km/hr)

50.2

CAL (Calorie Consumption in kcal)

1432

CO2 (Carbon Offset in kg)

15.34

ODO (Total Distance in km)

189

Gedung BEJ, 5 Aug 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s