Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 3-a)

Hari ini Minggu, 5 Mei 2013. Semalam  tidur tidak bisa nyenyak. Banyak orang lalu lalang di sekitar tempat saya tidur. Ditambah lagi dengan  suara botol Aqua dan botol gas yang beradu. Heran juga, tengah malam masih banyak orang yang membeli gas dan Agua galon. Setahu saya di tempat lain jual beli gas dan Aqua dilakukan siang hari. Hampir tidak ada yang melakukannya di tengah malam. Gangguan tidur juga semakin bertambah ketika mesin kompresor digunakan untuk mengisi ban kendaraan. Belum pukul 4:00 saya sudah terbangun. Tak perlu bermalas-malas menunggu siang, langsung saja ke kamar mandi dan berbenah. Semua barang saya rapikan dan saya naikkan ke atas sepeda. Setelah semuanya beres, lampu sepeda depan dan belakang saya nyalakan. Setelah berpamit kepada petugas pom bensin (tak lupa saya titipkan salam untuk Pak Adi) sepeda mulai saya gowes ke arah timur. Jalan raya Rancaekek ke arah Garut dan Tasik masih relatif sepi. Mungkin karena hari masih gelap dan hari masih terlalu pagi. Jadi belum banyak kendaraan yang lalu lalang.

Tidak terlalu jauh dari pom bensin tempat bermalam jalan bercabang. Ke arah kanan adalah arah ke pasar Cicalengka. Tikungan ke kanan relatif tidak tampak dan agak sulit dikenali oleh orang awam. Sedangkan jalan lurus adalah jalan lingkar luar Cicalengka. Nanti selepas Cicalengka kedua jalan ini bertemu lagi di putaran Cicalengka. Saya ambil jalan yang lurus. Jalan mulai menanjak cukup tajam. Sepeda saya gowes dengan santai saja. Ada bagian jalan di mana sepeda tidak saya naik. Sepeda saya tuntun. Pagi-pagi kaki sudah terasa agak pegal. Mungkin karena belum sarapan. Dengan agak susah akhirnya saya sampai di bundaran Cicalengka. Setelah bundaran ini jalanan sedikit menurun. Tepat di sisi kanan ada komplek perumahan kecil (Cicalengka Indah ?). Beberapa tahun yang lalu saya beberapa kali ke komplek ini. Kakak ipar saya punya satu rumah di sini. Namun rumah ini tidak ditinggali dan dibiarkan kosong tak terurus. Hingga saat ini rumah tersebut masih kosong dan tidak dijual juga.

Setelah turunan ini jalan menanjak. Di tanjakan ini saya sempat bersepeda bareng dengan seorang bapak yang tinggal di sekitar pasar Cicalengka. Sang bapak biasa bersepeda di kawasan ini, sehingga tanjakan inipun ringan saja buat sang bapak. Tanjakan habis tepat di depan komplek tentara Lintas Udara 330. Selepas titik ini jalan kembali menurun landai. Sepeda meluncur lumayan cepat tanpa dikayuh. Saat menikmati jalanan yang relatif datar saya melihat Alfamart di sisi kiri jalan. Cepat-cepat sepeda saya hentikan. Kebetulan air minum habis, sekalian cari sarapan roti. Di dalam toko saya ambil 2 botol Aqua 1.5 liter dan roti robek. Saat akan membayar si dekat meja kasir, ternyata toko juga menjual kopi instant dan air panas. Kebetulan pikir saya. Lumayan untuk menemani makan roti sobek dan menghangatkan perut. Akhirnya saya bayar Aqua botol, roti sobek, dan segelas kopi panas. Sambil duduk di depan toko saya nikmati sarapan pagi roti sobek dan kopi panas. Cukup sulit juga menghabiskan segelas kopi, airnya sangat panas. Sekitar 15 menit kemudian sarapan selesai dan sepeda kembali saya gowes. Jalan masih relatif datar hingga menyeberangi rel kereta. Setelah rel kereta jalan sedikit menanjak dengan banyak kios penjual oleh-oleh di kanan dan kiri jalan. Akhir tanjakan ini adalah puncak tanjakan Nagreg.

Dalam bayangan saya sebelumnya, untuk mencapai Nagreg dari arah Bandung harus melalui tanjakan yang sangat tajam. Paling tidak saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menggowes sepeda. Ternyata kenyataannya sungguh berbeda. Jalan tidak begitu menanjak seperti dalam bayangan saya. Berbeda dengan tanjakan Cipatat. Saya tidak menduga akan bertemu tanjakan yang begitu berat di daerah ini. Dalam benak saya, dari Cianjur ke arah Bandung jalan tidak menanjak. Kalaupun menanjak, menanjaknya pun tidak terlalu curam. Ternyata kenyataan di lapangan sunguh berbeda jauh dari bayangan. Ya, itulah kenyataan hidup. Apa yang kadang kita bayangkan mudah ternyata berat dan sebalik, apa yang kita bayangkan berat ternyata mudah.

Tepat setelah puncak Nagreg jalan mulai menurun dengan sangat tajam. Sepeda sempat melaju dengan kecepatan 55 km/jam. Di kecepatan ini sepeda mulai bergetar. Mau tidak mau kecepatan saya turunkan dan saya jaga di kecepatan 40 km/jam. Tepat di tengah-tengah tanjakan ini jalan bercabang dua. Lurus adalah jalan arah kota Tasikmalaya dan kanan arah jalan ke kota Garut. Saya ambil lurus terus masih dengan kecepatan tinggi, mumpung jalanan menurun dan lalu lintas sepi dari kendaraan. Tidak lama kemudian kawasan Nagreg terlewati. Setelah kawasana Nagreg jalan masih naik turun tapi dengan tanjakan dan turun yang relatif ringan. Jalan masih terasa nikmat dengan jalan relatif halus dan pemandangan hijau di kanan dan kiri jalan. Saya menggowes sambil terus berdoa. Ternyata doa sangat membantu ketika saya harus melewati jalan yang menanjak. Sungguh, doa meringankan beban. Saya sendiri sudah berapa kali doa yang sama saya lafalkan, sudah sangat banyak rasanya. Pasar Limbanganpun terlewati.

Terus sepeda saya gowes. Masih di sekitar Limbangan saya sempat ditegur seorang pengemudi mobil sedan yang tengah berhenti di pinggir jalan. Saya berhenti sejenak dan kami ngobrol sebentar. Seperti biasa, pertanyaannya dari mana dan hendak ke mana. Ternyata sang bapak juga berasal dari Jakarta. Tidak lebih dari lima menit kemudian saya melanjutkan perjalanan dan meninggalkan sang bapak.

Terus sepeda saya gowes. Jauh sebelum Malangbong, mungkin sekitar Sukamerang atau Lewo saya sempat disusul seorang bapak yang bersepeda. Pakaian dan sepedanya sangat sederhana. Barang yang dibawa hanya tas selempang kecil. Sambil jalan kami mengobrol. Saya sangat kagum dengan sang bapak ini. Kalau dilihat usianya saya yakin beliau lebih dari 50 tahun. Katanya tadi pagi berangkat dari Bandung (kawasan Rancaekek) pukul 6:30 dan hendak pergi ke Panjalu. Masih menurutnya, beliau sering ke Panjalu dengan bersepeda. Hebat! Saya berangkat lebih pagi dan di titik ini saya sudah tersusul. Tenaga sang bapak masih tampak sangat kuat. Akhirnya beliau meninggalkan saya sambil berpesan di depan akan ada tanjakan tinggi setelah Malangbong. Dalam sekejap sang bapak sudah hilang dari pandangan mata.

Meter per meter jalan terlewati. Pelan tapi pasti sepeda melaju. Tak terasa saya memasuki Malangbong. Tepat sebelum pertigaan besar Malangbong saya melewati bapak yang bersepeda tadi tengah beristirahat di emperan toko. Kembali baliau mengingatkan saya tentang tanjakan tinggi setelah Malangbong. Karena lelah, setelah pertigaan besar ini saya juga berhenti untuk beristirahat di emperan penjual es. Posisnya kira-kira 500 meter setelah pertigaan. Sambil duduk santai saya memperhatikan orang lalu lalang di depan saya. Ketika duduk manis memperhatikan orang lalu lalang tiba-tiba ada mobil Xenia berhenti tepat di depan saya. Mobil berplat B dengan seri NKD. Wah ini pasti mobil dari Tangerang atau Serpong pikir saya. Pengemudi dan seorang penumpang (keduanya laki-laki) turun dari mobil dan beberapa kali mondar-mandir di depan saya. “Pak, dari Serpong ya ?” tanya saya. Pengemudi menjawab, “Bukan”. Perbincangan tidak berhenti di ini. Kami melanjutkan dengan obrolan santai. Ternyata bapak ini dari dari Jakarta. Menurut beliau adiknya tinggal di Gading Serpong dan mobil ini milik adiknya. Adiknyapun ternyata memiliki hobi bersepeda. Sang adik sering bersepeda di kawasan JPG (Jalur Pipa Gas) Serpong. Obrolan berhenti ketika sang bapak harus masuk ke sebuah gang kecil.

Tidak lama setelah bapak dari Jakarta ini berlalu, bapak penggowes dari Bandung yang baru saya lewati sebelum pasar Malangbong gantian melewati saya. Sekali lagi beliau mengingatkan saya akan tanjakan Malangbong. Terimakasih banyak Pak untuk informasinya. Sekitar 10 menit setelah bapak dari Bandung lewat, kembali sepeda saya gowes. Benar juga tidak jauh dari pasar Malangbong jalan mulai menanjak. Mungkin ini tanjakanan yang dimaksud oleh bapak dari Bandung tadi. Selain menanjak, jalan juga berkelok-kelok. Sering di radio atau koran disebutkan di tempat ini terjadi kemacetan yang cukup parah. Kebetulan hari ini tidak macet sama sekali. Di tilik dari medannya berat juga tanjakan ini. Seperti hari-hari sebelumnya sepeda saya tuntun ketika menemui jalan yang menanjak. Di tanjakan ini pun sepeda terpaksa saya tuntun. Berat sekali rasanya. Sambil berdoa, meter demi meter tanjakan saya lalui dan akhirnya sampai juga puncak tanjakan. Kembali sepeda meluncur dengan cepat di jalan yang menurun tajam. Hanya saja jalan di sini banyak lubang sehingga diperlukan kehati-hatian yang ekstra tinggi. Kecepatan maksimal saya jaga di sekitaran 30 km/jam saja.

Untuk merayakan sukses ini saya berfikir untuk segera makan siang. Kebetulan waktu sudah menunjukkan pukul 11:30. Tepat setelah akhir turunan di kawasan Gentong ada rumah makan. Rumah makan Gentong namanya. Tanpa pikir panjang sepeda saya hentikan di sini. Saya pesan paket nasi liwet dan es buah soda gembira. Entah mengapa saya tiba-tiba tertarik dengan es buah soda gembira. Sebelumnya saya tidak punya kebiasaan untuk minum minuman bersoda apalagi es soda gembira. Sambil menunggu menu makanan keluar badan saya istirahatkan sejenak. Entah mengapa, tiba-tiba mata rasanya berat sekali, ngantuk berat. Benar-benar ingin tidur rasanya. Mungkin kantuk disebabkan oleh bandan yang terlalu lelah. Mungkin. Untung tidak lama kemudian menu makanan keluar. Segera menu nasi liwet dengan berbagai macam lauknya segera saya habiskan. Selesai makan separuh porsi es buah soda gembira habis juga. Selama makan dan habis makan rasa kantuk tidak juga pergi. Jadi benar-benar makan sambil terkantuk-kantuk. Saya tidak mau memaksakan diri. Selesai makan saya biarkan badan tertidur sambil duduk di bangku makan. Beruntung, rumah makan tidak terlalu ramai. Hanya 3-4 meja saja yang terisi pengunjung. Mungkin sekitar 45 menit saya tertidur pulas. Ketika terbangun rasa kantuk itu masih ada dan muncul rasa malas untuk bangun. Tapi mau atau tidak mau saya harus bangun untuk melanjutkan perjalanan. Waktu hampir menunjukkan pukul 13:00. Segera menu makan siang saya bayar. Sebelum keluar rumah makan ini saya sempatkan untuk mampir ke toilet agar urusan toilet tidak menggangu perjalanan selanjutnya.

Rumah Makan Gentong, Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Rumah Makan Gentong, Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s