Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 4-a)

Senin, 6 Mei 2013 pagi-pagi buta, waktu baru menunjukkan waktu pukul 04:00 mata sudah terbuka lebar. Rasa kantuk sudah hilang sama sekali walau semalam tidur sudah larut malam. Dalam doa pagi, rasa syukur saya haturkan untuk Tuhan, pagi ini saya bisa bangun dengan rasa lelah dan pegal-pegal 90% sudah hilang. Syukur juga ternyata semalam hujan tidak turun di sini walau semalam langit sudah tertutup mendung tebal disertai dengan saut-sautan suara guntur. Tidak terbayang jika semalam benar-benar hujan, pasti semalaman saya ronda karena tidak bisa tidur. Area tempat tidur pasti basah kuyup oleh air hujan. Doa saya semalam benar-benar dijawab Tuhan.

Tak perlu bermalas-malas lagi, langsung ke kamar mandi untuk urusan belakang pagi hari. Setelah itu cuci muka dan tak perlu mandi. Toh, semalam sudah mandi dan pagi ini badan tidak terlalu kotor dan berkeringat. Yang lebih penting lagi udaranya pagi ini sangat dingin. Selesai berganti baju dengan “seragam dinas” dan berkemas, sepeda saya turunkan ke area parkir pom bensin. Langsung saja pamit dan mengucapkan banyak terima kasih kepada petugas pom bensin yang berjaga. Terimakasih banyak semalam boleh menginap dan dijaga selama tidur di tempat ini. Tepat pukul 5:00 sepeda mulai digowes keluar pom bensin, belok kiri arah ke Jawa Tengah. Beberapa puluh meter dari pintu keluar ternyata ada tenda kios penjual kopi. Kebetulan cadangan air minum sudah habis, yang tersisa hanya yang di tromol minum. Tanpa ragu-ragu sepeda saya hentikan. Dua botol Aqua 1.5 liter saya bayar dan langsung jalan lagi, keburu siang.

Jalan ke arah Jawa Tengah relatif baik dan halus. Lalu lintas juga belum ramai. Tidak terlalu lama kemudian saya menemukan patung Pangerang Diponegoro di sisi kanan jalan. Ternyata saya masuk Jawa Tengah. Masuk Jawa Tengah? Ya, masuk Jawa Tengah. Terima kasih Tuhan, saya masuk Jawa Tengah. Saat ini saya sudah bersepeda sangat jauh dari rumah. Bukan lagi berada di teras rumah, tapi sudah keluar kompleks. Ada dorongan andrenalin yang semakin besar untuk terus maju, semakin cepat maju. Tiba-tiba muncul tambahan tenaga ekstra, rasanya sepeda semakin ringan saat digowes. Semakin cepat pula sepeda saya kayuh. Mengayuh sepeda menyusuri jalan raya Wanareja yang basah oleh hujan. Jalan di kawasan ini rusak parah. Lubang dan tonjolan batu ada di mana-mana. Tidak jarang sepeda loncat-loncat karena masuk lubang yang berair. Benar-benar jalan yang buruk dan sangat tidak nyaman untuk dilalui. Mungkin karena ada tambahan adrenalin rasanya kayuhan cepat tetap enak rasanya.

Di kawasan Wanareja ini kanan-kiri jalan ditanami dengan tanaman industri. Mungkin tanaman ini milik PT Perhutani. Sepanjang jalan penuh dengan tanaman karet. Ada juga daerah yang pohon karetnya baru saja ditebangi. Mungkin akan dilakukan replanting dengan tanaman baru. Tidak seluruhnya daerah ini hutan karet yang lebat. Masih ada selingan rumah warga di antara kebun-kebun karet ini. Terus sepeda saya kayuh cepat hingga tiba di suatu daerah yang cukup ramai. Saya memasuki kawasan pasar Wanareja. Mumpung di tempat ramai, saatnya untuk mencari sarapan. Tepat di sebuah perempatan dengan lapangan besar di sebelah kiri ada penjual nasi timbel. Menjual nasinya tidak di kios atau warung tapi di gerobak dorong. Di sini ramai sekali orang makan. Di belakang penjual nasi ada sebuah mobil dan beberapa ekor kambing sedang dinaikkan ke atas mobil pickup. Masih di dekat penjual nasi juga ada warung tenda kecil penjual beraneka minuman.

Untuk menu sarapan pagi saya pesan nasi, sambal telur (bulat utuh), tahu goreng, dan teh hangat. Ternyata menu masakan di sini tidak enak sama sekali untuk selera saya. Nasinya keras dan terasa kasar. Lauk telurnyapun nggak jelas rasanya. Masih untung ada tahu goreng sebagai lauk walau rasanyapum (masih) tidak enak juga. Demi tambahan tenaga pelan-pelan dan sedikit demi sedikit nasi saya makan. Dari saya kanak-kanak orang tua selalu mengharuskan menghabiskan porsi makan yang kami dapat. Makanpun harus rapi dan bersih. Tidak boleh ada nasi, sayur, dan lauk yang tersisa di piring walau hanya sebutir nasi atau sepotong lauk kecil. Kebiasaan ini terbawa hingga saat ini. Tapi maaf, untuk sarapan kali ini saya tidak bisa menghabiskan porsi sarapan. Kira-kira masih ada sepertiga porsi yang tidak bisa saya habiskan. Saya harus membuang sisa makanan ini. Ada rasa perasaan bersalah, tapi saya benar-benar tidak bisa menghabiskannya. Rasanya, baik nasi maupun lauknya tidak cocok sama sekali dengan lidah saya. Herannya, pembeli di sini ramai sekali. Banyak orang yang makan di tempat ini. Lebih parah lagi ternyata tempat ini adalah lokasi jual beli kambing alias pasar kambing.

Sambil beristirahat saya berusaha menikmat suasana ini. Tidak lama kemudian datang beberapa mobil pickup memindahkan kambing ke pickup yang lain. Perpindahan kambing tentu terjadi setelah proses jual beli. Tidak sampai penuh mobil pickup sudah pergi. Ada juga kambing diangkut dengan sepeda motor. Kambing dipangku oleh orang dibonceng di belakang sepeda motor. Semakin lama aktifitas di pasar kambing ini semakin menarik. Ada suara tawar menawar, ada wajah-wajah senyum karena kambing terjual, dan suara-suara candaan khas orang kecil. Juga terlihat beberapa penjual dengan uang segepok di tas pinggangnya. Lucu juga, ada kambing yang berontak dan tidak mau mengikuti tuan barunya. Lucu sekali. Ya, itulah suasana pasar kambing. Namanya juga pasar kambing, aromanyapun luar biasa. Aroma kambing! Hahahahaaa. Ini adalah wajah cantik salah satu pojok negeriku.

Rasanya istirahat sudah cukup. Sepeda mulai saya gowes lagi ke arah timur. Kondisi jalan tidak terlalu baik. Banyak permukaan jalan yang aspalnya terkelupas. Beruntung semalam hujan dan pagi ini sedikit mendung. Kanan kiri jalan masih basah dan cahaya matahari tidak terlalu terik. Gowespun relatif tidak tergangu oleh cuaca panas. Jujur saja tidak banyak ingatan yang tersimpan di otak saya tentang jalan antara Wanareja hingga Majenang. Yang saya ingat selanjutnya adalah ketika masuk kota Majenang. Saya sempat saya tanyakan jarak dari Majenang ke Wangon pada seorang ibu di pinggir jalan. Secara eksak sang ibu tidak bisa memberikan angka jarak dalam kilometer. Yang diberikan waktu tempuh dengan bus. Sang ibu memberikan angka satu jam dengan bus kecepatan normal. Satu jam dan kecepatan normal adalah satuan yang sangat relatif. Saya cukup paham bahwa warga di sini tidak biasa dengan satuan jarak yang eksak. Mereka lebih biasa berpergian dengan kendaraan umum dan pasti tidak pernah memperhatikan dimensi jarak dalam satuan kilometer. Mungkin sama dengan warga Jakarta yang lebih paham jarak dalam satuan waktu bukan dalam satuan kilometer yang lebih eksak, walau nilai ini sangat relatif. Tapi satuan ini lebih mudah digunakan dan dimengerti. Karena saya bersepeda, saat ini satuan jarak kilometer lebih informatif. Lebih mudah untuk dipahami dan lebih mudah untuk memperkirakan lokasi suatu tempat di depan. Begitu tahu jarak, perkiraan waktu tempuh lebih mudah ditentukan.

Sepeda terus saya gowes ke arah timur. Rasa ketidak pedulian mulai menghinggapi. Jalanan rasanya mulai membosankan. Untuk mengurangi rasa bosan terus menerus saya berdoa. Berdoa lebih khusuk lagi. Doa cukup baik untuk mengalihkan rasa lelah, bosan, dan tekanan perjalanan. Doa terus hingga akhirnya sampai juga di Karang Pucung. Untuk meyakinkan bahwa saya sampi di Karang Pucung, saya tanyakan hal ini pada seorang Bapak tepat di depan sebuah pertigaan besar. “Benar ini Pucung” katanya. Ketika saya tekankan kata Karang Pucung kembali bapak menjawab dengan kata Pucung. Mungkin di daerah ini lebih dikenal dengan kata Pucung dari pada dengan kata Karang Pucung. Mungkin.

Selepas Karang Pucung jalan mulai menanjak. Jarak antara rumah semakin jauh. Kanan kiri jalan mulai padat dan rapat dengan tanaman/pohon. Di tempat ini banyak pohon berukuran besar, entah itu pohon tumbuh sendiri di alam atau pohon yang sengaja di tanam.Yang pasti di kanan kiri jalan banyak tumbuh pohon sengon atau geunjing. Rasanya saya sedang memasuki kawasan hutan. Pohon-pohon ini cukup membantu meneduhkan dan mendinginkan jalan yang menanjak tajam. Di kawasan ini juga banyak di temukan usaha penggergajian kayu.

Jalan terus menanjak. Sepeda semakin sering saya tuntun. Tangan kanan sudah sering terasa sakit. Pegal rasanya. Jempol kanan juga semakin sulit untuk menggeser tuas shifter gir sepeda. Rasanya sakit sekali bahkan kehilangan tenaga sama sekali. Sering untuk menaik atau menurun putaran gir jempol kanan tidak mampu bergerak lagi. Terpaksa dibantu dengan jempol tangan kiri. Kelelehan saya sampai puncaknya. Saya harus istirahat untuk mengumpulkan tenaga. Di sebuah warung kopi sepeda saya hentikan. Di teras warung yang sederhana terdapat balai-balai bambu. Tiga-empat bapak-bapak tengah duduk-duduk beristirahat sambil menghisap rokok di balai-balai ini. Aroma rokok kemenyan tersebar ke mana-mana. Sudah puluhan tahun saya tidak menemukan orang merokok dengan tambahan kemenyan. Aroma kemenyan membawa ingatan saya ke masa anak-anak. Sejak kecil kalau ada bau kemenyan saya merasa aura mistik yang dalam. Apalagi kalau ada orang yang merokok kemenyan, orang ini pasti orang sakti atau paling tidak seorang dukun atau orang yang dituakan.

Saya pesan kopi dan seorang bapak menawarkan untuk bergabung duduk di balai-balai. Tawaran ini tidak saya tolak. Kami mulai mengobrol. Seperti biasa mungkin saya karena kelihatan orang jauh yang bersepeda pertanyaan selalu dimulai dari mana dan hendak ke mana. Semua pertanyaan saya jawab sejujurnya. Hanya sampai mana selalu saya jawab sekuatnya saja. Kalau sudah tidak kuat lagi saya akan pulang dengan bis atau kereta. Obrolan terus berlanjut. Ternyata bapak-bapak ini adalah buruh yang berkerja di penggergajian kayu tepat depan warung kopi ini. Menurut bapak ini, pernah juga lewat pengembara Jepang yang berjalan kaki. Orang Jepang ini juga berhenti di warung ini dan duduk juga di balai-balai ini. Sang bapak sempat ngobrol dengan orang Jepang tersebut dengan bahasa yang sangat terbatas. Konon katanya ia ingin berjalan kaki hingga pulau Bali. Sebagai hiburan selama perjalanan ia memainkan alat musik yang dibeli di daerah yang dia lewati. Hiburan lain adalah mendengarkan compact disc musik lokal ia beli saat melintasi kota-kota kecil yang dilewati. Hebat, luar biasa!

Ngobrol begitu asyiknya, Indo Coffemix instant saya pesan lagi untuk yang kedua kalinya. Karena warung tidak terlalu ramai, ibu pemilik warung ikut ngobrol. Menurut ceritanya, dia punya saudara yang tinggal di kawasan Perum BSD, Serpong. Lokasinya di luar komplek perumahan. Untuk mencapai rumah saudara dia harus turun kendaraan umum di komplek dan dilanjutkan dengan jalan kaki masuk kampung. Tak terasa saya ngobrol hampir 30 menit. Sebagai tambahan bekal perjalanan saya beli Aqua botol kemasan 600 ml dan saya tambah dengan dua sachet Nutrisari. Sebelumnya saya tidak punya kebiasaan minum minuman ini. Kembali sepeda saya gowes pelan. Jalan masih saja menanjak. Tidak terlalu jauh dari sini saya sampai di tugu perbatasan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas. Saya sempatkan berhenti sejenak untuk ambil photo di lokasi ini. Lewat bantuan seorang pemotor yang tengah beristirahat, saya bisa mendapatkan foto diri berukuran penuh. Hanya dalam hitungaan menit saja saya berhenti di tempat ini.

Perbatasan Kab. Cilacap dan Kab. Banyumas

Perbatasan Kab. Cilacap dan Kab. Banyumas

Jalan masih terus saja menanjak dan melelahkan. Semakin banyak saja sepeda saya tuntun. Dalam kondisi seperti ini tidak ada ruang untuk balik badan. Juga, tidak ada bantuan yang bisa meringankan beban saya. Dalam kesulitan yang tidak bisa saya hindari ini tidak ada lain lain selain menikmati semuanya. Tidak perlu mengeluh bahkan menangis. Nikmati saja setiap detik kesengsaraan ini. Bukannya kesulitan ini adalah pilihan yang sudah saya pilih sejak saya berangkat dari rumah? Tidak perlu juga menebengkan sepeda ke atas truk atau berpegangan pada badan truk saat jalan menanjak. Itu sudah menjadi kesepakatan sejak dari rumah. Saya tidak mau melanggar kesepakatan ini. Saya berusaha untuk tetep konsisten, Jadi begitu kesulitan dan kesengsaraan ini terjadi, saya berusaha untuk terus tetap menikmati. Dinikmati sambil berdoa, berdoa yang khusuk dan dalam. Di saat seperti inilah akan terasa betapa dekatnya Dia. Dia serasa bersama sepanjang perjalanan yang sulit ini. Kami bisa mengobrol secara dekat, akrab, dan hangat.

Jalan raya masih menanjak. Badan terasa semakin lelah. Kaos sudah basah kuyup dengan keringat. Waktu sudah menunjukkan waktu pukul 11:30. Ada sebuah rumah makan di sebelah kiri jalan. Saya putuskan untuk istirahat dan makan siang di sini. Rumah makan ini bernama Rumah Makan “Gayam Sari” (Bu Pamuji). Saya pesan menu nasi, sup buntut, dan teh manis. Tidak perlu lama menunggu pesanan. Dalam waktu singkat menu makan sudah tersaji. Dengan cepat menu makan siang saya habiskan. Rasa sup buntutnya enak sekali. Ada keinginan untuk tambah, tapi setelah dipikir-pikir tidak perlu tambah. Makan secukup saja dan tidak perlu berlebih.

Saat makan, saya perhatikan anak gadis pemilik warung yang tadi membantu melayani, tertawa-tawa sendiri di balik meja etalase. Setelah beberapa saat saya baru tahu anak ini sedang bermain tablet Samsung Galaxy Tab 7. Mungkin dia asyik ngobrol atau berbagi cerita lucu dengan temannya lewat internet. Sungguh saya terkejut. Ternyata di tempat yang jauh dari keramaian bahkan di pinggir hutan ada signal internet. Dan yang lebih mengejutkan buat saya (maaf) di tempat yang sederhana ini masyarakat mampu membeli sebuah device (yang menurut ukuran saya) sangat mahal. Semoga benar, masyarakat di sini makmur semua. Dari anak ini (kalau ditilik dari wajah usianya masih SLTA) pula saya mendapat informasi bahwa kawasan ini lebih dikenal dengan kawasan Sengkala.

Rumah Makan Gayam Rasa, Jl. Raya Gayam - Lumbir, Banyumas

Rumah Makan Gayam Rasa, Jl. Raya Gayam – Lumbir, Banyumas

Selesai makan saya sempatkan beristirahat di balai-balai depan rumah makan ini. Banyak kendaraan lalu lalang walau tidak padat. Hanya dalam hitungan menit dua orang yang berbeda datang rumah makan ini menawarkan produk-produk minuman sachet. Dengan bersepeda motor yang dilengkap dengan tas besar di kanan kiri belakang, mereka mengaku sebagai distributor Mayora. Sama dengan di warung kopi depan penggergajian kayu tadi. Malam hitungan menit dua orang datang menawarkan produk yang sama. Model kedua penjual dan barang yang dibawa sama persis dengan yang di tempat ini. Tapi saya yakin orang-orang ini berbeda dengan orang di warung depan penggergajian kayu. Sebuah contoh usaha yang gigih.

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s