Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 4-b)

Saya sudah makan kenyang. Sekarang giliran “kuda” saya diberi “makan”. Semua rantai dan bagian-bagian sepeda yang berputar atau bergerak saya semprot dengan chain lube. Chain lube ini cukup efektif untuk melancarkan putaran atau gerakan dari bagian-bagian sepeda. Sifatnya merontokkan karat dan kotoran yang melekat pada bagian-bagian tersebut. Hebatnya lagi pelumas ini tidak menimbulkan tumpukan kotoran di area yang di semprot. Kalau menggunakan pelumas lain biasanya akan timbul tumpukan kotoran hiam. Kalau kotoran jatuh ke bagian sepeda yang lain atau mengenai baju akan menimbulkan noda hitam dan sulit untuk dibersihkan.

Waktu 30 menit di tempat ini sudah saya lalui. Waktunya untuk jalan lagi. Sebelum jalan lagi saya sempat membeli satu botol Aqua 1.5 liter. Kembali sepeda saya gowes. Jalan masih terus menanjak. Sama persis dengan informasi dari pemilik rumah makan Gayam Rasa tadi. Kondisi ini di perparah dengan kondisi jalan yang tidak baik. Banyak lubang-lubang kecil dengan diameter 20 cm dan kedalaman sekitar 5 cm dengan sedikit genangan air. Terus sedikit demi sedikit jalan saya lalu. Saya tidak begitu ingat berapa lama setelah istirahat makan siang tadi hingga mencapai puncak tanjakan ini. Setelah tanjakan ini jalan mulai menurun. Tapi sayang saya tidak bisa mengendari sepeda dengan kecepatan yang tinggi. Jalan masih banyak lubang. Terpaksa sepeda berjalan dengan kecepatan yang lambat.

Dalam pikiran, setelah puncak ini dengan cepat saya akan mencapai kawasan Wangon. Ternyata tidak juga. Rasanya saya sudah bersepeda sangat lama di jalan yang menurun tapi kawasan Wangon tidak kunjung ditemukan. Sungguh membosankan dan melelahkan. Kebosanan ini saya serahkan pada Yang Di Atas. Biar semuanya jadi ringan dan mudah. Terus sepeda saya gowes. Tak terasa saya memasuki jalan yang lebih halus dan lebar. Ternyata saya sudah sampai di kawasan Wangon. Untuk memastikan saya tanyakan pada seorang tukang becak yang tengah mangkal sebelum perempatan besar Wangon. Benar saya sudah sampai di Wangon. Beliau juga menunjukkan arah lurus untuk menuju Rawalo dan Yogyakarta.

Saya ambil arah lurus menyeberangi perempatan besar ini menuju Rawalo. Lalulintas sedikit lebih ramai dibandingkan sebelum Wangon tadi. Kondisi jalanpun masih relatif baik. Tidak ada lubang tapi jalan masih bergelombang. Terus sepeda saya gowes. Akhirnya sampai juga kawasana Rawalo. Di sebuah jembatan besar saya sempat berhenti sejenak untuk mengambil gambar/foto. Tidak lebih dari lima menit di sini kembali lanjut lagi. Sepeda saya gowes menuju arah Buntu. Jalan masih relatif ramai. Kondisi jalanpun masih dalam kondisi relatif baik. Kanan kiri jalan terbentang hamparan sawah yang luas dengan tanaman padi usia muda. Di lokasi ini banyak penjual dawet yang mangkal di pinggir jalan. Saya sempat beristirahat sambil menikmati dawet. Herannya semua dawet yang dijual di sini dengan nama Dawet Ayu. Apakah penjualnya semua ayu-ayu? Rasanya tidak juga. Yang pasti dawet di sini bisa menghilangkan dahaga.

Jembatan S. Serayu di Rawalo, Kab. Banyumas

Jembatan S. Serayu di Rawalo, Kab. Banyumas

Kira-kira pukul 16:00 saya masuk kawasan Buntu. Hujan gerimis mulai turun. Waduh report juga kalau begini. Sambil menunggu gerimis berhenti, ini adalah kesempatan untuk mencari tempat berteduh sekaligus tempat makan sore/malam. Kebetulan saya menemukan rumah makan, Rumah Makan Margo namanya. Sepeda saya hentikan di rumah makan ini. Rumah makan ini besar sekali. Bentuk ruangannya mirip sebuah hall besar. Saat saya masuk, hanya ada dua atau tiga meja yang terisi. Langsung saja pesan nasi, ayam goreng, sayur asam, dan jeruk hangat. Pesan sayur asam alasanya sudah beberapa hari ini saya tidak makan sayur. Sambil menunggu pesanan saya sempatkan ke kamar kecil. Rasanya tangan kotor sekali dan tangan saya cuci bersih-bersih. Tidak terlalu lama setelah keluar kamar kecil menu makan sore keluar. Ternyata porsi ayam goreng disertai dengan beberapa jenis lalapan segar. Wah mantap nich, bisa makan sayur banyak. Sumber gizi yang baik apalagi dalam kondisi seperti saat ini. Semua menu saya makan dengan lahap. Perutpun rasanya kenyang sekali.

Mungkin saya makan dan beristirahat sekitar 30 menitan. Semua menu saya bayar dan perjalanan dilanjutkan lagi. Masih dalam gerimis halus sepeda saya gowes lagi. Target saat ini adalah mencari tempat menginap di Sumpiuh. Tapi sesampainya di Sumpiuh matahari masih tinggi. Saya putuskan untuk tidak berhenti di sini. Lanjutan lagi menggowes kearah Gombong. Gowes terus pokoknya sekuat sampai magrib menjelang. Ketika tiba saat saya benar-benar lelah dan hari hampir magrib saya bisikan “Tuhan saya, saya lelah. Saya ingin beristirahat.”  Tidak lebih dari lima menit kemudiaan, entah kebetulan atau bukan saya menemukan pom bensin (SPBU) 44.53125 Tambak. Pom bensin ini tampaknya cukup nyaman untuk bermalam. Posisi pom bensin ini kira-kira ditengah antara Sumpiuh dan Gombong. Sekali lagi, saya merasa ini bukan kebetulan, tapi memang saya “diistirahatkan” di tempat ini.

Di toko milik pom bensin saya minta izin untuk menginap. Petugas mengizinkan untuk menginap dan menganjurkan agar saya menginap di mushola pom bensin. Sebelum keluar tak lupa ambil Pocari Sweat ukuran 500 ml. Keluar toko, langsung keliling area pom bensin untuk mencari lokasi tidur yang paling nyaman. Dan benar, mushola tempat yang tepat untuk tidur. Ruang mushola ukurannya besar sekali. Kalaupun harus tidur di sini tidak akan menggangu saudara-saudara yang menjalankan sholat. Selain mushola tidak ada teras yang cukup luas dan untuk merebahkan badan.

Pom Bensin (SPBU) 44.53125 Tambak, Sumpiuh versi Google

Pom Bensin (SPBU) 44.53125 Tambak, Sumpiuh versi Google

Di depan toko dipasang canopy dengan meja dan bangku yang disediakan secara khusus untuk berisitirahat. Saat ini banyak sekali orang keluar masuk kamar mandi. Daripada antri mandi lebih baik kalau duduk-duduk dulu sambil beristirahat. Istirahat sambil minum Pocari Sweat. Saat duduk di sini datang seorang bapak yang ingin beristirahat juga. Keluarganya tengah sibuk di kamar mandi. Kami berkenalan dan mengobrol. Ternyata bapak ini dulu pernah bekerja di Bank Artha Graha, Gedung Artha Graha Sudirman Central Business District (SCBD), Sudirman, Jakarta. Satu komplek dengan gedung tempat kantor saya berada, hanya dibatasi oleh gedung mal Pacific Place. Apapun yang dia ceritakan semua lokasi di sekitar SCBD saya tahu. Ternyata beliau juga kenal dengan seorang tetangga yang juga karyawan Bank Artha Graha. Tapi sayangnya, beliau (yang mengobrol dengan saya ini) sudah lama keluar dari Artha Graha dan kini punya usaha sendiri di Purwokerto. Kami semakin akrab. Obrolan berhenti ketika semua keluarga sudah berada dalam mobil dan salah seorang di antaranya berteriak memanggil.

Tampaknya kamar mandi mulai sepi. Sepeda saya tuntun ke depan mandi dan saya parkirkan persis di belakang mushola. Cepat-cepat masuk kamar mandi, keburu terisi orang lain lagi. Segar sekali mandi di sini. Selesai mandi badan terasa lebih nyaman. Saat saya mengemasi alat mandi di dalam tas pannier, ada yang menyapa, “Mau ke mana, Mas”. “Mau jalan ke arah timur. Tujuannya sekuatnya kaki menggowes saja. Saat sudah tidak kuat, langsung pulang dengan bis”, jawab saya. Sambil berdiri kami mengobrol. Oom muda ini ternyata penggowes juga. Beliau ini tinggal di Karawaci Tangerang. Dulu bersama seorang teman beliau pernah bersepeda ke daerah Banten. Sebelum sampai tujuan beliau terpaksa harus pulang dengan ojek motor, kedua sepeda hilang dicuri orang saat tidur. Pernah juga bersepeda ramai-ramai dari Bali ke Jakarta. Waktu tempuh, katanya dua minggu. Rombongan inipun dikawal oleh sebuah motor besar Harley Davidson. Beliau juga menyarankan untuk tidak membawa air minum banyak-banyak. Di sepanjang pulau Jawa ini air minum mudah sekali didapatkan. Jadi tidak perlu bawa cadangan air yang banyak karena takut kehausan. Makananpun sangat mudah didapat. Di sembarang tempat mudah ditemui penjual nasi. Seharusnya, tidak perlu bawa spare part sepeda. Yang penting semua part sepeda sudah diganti sebelum berangkat. Masih menurut pengalamannya, spare part yang sering rusak adalah pedal. Pedal patah karena terlalu bersemangat saat menginjaknya. Membawa spare part hanya akan menambah beban sehingga mempercepat kelelahan dan memperlambat gerakan. Benar juga rasanya. Ketika keluar rumah dengan beban tidak lebih dari 15 kg rasanya ringan saja. Tetapi kini setiap menuntun dan mendorong sepeda di tanjakan, 15 kg bukan beban yang ringan lagi. Berat, sangat berat sekali rasanya. Obrolan terhenti saat oom ini pamit untuk sholat. Setelah itu saya tidak bertemu oom ini lagi.

Sepeda saya bawa ke depan kantor tepat di depan mushola, sepeda saya parkirkan di bawah jendela mushola. Semua keperluan tidur saya turunkan. Sekalian mumpung ingat, untuk mengurangi beban bawaan sepeda, sebungkus besar biskuit saya berikan kepada petugas pom bensin. Satu bungkus lagi (yang baru saya makan 3-4 potong) sudah saya serahkan kepada tukang yang sedang bekerja di sebelah RM Gayam Rasa. Toch, rasanya juga saya tidak sempat makan biskuit-biskuit ini. Pakaian basah saya jemur di atas sepeda. Di dalam mushola alas tidur digelar. Sambil duduk di atas alas tidur saya mulai menulis catatan. Cukup lama saya menulis catatan, mungkin sekitar satu jam. Selesai menulis catatan badan langsung saya rebahkan. Sebelum mata terpejam saya mengucapkan syukur untuk hari ini dan saya serahkan semuanya pada Yang Di Atas. Saya serahkan keselamatan, perlindungan atas barang-barang di luar mushola, perlindungan untuk perjalanan esok hari, dan perlindungan untuk keluarga di rumah. Juga untuk kesejahteraan dan keselamatan semua petugas pom bensin ini dan semua orang yang sudah saya temui di sepanjang perjalanan. Tak lama kemudian saya sudah tidak ingat apa-apa lagi, tertidur pulas.

Berikut ini saya lampirkan catatan pengeluaran hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

1 botol Aqua di SPBU Banjar

5,000

Nasi timbel + telur + tahu goreng + teh tawar hangat

5,000

2 kopi Indo Coffemix + Aqua 600 ml + 2 sachet Nutrisari

10,000

Nasi + sup buntut + teh manis hangat

17,000

1 botol Aqua 1.5 liter

5,000

Nasi + ayam goreng + sayur asam + air jeruk hangat

32,000

1 botol Pocari Sweat 500 ml

6,000

Toilet di SPBU

4,000

Total :

84,000

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time)

7:25:00

DST (Trip Distance in km)

126.79

AV (Everage Speed in km/hr)

17.0

MX (Maximum Speed in km/hr)

45.1

CAL (Calorie Consumption in kcal)

1569

CO2 (Carbon Offset in kg)

19.01

ODO (Total Distance in km)

434

Gedung BEJ, 23 Aug 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s