Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 5-a)

Rasanya waktu belum juga menunjuk pukul 04:00, mata sudah terbuka. Rasa kantuk sudah hilang sama sekali. Terimakasih, hari ini Selasa 7 Mei 2013 saya bangun dengan kesegaran baru. Sesegera mungkin perlengkapan tidur saya rapikan dan saya kemasi. Urusan kamar mandi juga segera saya selesaikan dan tak lupa berganti dengan “baju dinas”. Baju basah dan handuk saya letakkan di atas tas pannier. Supaya tidak lepas dan terbang baju-baju ini dijepit dengan paper clip. Kemarin, sepasang sandal jepit terjatuh di jalan walau sudah dijepit kuat dengan paper clip. Tidak tahu jatuhnya di mana. Mungkin guncangan sepeda akibat jalan yang buruk mengakibatkan jepitan paper clip terlepas. Saya baru sadar sandal hilang ketika makan siang.

Tas panier sudah terpasang rapi, dan alas tidur terusun dan terikat kuat di atasnya. Lampu belakang dan lampu depan sepeda sudah dinyalakan. Rasanya semuanya sudah siap. Sepeda saya tuntun ke depan toko pom bensin sekalian  pamit kepeda para petugas yang berjaga. Tepat pukul 5:00 sepeda mulai meninggalkan pom bensin. Sepeda saya gowes pelan ke arah timur. Kondisi jalan relatif halus dengan permukaan jalan yang datar. Mungkin karena hari masih pagi sehingga lalulintaspun masih sepi. Tidak terlalu lama bersepeda dan hari masih gelap saya sudah masuk kawasan Gombong. Dari tempat bermalam sampai di pasar Gombong mungkin berjarak sekitar 10-15 km. Di depan pasar (Wonokriyo?) ada sebuah warung tenda. Tampaknya ini satu-satu warung yang sudah (atau masih) buka. Sepeda saya senderkan di trotoar tepat di depan warung tenda ini. Kesempatan cari sarapan pagi. Di warung tenda ini saya pesan Indomie rebus dan Indocafe Coffemix. Sambil menunggu indomie di masak saya berdiri di luar warung sambil mengamati area sekeliling warung tenda ini. Ada beberapa bis yang berhenti di sini. Beberapa bis yang datang di kaca depannya tertulis “Jakarta”. Berarti bis-bis ini baru datang dari Jakarta. Saat bis-bis ini berhenti, sekitar sepuluhan orang berlari menghampir bis-bis tersebut. Mereka berebut penumpang. Dugaan saya, mereka adalah tukang ojek yang mangkal di sini, karena setelah berebut penumpang mereka kemabali ke motor mereka yang diparkir di pingir jalan. Ada juga bis berhenti dan beberapa orang-orang ini membantu menurunkan sepeda motor dari pintu belakang. Sepeda motor dinaikkan di kabin penumpang, bukan di bagasi bawah bus. Saya sempat menanyakan kepada pemilik motor ini asal terminal keberangkatan bus yang dinaikinya. Pemilik mengatakan kalau dia berangkat dari terminal Kalideres, Jakarta Barat. Biaya pengangkutan sebuah sepeda motor adalah Rp 400,000, belum termasuk biaya untuk pemilik motor. Di dalam bis sempat saya lihat satu motor yang lain yang tidak ikut diturunkan. Berarti bis ini paling tidak bisa membawa dua sepeda motor. Singkat kata, bis ini bisa membawa sepeda di dalam kabinnya. Orang-orang (tukang ojek) yang membantu menurunkan sepeda motor mendapat upah Rp 15,000. Uang ini dibagi untuk lima orang.

Warung tenda di depan pasar (Wonokriyo?) Gombong, Jawa Tengah

Warung tenda di depan pasar (Wonokriyo?) Gombong, Jawa Tengah

Kembali ke dalam warung tenda, Indomie rebus sudah hampir selesai dimasak. Tidak begitu lama kemudian Indomie rebus keluar dengan ukuran mangkok yang besar. Di Jakarta biasanya Indomie rebus disajikan dalam mangkok bakso. Tapi di sini disajikan dalam mangkok yang lebih besar, mungkin ukurannya dua kali mangkok bakso. Karena masih terlalu panas mie saya aduk-aduk sambil ditiup biar cepat dingin. Jelas sekali mie rebus ini ditambahi dengan sayuran daun bawang, sawi, dan tomat. Tambahan lauknya berupa telur dan ayam suwir. Pastas saja volumenya menjadi banyak sekali. Mie mulai saya makan, dan rasanya enak sekali. Maknyusss. Sungguh rasanya enak sekali. Luar biasa dan mantap sekali. Sarapan ditutup dengan segelas kecil Indocafe Coffemix. Di meja juga tersedia pisang ambon hijau. Saya pesan empat buah untuk bekal di perjalanan.

Kembali sepeda saya gowes. Jalan masih relatif  datar dengan sedikit bergelombang. Masih di Gombong, saya sempat membeli satu botol Aqua 1.5 liter. Persediaan air minum habis sama sekali. Selepas Gombong di kanan kiri jalan terhampar sawah yang luas. Tampaknya padi belum terlalu lama ditanam. Masih kecil-kecil dan pendek. Tidak terlalu lama kemudian masuk kawasan Karanganyar. Karanganyar bukan kota yang besar. Buktinya saya tidak memerlukan waktu yang lama untuk melewatinya. Sepeda masih melaju dengan kecepatan yang relatif tinggi. Walau sepeda melaju dengan kecepatan yang tinggi di jalanan datar, saya tetap tidak lupa untuk terus berdoa. Berdoa bukan hanya di kala susah, seperti saat menghadapi tanjakan gunung. Setiap saat selalu berdoa. Ada list doa-doa yang sudah saya siapkan sejak dari rumah. Tiap hari ujud doanya berbeda-beda. Kali inipun saya tetap mendoakan ujud untuk hari ini.

Tidak terasa saya memasuki kawasan Kebumen. Saya masuk jalur kota, bukan jalur lingkar luar kota. Di pojok sebelum alun-alun kota Kebumen ada lampu lalu lintas. Sebagai pengguna jalan yang taat saya juga turut berhenti saat lampu merah menyala. Ketika lampu hijau menyala kembali sepeda saya gowes. Tepat di segitiga putih yang terletak di tengah-tengah pertigaan jalan ada petugas polisi yang tersenyum kemudian berteriak, “Mau ke mana, Pak !?” Sambil terus menggowes saya jawab, “Mau ke Bali, Pak !”. Entah mengapa saya menjawab Bali. Yang ada kepala saya saat itu adalah Bali. Jadi saya jawab sekenanya saja, Bali.

Tugu Walet Kebumen, Jawa Tengah

Tugu Walet Kebumen, Jawa Tengah

Kota Kebumen kelihatan bersih dan rapi. Jalan berukuran besar dan beraspal halus. Tidak jauh dari alun-alun kota saya bertemu dengan Tugu Walet. Sebagai kenang-kenangan saya ambil beberapa foto di Tugu Walet ini. Tidak perlu berlama-lama berhenti di sini. Kembali sepeda saya gowes. Hari ini, sampai di titik ini saya mengowes di jalan yang datar. Tidak ada turunan atau tanjakan yang saya temui. Berbeda denga hari-hari sebelumnya, jarak antar kota relatif dekat. Sehingga sukses-sukses kecil mudah dan cepat diraih. Liat saja, dari pagi saya sudah melewati beberapa kota kecil, seperti: Sumpiuh, Karanganyar, dan Kebumen. Tak begitu lama kemudian Kotawinangun, Prembun, Butuh, dan Kutoarjo pun terlewati. Lanjut lagi ke arah Puworejo. Mulai dari Kutoarjo udara semakin terasa panas. Ditambah lagi matahari semakin terik bersinar. Persediaan air minumpun semakin tipis. Walau kondisi cuaca begitu panas, saya tidak banyak istirahat seperti menghadapi tanjakan Puncak Pass, Cipatat, ataupun Lumbir (setelah Karang Pucung).

Patok kilometer di antara  Kebumen dan Kutowinangun, Jawa Tengah

Patok kilometer di antara Kebumen dan Kutowinangun, Jawa Tengah

Kondisi jalan dana lalulintas di patok Km 140 di antara  Kebumen dan Kutowinangun, Jawa Tengah

Kondisi jalan dana lalulintas di patok Km 140 di antara Kebumen dan Kutowinangun, Jawa Tengah

Sebelum masuk kota Purworejo ada jalan potong ke arah Yogyakarta. Jadi saya tidak perlu masuk kota Purworejo untuk tujuan Yogyakarta. Kalau masuk dulu kota Purworejo berarti akan mengambil jalan berputar. Sedangkan kalau ambil jalan lintas selatan akan banyak mempersingkat jalan. Tepat di perempatan besar sebelum kota Purworejo ada petunjuk arah ke kanan tujuan Yogyakarata. Saya ambil jalan ke arah kanan. Tidak jauh dari perempatan ini tepatnya di daerah pesawahan kondisi jalan buruk sekali. Banyak lubang dan jalan relatif sempit. Di sini saya sempat ragu, apakah saya berada di jalur yang benar. Tapi saya berusaha untuk tetap mempercayai petunjuk jalan tadi. Selepas persawahan masuk daerah perkampungan. Di sini pepohonan cukup rindang dan jalan sangat halus dan mulus. Sepeda terus digowes hingga bertemu pertigaan besar, ke kanan arah Yogyakarta dan ke kiri arah kota Purworejo. Saya ambil jalan ke arah kanan.

Gerbang selepas Kabupaten Porworejo, Jawa Tengah

Gerbang selepas Kabupaten Porworejo, Jawa Tengah

Masuk jalan tujuan Yogyakarta lalulintasnya relatif sepi. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Tidak terlalu jauh dari pertigaan besar tadi banyak penjual dawet hitam berjajar di kanan kiri jalan. Rasanya ingin juga mencicipi. Untuk mengobati rasa penasaran saya hentikan sepeda di salah satu penjual dawet hitam. Seorang anak perempuan kecil sedang berbenah membereskan perlengkapan es dawet. Menurut perkiraan saya anak ini masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). “Dawetnya sudah ada?” tanya saya. “Ada Pak”. Satu porsi dawet saya  pesan. Sambil duduk santai saya amati anak ini. Ukuran badannya kecil, tapi dari kegesitan dan kelincahan sudah tampak seperti anak remaja. Kecekatan dalam bekerja sudah melebihi usianya.

“Tidak sekolah ?”

“Tidak, habis ujian nasional, Pak”

“Ujian nasional SD ?”

“Bukan Pak, ujian nasional SMP ?”

“Haahhh, ujian SMP ?”

“Iya Pak, saya baru saja ikut ujian nasional tingkat SMP. Sekolah sudah libur.”

Ternyata anak ini bukan anak usia sekolah dasar. Tapi sudah (hampir) lulus SMP. Dari pengamatan saya, fisik anak ini lebih mirip anak SD bukan SMP, kecil. Tapi dari kegesitannya kelihatan bukan sebagai anak SD lagi. Anak ini saya ajak ngobrol lebih lanjut. Ternyata kios dawet ini dia yang menjaganya. Sebelumnya, saya kira anak ini hanya membantu orang tuanya yang sedang tidak ada di kios. Ternyata seharian dia berjual dawet hingga sore tanpa dibantu kedua orang tuanya sama sekali. Kedua orang tuanya tidak membantu sama sekali termasuk membuat dawet. Dawetnya sendiri dibuat oleh tantenya. Dia hanya bertugas menjual saja. Hebat, kecil-kecil sudah berani belajar jadi pengusaha.

Kios dawet hitam di jalan raya Purworejo - DI Yogyakarta, Jawa Tengah

Kios dawet hitam di jalan raya Purworejo – DI Yogyakarta, Jawa Tengah

Ada pertanyaan menggelitik yang menggangu dalam pikiran saya “Warna hitam dalam dawet ini apa?”. “Ooo, itu merang yang dibakar dan arang/abunya dijadikan sebagai pewarna” jelasnya lancar. Glek, setengah tersedak saya kaget setengah mati. Saya makan abu dan arang! Dawet porsi kedua yang sedang saya makan ternyata mengandung abu atau arang dari merang yang dibakar. Seumur hidup saya baru tahu kalau dawet hitam ada campuran abu/arang dari merang. Merang (tangkai dari biji padi/gabah) dibakar dan abunya dicuci serta disaring yang kemudiaan dicampurkan dalam bahan dawet. Wauuuwwww….

Dawet hitam

Dawet hitam

Saya kembali melanjutkan perjalanan ketika sebuah mobil truk berhenti di depan kios  dawet dan kedua penumpangnya turun. Kedunya beristirahat dan memesan dawet hitam. Kembali jalan Purworejo – Wates saya susuri. Lalu lintas tidak begitu ramai. Kendaraan satu dua saja yang lewat. Kondisi jalan masih datar, hanya saja permukaan jalannya relatif jelek. Jalan bergelombang dan berlubang membuat bersepeda semakin tidak nyaman. Di jalur ini udaranya sangat panas. Kondisi jalan yang lebar, lurus, dan lalu lintas yang sepi membuat suasana semakin membosankan. Tiap kayuhan pedal rasanya berat sekali dan tiap meter jarak yang ditempuh lama sekali. Sekali lagi, tidak boleh menyerah. Tidak ada ruang untuk balik badan, dan tidak ada kata menyerah. Dengan bersusah payah saya berusaha menggapai meter per meter jalanan.

bersambung ….

One Response to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 5-a)

  1. yudha says:

    salam dari warga gombong gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s