Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 5-b)

Sepeda tetap saya kayuh sekuat tenaga. Kebosanan terus menghantui. Rasanya saya sudah bersepeda lebih dari empat hari. Tapi kok masih sampai di sini. Kota Yogyakarta pun belum terlewati. Berarti ini belum setengah pulau Jawa. Kalau begini terus waktu dua minggu cuti tidak akan cukup untuk mencapai pulau Lombok. Terus dengan memompakan semangat untuk diri sendiri saya berusaha melaju secepatnya. Tak terasa juga akhirnya bertemu dengan Tugu Perbatasan Propinsi Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejenak saya beristirahat di sini sekedar untuk mengumpulkan tenaga. Mumpung sedang istirahat sekalian ambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.

Tugu perbatasan Jawa Tengah - DI Yogyakarta

Tugu perbatasan Jawa Tengah – DI Yogyakarta

Kira-kira 10 menit kemudian saya melanjutkan perjalanan. Suasana jalan raya masih relatif sama. Hari sudah siang, hampir pukul 12:00. Saatnya untuk mencari makan. Dari Purworejo hingga daerah Temon ini sulit menemukan tempat makan yang pas dengan kantong saya. Dalam hati berfikir, harus segera mencari tempat untuk makan siang. Menggowes sambil tengok kanan kiri. Kebetulan ada penjual soto dan nasi pecel. Beberapa petugas polisi sedang makan di situ tampaknya. Sepeda sempat beberapa puluh meter melewati warung ini sebelum saya putuskan untuk makan di sini. Sepeda saya pinggirkan dan saya tuntun ke arah balik. Saat saya masuk warung, ternyata bapak-bapak polisi ini sudah selesai makan dan mulai meninggalkan warung. Kepada salah seorang bapak polisi ini sempat saya tanya jarak hingga kota Wates. Katanya masih jauh, masih sekitar 10 km. Sepeninggalan bapak-bapak polisi ini tinggal saya seorang diri di warung ini. Untuk makan siang saya pesan nasi, soto bening, dan jeruk hangat. Agak lama juga pesanan saya keluar. Begitu keluar langsung makan walau soto masih panas. Rasanya perut sudah lapar sekali. Satu porsi soto habis, giliran jeruk hangat masuk perut. Sekarang kenyang rasanya.

Warung soto dan nasi pecel di jalan raya Purworejo - Wates, DI Yogyakarta

Warung soto dan nasi pecel di jalan raya Purworejo – Wates, DI Yogyakarta

Sambil menunggu nasi turun saya beristirahat sekitar satu jam di sini. Rencananya hari ini saya menginap di rumah famili. Lokasinya di Dusun Tiwir, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman sebelah barat kota Yogyakarta. Di tempat ini ibu saya dilahirkan dan dibesarkan. Di sini masih ada kakak dari ibu (Budhe/Tante) saya yang tinggal bersama anak, mantu, dan cucunya. Sedangkan bapak saya berasal dari dusun Goser, Kelurahan Sumber Rahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Di sana masih ada adik dari bapak saya. Asal bapak dan ibu saya masih satu kecamatan tapi beda desa.

Di sebuah pertigaan besar tanpa petunjuk arah saya ambil lurus. Setelah pertigaan saya tanyakan arah jalan ke Wates atau Yogyakarta. Seorang pengendara sepeda motor yang saya tanyai mengatakan saya salah jalan. Tadi seharusnya saya belok ke kiri bukan ambil jalan lurus. “Terimakasih untuk informasinya, Pak”. Saya kembali ambil jalan yang benar, jalan yang ditunjukkan oleh bapak tadi. Adrenalin semakin deras mengalir. Sepeda saya gowes sekencang-kencangnya. Pokoknya pengin cepat sampai. Tak terasa akhirnya bisa masuk kota Wates. Badan semakin terasa lelah. Ingin rasanya cepat sampai di rumah Budhe dan cepat istirahat. Terus sepeda saya kayuh. Sedikit demi sedikit dan daerah Sedayu mulai tampak. Tepat di perempatan Sedayu saya ambil arah kiri. Di tengah jalan ada keraguan kecil. Perasaan saya jarak dari jalan raya Yogya-Wates ke rel kereta api tidak terlalu jauh. Rasanya sudah bersepeda cukup lama, tapi kok rel kereta tidak kunjung ketemu. Untuk memastikan arah, saya tanyakan arah dusun Goser pada seorang ibu yang kebetulan menyeberang jalan. Menurut sang ibu saya masih berada di jalur yang benar. Jarak ke rel kereta apipun sudah tidak jauh lagi. Benar juga, tidak lama kemudian saya menyeberangi rel kereta api. Tidak jauh dari rel ada pertigaan dengan batu besar. Lurus arah ke Godean dan ke kiri arah ke Dusun Goser. Tepat di sudut jalan ke Goser dan jalan ke Godean inilah batu besar itu berada.

Batu besar di pertigaan Gubug, Sedayu

Batu besar di pertigaan Gubug, Sedayu

Saya ambil jalan arah kiri. Kira-kira 500 meter dari pertigaan ini ada pertigaan dusun Goser. Di pertigaan ini saya ambil arah ke kanan dan rumah kedua di sisi kanan jalan itulah tempat tinggal kakek saya. Kakek saya sudah lama meninggal. Sekarang rumah kakek ditinggali oleh keluarga adik dari bapak saya bersama anak, mantu, dan cucu. Saat saya tiba di rumah kakek, Oom saya tidak ada di rumah. Saya hanya ketemu Bulik (tante) saja. Di sini saya tidak lebih dari 10 menit. Mampir hanya sekedar untuk bersilatuhami dengan saudara yang masih ada di sini. Kembali sepeda saya gowes ke arah pertigaan batu besar. Di pertigaan ini saya ambil arah kiri. Jalan kampung ini beraspal relatif halus. Kanan kiri terbentang sawah yang luas. Setelah bersepeda kira-kira 2.5 km saya sampai di dusun Tiwir.

Kira-kira pukul 15:30 sudah sampai di rumah Budhe. Beliau sangat kaget ketika saya tahu datang langsung dari Jakarta dengan sepeda. Tak perlu basa basi lagi, semua muatan sepeda langsung saya turunkan. Sepeda dan pakaian kotor langsung saya cuci di saluran irigasi samping rumah. Semuanya dicuci bersih-bersih selagi punya banyak waktu dan banyak air. Pakaian basah saya jemur di gudang kayu depan rumah untuk berjaga-jaga kalau nanti malam hujan. Hari mulai mendung gelap dan suara guruh sudah mulai terdengar. Sepeda yang sebelumnya saya keringkan di teras rumah saya masukkan ke dapur bersama dengan motor-motor milik sepupu.

Foto bareng Budhe, salah seorang sepupu (mBak Wiwik), dan salah satu cicit Budhe

Foto bareng Budhe, salah seorang sepupu (mBak Wiwik), dan salah satu cicit Budhe

Pukul 19:00 hari mulai gerimis dan catatan mulai saya tulis. Tidak lama kemudian saya rebahkan badan untuk tidur. Untuk memulihkan kondisi badan banyak goweser yang memakai teori 4+1. Arti empat hari gowes kemudian istirahat satu hari full. Sebenarnya saya ingin juga menerapkan teori ini. Tapi ada kekhawatiran jumlah hari cuti saya tidak cukup. Artinya, saya belum sempat sampai finish tapi jatah cuti saya sudah tidak ada lagi. Oleh sebab itu walau badan lelah saya tidak memakai teori ini. Terima kasih Tuhan untuk semuanya hingga hari ini. Dan tak, terasa saya tertidur lelap.

Seperti hari-hari sebelumnya, berikut ini saya lampirkan catatan pengeluaran hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Indomie rebus + Indocafe Coffemix + 4 bh Pisang Ambon (bungkus)

21,000

1 botol Aqua 1.5 liter

5,000

2 mangkok Dawet Hitam

5,000

Nasi + soto bening + jeruk manis hangat

7,000

Total :

38,000

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time)

6:53:11

DST (Trip Distance in km)

124.00

AV (Everage Speed in km/hr)

18

MX (Maximum Speed in km/hr)

38.1

CAL (Calorie Consumption in kcal)

1471

CO2 (Carbon Offset in kg)

18.60

ODO (Total Distance in km)

558

Gedung BEJ, 4 Sep 2013

3 Responses to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 5-b)

  1. Andy says:

    Ditunggu kelanjutan jurnal perjalanannya pak🙂

  2. gk sabar nunggu update’an dr cerita perjalanan Bapak, sehat sentosa buat Bapak Sekeluarga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s