Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 6-a)

Sejak dari Jakarta saya berencana bersepeda selalu lewat jalur selatan P. Jawa. Hingga sampai Yogya saya masih tetap di jalur selatan dan tidak ada rencana untuk pindah ke jalur utara. Selanjutnya selepas Yogyakarta saya berencana melanjutkan perjalanan melalui Wonogiri, Ponorogo, dan seterusnya ke arah timur. Dari peta mudik atau peta-peta yang ada, jalur yang umum yang biasa dilalui menuju Wonogiri harus melewati Solo dan Sukoharjo baru masuk Wonogiri. Berarti dari Yogyakarta menuju Solo harus berjalan ke arah Timur Laut. Baru dari Solo ke menuju arah Selatan untuk mencapai kota Wonogiri. Kalau mengikuti jalur ini berarti dari Yogyakarta ke Wonogiri harus berputar. Mungkin kalau menggunakan kendaraan bermotor tidak terlalu bermasalah. Tapi sebaliknya, kalau menggunakan sepeda ini adalah masalah besar. Apalagi tidak ada target apapun di kota Solo, bersepeda ke Wonogiri via Solo akan buang-buang waktu dan tenaga.

Menurut perkiraan, saya pasti ada jalan pintas atau jalan singkat dari Yogyakarta menuju Wonogiri. Tidak perlu lewat Solo dan Sukoharjo terlebih dahulu. Kalaupun ada jalan yang tidak bisa dilewati mobil, paling tidak ada jalan yang bisa dilewati sepeda. Informasi yang mungkin bisa didapat adalah bertanya pada mBah Google. Ternyata benar. Mbah Google bisa memberikan jawaban walaupun jawaban harus diinterprestasikan dengan hati-hati. Di sini saya menemukan jalur jalan dari Yogyakarta yang langsung tembus ke Wonogiri. Jalur tersebut dimulai di Kalasan dan masuk stasiun kereta api Srowot. Dari sini lanjut lagi ke Wedi, Bayat, Cawas, Weru, Bulu, dan masuk kota Wonogiri. Catatan tentang jalur ini saya simpan baik-baik. Kalau pun di sini saya salah arah berdasarkan catatan ini saya masih bisa tanya warga setempat arah yang benar. Dan saya pastikan kalau saya akan melalui jalur ini.

Hari ini Rabu, 8 Mei 2013. Pukul 04:00 saya sudah bangun. Masih seperti hari-hari sebelumnya, cepat-cepat saya bereskan semua urusan belakang. Semua barang sudah dinaikkan ke atas sepeda. Baju kaos yang masih basah saya jemur di atas tas pannier. Dijempur di sepanjang perjalanan. Semua beres dan siap sudah. Setelah pamit dengan sanak famili sepeda mulai saya gowes. Seperti nasehat sepupu, saya tidak perlu masuk jalur jalan Wates – Yogya. Bisa langsung ambil jalan pintas dari pertigaan Menulis lurus ke arah Kemusuk terus ke arah Gamping dan tinggal menyeberang Ring Road Yogya. Dari ini lurus terus dan membelah kota Yogya menuju arah Solo.

Benar juga tidak jauh dari pertigaan dusun Menulis bertemu dengan dusun Kemusuk. Dusun ini adalah dusunnya Pak Soeharto mantan presiden itu. Rumah saudaranya yang dulunya relatif sederhana sekarang dibangun sangat megah. Persis di sebelahnya dibangun sebuah masjid yang megah pula. Pemandangan yang sangat berbeda dengan tiga atau empat tahun lalu. Terus saya ambil jalan ke arah timur. Pemukiman di sepanjang jalan ini relatif padat diselingan dengan hamparan sawah yang luas. Tampak jelas tanam padi masih kecil. Mungkin baru ditanam sebulan yang lalu. Permukaan jalanpun relatif baik. Jalan beraspal walau tidak terlalu halus. Sayangnya tanda arah tidak ada. Beberapa kali saya harus mengaktifkan “GPS”, caranya berhenti sejenak dan tanya arah jalan pada orang di pinggir jalan. Cara ini sangat efektif untuk menghindari salah jalan. Hehehee …. Tidak lama berselang saya menyeberangi rel kereta dan bertemu dengan pertigaan besar. Kembali lagi di pertigaan besar ini tidak ada petunjuk arah. Terpaksa bertanya pada petugas mini market (Indomaret) yang berada tepat di pertigaan jalan ini. Oleh petugas ini saya diminta belok ke kanan. Beberapa puluh meter setelahnya saya harus belok kiri. Setelah itu ada pertigaan besar dan saya harus ambil jalan lurus. Di sebelah kanan ada gereja dan setelah gereja jalan menurun dan melewati jembatan. Selepas jembatan ini akan bertemu dengan Ring Road Yogya.

Arah jalan yang dijelaskan oleh petugas mini market saya ikut. Benar juga, setelah pohon besar di pertigaan ada gereja di sisi kanan jalan setelah itu jembatan dan saya sampai di Ring Road Yogya. Menyeberangi Ring Road, saya memasuki jalan yang beraspal halus. Jalan pusat kota, hotmix. Lalu lintas relatif ramai dengan sepeda motor dan mobil. Dari tulisan plang nama saya tahu jalan ini adalah jalan RE Martadinata. Masih terus lagi ke arah timur lagi saya memasuki jalan KH Ahmad Dahlan. Tiba-tiba baru sadar kalau saya ternyata sampai di depan perempatan besar. Di depan sebelah kiri adalah Benteng Vredeburg dengan patungan Serangan Umum 1 Maret di depannya, dan di depan kanan adalah Kantor Besar Yogyakarta. Kalau tidak salah di perempatan ini ke arah kanan jalan menuju Keraton Yogya dan jalan dari arah kiri ini adalah jalan Malioboro. Mumpung masih berada di tengah kota Yogyakarta saya berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto. Saya berhenti tepat di depan Gedung BNI. Singat saya, di sini ambil lima atau enam foto sebelum saya pindah ke seberang tepat di depan patung Serangan Umum 1 Maret. Kembali saya ambil beberapa foto. Tengah asyik mengambil foto dipagi hari yang segar ada pesepeda yang berhenti dan menghampir saya. “Mas dari mana?” sapanya. “Saya dari Jakarta dan hendak ke Bali”. Dan kami mengobrol dengan santai panjang lebar. Ternyata Mas Bro yang biasa dipanggil dengan nama Mas Duta ini adalah goweser sejati. Hampir tiap pagi beliau bersepeda pagi di seputaran Yogya ini. Sebenarnya beliau adalah warga Semarang tapi saat ini sedang ditugaskan di Yoyakarta. Di Semarangpun beliau biasa bersepeda bahkan terkadang bersepeda hingga jauh seperti ke Demak dan Kudus. Buat Mas Duta bersepeda ini adalah sebuah kegiatan yang menarik dan untuk itu beliau aktif dalam komunitas sepeda di Yogya dan Semarang.

Di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, DIY

Di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, DIY

Dari Mas Duta saya mendapatkan informasi arah jalan ke arah Solo. Informasinya sangat detail. Sebelum berpisah kami sempat foto bersama. Kembali sepeda saya gowes. Saya ikuti arahan Mas Duta ada sejumlah lampu lalulintas yang harus saya lewati sebelum belok ke kiri. Waktu ini saya ingat jumlah lampu lalulintas yang harus saya lewati tapi sudah lupa saat tulisan ini saya tulis. Saat itu saya harus benar-benar mengingat jumlah lampu lalu lintas yang sudah saya lewati sepanjang jalan Sultan Agung dan jalan Kusumanegara. Setelah jalan Kusumanegara habis, saya belok ke arah kiri. Di sebuah tikungan besar sebelah Jogya Expo, untuk memastikan kalau saya tidak arah saya sempat bertanya pada wanita berjilbab yang duduk di atas sebuah motor bebek. Dugaan saya mBak ini adalah seorang mahasiswi. “Mbak jalan ke Solo ke arah mana ?” mBak ini melihat saya dan diam saja. Pertanyaan yang sama saya ulang lagi. Dan mBak ini masih tetap diam. Dalam benak saya mungkin mbak ini tidak dengar. Untuk ketiga kalinya pertanyaan yang sama saya ulang dan dia menjawab: “Saya orang Bali dan saya tidak tahu jalan arah ke Solo”. Ooo, ternyata dia orang Bali. Saya pikir dia orang yang tidak mendengar pertanyaan saya. Maaf …

Foto bareng dengan Mas Duta di depan Tugu Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, DIY

Foto bareng dengan Mas Duta di depan Tugu Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, DIY

Masih seperti petunjuk Mas Duta, saya bertemu sebuah jalan layang ke arah kanan. Turun dari jalan layang ini masuk jalan raya Solo. Terus sepeda saya gowes cepat. Mumpung masih pagi dan jalan rata, tidak naik turun. Tidak lama berselang bandar udara Adisucipto terlewati. Oh,ya … Dari pagi belum sarapan. Kini saatnya untuk mencari sarapan. Sambil jalan, mata lirik kanan-kiri mencari sarapan yang pas dengan perut dan kantong. Kebetulan sekali bertemu dengan warung angkringan. Sepeda saya hentikan dan saya parkirkan di sebelah warung angkringan. Warung angkringan indentik dengan nasi kucing. Maksudnya nasi dibungkus seukuran porsi untuk kucing. Sebungkus nasi yang berisi kira-kira 10 sendok makan nasi dengan taburan dua sendok teh tempe kering atau teri atau mie goreng. Untuk makan kenyang paling tidak harus makan empat  atau lima porsi nasi kucing. Saya mulai makan nasi kucing teri dengan lauk telur dadar dan tempe goreng. Satu posi habis rasanya masih lapar. Supaya kenyang tambah satu porsi lagi nasi kucing mie goreng. Untuk menghangatkan perut saya pesan Indocafe Coffeemix instant. Total saya menghabiskan dua bungkus nasi kucing, satu potong telur dadar kecil, dua potong tempe kering, dan segelas kopi instant hangat. Cukup kenyang rasanya.

Angkringan di depan Gereja Katholik Kalasan, Yogyakarta, DIY

Angkringan di depan Gereja Katholik Kalasan, Yogyakarta, DIY

Ketika beranjak dari warung angkringan ini, saya baru tahu kalau warung ini tepat berada di depan gereja Katholik Kalasan. Tepat di sebelah Gereja terdapat Rumah Sakit Panti Rini. Ternyata saya sudah memasuki kawasan Kalasan. Sepeda kembali saya gowes. Bersepeda dengan sebagian konsentrasi saya arahkan untuk doa. Kira-kira dua kilometer dari tempat saya sarapan jalan dibagi dua menjadi jalur cepat dan jalur lambat. Saya ikuti jalur lambat. Lumayan teduh jalan ini. Banyak pohon berukuran besar di jalan ini. Tepat di ujung jalur lambat sebelum jembatan bertemu dengan rumah Bong Supit. Rumah Sunat. Dalam bahasa Jawa Bong berarti orang yang ahli atau tukang. Sedangkan supit berarti sunat. Bong supit berarti tukang sunat atau ahli sunat tradisional. Saya pertama kali melihat tempat ini belasan tahun yang lalu. Konon menurut Bapak saya, sejak Bapak saya kecil rumah Bong Supit ini sudah ada. Saya begitu ingat tempat ini karena ini satu-satunya rumah sunat yang pernah saya temui. Saya tidak pernah menemukan rumah supit di tempat lain. Bong Supit hanya ada di sini. Sejak dahulu kala tempat ini selalu ramai bahkan antri untuk sunat. Lebih-lebih di musim libur anak sekolah.

Tugu di depan kompleks Candi Prambanan, Kalasan, Jawa Tengah

Tugu di depan kompleks Candi Prambanan, Kalasan, Jawa Tengah

Tidak jauh dari sini bertemu dengan jembatan. Persis setelah jembatan di sebelah kiri jalan adalah komplek Candi Prambanan. Tepat di gapura dekat pintu masuk komplek candi saya berhenti sejak untuk ambil foto. Lanjut lagi, sepeda saya gowes ke arah Solo. Rencananya saya akan melalui Stasiun Srowot untuk mulai masuk jalan pintas. Dari Google stasiun ini masih berada di kawasan Prambanan ini. Saat asyik menggowes tiba-tiba ada sepeda menyusul dan berjalan di sisi kanan saya.

“Mas, mau ke mana?” sapanya

“Mau ke Bali, kalau kuat. Mau ke mana?”, saya balik bertanya.

“Mau ke Wedi” jawabnya.

Sambil jalan kami terus mengobrol. Anak muda ini ternyata bernama Ketut. Mas/Bli Ketut. Dia menyebut dirinya Ketut Jogja Touring dan aktif di komunitas sepeda di Yogyakarta. Saat ini mas Ketut akan pergi ke pasar Wedi untuk cari barang klitikan (barang antik di pasar loakan) sepeda. Sudah sering Mas Ketut bersepeda dari Yogya ke Wedi hanya untuk cari barang klitikan. Barang-barang tersebut akan dijual lagi, tentu dengan harga yang lebih tinggi lagi. Dia mengklaim kenal semua pedagang klitikan di pasar Wedi.

Kami terus mengobrol. Mas Ketut adalah orang yang punya hobi bersepeda jarak jauh juga. Dari Yogya beliau pernah ke Bandung dan ke Bali. Tentu saja dengan sepeda. Bersepeda di seputaran Jogya hampir semua derah pernah dijelajahi. Seperti di kota-kota lain, sering komunitas-komunitas sepeda setelah setelah berkeliling dengan jarak yang tidak jauh kemudian memarkirkan sepeda berjejer dan memenuhi badan jalan. Pemiliknya berkumpul sambil ngobrol. Menurutnya dia kecederungan aktifitas ini lebih sebagai ajang pamer sepeda. Kadang Mas Ketut malu kalau berkumpul dengan teman-temannya dan memarkirkan sepedanya di tempat yang agak tersembunyi. Sepeda satu-satunya Mas Ketut ini menurutnya jelek. Malu kalau diparkir bareng sepeda yang lainnya yang jauh lebih bagus. Dari pengamatan saya sepeda ini sangat sederhana. Warnanya sudah tidak bagus lagi alias buram. Sepeda “trondhol”, tanpa spakbor, tanpa boncengan, tanpa lampu, dan single speed. Tapi sepeda ini pernah sampai ke Bandung dan Bali. Hebat bukan!?

Saya katakan kebiasaan komunitas-komunitas ini hampir sama dengan komunitas-komunitas di Jakarta. Mereka bersepeda sebentar terus kumpul-kumpul untuk makan dan ngobrol. Boleh-boleh saja. Dan ketika kita harus parkir bareng, kita tidak perlu malu karena sepeda kita jelek. Sebagai penghibur hati, biar sepeda kita jelek sepeda ini pernah membawa kita puluhan bahkan ratusan kilometer. Belum tentu sepeda bagus itu pergi/dibawa bersepeda jarak jauh. Paling-paling hanya untuk pamer dan bergaya di pinggir jalan. Saya dulu juga bersepeda puluhan kilometer dengan sepeda butut. Bahkan dengan sepeda butut saya bersepeda dari Serpong hingga Bogor. Saat ini sepeda ini selalu saya bawa dari rumah ke stasiun kereta dan saya titipkan di tempat penitipan sepeda. Lanjut ke kantor dengan kereta listrik. Nanti sore pulang dari stasiun saya naik sepeda butut ini lagi ke rumah.

Dalam komunitasnya Mas Ketut sering dimintai rekomendasi oleh temannya untuk spare part sepeda yang rusak atau saat sedang membangun sebuah sepeda baru. Beliau selalu memberikan rekomendasi dengan hasil yang optimum untuk tiap rupiah yang dikeluarkan. Satu lagi pernyataan mas Ketut yang menarik, pengembara biasanya memiliki mental dan “pribadi” yang kuat. Masih menurutnya pengembara memiliki keberanian keluar dari zona nyaman, fleksibel terhadap perubahan, dan serta tidak mudah menyerah. Manurut analisa saya masuk akal juga pendapat Mas Ketut. Bukan berarti saya sependapat dengan Mas Ketut karena saya juga seorang pengembara.

Saya terus bersepeda bersama mas Ketut yang mengaku tinggalnya berpindah-pindah kota tanpa menyebutkan kotanya. Tiba di sebuah pertigaan jalan (masih di jalan Yogya – Solo) kecil Mas Ketut tiba-tiba berbelok kanan, sementara saya lurus. Sejenak Mas Ketut menunggu saya berbalik arah walau hanya beberapa meter. Sebelumnya saya sempat bilang ke Mas Ketut kalau saya juga akan lewat Wedi terus ke arah Wonogiri. Tidak lama kemudian kami melewati stasiun kereta Srowot dan terus ke arah Wedi. Setelah Stasiun Srowot kanan kiri jalan mulai padat dan ramai dengan rumah warga. Tampaknya ini pasar Wedi. Di sepanjang jalan Mas Ketut sibuk menyapa orang-orang di pinggir jalan, terutama para pedagang loakan. Tampaknya benar kalau Mas Ketut kenal orang-orang di sini. Saya sangat yakin kalau Mas Ketut sering belanja barang klithikan di sini. Menjelang ujung pasar yang lain Mas Ketut meminta saya untuk berhenti sebentar untuk minta no telepon saya. Hal yang sama persis ada dalam pikiran saya. Saat itu saya ingin minta Mas Ketut berhenti dan saya ingin minta nomor teleponnya. Ternyata Mas Ketut yang lebih dulu meminta. Kami berhenti dan saling bertukar nomor telepon. Sebelum berpisah kami saling bersalaman dan beliau mengucapkan selamat jalan, hati-hati di jalan, dan God bless you. Saya balas dengan terimakasih banyak dan saya lanjutkan bersepeda meninggalkan Mas Ketut di pasar Wedi.

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s