Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 6-b)

Setelah pasar Wedi banyak melalui persawahan. Daerah ini relatif datar dan memiliki suplai air yang banyak dari Guung Merapi. Air tentu membawa banyak mineral vulkanik dari gunung sehingga membuat subur sawah-sawah yang dilalui. Menurut dugaan saya pada jaman raja-raja dahulu daerah ini memilik sawah yang sangat luas dan subur. Secara otomatis menghasilkan padi yang sangat berlimpah. Dengan padi yang berlimpah daerah ini bisa menjadi penyokong ekonomi daerah keramaian (pemerintahan dan keagamaan) di sekitar Kalasan. Tidak mungkin candi di sekitar Kalasan dibangun dengan kondisi keamanan dan ekonomi yang jelek dan morat-marit. Pasti daerah Kalasan dan sekitarnya adalah daerah yang kaya raya. Hingga saat ini sawah di sini masih luas dan tampak subur. Saat saya lewat tanaman padi masih relatih muda. Mungkin baru berumur sekitar satu setengah bulan. Terimakasih Tuhan, saya boleh melewati daerah yang cantik ini.

Jalan sebelum Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah

Jalan sebelum Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah

Setelah persawahan daerah Wedi saya memasuki daerah dengan sedikit menanjak. Di sebelah kiri tampak bukit kecil. Di kawasan ini banyak penjual gerabah (keramik tanah liat) di kanan dan kiri jalan. Dari plang tulisan di pinggir jalan saya tahu kalau daerah ini bernama Bayat. Tepat di daerah pembuat dan penjual gerabah ini jalan relatif buruk. Banyak lubang yang terisi air akibat hujan semalam. Setelah melewati kawasan penjual gerabah, kondisi jalan lebih baik. Permukaan jalan lebih halus dengan kanan kiri jalan banyak pohon di antara rumah-rumah penduduk. Di daerah Bayat kanan kiri jalan tidak banyak sawah, lebih banyak kebun. Jalan masih relatif datar hingga daerah Cawas. Baru setelah Cawas dijumpai areal persawahan yang sangat luas. Di kawasan ini saya sempat membeli tali dari ban bekas sepeda. Tali karet saya beberapa hari yang lalu ada yang putus. Saya beli untuk cadangan kalau-kalau tali karet yang tersisa juga putus.

Persawahan di Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah

Persawahan di Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah

Selepas Cawas ada petigaan besar. Tanda penunjuk arah tertulis kedua jalan tersebut mengarah ke Sukoharjo. Bukan ke Wonogori. Jangan-jangan saya salah arah hingga masuk daerah Sukoharjo yang lebih dekat ke Solo, bukan ke arah Wonogiri. Untuk memastikan saya tanyakan arah ke Kecamatan Bulu pada seorang penjual es kelapa di sisi kanan jalan. Menurut pedagang ini saya lebih baik ambil jalan ke arah kiri. Lurus terus nanti akan bertemu Kecamatan Bulu. Saya ikuti saran penjual es, saya ambil arah kiri, bukan arah lurus. Baru saja jalan beberapa puluh meter dari pertigaan, ada seorang ibu yang baru pulang dari sawah dan berada di sisi jalan lain bertanya saya mau ke mana. Saya katakan kalau saya mau ke arah Kecamatan Bulu terus ke Tiaran dan tujuan akhir Wonogiri. Sang ibu menyarankan agar saya tidak mengambil jalan ini. Sebaiknya dari pertigaan tadi saya ambil jalan lurus. Hadeuh, mana yang bener nich. Dalam hati kecil saya percaya dengan saran ibu ini. Biasanya seorang ibu tidak akan berbohong. Apalagi kebohongan ini memiliki konsekuensi kesulitan dan kesusahan. Akhirnya saya ikuti saran ibu ini. Saya balik arah dan mengikuti jalan yang ditunjukkan. Saya sempat ragu, sebab beberapa ratus meter setelah pertigaan ini saya melewati jalan yang sangat buruk. Banyak kubangan penuh dengan air di tengah jalan. Apa betul ini jalan ke arah yang benar? Tapi masak iya sich ibu tadi bohong. Saya mencoba untuk tetap percaya. Beberapa ratus meter kemudian kondisi jalan semakin baik. Jalan beraspal walau tidak begitu halus.

Saat ini saya merasa di negeri antah berantah. Bisa jadi saya berada di jalan yang salah. Atau makin jauh masuk daerah terpencil. Tapi sudahlah, semuanya saya serahkan pada Yang Di Atas. Tetap percaya saja. Hingga akhirnya saya tiba di sebuah pasar. Aktifitas pasar saat itu masih relatif ramai walau hari sudah jam 10:00 an. Pada seorang ibu yang berjual di pinggir jalan saya tanyakan jalan ke arah Kecamatan Bulu. Ibu memberikan informasi dengan petunjuk arah utara, selatan, barat, atau timur. Saya bingung menangkap detail informasi sang ibu. Seorang penjaga kios handphone dan voucher yang berada tidak jauh posisi berteriak, “Jangan pakai petunjuk arah mata angin. Pakai arah belok kanan atau kiri itu lebih mudah.”  Mas penjaga ini yang menjadi petunjuk jalan. Saya di minta untuk lurus terus. Nanti ada perempatan besar dengan tugu semen. Di sini saya harus belok ke arah kanan. Ikuti saja jalan ini dan nanti akan sampai di Kecamatan Bulu. Wah orang-orang di pasar Weru ini baik-baik. Informasi diberikan dengan sangat detail.

Jalan yang ditunjukkan oleh mas penjaga kios handpone saya ikuti. Tapi di sebuah perempatan saya bingung. Tidak ada petunjuk arah jalan sama sekali. Untuk memastikan arah saya bertanya pada seorang ibu. Menurut ibu ini, untuk menuju kecamatan Bulu harus belok ke arah kanan. Saya baru sadar kalau saya berada di perempatan besar yang dikatakan oleh mas penjaga kios handphone. Tepat di tengah perempatan ada balok beton setinggi satu meter dengan diamater kurang lebih 50 cm. Ooo, ini yang dimaksud tugu di tengah jalan. Dalam bayangan saya tugu itu ukurannya besar dengan tinggi paling tidak empat meter. Atau semacam gapuralah. Ternyata di sini lebih mirip dengan patok di tengah jalan. Heheeheheee

Saya ikuti jalan dengan belok ke arah kanan. Di sini jalan sedikit menanjak dengan tanah yang kering. Tampaknya air di daerah ini sulit didapatkan. Terus jalan ini saya ikuti. Saya hanya percaya dengan jalan yang beraspal. Jalan beraspal ini yang saya ikuti terus. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Kecamatan Bulu. Tepat di sebelah kantor Kodim Bulu saya berhenti di sebuah toko. Saya beli satu botol Aqua 1.5 liter dan satu botol Pocari Sweat. Aqua untuk mengisi cadangan minum dan Pocari Sweat dingin sebagai pendingin dan penyegar badan. Hari ini dan sampai di sini saya sudah bersepeda 76 km. Lumayan jauh juga. Lanjut lagi, saya masuk kawasan Tiyaran terus Selogiri dan akhirnya muncul di sebelah terminal bus Krisak di jalan raya Solo – Wonogiri.

Sebuah toko di sebelah kantor Kodim Bulu, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah

Sebuah toko di sebelah kantor Kodim Bulu, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah

Ada rasa lega yang besar ketika muncul di daerah Krisak ini. Sebelumnya ada rasa khawatir tersesat atau muncul di daerah Sukoharjo. Lebih-lebih saya tidak mengikuti jalan yang (relatif) umum yang biasa dilalui kendaraan besar antar kota. Bahkan di peta mudik Kompaspun jalan ini tidak digambar. Di sepanjang jalan plan petunjuk jalan tidak ada tulisan Wonogiri, semua tertulis arah Sukoharjo. Kalau saya keluar di daerah Sukoharjo berarti saya harus menggayuh lagi balik arah lagi ke Wonogiri. Perjalanan dengan memotong jalan yang baru saja selesai akan sia-sia dan buang waktu serta tenaga. Untungnya saya muncul hanya beberapa kilometer dari kota Wonogiri. Untuk sedikit merayakan sukses kecil ini saya putuskan untuk beristirahat sekalian makan siang. Sejak pagi saya sudah bersepeda 85.30 km. Kebetulan sudah waktunya makan siang. Ada sebuah warung nasi di depan pasar Krisak. Lokasi persisnya hanya beberapa puluh meter setelah terminal bus Krisak arah ke Wonogiri. Saya putuskan untuk berhenti dan makan siang di sini. Sebagai menu makan siang saya makan nasi, sayur nangka muda, ayam goreng, tahu, dan segelas teh manis. Mungkin karena lelah dan lapar menu makanan ini enak sekali. Dan perutpun langsung kenyang. Terimakasih Tuhan …

Persawahan sebelum terminal bus Krisak, Sukoharjo, Jawa Tengah

Persawahan sebelum terminal bus Krisak, Sukoharjo, Jawa Tengah

Setelah istirahat sejenak dan mengirim pesan posisi kepada keluarga di rumah, tepat pukul 12:30 sepeda kembali digowes menuju kota Wonogiri. Kota Wonogiri kira-kira empat kilometer di depan. Plang petunjuk arah benar-benar menjadi andalan menuju Ponorogo. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu sulit untuk melewati kota Wonogiri untuk masuk jalur Wonogiri – Ponorogo. Kondisi jalan Wonogiri hingga Ngadirojo relatif baik, lebar, dan memiliki permukaan yang halus. Beruntung semalam hujan lebat juga jatuh di daerah ini. Siang hari jam 13:00 an masih tampak banyak tanah yang basah. Kondisi basah seperti ini tampak semenjak dari Yogyakarta. Lumayan, udara jadi dingin, sejuk, dan segar. Bersepeda semakin terasa nyaman. Ditambah lagi banyak aroma tercium sejak lepas dari Wonogiri tadi. Ada aroma bunga-bunga untuk sesaji (seperti sesaji di Bali), aroma rumput basah, aroma sawah, aroma bunga mete, dan buang sawo. Beraneka aroma yang sudah lama sekali tidak saya cium.

Di jalur ini, di kanan kiri jalan banyak dijumpai tanaman jambu mete/mede dan pohon jati. Berarti daerah ini air relatif sulit didapat alias daerah kering. Kondisi jalan mulai sulit selepas Ngadirojo. Banyak tikungan tajam disertai dengan turunan dan tanjakan tajam pula. Turunan sedalam 50-70 meter hanya dalam jarak 200 an meter sampai dasar turunan. Dari dasar menanjak lagi 50-70 meter untuk jarak kira-kira 200 meter. Sampai puncak jalan rata kira-kira hanya 30-50 meter. Kemudian menurun lagi dan demikian seterusnya. Jumlah tanjakan turunan ini tidak terhitung jumlahnya. Entah berapa kali saya “tertipu”. Ketika mencapai sebuah puncak tanjakan setelah bersusah payah mendaki, saya mengira tanjakan sudah habis. Ternyata di depan jalan menurun tajam lagi. Sungguh, teramat sangat melelahkan. Saya sempat beristirahat sejak di sebuah warung kecil pinggir jalan kawasan Jatisrono untuk minum Kopi Hitam Mix Kapal Api.

Di jalur ini, dengan terpaksa sepeda saya tuntun ketika saya mulai mendaki dari dasar turunan. Saya tidak mau memaksakan diri untuk terus menggowes ketika mendaki. Tapi ketika menurun tajam dengan senang hati sepeda saya naik dan sebisa mungkin sepeda tidak direm. Dengan demikian sepeda melaju lebih jauh dan lebih tinggi sehingga ada sepotong tanjakan dimana sepeda tidak perlu dituntun lagi. Begitu beratnya medan ini sehingga badan benar-benar lelah. Untuk sekedar berjalan normal saya terseok-seok. Ditambah lagi perut terasa lapar sekali. Sedari tadi saya tidak melihat warung nasi atau warung yang berjualan makanan. Walaupun belum jam makan (saat ini baru jam 16:00) saya ingin makan untuk menghilangkan rasa lapar yang bergitu menyiksa. Saya sempat berhenti dan duduk untuk beristirahat di pinggir jalan. Di sini ada tanaman koro yang tumbuh merambat. Saya amati kalau-kalau ada buahnya yang masih muda. Buah yang masih muda enak kalau dimakan langsung. Tapi kebetulan sekali, tidak ada satu buahpun yang terlihat. Dalam doa-doa saya, saya berharap Tuhan memberi saya makan. Saya sudah benar-benar tidak kuat lagi. Ternyata doa saya terkabulkan. Di desa Tanggulangin, Jatisrono ada sebuah warung bakso. Sepeda saya parkirkan dan saya pesan bakso. Bakso kas Wonogiri. Sembari menunggu bakso keluar saya makan kerupuk yang dibungkus dalam plastik kecil. Dua bungkus kerubuk habis ketika bakso keluar. Dalam kondisi lapar seperti ini bakso ini benar-benar menyegarkan. Ketika tengah asyik makan bakso mBak penjual bakso menawarkan apakah saya mau nasi putih. Saya tahu warung bakso di Jawa tidak pernah menyediakan nasi putih sebagai menu tambahan bakso. Pasti nasi putih dari dapurnya sendiri. Karena lapar saya menerima tawaran nasi putih. Semangkok (bakso) nasi putih dihidangkan. “Maaf Pak, nasi sudah dingin. Tadi “rice cooker” nya sudah dicabut”, katanya. “Terimakasih. Dingin juga tidak apa-apa”. Saya makan nasi putih dengan lauk bakso kuah. Akhirnya semangkok bakso dan semangkok nasi putih tandas semua.

Sambil menikmati teh manis yang masih panas saya duduk santai melepaskan kelelahan yang begitu besar. Saya amati penjual bakso ini, dia ibu muda kira-kira 30 tahunan. Sambil berjual ia mengasuh anaknya yang masih balita. Tiba-tiba datang bapak-bapak sepuh duduk di depan saya. Dugaan saya, bapak ini ayah dari mbak penjual bakso. Rasanya dia tahu sepeda yang diparkir di depan adalah sepeda saya. Langsung saja ia menyapa saya, “Anda dari mana?”. Saya bilang dari Jakarta dan hendak ke Bali. Tiba-tiba dia berteriak pada anaknya (penjual bakso), “Ini tadi sudah dikasih nasi belum?”. Anaknyapun menjawab sudah. Saya juga bilang sudah, saya sudah diberi nasi. “Syukurlah kalau begitu”, kata bapak sepuh itu dengan ramah dan kemudian berlalu.

Teh manis habis dan saya bersiap berangkat lagi. Saya makan bakso, nasi putih, 2 bungkus kerupuk, dan teh manis hangat. Ketika saya tanyakan jumlah uang yang harus saya bayar untuk semua menu di atas penjual bakso merinci satu per satu makan tersebut. Tapi untuk nasi putih saya tidak perlu bayar. Sungguh “surprise”, nasi putih saya tidak perlu bayar. Saya katakan padanya saya akan membayar nasi putih walau nasi putih bukan bagian menu yang dijual di warung ini. Dan saya katakan juga kalau saya punya cukup uang untuk makan. Penjual bakso benar-benar menolak. Saya paksa penjual bakso untuk mengatakan harga nasi putih. Tetap dia tidak bergeming. “Sudah Pak, nasinya nggak usah bayar. Nggak apa-apa, kok.” Akhirnya saya mengalah. Semua saya bayar kecuali semangkok nasi putih. Terimakasih banyak. Ternyata masih banyak orang baik di negeri ini.

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s