Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 6-c)

Sepeda kembali saya gowes. Menurut mbak penjual bakso,  Slogohimo kecamatan berikutnya kira-kira tiga kilometer di depan, berikutnya Purwantoro 10 km, baru setelah itu Ponorogo. Hayalan pagi tadi, paling tidak malam ini saya bisa menginap di Ponogoro. Tapi rasanya target tidak akan tercapai. Buktinya sudah hampir jam 17:00 saya masih jauh banget dari Ponogoro. Tapi sudahlah apa yang terjadi terjadilah. Terus sepeda saya gowes. Masih di jalan dengan medan naik turun yang tajam. Tepat setelah pasar Slogohimo ada pom bensin dan saya putuskan untuk beristirahat di sini. Sepeda saya arahkan ke depan kantor pom bensin. Saya minta izin kepada petugas pom bensin untuk menginap di sini. Dan mereka mengizinkan saya untuk menginap. Di teras depan kantor pom bensin sepeda saya parkirkan bersama dengan motor-motor milik petugas pom bensin. Untuk sementara semua barang belum saya turunkan. Saya ingin beristirahat terlebih dahulu. Saya benar-benar kelelahan.

Sebuah menara BTS di antara Wonogiri - Slogohimo, Jawa Tengah

Sebuah menara BTS di antara Wonogiri – Slogohimo, Jawa Tengah

Dalam hati saya berdoa, terimakasih Tuhan, walau dalam dalam perjalanan yang sangat berat dan sulit ini saya masih diberi kekuatan. Kekuatan yang besar hingga saya masih mampu untuk tetap berdiri hingga di titik ini. Juga mohon berkat untuk semua orang yang sudah saya temui hari ini, terutama orang-orang yang sudah menolong dan membantu menunjukkan arah jalan selama perjalanan ini. Semoga mereka diberi kemudahan dalam menyelesaikan kesulitan mereka masing-masing. Juga saya mohon untuk perlindungan untuk keluarga dan sanak famili saya yang jauh dari tempat ini. Selesai berdoa saya masih duduk di teras sambil memandangi kebun jagung tepat di belakang kantor pom bensin. Tak terasa udara sudah bertiup cukup dingin walau waktu magrib belum datang. Walau badan terasa lelah tapi sore ini terasa begiru indah.

Selepas magrib saya bersih-bersih badan dan mandi. Habis mandi langsung saja ganti dengan baju tidur. Alas tidur langsung saya gelar di teras ruang besar yang kosong. Tampaknya ruangan ini akan dijadikan toko. Rencananya saya akan menulis catatan perjalanan secepatnya setelah itu tidur. Saat akan mulai menulis datang seseorang yang membawa tikar dan menawarkan tikar tersebut. Untuk alas duduk-duduk katanya. Ternyata bapak ini adalah Pak Rosyid (maaf kalau saya salah menuliskan nama). Beliau adalah kepala sekaligus penanggungjawab pom bensin ini. Beliau juga menawarkan tempat di dalam ruang besar ini untuk tidur. Tapi dengan halus saya tolak. Lebih baik tidur di sini saja. Nanti kalau hujan turun saja saya akan pindah ke dalam, jawab saya.  Selanjutnya kami berdua mengobrol di sambil duduk di teras ini.

Pom bensin / SPBU 44 576 11 Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah

Pom bensin / SPBU 44 576 11 Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah

Pak Rosyid bercerita banyak tentang tugasnya sebagai penanggungjawab pom bensin. Semuanya harus dimonitor dengan baik. Terlebih saat bahan bakar minyak langka. Pernah suplai solar di pom bensinnya dikurangi oleh Pertamina sekitar 50 persen. Akibatnya terjadi antrian yang cukup panjang. Bahkan antrian panjang terjadi selama beberapa hari hingga jumlah suplai dikembalikan ke posisi normal. Menurutnya, warga di sini lebih setuju harga minyak dinaikkan ke harga berapapun daripada suplainya dikurangi atau dihilangkan. Dia sangat yakin seberapapun tingginya harga minyak warga tetap akan membelinya dan aktifitas warga tetap akan berjalan walau melambat. Sebaliknya, kalau minyak berkurang atau hilang, aktifitas warga akan sangat terganggu. Benar juga apa yang dikatakan Pak Rosyid. Di sepanjang perjalanan banyak sekali alat-alat selain sepeda motor dan mobil yang memakai bahan bakar minyak, terutama solar. Saya sempat melihat beberapa kali mesin penggilingan padi keliling. Bentuknya kerangka mobil dan di atas kerangka ini dipasangi mesin diesel yang dilengkapi dengan alat/mesin penggiling pagi. Selain digunakan untuk menggiling pagi, mesin diesel digunakan untuk menggerakkan “mobil” saat berpindah atau berkeliling kampung. Ada juga mesin diesel yang digunakan untuk menarik semacam gerobak (“wagon”) yang dimuati dengan jerami. Beberapa kali saya melihat “wagon” pemotong/pembelah kayu. Juga saya lihat sepeda motor yang dilengkapi dengan motor tempel menawarkan jasa penggilingan tepung atau memarut kelapa. Alat-alat seperti ini sangat banyak dalam beberapa hari perjalanan ini. Tidak terbanyangkan kalau mereka tidak mendapatkan bahan bakar untuk mesin diesel. Saat itu pasti mereka semua mengganggur, yang berarti pendapatan mereka juga turut menurun.

Masih menurut Pak Rosyid, di sisi lain pom bensin harus menunjukkan performa yang harus selalu meningkat. Ketika jumlah penjualan minyak stagnan, pom bensin akan dikomplain oleh Pertamina. Kenapa penjualan mereka tidak meningkat sementara jumlah kendaraan meningkat. Untuk itu pula Pak Rosyid harus berfikir keras. Banyak hal yang harus dibereskan terutama fasilitas untuk menarik pembeli datang. Lingkungan pom bensin harus bersih, termasuk toiletnya. Semua dibuat nyaman sehingga pembeli datang. Tapi jumlah pom bensin di sepanjang jalan yang sudah saya lalui tidak banyak. Menurut pendapat saya, apapun kondisi pom bensin warga akan tetap datang ke sini karena tidak ada pilihan. Sebab kalau warga tidak datang bagaimana mesin mungkin penggilingan pagi, mesin bajak, dan mesin penggiling tepung berjalan?

Saya sempat bertanya tentang lapangan pekerjaan di daerah ini. Menurut Pak Rosyid lapangan pekerjaan di daerah ini sangat terbatas. Di sini banyak sarjana yang bekerja sebagai sopir angkutan. Saya sangat kaget mendengarnya. Begitu sulitnya kah lapangan pekerjaan? Sebagai pembanding Pak Rosyid mencontohkan sebuah keluarga muda dengan dua orang anak usai di bawah 10 tahun. Di sini, keluarga semacam ini dengan gaji Rp 2,000,000 per bulan sudah hidup lebih dari cukup. Untuk biaya listrik, makan, hiburan, dan biasa sekolah uang Rp 1,000,000 sudah lebih dari cukup. Sisanya masih bisa ditabung. Untuk biaya makan di sini sangat murah. Banyak uang yang bisa dihemat untuk makan. Beras yang mereka beli adalah beras yang baru digiling oleh para petani, bukan dari para pedagang/tengkulak. Sayur mayur masih segar, bahkan kadang tidak perlu dibeli. Cukup memerik di halaman atau kebun sendiri. Itulah nikmatnya hidup di daerah.

Kami juga mengobrol tentang hebatnya kebudayan Indonesia, terutama Jawa. Pak Rosyid merasa bangsa kita memiliki kebudayaan yang besar. Kita memiliki kesenian daerah dan musik yang belum ada tandingannya di muka bumi ini. Sebagai contoh beliau mencontohkan kalau bangsa kita memiliki pengetahuan yang tinggi tentang logam. Logam-logam ini dibentuk dengan cara tertentu dan ketika dipukul menimbulkan suara yang memiliki nada tertentu. Begitu seperangkat logam ini dipukul bersama-sama menimbulkan suara yang harmonis dan indah. Itulah gamelan. Belum lagi seni drama seperti wayang orang, ketoprak ludruk. Di dalamnya beraneka seni berkumpul menjadi satu. Ada seni drama, musik, nyanyian, “fashion”, dan seni rupa/rias. Hebat bukan!? Dan obrolan berhenti ketika sebuah truk tangki bahan bakar minyak berukuran besar datang. Pak Rosyid harus membantu memindahkan minyak ke dalam tangki penampungan bawah tanah milik pom bensin.

Selanjutnya saya mulai membuat catatan perjalanan hari ini. Selesai menulis catatan saya buka “handphone” dan saya harus membalas beberapa pesan singkat dari keluarga di rumah, ibu, sepupu saya di Yogya, dan adik saya di Solo. Mereka semua mengkhawtirkan keselamatan saya. Sebelum berangkat dari rumah saya hanya memberitahu ibu dan satu kakak laki-laki saya tentang perjalanan ini. Setelah menginap di Yogya semalam, sepupu saya rupanya mengabarkan perjalanan saya kepada saudara-saudara saya yang lain. Jadi, semakin banyak orang yang khawatir dengan perjalanan saya. Tapi saya tahu kalau kekhawatiran mereka adalah bentuk perhatian dan kasih sayang mereka kepada saya. Terimakasih untuk semuanya. Saat ini badan sudah sangat lelah, dan badanpun saya rebahkan. Angin semakin dingin semakin kencang bertiup.

Teras yang menjadi tempat tidur di pom bensin / SPBU, Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah

Teras yang menjadi tempat tidur di pom bensin / SPBU, Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah

Bersama ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Nasi kucing sambal teri + Nasi kucing mie + telur dadar + tempe goreng (2) + Indocafe Coffeemix

6,000

Tali karet (bekas bans dalam sepeda)

2,000

Aqua 1.5 l (5,000)+ Pocari Sweat (6,000)

11,000

Nasi + Sayur nangka + ayam + tahu + teh manis

8,000

Kopi hitam Mix Kapal Api

2,000

Bakso + kerupuk (2) + Teh panas manis

10,000

Total :

39,000

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time)

7:56:24

DST (Trip Distance in km)

126.57

AV (Everage Speed in km/hr)

15.9

MX (Maximum Speed in km/hr)

53.5

CAL (Calorie Consumption in kcal)

1563

CO2 (Carbon Offset in kg)

18.98

ODO (Total Distance in km)

684

Gedung BEJ, 27 Sep 2013

2 Responses to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 6-c)

  1. warm says:

    saya akhirnya melewati rute ini juga kmaren, makasih postingan sampeyan ini jadi salah satu peta rujukan saya🙂

    http://auk.web.id/?p=3803

    • Rudi K says:

      Selama perjalanan saya tidak pernah diganggu nyamuk. Sungguh beruntung sekali …

      Hehehheeheeeeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s