Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 7-a)

Seorang penyair Jerman bernama Friedrich Schiller pada tahun 1785 menuliskan lagu berjudul “Ode an die Freude” yang bercerita tentang “celebrating the brotherhood and unity of all mankind”. Pada tahun 1825 Ludwig van Beethoven memasukkan lagu tersebut ke dalam salah satu simponinya. Simponi tersebut adalah Ninth Symphony (The Symphony No. 9 in D minor, Op. 125) atau yang biasa disebut The Choral. Simponi ini terbagi dalam empat bagian dan Ode an die Freude diletakkan pada bagian ke empat. Baru pada tahun 1911 seorang Pendeta Presbyterian, Amerika Serikat, Henry van Dyle menterjemahkan lagu tersebut ke dalam bahasa Inggris berjudul Ode to Joy (atau Hymn to Joy). Belakangan hari lagu ini diadopsi sebagai lagu persatuan Masyarakat Uni Eropa (Europian Union).

Saya masih ingat lagu ini dinyanyikan oleh seorang anak kecil saat pembukaan Olimpiade Barcelona 1992. Sungguh megah rasanya. Jujur saja saya sangat menyukai lagu ini walau tidak hafal liriknya. Ada perasaan agung dan megah saat saya menyenandungkan lagu ini. Apalagi kalau saya berhasil mencapai suatu sukses tertentu setelah berjuang keras untuk mendapatkan sukses tersebut. Seperti saat saya berhasil menyeselesaikan masalah/problem pekerjaan yang berat. Atau saat saya mencapai puncak gunung. Atau saat saya mencapai air terjun setelah berjuang keras naik turun jalan yang curam dan berliku. Saat mencapai akhir dari perjuangan tersebut dan saya menyenandungkan lagu tersebut, rasanya semua capek dan lelah langsung hilang seketika. Saat itu juga rasanya terkumpul berjuta-juta energi baru dan badan menjadi lebih segar. Ya, itulah sepenggal cerita lagu Ode to Joy yang saya sukai.

Hari ini Kamis, 9 Mei 2013. Pukul 4:30 saya sudah bangun. Alas tidur saya benahi dan langsung ke kamar mandi. Selesai urusan kamar mandi, semua barang saya naikkan ke atas sepeda. Tikar yang dipinjamkan oleh Pak Rosyid saya kembalikan. Kebetulan kantor masih terkunci rapat dan tikar saya letakkan di depan pintu kantor. Semua perlengkapan bersepeda sudah saya kenakan dan sepeda mulai saya tuntun ke arah jalan raya. Tidak lupa pamit kepada petugas pom bensin yang sedang bertugas, juga titip salam dan ucapan terimakasih untuk Pak Rosyid dan semua petugas di sini. Terimakasih karena saya boleh bermalam di sini. Malam tadi mereka ini turut menjaga saya selama saya tidur.

Tanjakan tidak jauh setelah SPBU Slogohimo, Wonogiri

Tanjakan tidak jauh setelah SPBU Slogohimo, Wonogiri

Truk expedisi yang tidak kuat menanjak dan terguling sebelum pasar Purwantoro, Wonogiri

Truk expedisi yang tidak kuat menanjak dan terguling sebelum pasar Purwantoro, Wonogiri

Tepat pukul 5:00 dengan udara yang dingin dan diawali dengan doa sepeda mulai saya gowes. Dari pom bensin sepeda belok ke arah kiri dan langsung bertemu tanjakan kecil. Jalan raya masih relatif sepi dengan kendaraan roda empat. Tapi beberapa sepeda motor sudah mulai berseliweran dengan lampu menyala tentunya. Di kanan kiri jalan tampak banyak pohon jambu mede dan pohon jati. Untuk kondisi permukaan jalan masih sama dengan dengan jalan yang saya lalu kemarin. Hanya saja tanjakan dan turunan tidak seekstrim kemarin. Secara umum jalanan relatif menurun. Tapi walau demikian ada juga truk yang tidak kuat menanjak dan terguling di sisi kiri jalan. Tampaknya kecelakaan terjadi belum lama. Belum ada warga yang membantu. Tampak sopir dan kernet mengangkat kardus-kardus yang tercecer dari truk. Sedih juga melihatnya. Saya tidak bisa membantu dan saya sendiri tidak tahu bantuan apa yang bisa saya berikan.

Belum pukul 6:00 sepeda mulai memasuki kawasan yang cukup ramai. Dalam benak saya ini pasti pasar. Saatnya untuk cari makan pagi. Sambil jalan saya cari tempat makan yang pas untuk ukuran kantong saya. Tepat di depan pasar ada warung kecil. Dari jauh tampak beberapa orang sedang duduk di dalam warung ini. Persis di depan warung ada sebuah bus yang sedang mengetem menunggu penumpang. Sementara itu beberapa awak bus sedang sarapan di dalam warung. Sepeda saya parkirkan di sebelah warung. Ternyata saya baru tahu kalau saya berada persis di depan pasar Purwantoro. Di halaman pasar tampak banyak orang yang menggelar dagangan. Juga ada beberapa mobil colt sedang melakukan aktifitas bongkar muat barang.

Suasana jalan raya depan pasar Purwantoro arah Slogohimo, Wonogiri

Suasana jalan raya depan pasar Purwantoro arah Slogohimo, Wonogiri

Di dalam warung tersedia beraneka makanan, gorengan, dan kue-kue kecil. Saya ambil nasi bungkus dan pesan kopi instant Indocoffe Coffemix. Ternyata nasi bungkus berisi nasi dan pecel. Berlaukkan tahu isi, nasi dengan cepat saya makan. Sekedar informasi, nasi pecel ini rasanya enak sekali. Karena enak, saya ambil satu bungkus lagi. Sambil makan saya nikmati suasana di sini. Banyak obrolan santai dan ringan yang terdengar. Obrol serderhana yang tidak pernah saya dengar di Jakarta. Dari obrolan mereka, saya tahu kalau penjual makanan ini bernama Mas Bas. Mas Bas siapa saya tidak tahu. Tapi begitulah orang memanggilnya. Sempat saya katakan pada Mas Bas kalau nasi pecelnya enak. Dia hanya tersenyum saja dan orang lain yang menjawab kalau masakan istri Mas Bas emang enak. Istri Mas Bas pandai memasak katanya. Kebetulan istrinya tidak berada di warung ini. Mungkin sedang memasak di rumah. Berikutnya saya ikut terlibat obrolan dengan beberapa orang di warung ini. Pertanyaan standar adalah dari mana dan mau kemana? Jawabannya sudah pasti, saya dari Jakarta dan mau ke Bali. Baru setelah melewati Yogyakarta saya berani mengatakan kalau saya mau ke Bali atau Lombok. Sebelumnya saya tidak berani mengatakan. Kebanyakan orang yang mendengar kalau saya dari Jakarta terkaget-kaget. Jakarta ‘kan jauh katanya mereka. Trus mau ke Bali lagi. Mereka semakin heran.

Warung Mas Bas di samping pintu masuk pasar Purwantoro, Wonogiri

Warung Mas Bas di samping pintu masuk pasar Purwantoro, Wonogiri

Mas Bas sempat mengatakan kalau Pak Jokowi mau datang ke daerah ini. Lah, untuk apa? Bukannya Pak Jokowi gubernur Jakarta? Mas Bas menerangkan kalau Pak Jokowi akan datang kampanye untuk Pak Ganjar sebagai gubernur Jawa Tengah. Pak Jokowi cukup dikenal dengan baik oleh masyarakat di sini. Coba bapak ke sini minggu depan, pasti ketemu Pak Jokowi, imbuh Mas Bas. Saya hanya tersenyum-senyum saja. Sambil mengobrol dua pisang goreng saya makan. Sebagai bekal di jalan saya minta Mas Bas untuk membungkus dua pisang goreng, dua potong martabak manis, dan 1.5 liter Aqua. Setelah semuanya saya bayar perjalanan dilanjutkan lagi.

Oh, ya … Di rumah saya punya langganan jamu gendong. Hampir setiap hari libur saya beli jamu ini. Jamunya enak sekali. Jamu yang biasa saya beli adalah jamu campuran kunyit asam dicampur dengan beras kencur dan jahe manis. Anak saya bisanya pesan jamu beras kencur. Hampir bisa pasti ibu penjual jamu lewat depan rumah pukul 7:00 pagi. Menurut ceritanya, ibu penjual jamu ini berasal dari Ngadirojo, Wonogiri. Daerah yang baru saya lewati kemarin. Dalam benak saya, jamu di kawasan Wonogiri ini pasti sangat enak. Jamu yang di “ekspor” ke Jakarta saja enak sekali, apalagi di tempat ini. Tempat asalnya. Ibu penjual jamu langgan saya mengatakan kalau bahan-bahan jamu di bawa dari daerah ini. Wah, pasti jamu di Purwantoro ini juga pasti enak. Tidak ada salahnya kalau mencoba jamu di sini. Di sekitar warung Mas Bas tidak tampak penjual jamu. Kok bisa ya, ini khan pasar. Baru di depan terminal Purwantoro saya melihat ada penjual jamu. Untuk membayar rasa penasaran, sepeda saya hentikan di depan penjual jamu gendong. Banyak ibu-ibu mengeliling penjual jamu untuk antri jamu. Saya pesen satu gelas jamu beras kencur. Ketika mencicipi saya kaget setengah mati. Jamu tidak enak sama sekali. Jamunya encer baget dan rasanya tipis sekali. Seperti minuman berperasa beras kencur. Jauh banget rasanya kalau dibandingkan dengan jamu langganan saya di Jakarta. Mirip bumi dan langit. Imajinasi saya tentang jamu yang enak langsung lenyap seketika. Ibu penjual jamu ini sempat menawarkan jamu yang sama dalam kemasan botol plastik 600 ml. Untuk bekal di jalan katanya. Tapi dengan halus saya tolak. Kalau rasanya enak mungkin masih saya pertimbangkan. Heheheheeee ….

Sepeda kembali saya gowes tidak jauh terminal terlihat pasar hewan. Tampak banyak sekali ternak sapi yang diperjualbelikan. Juga ada kambing, nanum jumlah tidak sebanyak sapi. Tampak suasana di pasar ini ramai sekali. Terus sepeda saya kayuh cepat. Jalanan masih (relatif) menurun. Hanya saja kondisi jalan tidak telalu baik. Banyak aspal jalan yang terkelupas. Tidak nyaman untuk pengendara sepeda. Di sini sempat saya tanyakan pada seorang ibu di pingir jalan, apakah kota Ponorogo masih jauh. Ibu tersebut bilang kalau kota Ponorogo masih jauh. Sang ibu juga menasehati untuk berhati-hati di kawasan Badegan. Ada apa dengan Badegan ? Ibu ini hanya bilang hati-hati saja. Ketika saya tanyakan hati-hati untuk apa? Karena ada hantu/setan, rawan kecelakaan, atau rawan kejahatan? Sang ibu hanya bilang hati-hati saja. Tidak ada keterangan lebih. Buat saya lebih baik saya tidak tahu apa-apa dari pada diberitahu sepenggal tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Tapi sudahlah, saya percayakan semuanya pada yang Di Atas. Apapun yang bakal terjadi, terjadilah. Pasrah saja, toch saya sudah tidak bisa mundur lagi. Juga tidak ada salahnya kalau saya juga berhati-hati. Semuanya saya percayakan dan satukan dalam doa.

Sepeda terus saya gowes kencang. Hampir tidak ada lagi tanjakan yang saya temui. Tanpa terasa saya tiba di gerbang perbatasan provinsi. Betul perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tanpa terasa saya sudah hampir masuk Jawa Timur. Ada perasaan senang yang luar biasa. Saya sempatkan berhenti beberapa saat untuk mengambil photo di tempat ini. Photo kenang-kenangan kalau saya pernah berada di tempat ini. Setelah melewati gerbang perbatasan rasanya tenaga bertambah banyak. Badan rasanya mendapatkan energi dan semangat baru. Horeee, saya di Jawa Timur. Ya, saya sudah masuk Jawa Timur. Jawa timur yang sesungguhnya, bukan Jawa Timur yang ada di angan-angan lagi. Sepeda semakin cepat saya kayuh. Jalan masih terus menurun. Tidak terlalu lama kemudian saya memasuki kebun jati. Pohon jati tumbuh padat di kiri kanan jalan. Di sebelah kiri adalah bukit dan di sebelah kanan jalan adalah lereng yang menunju ke arah sungai (mungkin). Di kawasaan ini rumah penduduk sangat jarang. Ada satu dua rumah letaknya berjauhan satu dengan yang lainnya. Jalanan memutari bukit dengan jalan yang menurun dan menikung relatif tajam. Masih dengan kecepatan relatif tinggi saya berusaha untuk tetap di paling kiri dari jalur kiri jalan supaya tidak ditabrak kendaraan dari sisi lawan. Mungkin kondisi jalan seperti ini memanjang sekitar 4 km. Asyik juga memacu sepeda sambil menyenadungkan lagu Ode to Joy. Seakan sepeda melayang di udara.

Gerbang/tugu perbatasan Provinsi Jawa Tengah - Jawa Timur

Gerbang/tugu perbatasan Provinsi Jawa Tengah – Jawa Timur

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s