Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 7-b)

Selepas menuruni bukit jalan relatif rata. Sisi kanan dan kiri jalan terbentang sawah yang luas. Dari plang nama sekolah saya baru tahu kalau daerah ini bernama Badegan. Jadi turunan di hutan jati tadi yang mungkin disebut hutan jati Badegan. Mungkin tempat itu tadi yang dimaksud sang ibu untuk hati-hati. Bisa jadi tempat tersebut rawan akan kecelakaan. Tapi bisa juga rawan akan kejahatan, atau banyak hantunya. Yang pasti dua hal terakhir saya tidak menemukan bukti apapun. Tapi sudahlah, tempat tersebut sudah terlewati dengan selamat. Selanjutnya tetap harus konsentrasi untuk arah ke depan. Apalagi jalanan di depan tidak terlalu baik kondisinya. Banyak aspal yang terkelupas. Sangat tidak nyaman untuk pengendara sepeda. Tidak lama kemudian saya masuk kota Ponorogo. Lega rasanya. Dalam benak saya berfikir kalau saya akan melewati jalan yang datar. Bukan jalan menanjak mendaki gunung. Terus saja sepeda saya gowes. Saya tidak berhenti untuk istiaharat di Ponogoro. Rasanya badan belum terlalu capek dan hari masih relatif pagi.

Pemandangan yang indah area persawahan sebelum kota Ponorogo, Jawa Timur.

Pemandangan yang indah area persawahan sebelum kota Ponorogo, Jawa Timur.

Selepas Ponorogo di kanan kiri jalan banyak dijumpai daerah persawahan yang relatif luas. Sawah hijau membentang penuh dengan tanaman padi yang masih muda. Ujung pesawahan dibatasi dengan peguunungan di latar belakangnya. Segar untuk dipandang. Sungguh indah negeriku Indonesia. Setelah daerah pesawahan saya sampai daerah yang cukup ramai. Pasar rupanya. Selepas pasar saya berhenti untuk berisitirahat. Ternyata saya sampai di Kecamatan Sawoo. Hal ini saya ketahui dari palang kantor desa Sawoo tepat di seberang saya berhenti. Sambil beristirahat saya mengamati lingkungan sekitar. Banyak sekali orang lalau lalang. Mungkin mereka pulang dari pasar. Beberapa mobil dan sepeda motor diparkir di kanan kiri jalan. Suasananya cukup ramai.

Suasana jalan raya antara Ponorogo - Trenggalek, Jawa Timur

Suasana jalan raya antara Ponorogo – Trenggalek, Jawa Timur

Kantor Desa Sawoo yang terletak tidak jauh dari pasar Sawoo, Jawa Timur.
Kantor Desa Sawoo yang terletak tidak jauh dari pasar Sawoo, Jawa Timur.

Satu hal yang menarik, ada beberapa kendaraan dengan bak terbuka dipenuhi dengan orang yang berdiri. Ada truk yang hampir penuh yang masih mengetem di pinggir jalan. Ada juga colt yang sudah penuh dengan penumpang yang sedang melintas. Saya baru tahu kalau kendaraan ini digunakan untuk mengangkut penumpang. Yang pernah saya dengar, hal seperti ini hanya ada di P. Flores. Ternyata di P. Jawa ada juga hal seperti ini. Dalam benak saya tanah Jawa sudah makmur. Hal seperti ini sudah tidak berlaku lagi atau sudah tidak ada lagi. Ternyata di sini masih ada. Dulu waktu saya masih kecil, saya biasa melihat truk pengangkut buruh dari desa-desa sekitar perkebunan ke dalam komplek perkebunan di daerah Lampung Tengah. Ternyata hal sama masih berlaku di sini. Ada perasa sedih juga melihatnya. Apalagi saya biasa melihat mobil mewah dengan satu dua penumpang berseliweran di jalanan Jakarta.

Truk sedang berhenti untuk menunggu penumpang di depan pasar Sawoo, Jawa Timur

Truk sedang berhenti untuk menunggu penumpang di depan pasar Sawoo, Jawa Timur

Kendaraan Colt yang digunakan sebagai angkutan penumpang di daerah Sawoo, Jawa Timur.

Kendaraan Colt yang digunakan sebagai angkutan penumpang di daerah Sawoo, Jawa Timur.

Badan terasa lebih segar. Sepeda kembali saya gowes. Lepas keramaian Sawoo ada kendaran semacam truk bermesin diesel. Mesin diesel yang biasa digunakan untuk pembangkit listrik. Tampaknya mereka menawarkan jasa penggilingan padi. Tidak lama berselang juga saya menjumpai kendaraan serupa yang sedang menggergaji kayu. Mungkin kendaraan ini kendaraan “multi purpose” yang menyediakan semua jasa pelayanan pekerjaaan dari manual ke mekanik. Mungkin. Saya tidak bisa melihat detail dari kendaraan-kendaraan ini, melihatnya hanya sambil berlalu.

Tidak lebih dua kilometer dari Pasar Sawoo saya dikejutkan dengan pemandangan di depan. Dari kiri ke kanan terbentang gunung yang tinggi. Sementara puncak gunung bentuk sudut 80 derajat dari mata saya. Ini artinya saya tidak mungkin mengitar gunung. Saya harus mendaki. Mendaki gunung setinggi ini? Hadeuh… Pasti tidak ada jalan lain selain harus menanjak. Atau putar balik? Putar balik kemana? Rasanya tidak mungkin. Mau tidak mau gunung ini harus didaki. Rasanya badan langsung lemas melihat tantangan ini. Tapi bagaimana lagi? Sepeda saya gowes pelan. Ketika betis dan paha terasa agak sakit sepeda saya tuntun. Ketika sakit sudah hilang kembali sepeda saya gowes lagi. Demikian seterusnya. Tetapi secara umum sepeda lebih banyak dituntun karena tanjakannya relatif tinggi dan ekstrim. Langkah demi langkah tanjakan saya daki. Jarak antar rumah penduduk semakin jarang. Sisi kanan jalan berdinding batu dan di kiri jalan lembah bahkan di beberapa titik berupa jurang yang dalam. Jalan terus mendaki menyusuri bukit. Ternyata tanjakan ini bukan mendaki bukit tapi perbukitan. Ketika satu bukit selesai terlewati ternyata di belakangnya ada bukit yang lain lagi. Desa Sawoo sekarang posisinya di belakang bukit yang baru saja terlewati.

Jalan menanjak dari arah Sawoo dilihat dari depan Warung Lesehan Sri Tanjung 58.

Jalan menanjak dari arah Sawoo dilihat dari depan Warung Lesehan Sri Tanjung 58.

Jalan terus menanjak. Doa-doa terus saya daraskan. Entah sudah berapa banyak doa yang saya doakan. Entah doa untuk keluarga, doa untuk orang tua, doa untuk sanak famili, doa untuk orang-orang yang sudah saya temui, dan doa untuk bangsa dan negara ini. Juga doa mohon kekuatan untuk terus kuat mendaki. Hanya yang Di Atas yang membuat saya terus semangat untuk melangkah. Kini sepeda semakin banyak (lagi) dituntun. Badanpun terasa lelah sekali. Dan yang lebih parah, perut sudah terasa lapar. Tapi di daerah semacam ini mana ada penjual makanan. Ternyata Tuhan sangat baik. Di suatu titik sebelum puncak gunung di sisi kanan jalan ada warung lesehan penjual makanan. Namanya Warung Lesehan Sri Tanjung 58. Tanpa banyak pertimbangan lagi saya menghentikan langkah di warung ini. Menu makan siang kali ini adalah nasi, ayam goreng, sambal kentang, dan teh tawar hangat. Sungguh enak makan di kala badan lelah dan perut lapar. Dengan cepat menu makan habis. Untuk menambah asupan vitamin C saya pesan air jeruk hangat. Selesai makan saya minta izin kepada pemilik warung untuk beristirahat sejenak di teras warung. Sejenak saya rebahkan badan di bangku teras warung. Semilir udara lumayan menghilangkan lelah.

Warung Lesehan 58 yang terletak di atas gunung antara Sawoo dan Trenggalek, Jawa Timur.

Warung Lesehan Sri Tanjung 58 yang terletak di atas gunung antara Sawoo dan Trenggalek, Jawa Timur.

Pemandangan seberang jalan raya depan Warung Lesehan Sri Tanjung 58. Di latar belakang adalah jalan yang baru saja saya lalui. Sawoo terletak di sisi kanan bukit.

Pemandangan seberang jalan raya depan Warung Lesehan Sri Tanjung 58. Di latar belakang adalah jalan yang baru saja saya lalui. Sawoo terletak di sisi kanan belakang bukit.

bersambung …

One Response to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 7-b)

  1. bersapedahan says:

    wah keren banget … sepeda dengan background gunung berkabut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s