Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 7-c)

Saat makan saya sempat mengobrol dengan pemilik warung ini. Satu hal yang saya tanyakan apakah puncak tanjakan ini masih jauh. Jawabannya masih jauh. Saya masih harus mendaki lagi. Berarti saya masih harus berjuang keras. Setelah beristirahat sekitar 30 menit dan membayar menu makan siang perjalanan dilanjutkan. Benar, jalan masih terus menanjak. Saya tidak memaksakan diri untuk menggowes. Sepeda masih beberapa kali saya tuntun. Sebagai bukti kalau saya pernah berada di titik ini saya ambil gambar patok kilometer di pinggir jalan. Patok ini menunjukan kota Ponorogoro berada 31 km di belakang dan kota Trenggalek berada 21 km di depan saya. Tampaknya titik ini masuk kawasan puncak tanjakan. Beberapa puluh atau ratus meter meter dari patok ini jalan mulai menurun. Rasanya senang sekali. Sepeda saya biarkan meluncur cepat. Sambil menikmati pemandang di kanan kiri jalan saya senandungkan lagu Ode to Joy. Ada rasa kemenangan dan kebanggaan. Puas rasanya. Tambahan energi baru terus terasa menyebar di seluruh tubuh. Perasaan lelah dan capek berangsur-angsur hilang. Sepeda menurun dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam. Bahkan di beberapa titik bisa lebih tinggi lagi. Daerah rasanya berdesir dan mengalir dengan cepat di dalam tubuh. Kira-kira 10 km sebelum kota Trenggalek jalan mulai datar. Dengan semangat baru semakin cepat sepeda saya gowes ke arah kota Trenggalek.

Patok kilometer di atas gunung antara Sawoo dan Trenggalek, Jawa Timur

Patok kilometer di atas gunung antara Sawoo dan Trenggalek, Jawa Timur

Memasuki kota Trenggalek sepeda saya hentikan sejenak di sebuah toko Indomaret. Bekal air putih sudah menipis. Saya ambil Aqua 1.5 liter dan Pocari Sweat 500 ml. Di dalam toko ramai sekali dengan ibu-ibu yang berbelanja. Tampaknya mereka baru pulang menjemput anak sekolah. Antrian ada 4-5 orang di depan saya. Setelah membayar mereka masih bergerompol di depan kasir. Ada undian belanja yang akan diundi beberapa saat lagi. Seorang ibu sempat menawarkan agar saya ikut undian karena sudah berbelanja di toko ini. Maaf Bu, saya tidak ikut karena saya sedang buru-buru untuk melanjutkan perjalanan. Ada keraguan struk belanja saya berikan padanya atau tidak. Dengan struk saya, peluang sang ibu memenangkan undian semakin besar. Akhirnya saya putuskan tidak saya berikan. Akan saya simpan sebagai kenang-kenangan kalau saya pernah berhenti di tempat ini. Keluar toko, Pocari Sweat langsung saya tegak habis.

Toko Indomaret di Jl. Yos Sudarso Trenggalek, Jawa Timur.

Toko Indomaret di Jl. Yos Sudarso Trenggalek, Jawa Timur.

Tanpa buang-buang waktu lagi sepeda kembali saya gowes. Dengan cepat kota Trenggalek terlewat. Arah selanjutnya adalah kota Tulungagung. Jalan ke arah Tulungagung relatif bagus. Permukaan jalan halus. Sepeda dengan mulus melaju kencang di atasnya. Sepeda saya pacu secepat mungkin. Target hari ini saya harus melewati kota Blitar. Saya terus bersepeda dengan menunduk kepala supaya tidak lihat kanan kiri jalan. Kalau sudah lihat kanan kiri jalan konsentrasi buyar dan kecepatan menurun. Untuk itu saya berusaha untuk tetap terus bersepeda sambil menunduk. Cara ini cukup efektif dan tanpa terasa saya bisa memasuki kota Tulungagung. Tepat di sebuah komplek ruko saya berhenti di sebuah warung rokok. Ruko ini persis berada di depan komplek Crown Victoria Hotel Tulungagung. Kebetulan sekali warung rokok ini juga menjual kopi dan makan kecil. Saya pesan kopi sebagai tambahan tenaga. Di situ juga ada dua wanita muda yang sedang makan dan minum. Wanita ini akan menemui teman yang lain di Hotel Victoria. Dari obrolan dengan mereka, saya tahu kalau mereka anak-anak Blitar. Wah kebetulan sekali. Saya gali informasi sebanyak-banyaknya tentang Blitar dan sekitarnya. Mereka cukup banyak memberikan informasi tentang Blitar. Dan yang lebih penting informasi kondisi jalan setelah kota Blitar. Saya benar-benar berterimakasih kepada mereka.

Saat berhenti istirahat di sini, seingat saya hari sudah relatif sore. Mungkin sekitar jam 15:30 atau mungkin lebih. Jadi saya harus mempercepat perjalanan agar bisa mencapai kota Blitar sebelum magrib. Keluar dari warung ini sepeda saya gowes dengan cepat. Secepat saya mampu. Saya usahakan untuk tidak menengok kanan kiri lagi dan bersepeda masih dengan menunduk. Pandangan mata dipusatkan kira-kira dua meter di depan roda sepeda. Pokoknya segala daya dan upaya saya kerahkan untuk segera sampai secepatnya di kota Blitar. Sampai-sampai untuk makan sore di kawasan Rejotangan saya makan secepat saya bisa. Cukup sulit juga makan soto yang panas dengan cepat. Mulut rasanya terbakar. Untuk teh hangat tidak terlalu sulit untuk dihabiskan. Sudah tidak terlalu panas.

Warung rokok di depan Crown Victoria Hotel Tulungagung, Jawa Timur.

Warung rokok di depan Crown Victoria Hotel Tulungagung, Jawa Timur.

Segera setelah soto dan teh saya bayar, kembali sepeda saya gowes. Dalam benak saya rasanya kota Blitar tidak terlalu jauh di depan. Sambil menggowes saya pasang mata untuk mencari tempat untuk bermalam. Ada pom bensin di sisi kanan jalan, tapi di tempat ini tidak ada tempat untuk menggelar alas tidur. Saya pikir di depan pasti ada pom bensin lagi. Tapi nyatanya tidak ada atau mungkin juga mata saya sudah tidak awas lagi. Hari semakin gelap. Akhirnya bisa masuk kota Blitar setelah magrib berlalu. Mungkin karena hari sudah magrib dan badan sudah sangat lelah, kepanikan mulai menyerang. Biasanya sebelum magrib saya sudah dapat tempat bermalam jadi saya merasa aman. Tapi kali ini sudah lewat magrib belum dapat juga tempat bermalam. Semakin panik saja rasanya. Beberapa kali saya salah jalan di dalam kota Blitar. Di dalam kota saya juga tidak menemukan pom bensin. Sudah tanya beberapa orang di jalan tetapi saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Saya terus berdoa tanpa henti. Semoga Tuhan bisa membantu untuk masalah ini.

Di sebuah perempatan besar, entah di mana lokasi pastinya tapi masih di dalam kota saya berhenti di pinggir jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 saya belum juga mendapatkan tempat menginap. Rasa panik dan frustasi memenuhi kepala, Saya berpikir keras bagaimana memecahkan masalah ini. Tiba-tiba saya teringat teman baik saya sewaktu kuliah di Bogor, Adyani (Yeni) namanya. Teman saya ini orangtuanya tinggal di kota ini. Dengan setengah malu dan ragu saya berani diri untuk mencoba menghubungi Yeni. Ada perasaan tidak enak. Tapi kondisi yang sangat memaksa saya untuk minta izin untuk menginap di rumah orang tuanya. Tidur di emper rumah juga tidak apa-apa. Yang penting saya bisa istirahat malam ini. Handphone saya nyalakan dan saya coba menghubungi Yeni yang saat ini tinggal di Bogor. Terdengar nada sambung. Tiap detik waktu rasanya lama sekali. Jantung berdebar-debar lebih kencang dari biasanya. Terdengar suara “Hallo” di seberang sana. Dengan terpaksa saya mengaku kepada Yeni kalau saya sedang melakukan perjalanan jauh dengan sepeda. Sebelumnya, rencana perjalanan ini tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun kecuali keluarga inti saya. Itupun tidak semua. Seperti biasa saya “dimarahi dan di omelin” oleh Yeni. Orang gila! katanya. Kepada Yeni saya katakan kalau saya kemalaman di kota Blitar, saya butuh tempat menginap, boleh nggak saya numpang tidur di rumah orang tuanya. Dengan cepat Yeni memberikan alamat rumahnya dan dia bilang akan segera menghubungi mamanya. Lega banget rasanya saya lepas dari kepanikan yang berat ini.

Segera sepeda saya kayuh ke alamat yang disebutkan Yeni. Rumah ini berada di Jl. Sudanco Supriadi. Kebetulan juga Yeni masih keluarga besar dari Supriadi pahlawan Peta yang terkenal itu. Setelah berputar-putar saya sampai di alamat yang saya cari. Di rumah ini saya ditemui papanya Yeni. Saat itu mamanya Yeni sedang berada di luar rumah. Ketika tahu saya bersepeda papanya Yeni tidak heran dengan apa yang saya lakukan. Ternyata beliau juga punya hobi berpetualangan. Saya tahu belakangan setelah kami mengobrol panjang lebar.

Sepeda saya parkirkan di garasi. Segera tas sepeda saya turunkan dan isinya saya bongkar. Alat mandi saya keluarkan dan segera mandi. Setelah mandi badan benar-benar terasa segar. Tidak lama kemudian mamanya Yeni pulang. Saya kaget setengah mati sebab mamanya Yeni persis sama dengan Yeni. Tidak ada bedanya. Persis sama, layaknya fotokopian. Mamanya Yeni menawari saya makan malam. Berhubung saya sudah makan, tawaran ini saya tolak. Terimakasih banyak. Sudah boleh menginap saja sudah syukur. Sekali lagi terima kasih banyak. Tapi untuk tawaran teh manisnya tidak bisa saya tolak. Asyik juga menikmati teh manis sambil ngobrol dengan papanya Yeni. Kira-kira pukul 20:30 saya dipersilahkan istirahat. Sebentar saya luang waktu untuk membuat tulisan sebagai catatan dan tidak lama kemudian saya rebahkan badan. Rasanya hari ini sangat berat, berat sekali. Kepanikan semakin menambah beban. Tapi syukurlah saat ini saya bisa merebahkan badan. Syukur yang mendalam juga karena ada tangan-tangan membantu. Dan saya tertidur lelap.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, bersama ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Toilet di SPBU Slogohimo 5,000
Sarapan di Purwantoro (nasi bungkus + 2 tahu goreng + 2 pisang goreng)Dibungkus (1.5 l aqua + 2 martabak manis + 2 pisang goreng) 14,000
Jamu gendong 2,000
Nasi + ayam goreng + kentang + teh hangat + jeruk hangat 18,000
Kopi hitam 2,000
Nasi + soto babat (bening) + ati ampela + kepala ayam + teh hangat 14,000
Total : 55,000

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time) 9:03:03
DST (Trip Distance in km) 156.38
AV (Everage Speed in km/hr) 17.2
MX (Maximum Speed in km/hr) 53.2
CAL (Calorie Consumption in kcal) 2037
CO2 (Carbon Offset in kg) 23.45
ODO (Total Distance in km) 841

 

Gedung BEJ, 22 Apr 2014

6 Responses to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 7-c)

  1. supono says:

    Saluut bos…saya mau touring naik motor ke jatim saja belum kesampaian…pernah beberapa kali mengendarai mobil tapi saya rasa kesan dan tantangannya tidak sehebat roda dua. Selamat datang di blitar kampung halaman saya…

  2. Rudi K says:

    Terima kasih …🙂

    Sederhana saja, satukan dan focus pada niat tersebut. Percayalah, niat itu akan terwujud.

    Betul, Blitar is a nice city …

  3. Zam says:

    Nice experience and well written.

  4. Reef ambon says:

    IPB angkatan brp mas?

    Salam utk Mbak Yeni

    Arif ambon
    IPB/E-35~Blitar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s