Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 8-b)

Tenaga sedikit kembali pulih. Sepeda kembali saya kayuh . Jalan masih sedikit menanjak. Di sisi kiri jalan tampak sebuah komplek yang rapi. Mungkin ini komplek kantor atau perumahan pengelola waduk atau pembangkit listrik tenaga air Bendungan Siti Sutami / Karang Kates. Tidak terlalu jauh dari tempat saya berhenti tadi saya bertemu deretan warung di sisi kanan jalan. Salah satunya warung penjual es dawet. Tanpa pikir panjang sepeda saya hentikan di warung dawet ini. Di tempat saya berhenti sebelumnya tidak ada penjual minum. Semuanya masih tutup. Jadi kebetulan sekali kalau di sini ada penjual es, saya bisa mendapatkan minuman segar dan dingin, walau sebenarnya saya hindari minum es. Satu porsi es dawet saya pesan. Es dawet datang dalam mangkok yang terbuat dari tanah liat. Bukan dari gelas atau mangkok beling seperti pada umumnya. Wah unik juga rupanya. Es dawet saya cicipi dan rasanya enak sekali segar. Sambil minum saya mengobrol dengan pemilik warung es dawet. Bahkan dia sempat berteriak kepada teman-temannya sesama penjual makanan dan minuman di kanan dan kiri warungnya. “Ini ada Bapak yang bersepeda dari Jakarta dan mau ke Bali”. Saya sedikit malu dibuatnya sebab saya tidak biasa dan tidak suka dipuji. Saya merasa perjalanan ini sesuatu yang biasa saja, bukan sesuatu yang hebat. Tanpa terasa semangkok es dawet habis. Rasanya ada baik juga kalau saya menambah satu porsi lagi. Dan porsi keduapun datang. Masih sambil mengobrol saya menghabiskan porsi kedua. Setelah porsi kedua habis saya sempat mengambil gambar/foto di lokasi ini.

Penjual es dawet di sisi waduk Siti Sutami, Karang Kates, Jawa Timur

Penjual es dawet di sisi waduk Siti Sutami, Karang Kates, Jawa Timur

Kembali sepeda saya kayuh. Hanya beberapa ratus meter dari tempat penjual es dawet terdapat terminal bus Karang Kates yang bersebelahan dengan Taman Wisata Waduk Karang Kates. Mulai dari tempat ini jalan relatif datar. Hampir tidak ditemui tanjakan atau turunan yang tajam. Permukaan jalanpun relatif halus. Tidak begitu jauh dari Terminal Bus Karang Kates saya mulai masuk kawasan Sumber Pucung. Sepeda terus saya kayuh secepat saya mampu. Mumpung jalan relatif datar. Tapi rasa kantuk yang kuat sangat menggangu. Beberapa kali saya sempat setengah tertidur sambil menggowes sepeda. Sebenarnya ini agak berbahaya. Tapi bagaimana lagi, saya tidak bisa berhenti untuk tidur sekarang. Saya harus mengejar waktu. Sudah hari kedelapan bersepeda dan saya masih berada di kawasan Blitar. Dari beberapa tulisan pelaku touring yang pernah saya baca di internet, paling tidak hari ke 8 sudah masuk kawasan Jember. Tapi saya sendiri masih di sini. Makanya, walau saya mengantuk berat sepeda tetap saya gowes untuk tetap maju.

Tanpa terasa saya masuk kawasan yang relatif padat dan ramai dengan perumahan warga. Kanan kiri jalan penuh dengan rumah warga. Di sini rasa kantuk semakin berat. Mata benar-benar sulit untuk dibuka. Setelah menyeberangi rel kereta sepeda saya hentikan di bawah pohon beringin yang besar dan rindang. Tampak banyak sepeda motor dan becak yang parkir di sini. Persis di kanan jalan adalah sekolah. Mungkin ini sepeda motor dan becak jemputan anak sekolah. Di sebelah kiri jalan tempat pohon beringin berdiri adalah Kantor Dinas Pendidikan Kepanjen, Malang. Rupa saya sudah sampai Kepanjen, Malang. Sepeda saya kunci di pinggir jalan bareng dengan sepeda motor dan becak. Badan saya rebahkan di blok semen tanaman pinggir trotoar. Saya sudah tidak tahan lagi menahan rasa kantuk. Tidak lama kemudian saya tertidur.

Entah berapa lama saya tertidur. Tapi mata tetap terasa berat saat bangun. Yang lebih mengejutkan lagi, sepeda motor dan becak yang tadi ada di sini semuanya sudah tidak ada lagi di sini. Sepeda saya tampak jelas melintang di pinggir jalan. Waktu saya datang semua motor parkir berjajar melintang terhadap jalan raya, bukan sejajar dengan badan jalan. Ketika semua motor dan becak pergi tinggal sepeda saya sendirian yang melintang di pinggir jalan. Wah untung tidak ada Satpol PP atau petugas Trantib yang melakukan razia. Kalau ada, jangan-jangan sepeda saya kena garuk dan dibuang entah ke mana. Syukur juga tidak ditabrak truk atau angkutan kota.

Walau masih mengantuk perjalanan harus tetap dilanjutkan. Saya sudah buang banyak waktu dengan tertidur. Kembali sepeda saya gowes. Tidak jauh dari tempat saya tertidur terdapat lampu lalu lintas. Di lampu lalu lintas ini saya belok ke kanan dengan menyeberangi jembatan. Dalam benak saya kalau ada tempat makan ada baiknya saya makan dulu walau belum pukul 12:00 siang. Mumpung ini masih di tempat yang ramai. Kalau masuk daerah yang sepi mungkin akan agak sulit untuk mendapatkan makan siang. Ataupun kalau ketemu warung makan, jam makan saing sudah lewat jauh. Tidak jauh dari jembatan di sisi kanan jalan ada warung makan. Sepeda saya hentikan di depan warung makan, sebuah warung nasi soto. Di dalam warung satu porsi nasi soto dan teh manis hangat saya pesan. Sambil makan saya tanyakan kepada Ibu pemilik warung apakah Gondang Legi masih jauh. Menurut peta Mudik Kompas kota berikutnya yang harus saya tuju adalah Gondang Legi. Ibu penjual soto bilang, kalau Gondang Legi masih jauh. Tidak apa-apa kalau masih jauh. Jauh atau pun dekat saya tetap harus melewati kota kecil ini.

Selesai makan dan membayar menu makan siang, kembali sepeda saya gowes ke arah Gondang Legi. Tidak terlalu jauh mengayuh, saya melewati stadion olah raga yang cukup besar di sisi kanan jalan. Di sini matahari bersinar dengan terik. Udara semakin terasa panas menyengat. Tiba-tiba perut terasa tidak enak. Rasanya saya tidak makan sesuatu yang aneh. Perut berontak dan rasa ingin ke belakang semakin mendesak. Saya terus mengayuh dan berharap bertemu dengan pom bensin/SPBU. Tapi sudah lama mengayuh tidak juga bertemu dengan pom bensin/SPBU. Malah kini saya berada di hamparan sawah yang luas. Desakan ke belakang semakin besar. Saya harus cari alternatif lain untuk menyelesaikan masalah ini. Pilihannya harus (maaf) BAB di sekitar sini. Rasanya sudah tidak kuat lagi. Sambil jalan saya lirik kanan kiri untuk mencari posisi yang startegis. Akhirnya saya bertemu saluran irigasi dengan aliran air yang cukup deras. Saluran irigasi ini tertutup tembok gorong-gorong yang tinggi sehingga permukan air tidak tampak dari jalan raya. Sepeda saya sandarkan di bahu jalan. Setelah jalan relatif agak sepi saya turun ke saluran air dan jongkok. “Kepada semua yang ada di sini, permisi maaf mengganggu”, dan semua beban saya lepaskan. Selepas gangguan hilang, cepat-cepat saya naik lagi ke jalan raya. Khawatir kalau ada orang lewat yang melihat saya sedang jongkok. Bisa malu berat. Sebenarnya ini budaya yang tidak baik. Tapi kondisi dan situasi yang sulit dan berat memaksa melakukan hal ini.

Kembali sepeda saya gowes. Udara benar-benar terasa panas sekali. Dengan susah payah akhirnya saya tiba di Gondang Legi. Di sebuah toko Alfa Mart persis di depan loket pembayaran listrik PLN saya berhenti untuk membeli air minum. Stock air minum saya sudah habis. Saya ambil 2 botol Aqua 1.5 liter dan sebatang kecil coklat Silverqueen. Sejenak saya beristirahat di sini. Istirahat tidak perlu terlalu lama supaya tidak kemalaman di Pronojiwo. Sepeda kembali saya naiki dan gowes menyusuri jalan raya Gondang Legi. Gondang Legi kota kecil sehingga tidak terlalu lama untuk melewatinya. Terus sepeda saya gowes. Sempat di kiri jalan saya melihat plang nama “PT Pindad”. Mungkin di sini lokasi pabrik mesiu milik pemerintah yang terkenal itu. Tidak jauh dari sini saya masuk kawasan Turen.

Istirahat sejenak di sebuah mini market Alfamart Gondang Legi, Jawa Timur

Istirahat sejenak di sebuah mini market Alfamart Gondang Legi, Jawa Timur

Terus sepeda saya kayuh. Sesekali saya berhenti sejenak untuk minum. Udara benar-benar terasa panas dan sangat menyiksa. Rasanya saya sudah tidak punya konsentrasi lebih untuk melihat pemandangan kanan kiri banyak-banyak. Mungkin karena saya sudah terlalu lelah. Lelah berhari-hari bersepeda secara non stop. Beberapa biker mengunakan rumus 4 + 1. Artinya empat hari menggowes dan satu hari setelahnya akan istirahat total alias tidak menggowes sama sekali. Satu hari istirahat untukmemulihkan tenaga. Hal ini tidak saya lakukan. Saya khawatir saya akan kehabisan waktu cuti. Cuti dari kantor saya sudah habis tapi saya belum sampai tujuan akhir. Hal ini mungkin yang membuat saya terlalu lelah. Sepeda terus saya gowes. Dalam kondisi yang sangat lelah sekali akhirnya saya masuk kawasan Dampit.

Dari Karang Kates / Sumber Pucung hingga daerah Dampit ini jalanan relatif rata. Hampir tidak ada tanjakan atau turun yang ekstrim. Tapi selepas Dampit jalan mulai menanjak. Hampir tidak ada jalan yang menurun. Entah berapa kali saya turun dari atas sepeda dan berjalan kaki sambil menuntun sepeda. Jalan ini semakin berat rasanya. Sambil menuntun sepeda saya terus berdoa. Mohon kekuatan dariNya. Di setiap langkah saya berusaha untuk tetap sadar kalau saya sedang berjuang. Dengan demikian saya menikmati setiap tetes keringat yang keluar karena berjuang untuk melawan diri sendiri.

Jalan terus menanjak. Badan rasanya sudah tidak kuat sama sekali. Tapi sekali lagi, saya tidak bias mundur dan kembali. Saya harus terus melangkah maju. Sepeda lebih sering lagi saya tuntun. Di suatu tempat ada penjual pisang segar. Saya berhenti sejenak untuk membeli satu sisir Pisang Raja. Lumayan buat penambah tenaga dan hiburan di jalan. Sempat saya tanyakan jarak dari titik ini ke Pronojiwo pada penjual pisang. Ibu penjual pisang tidak menjawab jarak dalam satuan jarak. Hanya mengatakan kalau Pronojiwo masih jauh. Masih jauh? Hadeuh … Sepeda terus saya tuntun. Sekali-kali sepeda saya naiki lagi. Kalau paha atau betis mulai terasa sakit, sepeda kembali saya tuntun. Saya tidak mau memaksakan diri yang bisa berakibat cedera serius. Kalau terjadi cidera serius semua rencana bisa berantakan. Sesekali lagi saya mengayuh sepeda dengan satu tangan memegang pisang dan mengupasnya dengan mulut. Setelah terkupas pisang saya masukkan ke mulut.

 

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s