Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 8-c)

Hari semakin sore. Jalan terus semakin menanjak. Jarak antara rumah semakin jarang. Di kanan kiri jalan semakin banyak ditemui kebun dengan tanaman yang relatih besar dan tinggi. Bahkan di beberapa tempat ditemui tebing tinggi di sisi jalan. Sepeda sudah jarang saya naiki. Sempat saya tanyakan pada seorang di pinggir jalan, berapa jarak dari tempat ini ke Pronojiwo. Jawabnya, kira-kira 10 km lagi. Saya terus berjalan di jalan yang terus menanjak. Di sebuah jembatan saya bertemu sekelompok anak baru gede (ABG). Mereka menegur saya:

“Oom mau ke mana?

“Mau ke Bali. Pronojiwo masih jauh? Berapa kilometer lagi?”

“Masih jauh Oom, kira-kira 10 km lagi. Kalau naik motor paling 15 menit lagi sampai”.

“Oke, terimakasih ya… “

“Iya, hati-hati Oom”, sahut mereka

Ehemmm, 10 km lagi? Sebelumnya saya bertanya jarak dari saya bertanya ke Projoniwo 10 km. Sekarang anak-anak ini bilang 10 km juga. Rasanya jarak antar orang saya tanyai pertama dan anak-anak ini sangat jauh. Mungkin lebih dari 7 km. Jangan-jangan saya berjalan lagi 8 km dan bertanya kepada warga sekitar masih akan dijawab 10 km lagi. Hadeuh…

Matahari semakin condong ke barat. Pom bensin/SPBU belum juga di temukan. Pisang satu sisir yang berisi 10-15 pisang dengan panjang 20 cm dan diamater 3 cm sudah habis. Tenaga sudah habis dan badan sudah hampir jatuh rasanya. Tapi kondisi ini tetap memaksa saya untuk terus melangkah. Akhirnya azan magrib berkumandang, tapi saya masih di jalan dan belum menemukan tempat menginap. Hati semakin ciut, kanan kiri semakin banyak pohon-pohon besar yang rimbun. Perasaan hati semakin tidak tenang. Apalagi daerah ini termasuk lereng gunung Semeru. Belum lagi sampai saat ini saya belum menemukan tempat yang ramai dan aman untuk menginap. Sambil terus berdoa saya terus melangkah. Di suatu tempat saya bertemu dengan jalan yang menikung dengan bentuk letter S yang tajam dan menanjak. Tepat setelah tikungan ini saya menenemukan Pom Bensin/ SPBU. SPBU 54673.10. Horeee…

Kontur tanah di kawasan Pronojiwo, Jawa Timur

Kontur tanah di kawasan Pronojiwo, Jawa Timur

Vegetasi perbukitan di kawasan Pronojiwo, Jawa Timur

Vegetasi perbukitan di kawasan Pronojiwo, Jawa Timur

Terimakasih Tuhan, saya mendapatkan tempat untuk beristirahat malam. Saya tidak berusaha mencari tempat lain untuk bermalam. Selain hari sudah lepas magrib, saya merasa daerah ini sangat sepi. Kalau saya cari tempat lain untuk bermalam jangan-jangan saya terjebak kemalaman entah di mana. Bahkan saya bisa tidur di tengah hutan malam ini. Bisa lebih report, apalagi saya tidak mempersiapkan tenda untuk bermalam. Saat ini lebih baik bermalam di sini. Saya masuk komplek pom bensin/SPBU dan berkeliling untuk melihat kondisi dan mencari posisi yang pas untuk tidur. Dari pengamatan tidak ada tempat yang cukup layak untuk tidur. Tapi saat ini tidak ada pilihan lain selain menginap di sini. Ya sudahlah, apa yang terjadi, terjadilah. Berikutnya, saya meminta izin untuk menginap di pom bensin ini. Di kantor pom bensin saya bertemu dengan seorang ibu (mungkin) pemilik pom bensin. Kepada beliau saya minta izin untuk menginap di sini. Beliau mengizinkan dan menganjurkan saya tidur di mushola yang terletak di pojok dalam komplek pom bensin. Ternyata pom bensin tidak tidak buka 24 jam. Jam 10 malam sudah tutup. Tapi saya tidak perlu khawatir, malam ada petugas keamanan yang berjaga imbuh sang Ibu. Terimakasih banyak, Ibu.

Sepeda saya tuntun ke arah mushola dan saya parkirkan di celah sempit antara tembok mushola dan tembok batas komplek pom bensin. Rencananya mau langsung mandi tapi dari tadi kamar mandi yang terletak di depan kantor pom bensin selalu terisi dengan pengunjung lain. Untuk mempersingkat waktu saya putuskan untuk mencari makan malam terlebih dahulu. Di dapan pom bensin, tengak-tengok kanan-kiri, kok tidak ada penjual nasi. Yang ada penjual gorengan. Apa boleh buat, tidak ada pilihan lain selain makan gorengan. Di warung gorengan, dalam lemari kaca yang berukuran 1.5 m x 0.6 m x 0.6 m penuh dengan gorengan siap jual. Saya sempat berfikir apakah gorengan sebanyak ini akan habis? Siapa yang beli di tempat yang sepi seperti ini? Saya duduk di dalam warung dan mulai makan gorengan. Tidak lupa saya pesan satu gelas teh manis panas.

Pemilik warung menanyakan dari mana saya berasal, tampaknya dari jauh imbuhnya. Belum sempat saya jawab dia menambahkan kalau dia memperhatikan saya sejak saya masuk komplek pom bensin. Saya jawab kalau saya dari Jakarta. Dia sangat terkejut mendengar jawaban saya. Dia tidak mengira kalau saya mengendarai sepeda dari Jakarta. Sambil terus menggoreng kami terus mengobrol. Sempat juga ia bertanya saya berasal dari Jawa sisi mana. Menurutnya bahasa Jawa saya sangat halus. Memang kami mengobrol dalam Bahasa Jawa. Saya tahu bahasa Jawa sepatah dua patah kata. Tahu dan mengerti Bahasa Jawa sekedarnya saja. Tapi saya sendiri bingung mengapa dikatakan Bahasa Jawa saya sangat halus. Rasanya ada sesuatu yang salah. Hehehehehe ….

Sambil terus makan gorengan, saya masih bingung dengan stock gorengan yang ada. Menurut ukuran saya jumlahnya sangat banyak sekali. Apakah tahu sebanyak ini akan habis terjual? Apalagi menurut penjualnya hari ini relatif sepi pembeli. Saya terus makan sambil mengobrol dengan penjual gorengan ini. Tidak beberapa kemudian datang satu sepeda motor dan pengendaranya turun membeli sejumlah gorengan. Setelah pembeli ini berlalu, datang lagi 5-6 pembeli gorengan secara hampir bersaman. Gorengan yang sangat banyak tadi habis semua. Pembeli berikutnya harus antri menunggu untuk mendapatkan gorengan yang sedang digoreng. Giliran saya yang terkejut. Ternyata gorengan yang sangat banyak ini ludes. Di tempat yang sepi ini gorenganpun laris manis. Siapa pembeli-pembeli yang baru saja berlalu ini? Saya berfikir keras untuk itu.

Selesai makan saya kembali ke komplek pom bensin dan langsung mandi. Tidak lupa mencuci pakaian yang saya pakai hari ini. Pakaian basah saya jemur di atas sepeda. Urusan mandi selesai. Langsung sepeda saya kunci dan lanjut membuat catatan perjalanan hari ini. Tidak lama kemudian alas tidur saya gelar, berdoa sejenak, badan masuk ke dalam sleeping bag dan saya pun langsung tertidur. Malam ini saya tidur di mushola.

Bersama ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Es Dawet 2 porsi 4,000
Nasi Soto Campur + teh tawar 7,500
Aqua 1.5 l (2 botol) 7,600
Coklat batang Silverqueen 10,900
Pisang raja (1 sisir) 10,000
Gorangan (8) + teh manis hangat 6,000

Total :

46,000

 

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time) 8:52:04
DST (Trip Distance in km) 117.68
AV (Everage Speed in km/hr) 13.2
MX (Maximum Speed in km/hr) 45.5
CAL (Calorie Consumption in kcal) 1436
CO2 (Carbon Offset in kg) 17.65
ODO (Total Distance in km) 956

 

Serpong, 20 Aug 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s