Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 9-a)

Malam ini tidur tidak terlalu nyenyak. Hampir selama perjalanan ini saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Orang bilang tidurnya tidur ayam. Sangat dengan mudah terbangun. Tapi, malam ini lebih parah rasanya. Selama tidur ada saja orang yang lalu lalang di sekitar saya. Ketika bangun, ada dua orang pengendara sepeda motor di teras mushola yang baru bangun tidur. Di halamana SBPU tampak seorang petugas jaga malam yang masih berjaga. Segera saya mandi dan berbenah. Semua barang kembali saya naikkan ke atas sepeda. Baju dan celana basah saya jemur di atas boncengan sepeda. Biar kering selama di perjalanan. Semua perlengkapan bersepeda sudah saya pakai. Sebelum keluar komplek SPBU saya sempatkan untuk pamit dan berterimakasih pada pemilik SPBU ini, Di kantor SPBU pemilik SPBU sudah sibuk bekerja walau waktu belum menunjukkan pukul 5:00 pagi. Kepada pemilik SPBU saya mengucapkan banyak terimakasih karena sudah boleh menginap. Juga sudah sudah dijaga oleh penjaga malam selama tidur. Selesai berpamitan segera saya segera bersiap untuk memulai perjalanan untuk hari ini. Tak lupa saya berdoa untuk keselamatan perjalanan hari ini juga untuk orang-orang yang saya kasihi dan sayangi jauh di sana. Sebenarnya ingin juga pamit kepada petugas jaga malam, tapi yang bersangkutan sudah tidak di tempat. Mungkin sudah pulang ke rumahnya.

 

Hari ini Sabtu 11 Mei 2014 tepat pukul 05:15 saya mulai menggowes sepeda. Karena posisi Pronojiwo berada di sisi timur Waktu Indonesia Barat dan psosisi jauh di timur Jakarta maka pukul 5:00 pagi sudah cukup terang. Ditambah lagi Prononojiwo berada di tempat yang tinggi sehingga daerah ini lebih cepat terkena sinar matahari dibandingkan daerah-daerah yang lebih rendah. Jalananpun mulai tampak walau belum begitu jelas. Keluar komplek SPBU jalan raya masih menanjak curam. Karena masih pagi dan tenaga masih banyak, sepeda tetap saya gowes. Sepeda tidak saya tuntun seperti kemarin sore ketika memasuki pom bensin ini. Tidak terlalu jauh dari SPBU saya memasuki daerah yang relatif ramai. Wah, jangan-jangan ini pusat keramaian di Pronojiwo, pikir saya. Tidak lama kemudian, di kiri jalan saya melihat Kantor Kecamatan Pronojiwo. Benar, saya memasuki pusat keramaian Pronojiwo. Lokasi hanya beberapa puluh atau ratus meter dari SPBU tempat saya menginap semalam.

Kantor Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Kantor Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Belajar dari pengalaman kemarin, saya masih percaya perjalanan melewati kawasan ini masih berat. Jalan masih menanjak curam. Dan kemungkinan besar masih jauh masuk ke daerah yang sepi dan jauh dari keramaian. Untuk itu lebih baik saya mencari sarapan pagi di sekitar sini. Nanti kalau ditunda saya khawatir di depan atau di tempat yang sepi sulit untuk mendaptkan sarapan. Menurut hemat saya jauh lebih baik kalau pagi-pagi sarapan dan setelah itu bisa lebih keonsentrasi menghadapi perjalanan dan tidak terganggu dengan perut yang lapar. Ya, harus cari sarapan di sini sekarang. Tidak jauh ada Kantor Kecamatan Pronojiwo ada satu warung tenda yang sudah buka. Sudahlah tidak perlu cari tempat lain untuk sarapan. Mampir saja di sini. Jangan-jangan kalau cari tempat lain malah buang-baung waktu percuma. Sepeda saya parkirkan di samping tenda. Di dalam warung ada seorang yang duduk makan dan seorang yang lain berdiri sambil menunggu pesanan. Di dalam warung tidak ada makan yang menarik untuk ukuran saya. Saya hanya ingin makan mie instant saja. Rasanya cocok dengan kondisi udara yang masih dingin. Tapi mie instant tidak tersedia di sini. Yang ada ayam goreng. Kalau saya pagi-pagi seperti ini harus makan ayam goreng rasannya terlalu berat untuk ukuran perut saya. Akhirnya saya pesan kopi mix instant dan makan onde-onde.

Seorang bapak yang berdiri dan sedang memesan makanan bertanya kepada saya:

“Dari mana, Mas”

“Saya dari pom bensin sebelum kantor kecamatan”, jawab saya.

“Maksud saya Anda bersepeda dari mana?”

“Oh, saya bersepeda dari Jakarta” dengan cepat saya menjawab dan menyadari kesalahan saya.

Begitu tahu kalau saya sudah bersepeda dari Jakarta, bapak ini mempersilahkan saya untuk memesan makanan apa saja yang ada di warung ini dan beliau akan membayar makanan yang saya makan. Saya sempat mengucapkan banyak terimakasih dan kebetulan juga saya punya cukup uang untuk sekedar makan. Tapi beliau tetap memaksa. Secara kebetulan juga saya tidak tertarik dengan makan yang ada di sini. Sambil minum kopi saya mengobrol dengan bapak ini. Bapak ini mengatakan kalau depan ada tikungan dan jembatan. Setelah jembatan akan bertemu dengan jalan menanjak tajam. Dalam hati saya sempat berfikir, jangan-jangan medan yang akan saya lalui masih seperti kemarin, rute Dampit – Pronojiwo. Berarti perjuangan saya melawan tanjakan masih akan berlangsung hari ini. Kami mengobrol panjang lebar. Ternyata menurut beliau, beliau ini sedang merantau. Beliau berasal dari Pasirian, Lumajang. Kalau saya lihat di peta yang saya bawa Pasirian berada tidak terlalu jauh dari tempat ini. Menurut dugaan saya jaraknya tidak lebih dari 50 km. Setelah pesanan makannya selesai dibuat, sang bapak meninggalkan warung dan saya sendiri masih harus menghabiskan kopi panas. Selesai minum kopi, saya keluarkan uang untuk membayar kopi dan onde-onde yang saya makan. Ketika saya tanyakn jumlah yang harus saya bayar, ibu penjual mengatakan kalau pesanan makan saya sudah dibayar oleh bapak yang tadi. Saya tidak tahu kalau bapak tadi benar-benar telah membayar menu yang saya makan. Wah, terimakasih sekali., lho…

Gunung Semeru tampak dari sela pepohonan di jalan yang menanjak setelah Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Gunung Semeru tampak dari sela pepohonan di jalan yang menanjak setelah Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Sepeda kembali saya gowes. Hanya beberapa puluh meter berjalan saya bertemu dengan jalan menikung dan di ujung tikungan ada jembatan besar. Setelah jemabatan besar jalan menanjak cukup curam. Dengan terpaksa saya turun dari sepeda dan sepeda saya tuntun. Selepas tanjakan jalan sedikit datar dan kembali sepeda saya gowes. Mulai dari sini jalan relatif datar. Memang ada tanjakan-tanjakan kecil tapi tidak separah jalan dari Dampit ke Pronojiwo. Pemandangan di sini cukup indah. Puncak Semeru tampak dari sela-sela pepohonan. Di tempat tertentu yang terbuka, Puncak Semeru tampak jelas. Beberapa kali tampak Puncak Semeru mengepulkan asap putih. Indah banget. Sempat telintas di benak saya, kapan saya bisa sampai di Puncak Semeru. Puncak teringgi di tanah Jawa.

Puncak Semeru tampak berdiri dengan gagah dan megah

Puncak Semeru tampak berdiri dengan gagah dan megah

 

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s