Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 9-b)

Jalan masih relatif datar. Bersepeda masih terus lancar tanpa halangan dan hambatan. Apalagi udara di sekitar sini masih refatif dingin. Bahkan di beberapa titik saya masuk jalan berkabut dengan jarak pandang kurang dari 30 m. Lampu depan dan lampu belakang sepeda yang menyala dan selama perjalan selalu saya nyalakan diharapkan mampu memberikan tanda bagi kedaraan lain. Apalagi di jalan yang berkabut tebal seperti ini. Sepeda terus saya gowes menuju Piket Nol. Menurut beberapa warga yang saya temui kemarin puncak tertinggi di jalan ini adalah Piket Nol. Ada juga mengatakan Geladak Perak. Menurut mereka, lokasinya keduanya berdekatan. Mumpung masih pagi dan udara masih dingin, sepeda saya gowes dengan secepat dan sekuat mungkin. Di suatu tempat, jalan mananjak cukup jalan curam sepeda terpaksa saya tuntun. Pada seorang ibu yang berdiri di pinggir jalan, saya tanyakan apakah Piket Nol masih jauh. Sang ibu menjawab ‘Itu’, sambil jarinya menunjuk ujung tanjakan yang jaraknya tidak lebih dari 30 meter. Dengan penuh semangat sepeda saya tuntun ke puncak tanjakan ini. Hanya dalam hitungan dua sampai tiga menit saya sudah sampai di puncak tanjakan Piket Nol.

Tanjakan sebelum Piket Nol, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Tanjakan sebelum Piket Nol, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Puncak Piket Nol, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Puncak Piket Nol, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur

Puncak Piket Nol berupa tanah datar dengan panjang kira-kira 40-50 meter dengan dinding di tanah yang ditembok di sisi kanan kiri jalan. Hanya saja, dinding di sisi kiri jalan lebih tinggi dibandingan dengan sisi kanan jalan. Sejenak saya ambil waktu untuk beristirahat. Sungguh nyaman udara di tempat ini. Udara terasa dingin, segar, dan agak lembab. Tak lupa juga saya mengucapkan syukur, syukur bahwa saya boleh sampai di tempat ini. Juga syukur karena saya diberikan kekuataan menjalan semua perjalanan hingga di tempat ini. Terimakasih Tuhan untuk semuanya ini.

Saya beristirahat di tempat ini tidak lebih dari 10 menit. Selanjutnya sepeda kembali saya gowes. Mulai dari Piket Nol jalanan menurun tajam. Tanpa digowes sepeda melaju sangat cepat. Sesekali saya lirik speedo meter di stang sepeda. Kalau kecepatan sudah menunjukkan angka di atas 50 km/jam, rem tangan saya tarik. Kecepatan saya buat tidak melewati 50 km/jam. Kalaupun dibiarkan kecepatan bisa lebih dari 50 km/jam. Tapi untuk keselamatan, saya hanya berani melaju dengan kepatan maksimal 50 km/jam, atau mentok-mentoknya 55 km/jam. Terus sepeda melaju dengan cepat membelah hutan sambil menyusuri punggung bukit. Di sini tidak ada rumah warga sama sekali. Yang ada hanya pepohonan yang relatif padat dan lebat. Pohon-pohon inipun berukuran relatif besar. Udara yang dingin sangat mendukung suasana hati, hingga ada rasa damai dan tenang. Sambil terus melaju, saya menyenandungkan lagu “Ode to Joy” nya Beethoven. Sulit saya menggambar dengan kata-kata suasana hati saya saat melaju di turunan ini.

Hanya dalam waktu singkat saya sampai di tikungan dengan pemandangan yang cukup menarik. Di sisi kanan jalan tampak sungai dengan bataran pasir yang luas sekali. Mungkin ini daerah aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru. Tak mau kehilangan kenangan yang bagus, saya hentikan sepeda di sisi kanan jalan. Beberapa foto saya ambil untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Tak lama kemudian kembali sepeda saya kayuh. Jalanan masih menurun dengan tajam. Tebing tinggi di sisi kiri jalan dan jurang yang cukup dalam ada di sisi kanan jalan. Tanpa gowesan yang berarti sepeda tetap melaju dengan sangat cepat, masih bisa mencapai 50 km/jam. Beberapa saat kemudian saya sampai di sebuah jembatan yang lebar dan panjang. Waooww, bagus sekali pemandangannya. Dengan resiko kehilangan waktu saya hentikan sepeda lagi untuk menikmati pemandangan di jembatan ini. Rasanya lebih baik kehilangan sedikit waktu daripada kehingan moment indah. Lebih baik agak lambat sampai tujuan daripada kehilangan “makanan rohani/spirtual”.

Kondis jalan berkelak-kelok tajam dengan latar belakang adalah jalan menuju Piket Nol

Kondis jalan berkelak-kelok tajam dengan latar belakang adalah jalan menuju Piket Nol

Istirahat sejenak di tikungan tajam tidak jauh dari Piket Nol menuju Lumajang

Istirahat sejenak di tikungan tajam tidak jauh dari Piket Nol menuju Lumajang

Jalan menurun dan berkelok dari arah Pronojiwo menuju Lumajang

Jalan menurun dan berkelok dari arah Pronojiwo menuju Lumajang

Kembali kamera saya keluarkan untuk mengambil beberapa gambar. Beberapa sisi pemandangan saya ambil dan saya simpan dalam kamera. Saat itu, kebetulan ada satu keluarga (suami istri dengan seorang anak) pengendara sepeda motor yang tengah beristirahat di jembatan ini pula. Saya mitna tolong kepada sang suami untuk memotret saya. Foto sebagai kenang-kenangan kalau sepeda saya pernah lewat tempat yang indah ini. Heheheheee… Setelah merasa cukup mengambil foto-foto, kembali sepeda saya gowes. Jalanan masih menurun sehingga tidak banyak tenaga yang harus saya keluarkan. Beberapa saat kemudian saya masuk daerah pemukiman warga. Sambil berjalan saya amat kanan kiri jalan untuk mendapatkan nama daerah ini. Di salah satu plang saya tahu kalau daerah ini bernama Candipuro, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

Foto diri di atas Jembatan Gladak Perak, Lumajang, Jawa Timur

Foto diri di atas Jembatan Gladak Perak, Lumajang, Jawa Timur

Jembatan Gladak Perak, Lumajang, Jawa Timur

Jembatan Gladak Perak, Lumajang, Jawa Timur

Di sekitar Pasiran banyak penambang pasir. Banyak tumpukan pasir di kiri-kanan jalan yang menimbulkan banyak debu dan cukup menganggu pengguna jalan. Bahkan di beberapa tempat pasir berserakan di jalan yang mengakibatkan jalan licin. Di jalur ini jalan raya masih terus menurun, tapi tidak securam di hutan tadi. Saya masih bisa melaju dengan kecepatan 25 km/jam hanya dengan gowesan ringan. Tidak terlalu lama kemudian saya melalui Pasar Pasirian. Terus sepeda saya gowes dengan cepat supaya tidak kehilangan moment di jalan menurun ini dan tidak kehilangan waktu. Dalam waktu yang singkatpun saya sudah bisa melewati Pasar Tempeh. Berdasarkan Peta Mudik Kompas yang saya bawa, tidak terlalu jauh di depan adalah kota Lumajang. Dan masih berdasarkan peta tersebut rencananya saya akan mengambil jalur melalui kota Lumajang terus ke Jatiroto – Tanggul – Rambipuji dan masuk kota Jember. Tampaknya itu jalur terdekat yang bisa saya lalui.

Mungkin masih di kawasan Tempeh, saya bertemu pertigaan dengan lampu lalu lintas. Di situ plang ke arah kanan bertuliskan “Jember”. Saya jadi ragu, apakah saya harus terus lurus masuk kota Lumajang sesuai dengan rencana semula atau belok kanan di jalan ini? Beberapa meter setelah lampu merah saya tanyakan pada warga setempat, mana jalan yang harus saya pilih. Seorang bapak yang saya tanyai menganjurkan agar saya belok ke kanan saja. Jangan masuk kota Lumajang. Jarak tempuhnya lebih jauh kalau saya melalui kota Lumajang. Katanya untuk mencapai Jatiroto paling tidak harus menempuh jarak 20 km. Akhirnya saya putuskan untuk belok kanan di sini.

Kembali sepeda saya gowes dengan cepat selagi masih pagi. Jalan sudah relatif ramai dengan kendaraan, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Di kanan kiri jalanpun padat dengan perumahan warga. Rasanya tidak ada sela untuk untuk tanaman. Setelah menggowes beberapa kilometer baru ingat kalau tadi pagi belum sempat sarapan dengan benar. Sekarang tidak ada salahnya untuk mencari sarapan. Tepat di depan sebuah pasar yang cukup ramai saya berhenti untuk sarapan di warung sederhana. Warung pecel. Saya pesan nasi pecel dengan lauk telur dan tempe plus kopi hitam. Di dalam warung tersedia tiga bangku panjang dan disusun membentuk letter U mengeliling meja dengan rak kaca di atasnya. Semua makanan yang dijual diletakkan dalam lemari kaca. Dari depan sepeti posisi saya sekarang ini, saya bisa menggambil lauk tambahan dengan dengan menggeser jendela kaca.

Sambil makan saya amati suasana warung ini. Di bangku panjang sebelah kiri duduk seorang wanita muda. Sedangkan di bangku panjang sebelah kanan duduk seorang bapak yang usianya kira-kira 55 tahun. Kedua orang ini duduk saling berhadapan dengan dibatasi lemari kaca di depan saya ini. Sang wanita berkeluh kesah kalau dia baru saja diberhentikan dari tempat kerja. Dengan kata lain kontrak kerjanya di sebuah pabrik rokok yang terkenal tidak diperpanjang lagi. Tugasnya adalah melinting batangan rokok. Sebagai buruh linting, dia mendapat target untuk menyelesaikan sekian puluh ribu atau sekian ratus ribu batang rokok selama satu tahun. Di pabrik ini, kalau targetnya tidak tercapai walau kurang 100 batang rokok saja, yang bersangkutan tidak dapat bekerja lagi di tahun berikutnya. Masih menurutnya, targetnya hanya kurang 1-2 ribu batang saja. Ya, nama orang, khan ada sakitnya sehingga tidak masuk dan tidak bisa bekerja, sehingga targetnya tidak tercapai, tuturnya. Tapi yang pasti, dia sekarang harus kehilangan pekerjaannya.

Bapak yang di sebelah kanan pun berkomentar, jaman sekarang ini semakin susah saja. Walau susah tetap harus dijalani. Selanjutnya, malah sang bapak mengeluarkan uneg-unegnya. Menurutnya hidup ini susah dan harus kerja keras. Semuanya itu ujung-ujungnya untuk anak. Termasuk cinta juga untuk anak. Menurut sang bapak ini, seusianya antara suami istri tidak ada cinta lagi, yang ada hanyalah cinta pada anak. Anaknya perempuan yang masih berumur sekitar 20 tahunan minta dinikahkan. Calon suaminyapun masih belum mapan benar. Karena anaknya memaksa mau nikah dan katanya sangat mencintai calon suaminya akhirnya sang anak dinikah juga. Keluarga muda ini masih belum mapan secara ekonomi karena pondasi ekonominya belum kuat. Karena tidak tega dengan sang anak akhir usaha warung yang dimilikinya diserahkan kepada sang anak. Dan ia sekarang menggangur tanpa pekerjaan. Saya hanya diam sambil terus mendengarkan kedua orang mencurahkan isi hatinya.

 

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s