Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 9-c)

Sambil menghabiskan kopi yang masih panas, saya terus menyimak apa yang mereka bicarakan. Beberapa kali tampak ibu penjual nasi pecel ini menimpali. Pembicaraan mereka semakin seru. Begitu tegukan terakhir kopi sudah melewati kerongkongan, menu sarapan langsung saya bayar. Makan pagi cukup kenyang ini cukup saya bayar Rp 8000 saja. Sebelum berangkat saya sempat mengamati lingkungan sekitar tempat makan ini. Warung makan relatif berhadapan dengan SDN Kunir Lor I, Kecamatan Kunir, Lumajang yang bersebelahan dengan pasar yang relatif ramai. Beberapa gambar saya ambil untuk kenang-kenangan.

Warung pecel di Kunir Lor, Lumajang, Jawa Timur

Warung pecel di Kunir Lor, Lumajang, Jawa Timur

Lokasi warung pecel berada di depan SDN Kunir Lor I, Kecamatan Kunir Lor, Lumajang, Jawa Timur

Lokasi warung pecel berada di depan SDN Kunir Lor I, Kecamatan Kunir Lor, Lumajang, Jawa Timur

Kembali sepeda saya gowes ke arah Yosowilangun. Jalan raya masih relatif halus. Matahari semakin terik membakar. Terus sepeda saya gowes cepat. Saya semakin khawatir akan kehabisan waktu. Konsentrasi saya pusatkan untuk menggowes dan berdoa. Saya relatif tidak banyak menengok ke kanan atau ke kiri lagi. Pokoknya gowes terus sambil berdoa. Tapi gangguan atau cobaan datang juga. Perut terasa mules, sakit sekali rasanya. Saya terus berdoa semoga gangguan ini tidak mengganggu perjalanan ini. Artinya jangan sampai membatalkan perjalanan ini, saya harus pulang dengan bis sebelum sampai tujuan. Saya berusaha mencari tempat untuk ke toilet. Jangan sampai kejadian kemarin berulang kembali dimana saya harus nongkrong di saluran irigasi. Apalagi di sepanjang perjalanan hari ini tidak tampak sawah atau kebun. Sepanjang perjalanan padat dengan perumahan. Tapi syukur saya ucapkan ketika saya sampai di sebuah Pom bensin, SPBU 54-681.02 (mungkin daerah Jubung, Jember). Cepat-cepat sapeda saya parkirkan di depan toilet umum yang ada di situ. Tak lupa sepeda saya kunci. Toilet di sini relatif bersih dan airnya berlimpah. Akhirnya semua beban perut saya selesaikan di sini. Berhubung udara di sini sangat panas saya berusaha mendinginkan badan dengan membasahi kaos kaki, bandana di kepala, kaos tangan, dan handuk di leher. Keluar toilet badan saya relatif basah semua. Ternyata cara ini cukup efektif mengurangi rasa panas di badan.

SPBU 54-681.02 Jubung, Jember, Jawa Timur

SPBU 54-681.02 Jubung, Jember, Jawa Timur

Sepeda terus saya gowes sekuat tenaga. Daerah-daerah yang sudah saya lewati antara lain Yosowilangon, Kencong, Granden, dan Kasian. Saya semakin tidak memperhatikan daerah-daerah yang saya lewati secara detail. Saya tidak begitu ingat kondisi daerah sekitar ini. Yang pasti saya sangat kelelahan dan kepanasan di kawasan Balonglor. Di sebuah minimarket Indomaret saya berhenti untuk beristirahat. Sambil minum Pocari Sweat yang saya beli ini di minimarket ini, kaki saya selonjorkan di teras. Juga, saya beli Aqua 1.5 liter sebagai tambahan persediaan minum yang semakin menipis. Saya tengok jam tangan saya, waktu belum menunjukkan pukul 12:00. Kebetulan di depan minimarket ini ada penjual Soto Madura. Dari pada buang waktu lebih baik langsung makan siang saja walau belum pukul 12:00.

Sepeda saya tuntun menyeberangi jalan raya. Depan warung sepeda saya parkirkan dengan posisi kira-kira kelihatan kalau saya duduk di dalam warung. Di dalam warung saya pesan nasi dengan semangkok Soto Daging Madura plus satu gelas teh manis hangat. Menurut pemikiran saya, saya membutuhkan kalori untuk menggowes, jadi tidak ada salahnya kalau saya minum teh manis. Ada perasaan terburu-buru untuk segera menghabiskan menu makan siang ini. Teh manis yang masih relatih panaspun sedikit saya paksakan untuk diminum. Waktu belum menunjukkan pukul 12:30, sepeda kembali saya gowes. Udara semakin panas terasa. Mata sedikit disipitkan agar tidak terlalu silau. Terus sepeda saya gowes. Rasanya beban sepeda makin bertambah. Ada rasa berat menggelayuti sepeda saya, walau saya tidak menambah beban apapun. Dengan bersusah payah akhirnya saya bisa melewati Rambipuji.

Tidak terlalu lama setelah Rambipuji saya masuk kota Jember. Di sebuah pertigaan ada plang menunjukkan ke kanan Kota Banyuwangi. Saya ragu, apakah saya harus belok ke kanan? Tidak terlalu banyak kendaraan yang belok ke kanan. Keraguan harus dituntaskan. Saya tanyakan pengendara motor yang berhenti karena lampu lalulintas menunjukan warna merah. Anak lelaki muda yang membonceng seorang wanita mengatakan sebaiknya saya belok kanan. Katanya lebih baik belok ke kanan di sini. Akhirnya saya ikuti anjuran anak muda ini. Sepeda saya belokkan ke kanan ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Beberapa puluh meter setelah lampu lalu lintas keraguan saya muncul lagi. Jalan antar kota besar kok relatif sepi. Tidak tampak bis atau truk yang lewat. Aneh sekali untuk ukuran saya. Kembali saya tanyakan pada seorang di pinggir jalan tentang arah ke Banyuwangi ini. Seorang bapak dengan logat Madura yang kental mengatakan kalau jalur ini benar ke Banyuwangi.

Sepeda kembali saya gowes. Jalan raya relatif halus dan mulus. Tapi jalan ini sepi sekali dari lalu lalang kendaraan. Bahkan kendaraan pribadi seperti mobil dan motorpun jarang terlihat. Sekitar satu atau dua kilometer dari lampu lalulintas tadi saya tanyakan arah jalan ini pada sorang penjaga dealer sepeda motor. Ia pun mengatakana kalau ini adalah jalan yang benar. Tapi saya tetap merasa aneh. Jangan-jangan saya di bohongi orang dengan arah yang salah atau mungkin juga dengan arah yang benar tapi jalanya memutar sehingga saya harus menggowes lebih jauh. Walau saya ragu saya tetap maju. Saya tidak berfikir untuk balik arah dan cari jalan lain. Jangan-jangan jalur Jember-Banyuwangi yang benar hanya beberapa ratus meter di depan. Setelah beberapa kali saya bertanya kepada orang di sepanjang jalan ini, akhirnya saya sampai di sebuah perempatan besar. Banyak kendaraan yang lalu lalang dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Demikian pula sebaliknya. Akhirnya saya belok ke arah kanan, karena saya yakin Kota Banyuwangi ada di sebelah kanan dari posisi saya sekarang.

Terus sepeda saya gowes ke arah Banyuwangi. Mungkin karena terlalu panas, lelah, dan tekanan yang dalam membuat badan terasa amat letih dan lemas. Mata juga terasa sangat mengantuk. Mungkin juga tadi pas jam istirahat makan siang saya masih kurang istirahatnya. Saya benar-benar tidak kuat. Akhirnya saya tiba di sebuah pertigaan kecil, ke arah kiri ada jalan kecil semacam gang dan lurus arah ke Banyuwangi. Tepat di pertigaan ini ada taman kecil dengan pohon besar di tengahnya. Di bawah pohon ini ada bangku yang terbuat dari semen. Saya rebahkan badan di bangku semen ini. Mata sempat terpejam untuk beberapa lama, mungkin 15-30 menit. Pas terbangun ingin rasanya melanjutkan tidur lagi. Rasa kantuk ini harus dilawan. Keinginan untuk maju memaksa saya untuk membuka mata lebar-lebar. Kembali sepeda saya gowes. Mata mengantuk plus udara panas adalah kombinasi sempurna penderitaan di sini. Tapi apa boleh buat, semuanya harus dijalani dan diselesaikan.

Di kawasan Jember ini saya menemukan banyak bangunan seperti gudang untuk pengeringan. Hanya saja saya tidak tahu bahan apa yang dikeringkan di dalamnya. Jumlah bangunan seperti ini semakin banyak selepas Kota Jember. Sayang sekali, saya tidak sempat mengambil gambarnya. Sembari sedikit melirik bangunan-bangunan ini, sepeda terus saya genjot. Jalan mulai banyak menanjak. Badanpun semakin terasa lelah sekali walau hari belum terlalu sore. Target saya hari ini paling tidak saya mencapai Kotabaru. Tapi badan saya sudah tidak kuat lagi. Kira-kira pukul 15:00 saya tiba di SPBU/Pom Bensin 54-681.21 Sempolan. Sudahlah, saya menyerah di sini dan sepeda saya belokkan ke pom bensin ini. Kotabaru tidak tercapai di hari ini, tidak apa-apalah. Lebih baik saya istiharat cepat supaya besok pagi lebih segar.

SPBU 54-681.21 Sempolan, Jember, Jawa Timur

SPBU 54-681.21 Sempolan, Jember, Jawa Timur

Saya berkeliling komplek pom bensin yang luas ini sambil melihat-lihat atau mencari tempat untuk tidur malam ini. Ketika saya berusaha mencari manager pom bensin ini, saya bertemu dengan seorang bapak yang baru saja selesai mandi. Dan ternyata bapak ini adalah menager pom bensin ini. Beliau mempersilahkan saya untuk bermalam di sini. Sepeda saya parkirkan di gang menuju kamar mandi dekat mushola. Setelah beristirahat sejenak saya mandi sekalian mencuci pakai yang saya pakai hari ini. Pakai basah saya jemur di atas sepeda dan saya jepit dengan penjepit kertas agar tidak jatuh ke lantai.

 

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s