Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 10-a)

Ketika berangkat dari Jakarta, saya punya target untuk bersepeda sampai di Pantai Sanggigi, Lombok. Rencananya jalur yang akan saya ambil adalah jalur selatan Pulau Jawa, jalur utara Pulau Bali, menyemberang ke P. Lombok dan berakhir di Pantai Sanggigi, Lombok. Nah dari Pantai Sanggigi kembali ke Denpasar, P. Bali dan dari Terminal Ubung, Denpasar kembali ke Jakarta dengan bus. Menurut pemikiran saya, jalur selatan Pulau Jawa dan jalur utara Pulau Bali relatif sepi dari kendaraan besar, sebab jalur ini bukan jalur utama. Dengan demikian jalur ini relatif aman untuk pengguna sepeda. Dari beberapa tulisan yang pernah saya baca, banyak penggowes yang mampu menyelesaikan jarak Jakarta-Banyuwangi dalam 7 hari. Menurut perhitungan saya, kalau saya mampu menempuh jarak Jakarta – Banyuwangi dalam 7 hari, saya bisa sampai ke P. Lombok dan kembali ke Jakarta dalam 14 hari kalender. Kebetulan saya hanya punya waktu cuti selama 10 hari kerja plus libur weekend sekitar 4 hari. Jadi saya bisa sampai di rumah lagi pada hari ke 13 dan masih punya waktu satu hari untuk istirahat.

Kenyataan di lapangan berbeda sama sekali. Hari ini, hari ke 10 saya masih di P. Jawa. Banyuwangi masih jauh di depan. Mungkin masih butuh satu hari lagi untuk sampai di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Selanjutnya paling tidak saya masih butuh satu hari untuk menyelesaikan jalur P. Bali. Untuk pulang dengan bus dari Denpasar ke Bali paling tidak butuh 2 hari. Jadi saya baru bisa sampai di rumah satu hari sebelum masuk kantor dan yang lebih parah saya tidak punnya waktu istirahat sama sekali. Dari pertimbangan-pertimbangan tadi akhirnya saya memutuskan untuk tidak lanjut ke P. Lombok. Saya pilih Pantai Sanur untuk finis, dengan asumsi Pantai Sanur adalah sisi paling timur dari P. Bali. Artinya saya sudah menggowes sampai titik paling timur atau ujung dari Pulau Bali.

Hari ini Senin, 12 Mei 2014 pagi-pagi benar (mungkin belum jam 04:00) saya sudah terbangun. Segera saya berdoa pagi. Doa mohon keselamatan, doa untuk orang-orang yang saya kasihi, dan juga untuk orang-orang telah dan akan saya temui dalam perjalanan hari ini. Juga doa secara khusus untuk pemilik, pengurus, dan pegawai pom bensin ini. Semoga mereka beri berkat oleh Tuhan. Setelah doa selesai, saya segera mandi dan berbenah. Kembali semua perlengkapan saya naikkan ke atas sepeda. Pakaian basah saya jemur di atas sepeda, biar kering selama perjalanan. Dengan cepat pula roti sobek sisa semalam saya makan habis. Roti cukup didorong dengan air putih dingin. Segera saya pamit kepada petugas pom bensin yang berjaga. Pak Muksin belum bangun tampaknya. Saya titipkan pamit dan salam saya untuk Pak Muksin melalui petugas yang berjaga ini.

Keluar kompleks pom bensin ini suasananya masih relatif gelap. Kendaraan yang lewat masih menyalakan lampu. Lampu depan dan belakang sepeda saya nyalakan, supaya pengendaraan lain melihat sepeda saya sehingga terhindar dari tabrakan. Permukaan jalan belum tampak dengan jelas, tapi jalan ini terasa halus sekali. Jalan masih relatif datar dan sepeda saya gowes dengan cepat agar badan segera panas. Badan yang hangat relatif nyaman untuk melawan udara pagi yang masih dingin. Jalan yang saya lalui masih relatif padat dengan pemukiman. Kanan kiri jalan penuh dengan rumah dengan jarak antara rumah yang relatif dekat. Di antara rumah tampak kantor atau gudang atau semacam pabrik milik PT Perhutani. Semakin jauh dari pom bensin Sempolan jarak antar rumah warga semakin menjauh. Jalan raya masih relatif datar. Saya belum menemukan jalan yang menanjak dan berat seperti yang Pak Muksin dan petugas cleaning service pom bensin ceritakan kemarin. Tapi saya sangat yakin Pak Muksin tidak berbohong. Yang penting tanjakan ini tidak perlu dicari, pasti nanti akan ketemu dengan sendirinya. Nikmati saja perjalanan ini.

Sepeda terus saya gowes dengan kecepatan yang relatif stabil (20-25 km/jam). Suasana lalu lintas masih relatif sepi sehingga muncul sedikit perasaan was-was. Saya terus melaju hingga saya tiba di suatu daerah dengan warung makan kecil berjejer di sepanjang jalan. Mirip warung-warung di pinggir jalan kawasan Puncak Pass, Bogor. Bedanya warung-warung di sini tampak lebih rapi dan lebih bersih. Jumlah warung makan di sisi kiri jalan tampak relatif lebih banyak dibandingkan dengan sisi jalan yang lain. Tampaknya warung-warung ini buka 24 jam. Bisa jadi pula kawasan ini adalah kawasan tujuan wisata seperti di Puncak Pass, Bogor. Sebelum berangkat tadi saya sudah makan roti sobek, tapi rasanya lebih baik sekarang cari sarapan di sini. Pagi hari lebih baik perut kenyang sebagai sumber tanaga untuk menggowes. Sepeda saya hentikan pada salah satu warung. Dengan duduk lesehan di lantai saya pesan nasi pecel dengan lauk telur ceplok goreng dan satu gelas kopi hitam. Selesai makan, saya beristirahat sejenak sambil menunggu kopi dingin. Sambil duduk santai, saya menikmati suasana sekitar warung ini. Tampak satu dua kendaraan besar datang dari arah Jember melewati jalan yang relatif halus. Juga tampak satu-dua sepeda motor dari arah Banyuwangi. Udara di sini masih terasa sejuk dan segar. Pepohonan tampak hijau dan subur.

Jejeran warung makan menjelang tanjakan Gunung Gumitir

Jejeran warung makan menjelang tanjakan Gunung Gumitir

Tegukan terakhir kopi sudah melewati kerongkongan. Segera saya bayar menu makan pagi ini. Saya cukup merogoh saku Rp 8,000 saja. Murah bukan!? Sepeda kembali saya kayuh. Setelah daerah warung-warung ini saya mulai masuk kawasan hutan industri. Tampak pohon-pohon pinus tumbuh dengan subur dan padat. Rumah warga mulai menghilang. Sesekali bertemu dengan pabrik pengolahan kayu, semacam tempat penggergajian. Mungkin pabrik-pabrik ini milik PT Perhutani. Jalan masih relatif datar atau boleh dikatakan menanjakpun masih tanjakan ringan. Terus sepeda saya gowes. Di suatu titik saya menemukan tanaman kopi yang ditanam di sela-sela tanaman pinus. Semerbak wangi bunga kopi menusuk hidung. Sudah puluhan tahun saya tidak mencium aroma harus bunga kopi. Terakhir mencium aroma bunga kopi saat saya masih kecil di lereng Gunung Tanggamus, Lampung. Aroma bunga kopi mengusik memori masa kecil saya. Saya hentikan sepeda di pingir jalan dan dengan sengaja saya ingin mencari dan melihat bunga kopi lagi. Dengan mudah saya menemukan banyak bunga kopi yang mekar dan hampir gugur. Saya nikmati harum bunga kopi sepuas-puasnya. Selama ini saya hanya bisa menikamati harum kopi yang sudah diseduh tapi tidak dengan bunganya. Bagi saya tidak ada hari tanpa kopi hitam, minimal satu hari satu cangkir kopi hitam. Mantapnya kopi Indonesia

Bunga kopi yang harum aromanya

Bunga kopi yang harum aromanya

Puas menikmati harum bunga kopi, perjalanan saya lanjutkan. Suasana jalan mulai sepi. Hampir tidak ada lagi rumah warga. Kanan kiri jalan dipenuhi tanaman pinus. Jalan raya pun masih relatif sepi. Terus sepeda saya kayuh dengan kecepatan yang masih stabil. Sambil mengayuh sepeda terus saya berdoa dalam hati. Banyak hal yang saya doakan. Kalau sudah tidak ada doa yang saya doakan, saya berusaha untuk “bercakap-cakap dengan Tuhan”. Rasanya, dalam perjalanan ini saya merasa begitu dekat dengan Tuhan. Semua keluh kesah saya tentang perjalana ini selalu dijawabNya. Tanpa terasa saya masuk daerah yang sudah tidak ada rumah warga sama sekali. Jalan mulai menanjak dan sepeda mulai saya tuntun. Dengan bersudah payah saya berjalan kaki sambil menuntun sepeda yang terasa semakin berat. Jalanan menanjak tajam menyusuri punggung gunung. Di sisi kiri jalan adalah tebing dan di sisi kanan adalah jurang. Kanan kiri jalan ditumbuhi dengan pohon-pohon yang besar (hutan yang lebat). Tapi disela-sela pohon-pohon besar ini masih tersisip tanaman kopi, system tumpang sari tampaknya. Dengan susah payah saya terus berjalan mendaki sambil mendorong sepeda..

Buah kopi yang masih hijau

Buah kopi yang masih hijau

Tanjakan di sini sangat berat. Tampak truk-truk mendaki dengan susah payah sambil terseok-seok. Kadang kecepatannya tidak lebih cepat dari pejalan kaki. Bahkan saya sempat menyalip truk yang tengah terseok-seok mendaki gunung ini. Di sisi kiri jalan banyak ditemui orang-orang yang berdiri sambil mengayunkan tangan ke atas-bawah ketika kendaraan lewat. Format dan gerakan tangan mirip gerakan meminta (maaf, mengemis). Jarak berdiri antara satu orang dengan orang yang lain relatih dekat. Mungkin tidak lebih dari 10 meter. Rata-rata usia meraka relatif tua, kira-kira sekitar 50 tahunan. Beberapa diantaranya tampak masih muda bahkan masih anak-anak. Saya sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan, mengemis atau memberi tanda kepada kendaraan untuk melambatkan kendaraannya? Atau berharap dapat recehan dari para pengemudi. Hampir semua dari meraka menyapa saya ketika saya berlalu di depan mereka. Semoga saja mereka aman dari bahaya dan terhindar dari bahaya tertabrak kendaraan yang lewat mengingat posisinya yang berbahaya.

Kondisi jalan dengan kanan-kiri jalan dipenuhi pohon pinus dan kopi

Kondisi jalan dengan kanan-kiri jalan dipenuhi pohon pinus dan kopi

Jalan terus menanjak. Semakin lelah saya mendorong sepeda. Saya berharap dan berdoa, semoga puncak tanjakan ini segera tercapai dan segera terlewati pula. Dengan susah payah sepeda terus saya dorong. Beban terasa semakin berat. Keringat semakin banyak mengucur dan otot-otot kaki mulai terasa pegal dan sakit. Tapi saya belum bisa beristirahat, puncak tanjakan ini belum tampak sama sekali. Saya akan beristirahat kalau sudah sampai puncak dari jalan ini. Sambil terus berdoa saya terus berusaha untuk terus maju. Sudah pasti di sini tidak ada cerita untuk balik badan dan kembali balik arah. Akhirnya setelah tikungan tajam, saya melihat deretan warung di sisi kanan jalan dengan bahu jalan yang lebar. Tampak beberapa orang duduk-duduk di depan deretan warung ini. Saya hanya berfikir, jangan-jangan ini puncak jalan di Gunung Gumitir ini. Akhirnya sepeda saya belokkan ke sisi kanan jalan. Kepada warga yang berada di situ saya tanyakan apakah ini puncak Gunung Gumitir. Mereka menjawab betul, di sinilah puncak Gunung Gumitir. Saya beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga yang terkuras ketika menuntun sepeda di jalan yang menanjak tadi. Nafas saya tarik dalam-dalam dan udara segar terasa memenuhi dada. Beberapa kali nafas panjang saya tarik dan badan terasa semakin segar. Saya juga sempat minta tolong seorang anak muda yang ada di situ untuk memotret saya dengan kamera saku yang saya bawa.

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s