Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 10-b)

Istirahat rasanya sudah cukup. Badan kembali terasa segar. Puncak Gunung Gumitir ini berupa celah (pass) batu yang sempit . Bentuknya mirip dengan pintu gerbang. Setelah melewati celah ini kembali sepeda saya gowes. Sekitar 100 meteran setelah gerbang jalan masih relatif datar. Setelah itu jalan menurun dengan tajam. Tanpa gowes sepeda meluncur dengan cepat. Dari speedometer kecepatan sepeda sudah hampir melewati angka 45 km/jam. Demi keamanan kecepatan saya tahan di kecepatan 40 km/jam. Terus sepeda melaju dengan kencang. Kebetulan juga tidak ada kendaraan yang searah dengan perjalanan saya. Sambil terus melaju dengan cepat, saya senandungkan lagu “Ode to Joy”. Ada rasa ringan, melayang, dan damai yang memenuhi dada. Rasa senang sungguh-sungguh terasa dan mengalir ke seluruh tubuh. Terimakasih Tuhan…

Gerbang di puncak Gunung Gumitir (Gumitir Pass)

Gerbang di puncak Gunung Gumitir (Gumitir Pass)

Saat meluncur turun saya sempat hampir menyusul 2-3 truk yang berjalan pelan menuruni jalan yang berkelok. Sulit juga berjalan pelan di belakang iring-iringan truk dengan kecepatan 10-15 km/jam dan saya dipaksa untuk jalan lambat. Apalagi di sini jalannya menurun tajam sekali. Saya tidak bisa menyalip di jalan yang sempit ini. Ada perasaan saya harus meluncur turun dengan kecepatan tinggi tanpa gowes untuk “balas dendam” setelah bersusah payah menuntun sepeda di jalan yang mendaki curam. Akhirnya saya biarkan truk-truk itu berlalu terlebih dahulu. Sepeda saya hentikan di pingir jalan. Sambil menunggu saya sempat buang air kecil dan minum air putih banyak-banyak. Kira-kira 10 menit kemudian kembali saya melanjutkan perjalanan. Sepeda meluncur dengan cepat sekali tanpa gowesan sedikitpun. Kecepatan saya pertahankan di kecepatan 40 km/jam. Di sepanjang jalan sempat dua-tiga kali berpapasan dengan pesepada yang sedang mendaki tanjakan. Hebatnya mereka tetap menggowes sepeda walaupun medannya menanjak tajam, tidak menuntun sepeda seperti yang saya lakukan. Selanjutnya saya melewati kawasan wisata Gunung Gumitir. Mungkin tempat ini semacam tempat makan dan taman bermain. Terus sepeda melaju dengan cepat. Akhirnya saya melewati gerbang Banyuwangi. Tidak jauh setelahnya ada patung penari Remo. Karena sedang melaju dengan kecepatan tinggi dalam suasana yang senang, saya tidak sempat berhenti di sini. Setelah jauh melewati patung ini, ada sedikit penyesalan karena saya tidak menyempatan diri untuk berhenti di tempat ini. Tapi sudahlah. Terus sepeda melaju dengan cepat. Ketika sampai daerah pemukiman warga, saya tengok puncak Gunung Gumitir dan puncaknya berada hampir membentuk sudut 90 derajat dari posisi saya berada. Artinya turunan yang baru saya lalaui adalah turunan yang sangat curam. Pantas saja dari puncak sampai daerah pemukiman saya tempuh dengan waktu yang sangat singkat. Sedangkan dari pom bensin Sempolan sampai puncak Gumitir memerlukan waktu 2.5 jam untuk jarak kurang lebih 20 km.

Sepeda terus saya kayuh dengan cepat. Adrenalin masih mengalir dengan deras. Saya secepatnya harus segera menyeberang ke P. Bali. Menurut perhitungan saya, jarak Pelabuhan Gilimanuk – Denpasar 140 km. Kalau agak ngotot sedikit, jarak ini dapat saya selesaikan dalam satu hari. Artinya kalau pagi-pagi saya berangkat dari Pelabuhan Gilimanuk sore harinya saya sudah sampai Denpasar. Tapi yang jadi masalah adalah ketika sore saya sampai di Denpasar saya harus bermalam lagi. Repot lagi untuk cari tempat bermalam. Apalagi Bali adalah tujuan wisata maka Denpasarpun akan ramai dengan pendatang dari banyak daerah bahkan banyak negara. Jadi menurut perkiraan saya tidak mudah cari tempat untuk bermalam. Kalaupun harus cari penginapan tentu harganya juga tidak murah. Dan yang pasti saya harus mengeluarkan pengeluaran extra untuk bermalam. Rasanya lebih enak sore itu juga pulang ke Jakarta dengan bus.

Berdasarkan pemikiran di atas, saya harus cepat-cepat menyeberang ke P. Bali. Selanjutnya saya harus mengurangi jarak 140 km Gilimanuk-Denpasar untuk memperpendek jarak tempuh hari berikutnya. Dengan demikian saya berharap saya sudah tiba di Denpasar sebelum sore hari. Selanjutnya sore itu juga saya pulang ke Jakarta. Demi mengejar target waktu ini, mulai turun dari G. Gumitir saya konsentrasi penuh pada gowesan dan pandangan 2-3 meter di depan roda sepeda. Speedometer menunjukkan angka 30 km/jam. Saya hampir tidak memperhatikan kanan kiri jalan lagi. Tidak banyak daerah yang saya kenali atau ingat di sini. Yang pasti saya ingat, saya melewati daerah Kalibaru dengan jalan yang masih relatif menurun. Lanjut terus masuk daerah Genteng. Di Genteng saya sempat beristirahat sejenak untuk membeli air putih dan Pocari Sweat. Udara di daerah Genteng ini terasa sangat panas. Untuk mendinginkan badan, bandana, lap leher, kaos tangan, dan kaos kaki saya basahi dengan air dingin di sebuah pom bensin. Cara ini cukup membantu melawan udara panas. Dengan badan sedikit dingin, gowes sepeda lebih terasa nyaman dan sepedapun dibisa digowes dengan optimum. Sepeda melaju cepat dan tanpa terasa Rogojampi terlewati.

Semakin siang udara semakin panas. Tidak ada mendung sedikitpun yang bisa menghalangi sedikit terik matahari. Sepeda masih dengan cepat tinggi saya kayuh. Saya sudah tidak mau menengok kanan kiri lagi supaya tidak mengganggu konsentrasi. Hampir saya tidak ingat apa-apa di jalur Rogojampi hingga pinggiran kota Banyuwangi. Dengan bersusah payah akhirnya tampak juga Kota Banyuwangi. Kota Banyuwangi bukan kota yang mudah untuk dilalui. Tidak banyak penunjuk arah jalan, sementara itu arus lalulintas banyak di belokkan ke jalan-jalan yang lebih kecil. Beberapa kali saya harus bertanya kepada warga yang berada di pinggir jalan arah menuju Pelabuhan Ketapang. Di suatu titik di tengah kota saya sempat melihat plang besar bertuliskan Pelabuhan Ketapang – 17 Km. Wah, masih jauh pikir saya. Terus saya susuri jalan Kota Banyuwangi yang sangat padat. Ketika sampai di jalan yang tidak terlalu padat baru tampak petunjuk arah Pelabuhan Ketapang.

Ada perasaan aman dan lega ketika sampai di sini. Tidak jauh dari sini ada gerobak pinggir jalan yang menjual makanan. Tampaknya di sini tempat berkumpulnya angkot berwarna kuning yang sedang istirahat. Beberapa pengemudinya sedang duduk sambil makan siang. Tidak ada salahnya istirahat dan makan siang sebelum menyelesaikan jarang kurang lebih 15 km menuju Pelabuhan Ketapang. Saya ambil satu bungkus nasi isi daging dan ditambah 3 tahu goreng. Tak lupa saya pesan kopi hitam instan. Dengan santai saya menyelesaikan makan siang. Sekali-kali tengok kanan kiri memperhatikan pengemudi yang sedang mengobrol. Makan siang sudah selesai kini, saatnya menghabiskan kopi yang masih panas. Salah seorang pengemudi bertanya: “Mau ke mana, Pak?”. Saya jawab saya mau ke P. Bali via Pelabuhan Ketapang. Dengan santai ia mengatakan kalau Pelabuhan Ketapang sudah dekat, tidak lebih jauh dari 7 km dari tempat ini. Glek… Bukan tadi, tidak jauh dari sini ada plang bertuliskan Pelabuhan Ketapang – 17 km? Tidak mungkin saya salah baca. Wah, bener nich!?. Cepat-cepat kopi saya habiskan. Setelah membayar menu makan siang, segera sepeda saya gowes ke arah Pelabuhan Ketapang.

Gerobak warung makan pinggir jalan di Banyuwangi

Gerobak warung makan pinggir jalan di Banyuwangi

Jalan raya menuju Pelabuhan Ketapang tidak seramai dalam Kota Banyuwangi. Tapi saya tetap harus waspada sambil sesekali menengok ke kanan untuk menemukan Pelabuhan Ketapang. Kira-kira 15 menit bersepeda saya menemukan semacam jalan ke arah kanan dengan plang kecil bertuliskan kecil Pelabuhan Ketapang. Dari depan tampak kapal, tapi bentuk tidak seperti kapal ferry. Di depan kapal tampak beberapa truk besar. Karena ragu saya tanyakan kepada petugas security yang berjaga di mulut jalan. Dari beliau saya mendapatkan informasi kalau saya bisa menyeberang ke P. Bali lewat dermaga ini. Sepeda saya belokkan ke arah pelabuhan. Beberapa puluh meter dari jalan ada loket penjual tiket kapal. Bentuknya mirip dengan loket parkir di Jakarta. Saya tanyakan harga tiket ke Pelabuhan Gilimanuk. Petugas mengatakan kalau harga tiketnya Rp 8000. Wah tidak salah nich? Ini saya penumpang kapal dengan membawa sepeda loh. Kok murah sekali, apakah tidak salah harga? Petugas menjawab tidak salah harga, harga tiketnya memang Rp 8000. Harga ini adalah harga sepeda plus pengendaranya. Petugas sempat bertanya, saya bersepeda dari mana, terus mau ke mana dan seterusnya. Ketika saya menjawab kalau saya bersepeda dari Jakarta tampak sekali wajah herannya. Sebelum berlalu ia sempat berpesan agar saya berhati-hati di jalan. Terimakasih Pak….

Akhir sampai juga saya di bibir paling timur Pulau Jawa. Sejenak saya ambil foto didepan sebuah kapal sebagai kenang-kenangan. Ternyata pintu kapal tersebut akan segera ditutup. Buru-buru saya serahkan tiket kapal dan saya masuk kapal. Saya adalah penumpang terakhir dari kapal ini. Sepeda saya parkirkan berjajar dengan beberapa sepeda motor. Di depan jejeran sepeda tampak truk-truk besar. Tidak lama kemudian kapal mulai bergerak. Perlahan saya perhatikan kapal bergerak meninggalkan pantai. Dan ternyata kapal tidak bersandar di dermaga, tapi langsung bersandar di pantai. Saya juga baru tahu kalau dermaga kapal ferry ada di sisi kanan ketika saya menghadap arah pantai. Jaraknya kira-kira 100-200 meter dari dermaga yang saya lalui tadi. Belakangan hari saya baru tahu kalau jenis kapal yang saya naik ini jenis LCT (Landing Craft Tank). Kapal yang biasa untuk mengangkut kendaraan tanpa perlu darmaga. Kapal cukup merapat ke pantai, kemudian membuka pintu kapal yang sekaligus dijadikan jembatan. Dengan jumbatan ini kendaranya mendarat di pantai.

Menjelang naik kapal LCT Adinda tujuan Pelabuhan Gilimanuk, Bali

Menjelang naik kapal LCT Adinda tujuan Pelabuhan Gilimanuk, Bali

Ada beribu perasaan bergejolak di hati. Saya perhatikan speedo meter di sepeda, waktu menunjukkan angka 11:30 WIB, Odometer menunjukkan angka 1187 km, dan last distance 94.27 km. Artinya saya sudah bersepeda hari rumah hingga titik ini sejauh 1187 km. Jarak dari tempat saya menginap semalam (Pom Bensin Sempolan) sampai titik berjarak 94.29 km. Ya, saya sudah menggowes sejauh 1178 km. Sudah 10 hari saya meninggalkan rumah. Saya jadi ingat malaikat-malaikat cantik yang ada di rumah. Sudah lama sekali saya meninggalkan mereka. Rasanya kangen sekali dan ingin cepat-cepat pulang. Tak terasa ada air yang menetes dari sudut mata.

Posisi odometer ketika berada di atas kapal penyeberangan Ketapang - Gilimanuk

Posisi odometer ketika berada di atas kapal penyeberangan Ketapang – Gilimanuk

Kapal terus melaju semakin jauh meninggalkan Pulau Jawa. Untuk mengisi kekosongan waktu saya mengobrol dengan beberapa pengemudi truk yang berteduh di bawah kendaraannya. Ternyata beberapa truk ini adalah rombongan truk yang sedang melakukan perjalanan dari Jember menuju Pulau Sumba. Truk-truk ini akan sampai tujuan dalam 4-5 hari lagi. Wah, jauh dan lama sekali. Sambil terus mengobrol kapal juga terus melaju. Tanpa terasa, setelah 1 jam berlayar kapal mulai merapat di pantai Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Masuk P. Bali berarti masuk wilayah waktu yang berbeda dengan waktu di P. Jawa. P. Bali masuk wilayah waktu Indonesia Tengah. Satu jam lebih cepat dibandingkan dengan wilayah P. Jawa yang masuk wilayah waktu Indonesia Barat. Kapal berlayar selama 1 jam. Menurut waktu Indonesia Barat sekarang pukul 12:30, tapi di P. Bali waktu sudah menunjukkan waktu pukul 13:30. Berarti saya rugi waktu satu jam.

Sepeda parkir bersama dengan beberapa sepeda motor lainnya di atas kapal

Sepeda parkir bersama dengan beberapa sepeda motor lainnya di atas kapal

Keluar kapal tidak perlu antri. Begitu pula keluar area pelabuhan, tidak ada pengecekan apapun. Masuk P. Bali udara terasa sangat panas dan kering. Sepeda saya kayuh menyusuri jalan keluar pelabuhan. Permukaan jalan kering dan tidak terlalu bagus. Jalan mulai mulus setelah melewati pertigaan jalur utara dan jalur selatan P. Bali. Di pertigaan ini kalau belok ke arah kiri adalah jalur utara P. Bali, sedangkan yang lurus adalah arah jalur selatan P. Bali. Saya ambil jalur yang lurus, jalur selatan P. Bali. Selepas pertigaan ini adalah wilayah Taman Nasional Bali Barat. Kondisi jalan di sisi sangat baik. Permukaan jalan berasapal hotmix yang sangat halus. Tanda marka jalan di buat sangat jelas. Di sisi kiri jalan dibuat bahu jalan selebar kurang lebih satu meter dengan dibatasi dengan marka jalan garis lurus tanpa putus. Ketika masuk wilayah ini udara terasa berubah, terasa segar dan sangat sejuk.

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s