Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 10-c)

Untuk mengejar waktu, sepeda saya gowes dengan cepat. Karena permukaan jalan yang sangat halus kecepatan 30 km/jam sangat mudah didapat. Roda sepeda berputar dengan ringan sekali. Untuk mempercepat laju sepeda, saya menunduk kepala dan hanya memperhatikan jalan 1-2 meter di depan roda sepeda. Saya ikuti terus garis lurus marka jalan. Cara ini menurut saya aman, karena saya masih berada satu meter dari pinggir jalan yang tidak beraspal dan jalur kendaraan di sisi kanan masih bisa menampung 3 kendaraan kecil. Tapi sebenarnya cara ini tidak 100% aman. Di daerah Negara, saya hampir tertabrak sepeda motor. Saya melaju dengan menunduk dan ternyata ada sepeda motor yang melawan arus. Saya sempat kaget karena sepeda motor sudah 20 meteran di depan saya. Sepeda sedikit saya belokkan ke kanan, dan motor masih bisa lewat di bahu jalan dengan aman dan saya terhindar dari bahaya tabrakan. Terimakasih Tuhan…

Masih di daerah Negara saya sempat melihat dua sepeda yang dilengkapi dengan tas pannier hitam. Salah satu pengendaranya adalah cewek bule. Yang satu lagi saya tidak melihatnya. Mungkin sedang belanja atau ke toilet. Kebetulan saya melihat kedua sepeda ini sedang diparkirkan di depan sebuah pasar kecil. Memang sebuah kenikmatan tersendiri bisa berkeliling P. Bali dengan sepeda. Apalagi suasana P. Bali sangat berbeda dengan suasana negara mereka atau suasana daerah laindi Indonesia.

Sepeda terus saya gowes dengan cepat. Saya berdoa semoga hujan tidak turun. Di depan tampak mendung tebal dan hitam. Tidak lebih dari 5 menit kemudian hujan mulai turun dan semakin deras. Mungkin Tuhan sudah mengaturnya. Tepat saat hujan turun saya sampai di sebuah pom bensin. Cepat-sepat sepeda belokkan di pom bensin ini. Di sisi belakang pom bensin terdapat bangun dengan dinding setinggi 1 meter. Bangunan ini dijadikan semacam “food court”. Ada 2-3 stand/warung di sini. Sambil menunggu hujan reda, saya pesan Pop Mie rebus dan kopi. Lumayan untuk menambah tenaga. Di luar hujan semakin deras dan belum menunjukan tanda-tanda untuk berhenti ketika mie instant dan kopi habis masuk perut. Dalam benak saya, kalau dalam 30 menit hujan tidak berhenti, saya akan nekat menerobos hujan. Saya pesan satu gelas kopi lagi untuk iseng dan melawan rasa kantuk. Tapi rasa kantuk itu sulit dilawan. Mata terasa berat dan sulit dibuka, mungkin saya sudah terlalu lelah. Tanpa terasa saya tertidur sambil duduk. Kira-kira 40 menit kemudian saya terbangun dan hujan mulai reda. Terimakasih Tuhan hujan berhenti dan saya melanjutkan perjalanan

Kembali saya susuri jalan raya Gilimanuk-Denpasar ini. Jalan masih basah dan ada banyak genangan kecil di tengah jalan. Belum juga menggowes 15 menit, kembali hujan turun dengan deras. Wah, bisa gawat kalau cuacanya begini. Waktu semakin banyak yang terbuang percuma. Dengan terpaksa saya minggir dan berteduh di sebuah bengkel sepeda motor yang tutup. Ada beberapa penggendara sepeda motor yang berteduh di sini. Salah seorang dari mereka mengajak ngobrol. Bapak ini ternyata punya saudara yang berdagang garmen di Pasar Tanahabang, Jakarta. Beliau sering ke Jakarta mengunjungi saudaranya ini. Biasanya ia berangkat ke Surabaya dengan bus, baru dari Surabaya ke Jakarta menggunakan angkutan kereta api. Pernah juga dia ke Jakarta dengan menggunakan bus. Bus barangkat dari Terminal Ubung, Bali dan akan sampai ke Terminal Pulogadung dalam 24 jam. Wah cepat juga. Dan yang pasti buat saya, ada bus langsung dari Bali ke Jakarta.

Kira-kira 20 menit kemudian hujan reda. Semua orang yang berteduh di bengkel ini mulai bergerak untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Sepeda mulai saya gowes lagi. Dalam hati saya berdoa semoga Tuhan memberikan cuaca yang lebih bersahabat dan hujan di pindahkan ke tempat lain untuk warga yang lebih membutuhkan. Jalan basah, relatif masih banyak genangan di jalan. Saya harus lebih berhati-hati melaju. Permukaan jalan yang halus dan basah relatih lebih licin. Saya berharap roda sepeda masih baik untuk mencengkeram permukaan jalan.

Tiba-tiba hujan turun lagi. Wadeuh … Tapi kali ini tidak sederas sebelumnya. Dengan terpaksa saya berhenti lagi. Tapi kali ini saya harus membongkar tas untuk mengambil jas hujan. Saya tidak mau terganggu lagi dengan hujan. Jas hujan yang berbentuk baju dan celana panjang saya kenakan. Dengan berjas hujan kembali saya membelah hujan gerimis. Lumayan, badan tidak jadi basah. Untuk barang-barang di dalam tas relatif aman dari air. Tas pannier yang saya gunakan terbuat dari bahan yang tidak tembus air (waterproof). Tapi semakin lama-lama badan terasa semakin panas. Uap air tidak bisa keluar dan terjebak di dalam jas hujan. Lama-kelamaan badan semakin panas dan terasa tidak nyaman. Beruntung, hujan mulai reda. Akhirnya jas hujan saya lepaskan.

Sepeda terus saya kayuh dengan cepat. Saya masih ingin mengurang sebanyak mungkin jatah gowes untuk esok hari. Jalan masih relatif halus, namun di sejumlah titik jalan dijumpai tanda lalu lintas yang bergambar bra pertanda jalan yang naik turun. Memang tanjakannya tidak seekstrim jalur Wonogiri-Ponorogo, tapi cukup melelahkan juga untuk mengatasinya. Waktu sudah menunjukan waktu pukul 18:00. Untuk membah tenaga, di kawasan Pulukan saya berhenti di sebuah warung pinggir jalan. Saya langsung habiskan 600 ml Pocari Sweat tanpa sisa sama sekali. Semantara itu, 1.5 lt Aqua saya dijadikan bekal tambahan air minum. Ibu pemilik warung sempat mengingatkan, jalan masih relatih baik hingga menjelang daerah Tabanan. Di daerah Tabanan ada jalan yang relatif buruk dan masih dalam proses perbaikan. Saya diminta untuk berhati-hati. Ibu ini juga bilang kalau dengan bus, Kota Denpasar bisa dicapai dalam waktu 1 jam perjalanan. Terimaksih Ibu.

Hari semakin sore. Di arah depan cuaca mendung tebal menggantung. Tuhan, semoga tidak turun hujan. Masih dengan semangat tinggi sepeda saya gowes secepatnya. Sempat saya bertemu dengan pelangi yang besar sekali. Sungguh indah pelangi ini. Kaki pelangi menyentuh area persawahan di sisi depan sebelah kiri dari arah saya datang. Saya sempat berhenti untuk memperhatikan pelangi ini, jangan-jangan ada bidadari yang sedang naik atau turun ke sawah di ujung kaki pelangi. Tapi bidadari itu tidak ada. Ha ha ha ha haaa… Tapi jujur saja, pelangi ini besar dan indah sekali. Warnanya sungguh terang dan kontras dengan latar mendung hitam gelap. Seumur hidup saya, baru pertama kali ini saya melihat pelangi sebesar dan seindah ini. Sungguh, ciptaan Tuhan yang luar biasa.

Hari semakin gelap. Tiba saat untuk cari tempat menginap. Semoga segera bertemu dengan pom bensin. Dan semoga Tuhan segera memberikan tempat untuk bermalam yang aman dan nyaman. Sambil melaju saya perhatikan kalau-kalau ada pom bensin. Kira-kira pukul 18:45 saya menemukan pom bensin di kawasan Panelokan. Komplek bensin yang berada di sisi kanan jalan ini dan dikelilingi dengan sawah yang luas. Di depan sisi kiri pom bensin terdapat rumah makan yang juga dikeliling dengan sawah yang luas pula. Tidak ada pilihan lain, saya harus menginap di sini. Kepada petugas yang berjaga saya minta izin untuk menginap. Memang tidak ada tempat yang layak untuk menginap. Saya katakan katakan kepada petugas ini saya akan tidur di teras samping kantor pom bensin. Dalam hati saya berdoa, semoga Tuhan tidak menurunkan hujan di sini pada malam nanti karena mendung masih tebal menggelayut. Kalau hujan turun, pasti saya tidak bisa tidur sama sekali. Area yang akan saya jadikan tempat untuk menginap akan basah tesiram hujan. Petugas mempersilahkan saya untuk menginap di tempat ini.

Pom Bensin 54.822.09 Panelokan, Bali

Pom Bensin 54.822.09 Panelokan, Bali

Sepeda segera saya parkirkan dan saya kunci. Untuk menghemat waktu, saya segera mencari makan malam. Tampaknya tidak ada tempat makan yang lain selain rumah makan yang ada di seberang pom bensin. Mau tidak mau harus makan di sana. Di rumah makan ini hanya menjual menu ayam bakar, ayam muda bakar. Ukurannya tidak besar, kira-kira pas untuk makan dua orang dewasa. Parahnya lagi, ayam dijual per ekor. Saya tidak bisa memesan setengah saja. Dengan terpaksa saya pesan satu ekor ayam muda bakar, nasi dan segelas teh manis. Berhubung hari sudah malam, saya secepatnya menghabiskan makan malam ini. Secepatnya, setelah selesai makan saya bayar menu makan malam ini. Untuk ukuran kantong saya cukup dalam untuk merogoh kantong. Mahal! Saya harus mengeluarkan uang Rp 25,000 untuk makan malam. Tapi sudahlah, itu resiko perjalanan.

Kembali saya ke pom bensin. Pom bensin ini relatif ramai, hampir setiap saat ada bus yang datang untuk mengisi bahan bakar. Hampir pasti, setiap bus yang mengisi bahan bakar, penumpangnya turun untuk ke toilet. Relatif lama saya menunggu untuk bisa mandi. Ketika agak sepi dari penumbang bus, saya masuk kamar mandi untuk mandi dan membersihkan badan. Badan sudah terasa kotor sekali. Belum juga di dalam kamar mandi 5 menit, pintu kamar mandi sudah digedor-gedor oleh rombongan ibu-ibu. Dengan logat Jawa Timur yang kental, salah seorang ibu berteriak: “Jangan pakai mandi, ini banyak orang yang kebelet kencing”. Di dalam kamar mandi saya tidak bisa berbuat apa-apa, kebetulan saya belum selesai mandi. Saya hanya senyum-senyum sendiri.

Pemandangan sawah di sisi kanan pom bensin Panelokan, Bali

Pemandangan sawah di sisi kanan pom bensin Panelokan, Bali

Selesai mandi, perlengkapan tidur saya keluarkan. Semua pakai basah saya jemur di atas sepeda untuk menutupi sepeda. Pannier dan sepeda saya kunci semua. Barang berharga saya masukkan ke dalam tas pinggang dan saya ikatkan di pinggang. Karpet tidur saya gelar dan saya mulai menulis catatan perjalanan untuk hari ini. Kira-kira 40 menit kemudian catatan sudah selesai. Kini saat untuk istirahat dan tidur. Sebelum tidur, tidak lupa berdoa, doa malam. Terimakasih Tuhan untuk semua yang telah Kau berikan. Berkati orang-orang yang saya cintai, juga bapak dan ibu saya, dan semua orang yang sudah saya temui hari ini. Saat saya rebahkan badan dan saya lihat langit. Mendung tampak tebal dan gelap sekali rupanya. Tuhan, kumohon jangan Kau turunkan hujan di sini untuk malam ini…

Bersama ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Sarapan nasi pecel + kopi hitam 8,000
Pocari Sweat (Rp 5,900) + Aqua 1.5 l (Rp 3,550) 9,550
Nasi bungkus daging + 3 tahu goreng + kopi hitam instant 6,500
Tiket kapal Ketapang – Gilimanuk 8,000
Pop mie (Rp 5,000) + 2 kopi hitam instant (Rp 4, 000) 9,000
Pocari Sweat (Rp 6,000) + Aqua 1.5 l (Rp 5,000) 11,000
Makan malam ayam bakar + teh manis 25,000
Toilet 5,000
Total : 45,550

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time) 7:58:04
DST (Trip Distance in km) 147.24
AV (Everage Speed in km/hr) 18.4
MX (Maximum Speed in km/hr) 44.7
CAL (Calorie Consumption in kcal) 2120
CO2 (Carbon Offset in kg) 22.08
ODO (Total Distance in km) 1240

Serpong, 12 Feb 2015

9 Responses to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 10-c)

  1. warm says:

    ditunggu kelanjutan ceritanya, mas hehe

  2. aaa says:

    seru…!! ditunggu cerita sambungannya mas…🙂

  3. Gilang says:

    sore pak, Cateye Velo 9nya Awet sekali ya, Kalau Boleh Tahu pakai baterai merek apa? punya saya baru 4 Bulan sudah minta Ganti baterai itupun setelah di ganti tidak pernah bisa tahan lama paling lama 1 bulan.

    trimksh pak jawabanya,
    semoga perjalananya lancar

    • Rudi K says:

      Selamat sore juga.
      Saya tidak ingat pasti merekanya. Sejak beli sampai sekarang (mungkin 2.5 thn) belum pernah diganti.

      Trims…🙂

  4. Rudi K says:

    sipp ….

  5. Sufimatre says:

    Mana lanjutannya.. mana??? Gak sabar🙂

  6. baron says:

    petualangan hebat, tdk tahu kapan saya bisa bersepeda jarak jauh seperti bpk. ditunggu lanjutan ceritanya…

  7. bersapedahan says:

    wah seru banget perjalanannya
    orang2 yang kebelet emang galak2

    bisa2 gowesnya lanjut terus nih …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s