Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 11-a)

Alarm di handphone saya set untuk berbunyi pukul 3:30. System jam di handphone tidak saya rubah ke waktu Indonesia Tengah, saya tetap menggunakan setting waktu Indonesia Barat. Jadi alarm akan berbunyi tepat pukul 4:30. Ketika bangun ternyata suasananya masih gelap gulita. Tidak jauh dari tempat saya tidur (dalam jarak 2-3 m) ada seseorang yang sedang tidur pulas. Tampaknya bapak ini warga di sekitar sini karena dia tidak membawa barang apa-apa. Atau mungkin juga bapak ini tidak punya tempat tinggal tetap (homeless). Semalam secara samar terdengar suara orang berjalan di bebatuan persis di samping samping tempat saya tidur. Semalam tidurpun tidak nyenyak. Entah pukul berapa, ada mobil yang diparkirkan beberapa meter dari tempat saya tidur dengan mesin menyala. Secara berkala suara mesin bertambah keras ketika kompresor AC menyala. Suara keras ini cukup mengganggu tidur dan rasanya mobil ini lama sekali ada di tempat ini. Ketika bangun tidur pagi ini, mobil tersebut sudah tidak ada. Mungkin pengendara mobil ini juga pengembara jarak jauh seperti saya. Berhenti di sini hanya untuk istirahat tidur sebentar.

Teras tempat tidur semalam dan di sisi kiri foto adalah alas tidur orang lain.

Teras tempat tidur semalam dan di sisi kiri foto adalah alas tidur orang lain.

Bangun pagi hari ini, Selasa, 13 Mei 2014 tidak lupa berdoa. Syukur saya haturkan kepadaNya karena semalam hujan tidak turun sama sekali, walau kemarin sore sempat hujan dan mendung gelap. Rupanya doa saya didengarkanNya. Kalau semalam hujan sudah pasti saya tidak bisa tidur sama sekali. Tampat saya tidur pasti basah karena tersiram air hujan. Di tempat ini tidak ada tempat teduh untuk tidur. Juga saya berdoa untuk perjalanan hari ini. Semoga semuanya berjalan lancar tanpa halangan. Tak lupa saya juga berdoa untuk orang-orang yang saya kasihi dan juga untuk pom bensin ini beserta karyawannya. Selesai berdoa segera saya menyelesaikan urusan kamar mandi dan berbenah. Semua perlengkapan perjalanan saya aktifkan. Kaos tangan dan helm juga sudah saya pakai. Setelah berpamitan dengan penjaga pom bensin (SPBU 54.82209) sepeda saya tuntun keluar pom bensin. Sepeda mulai saya gowes ke arah kanan dari pom bensin menuju arah Denpasar.

Kondisi jalan masih gelap gulita. Agak sulit juga berjalan dalam gelap seperti ini. Lampu sepeda juga tidak terlalu membantu karena hanya menerangi jarak 2 meter di depan. Tapi cukup untuk menerangi jalan agar saya tidak keluar dari badan jalan. Cukup beruntung juga kadang-kadang ada kendaran besar yang lewat. Cahaya lampunya lumayan membantu menerangi jalan yang akan saya lewati. Dalam kondisi gelap, sepeda terus saya gowes dengan cepat. Saya tidak ingin kehabisan waktu. Target saya hari ini sebelum pukul 12:00 saya sudah harus sampai di Denpasar. Sebisa mungkin sore hari saya sudah bisa naik bis untuk pulang ke Jakarta. Saya merasa tidak perlu untuk jalan-jalan atau piknik dengan mengambil waktu eksta di Bali sebelum pulang. Semakin lama di Bali berarti saya semakin dalam saya harus merogoh kantong sementara isi kantong semakin tipis. Belum lagi cuti kerja yang sangat terbatas dan hampir habis. Saat ini saya merasa target utama perjalanan ini ada bersepeda Jakarta – Bali sudah saya selesaikan. Juga target-target spirtualitas perjalanan sudah saya raih. Jadi lebih baik sore hari ini juga pulang ke Jakarta. Semakin cepat saya sampai di rumah semakin banyak waktu untuk istirahat sebelum masuk kerja lagi. Sebisa mungkin hari ini saya melakukan finis saya di Pantai Sanur. Pantai Sanur menurut saya adalah ujung paling timur Pulau Bali yang bisa saya raih. Kalau sudah finis di sini berarti semua ‘paket’ perjalanan ini sudah selesai.

Setelah bersepeda kira-kira 20 km saya menemukan warung Nasi Arema. Tampaknya warung ini buka 24 jam. Ada beberapa truk yang diparkirkan di sekitar warung nasi ini. Tapi para pengemudi dan kernet tidak tampak di dalam warung. Mungkin mereka parkir di sini untuk istirahat tidur. Mumpung masih pagi dan ada warung nasi yang buka, sepeda saya belokkan ke warung ini yang terletak di sisi kanan jalan. Lebih baik saya sarapan dulu untuk mengisi energi. Kalau perut sudah kenyang saya bisa lebih fokus mengejar waktu untuk cepat sampai di Denpasar. Untuk sarapan saya pesan nasi, sayur, dengan lauk ikan laut (di belakang hari saya baru sadar kalau ini ikan peda). Mungkin hari masih pagi sehingga pilihan menu di warung ini belum tersedia banyak pilihan. Untuk menghangatkan badan saya pesan teh panas. Segera saya makan cepat-cepat. Setelah makan sambil beristirahat saya pesan kopi hitam. Demi mengejar waktu, kira-kira 30 menit kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan.

Hari masih gelap walau cakrawala mulai tampak mulai terang. Sepeda terus saya gowes dengan cepat. Permukaan jalan yang mulus cukup membantu untuk berjalan cepat. Di beberapa tempat masih ditemui jalan yang naik turun. Kalau kemarin saya banyak menemui rambu lalu lintas dengan gambar bra dengan jalan naik turun tajam. Hari ini jalan naik turun tidak terlalu tajam. Kalau boleh saya mengatakan kemarin lambang lalu lintas jalan naik turun itu adalah bra ukuran ekstra, hari ukuran biasa saja. Secara nyata jalan naik turun ini juga masih cukup menguras tenaga dan melelahkan. Jalan naik turun ini terus dapat dijumpai hingga kawasan Soka. Jalur jalan dari Pelabuhan Gilimanuk hingga kawasan Soka bisa dikatakan menyusuri pantai selatan P. Bali. Banyak titik badan jalan bersentuhan dengan pantai. Baru mulai Soka menuju Tabanan jalan mulai menjauh kawasan pantai mengarah ke utara P. Bali.

Kantor bank BRI tepat di depan minimarket Indomaret di kawasan Banjera, Bali

Kantor bank BRI tepat di depan minimarket Indomaret di kawasan Banjera, Bali

Sudut lain kawasan Banjera dengan latar adalah jalan ke arah Gilimanuk, Bali

Sudut lain kawasan Banjera dengan latar adalah jalan ke arah Gilimanuk, Bali

Mungkin kekuatan fisik saya semakin menurun. Badan cepat terasa lelah. Di beberapa titik sepeda saya tuntun ketika melewati jalan menanjak. Di kawasan Banjera saya sempat mampir di sebuah minimarket Indomaret untuk beristirahat dan membeli minuman Pocari Sweat dan air Aqua. Jalur Soka – Tabanan ini masih memiliki banyak jalan yang naik/turun, tapi tidak sebanyak dan separah jalur Pulukan – Soka. Saya lebih banyak berhenti untuk istirahat hari ini. Di kawasan yang rimbun dan jalan menanjak tepatnya di patok KM DPS 23 saya berhenti untuk istirahat (lagi) dan menghabiskan sisa Pocari Sweat. Setelah beberapa menit istirahat sepeda saya tuntun sampai di puncak tanjakan. Tepat di puncak tanjakan ini ada pertigaan besar dan di tengah pertigaan ada sebuah tugu besar. Tugu ini khas sekali bentuk dan rupanya dengan gaya Bali tentunya. Kembali saya istirahat lagi di sini. Saya duduk di sebuah batu di bawah pohon persis di sisi kanan pos penjagaan polisi. Beberapa kali tugu saya foto untuk kenang-kenangan.

Patok KM 23 DPS jalur Denpasar - Gilimanuk, Bali

Patok KM 23 DPS jalur Denpasar – Gilimanuk, Bali

Tugu bundaran terminal Pesiapan Tabanan, Bali

Tugu bundaran terminal Pesiapan Tabanan, Bali

Kira-kira 10 menit kemudian saya melanjutkan perjalanan. Mulai dari tugu ini suasana jalan jauh lebih ramai dibandingan sebelum tugu. Jumlah kendaraan relatif lebih banyak dan lalu lintas sangat ramai. Kendaraan roda dua juga tidak kalah banyaknya. Badan jalanpun jauh lebih lebar. Suasana ramai ini meningkatkan semangat, semangat untuk menggowes lebih cepat. Rasanya banyak teman seperjalanan dan rasa bersaing dengan sepeda motor mulai muncul. Rasa lelah dan bosan mulai sedikit pudar dan sepedapun saya pacu secepat saya mampu.

 

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s