Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 11-b)

Rasanya saya sudah mulai masuk kota Denpasar. Suasana jalan, rumah, dan pertokoan semakin padat. Tadi sempat melewati rumah sakit milik pemda. Kanan kiri jalan juga banyak ditemui pertokoan dan perkantoran. Perempatan jalan yang besar semakin banyak ditemui dan tentu dengan lalulintas yang sangat padat. Dengan kondisi ini memaksa saya untuk sering bertanya dengan orang-orang di jalan agar tidak salah jalan dan tersesat. Sebisa mungkin saya tidak salah jalan dan segera sampai di termainal bus Ubung, Denpasar. Sekali lagi, sebisa mungkin sore ini saya mendapatkan bus untuk pulang ke Jakarta. Dengan hati-hati sepeda saya gowes menyusuri jalan-jalan kota Denpasar. Kira-kira pukul 9:50 saya sampai di terminal bus Ubung, Denpasar. Wah rasanya lega sekali. Target selanjutnya adalah mencari tiket pulang ke Jakarta, baru kemudian lanjut lagi gowes ke Pantai Sanur. Setelah finish di Pantai Sanur kembali ke terminal bus Ubung dan kembali pulang ke Jakarta. Sepeda saya belokkan ke kanan jalan menyeberangi jalan raya. Persis di depan pintu masuk terminal ada penjual buah kupas. Rasanya sudah lama tidak makan buah. Saya berhenti sejenak untuk membeli dan makan beberapa potong buah segar. Enak juga buah potong ini. Saya makan beberapa potong melon, nanas, dan pepaya. Setelah membayar Rp 5,000 untuk buah yang saya makan, sepeda saya gowes masuk terminal.

Saya masuk lewat pintu utama bus. Masuk lurus terus tapi loket penjualan tiket bus tidak tampak sama sekali. Sampai di ujung jalan sepeda saya belokkan ke arah kiri. Tapi loket bus juga tetap tidak tampak. Sampai di ujung jalan kembali sepeda saya belokkan ke arah kiri (ke arah luar terminal). Tidak jauh dari sini baru tampak loket bus berjajar. Loket berbagai perusahaan bus dan berbagai tujuan tampak berjejer rapi. Di semua loket tampak penjual tiket duduk siap melayani calon penumpang. Ketika saya lewat, dari dalam loket mereka mulai berteriak menawarkan tiket yang mereka jual. “Mas, mau ke mana?”. “Mas ke Yojya, Bandung, atau Jakarta !?”. “Mas, pakai bus saya saja!?”. Begitulah mereka menawarkan jasa tiket bus. Saya terus maju untuk mencari loket bus Kramatjati. Dan ternyata loket tersebut tutup. Ketika ada orang di sekitar bertanya saya mau pakai bus apa dan saya saya jawab saya mau ke Jakarta dengan bus Kramatjati semua orang yang tadi menawarkan tiket berhenti menawarkan tiket. Seseorang di depan loket bus Kramatjati mengaku sebagai petugas loket yang tertutup ini. Wah, jangan-jangan calo pikir saya. Ternyata petugas ini tidak bisa masuk ke dalam loket karena loketnya dikunci oleh temannya dan sang teman saat ini belum datang. Kepada petugas ini saya katakan saya pesan satu tiket ke Jakarta untuk sore ini. Petugas loket yang bernama Yanto ini mengatakan kalau tiket bus untuk sore hari ini sudah habis terjual. Ada rombongan yang berangkat ke Jakarta sore ini. Ada tiket bus tapi untuk pemberangkatan besok pagi pukul 7:00. Waduh, bingung juga jadinya. Malam nanti saya mau tidur di mana? Pak Yanto menyarankan agar saya tetap berangkat berangkat besok pagi dan malam ini menginap di penginapan belakang terminal. Banyak penginapan murah di belakang terminal. Tarifnya paling tidak lebih dari Rp 75,000 semalam. Pikir-pikir saran Pak Yanto adalah jalan terbaik yang bisa saya dapat. Boleh juga nanti malam tidur dipenginapan. Bukankah saya sudah finis. Saya sudah berjanji dalam diri sendiri untuk tidak tidur di penginapan (yang berbayar) selama perjalanan besar ini.

Akhirnya saya setuju dengan saran PakYanto. Saya akan pulang dengan Bus Kramatjati besok pagi pukul 7:00 dan malam ini saya akan menginap di penginapan belakang terminal. Untuk tiket seharga Rp 320,000 belum bisa di ‘issued’ karena semua berkas ada di dalam loket yang terkunci. Pak Yanto meminta saya untuk datang ke loket besok pagi pukul 6:00 tepat. Oke, saya setuju. Selanjutnya Pak Yantio menanykan saya akan pergi ke mana setelah ini. Saya katakan kalau saya akan ke Pantai Sanur. Pak Yanto menyarankan saya untuk mengikut jalan di depan terminal ini ke arah kanan. Nanti setelah bertemu dengan jalan Bypass belok kanan lagi. Lokasi tidak terlalu jauh dari belokan ini. Beberapa orang yang ada di sekitar loket menyarankan saya untuk lewat tengah kota. Pemandangannya lebih menarik katanya. Tapi setelah saya pikir-pikir saya mengikuti saran Pak Yanto. Menurut saya jalurnya lebih gampang diikuti dan tidak ribet.

Jalur dari Terminal Ubung hingga Bypass sangat ramai. Jalan dipenuhi dengan kendaraan besar yang berjalan lambat. Diperlukan kehati-hatian ekstra berkendaraan di sini. Belum lagi kendaran kecil dan kendaraan roda dua juga tidak kalah banyaknya. Mahklum saja, ini jalur utama penghubung P. Jawa dan P. Lombok serta pulau-pulau di sisi timur P.Lombok. Bisa dikatakan ini adalah jalur nadi perekonomian sisi selatan Indonesia. Dengan sangat hati-hati saya telusiri jalan ini. Matahari bersinar dengan sangat terik. Cuaca sangat panas dan ditambah lagi asap kendaraan membuat pedal terasa berat dikayuh. Dengan susah payah akhirnya saya sampai juga di Jl. By Pass Ngurah Rai. Setelah tikungan besar saya “resmi” masuk jalan By Pass Ngurah Rai. Jalan besar dan halus ini belum juga memberikan rasanya nyaman bersepeda. Mungkin (sekali lagi) saya sudah terlalu lelah. Rasanya ingin segera sampai di Pantai Sanur.

Walau lelah, terus sepeda saya gowes secepat saya mampu. Saya ingin sesegera mungkin sampai di garis finis. Udara semakin terasa panas. Sinar matahari semakin terik menyengat kulit yang terbuka. Akhirnya saya sampai di perempatan Jl. I Gusti Ngurah Rai (By pass) – Jl. Hang Tuah dengan tanda Pantai Sanur belok kiri. Tepat di perempatan ini sepeda saya belokkan ke kiri. Terus saya susuri jalan ke arah pantai. Kira-kira 500 meter kemudian saya sampai di Pantai Sanur. Horeee…. Pantai Sanur, saya datang!. Akhir, saya finis juga di pantai paling timur dari P. Bali ini. Jarak 1,325 km sudah saya tempuh hingga saya sampai di tempat ini. Syukur saya ucapkan padaNya karena atas kekuatan dariNya saya bisa bertahan dalam segala kondisi hingga waktu dan di tempat ini. Kalau semuanya ini kekuatan dari dalam diri saya sendiri sudah pasti saya sudah kalah dari awal perjalanan. Saya percaya semua ini adalah kekuatan, perlindungan, dan berkatNya. Sepeda saya parkirkan berjejer dengan sepeda motor yang sudah terlebih dahulu diparkirkan di sini. Sejenak saya ambil waktu untuk berdoa dan bersyukur untuk semua yang boleh terjadi. Terimakasih Tuhan.

Pantai Sanur,  Jl. Hang Tuah, Bali

Pantai Sanur, Jl. Hang Tuah, Bali

Waktu menunjukkan pukul 10:45, udara terasa semakin panas. Rasa kantuk yang sangat membuat mata terasa berat dan kepala sedikit pusing. Saya rebahkan badan di tembok pinggir pantai agar badan tertidur walau hanya sejenak. Tapi walaupun badan sudah direbahkan mata tidak mau tertutup juga. Mungkin suasana pantai yang ramai penuh dengan orang lalu lalang membuat saya tetap terjaga. Banyak sekali anak-anak sekolah yang datang berwisata ke tempat ini. Tampaknya mereka berasal dari P. Jawa. Akhirnya, daripada tidak bisa tidur lebih baik saya cari makan siang. Di lokasi ini ada penjual nasi soto dan saya pilih warung ini. Di sini saya pesan nasi soto dan satu gelas kopi hitam. Selesai makan siang, sepeda saya tuntun ke pantai yang berpasir. Saya ambil beberapa foto diri bersama sepeda sebagai kenang-kenangan.

Pantai Sanur,  Jl. Hang Tuah, Bali

Pantai Sanur, Jl. Hang Tuah, Bali

Waktu belum juga menunjukkan waktu pukul 12:00. Saya sudah finis dan saya masih punya waktu hingga sore hari untuk mencari penginapan di sekitar terminal bus Ubung. Setelah saya pikir-pikir akhirnya saya putuskan untuk bersepeda ke Pantai Kuta. Tadi sesaat sebelum masuk Jl. By Pass Ngurah Rai sempat melihat petunjuk jalan yang menunjukkan Pantai Kuta berjarak 17 km. Kalau dari Pantai Sanur ini berarti jaraknya kurang dari 17 km tentunya. Kembali sepeda saya gowes ke arah Jl. By Pass Ngurah Rai. Ketika bertemu dengan jalan ini sepeda saya belokkan ke arah kiri. Kembali Jl. By Pass Ngurah Rai ini saya susuri. Suasana kering, gersang, dan panas sangat terasa. Walau kondisinya tidak terlalu nyaman, saya berusaha menikmatinya. Toch, saya tidak punya beban lagi di perjalanan ini karena saya sudah finish. Kini saatnya jalan-jalan santai. Atau boleh dikatakan ini adalah jalan-jalan piknik. Setealh menggowes tidak lebih 2 km ada petunjuk Pantai Sanur (Jl. Segara Ayu) yang lain. Sepeda saya belokkan ke arah kiri. Sesampainya di pantai suasananya begitu sepi. Tidak banyak pengunjung di sini. Mungkin saat ini matahari tepat di atas kepala, sehingga tidak banyak orang yang keluar di sekitaran pantai. Tak perlu berlama-lama disini. Setelah mengambil beberapa foto sepeda kembali saya arahkan ke Jl. By Pass Ngurah Rai. Dalam jarak tarusan meter dari pertigaan ini saya ketemu dengan Bank BCA. Ya, saya perlu ke ATM BCA untuk mengambil uang untuk membeli tiket pulang ke Jakarta.

Pantai Sanur, Jl. Segara Ayu,  Bali

Pantai Sanur, Jl. Segara Ayu, Bali

Urusan bank juga tidak terlalu lama. Tidak banyak orang yang antri di ATM ini. Kembali sepeda saya gowes ke arah selatan. Pantai Kuta tujuan akhir. Rencananya saya akan membeli kaos khas Bali untuk anak pempuan semata wayang dan mamanya tentunya. Oleh-oleh sebagai tanda kalau saya sudah sampai di Bali dengan selamat. Nanti kalau urusan kaos sudah selesai saya akan mampir sebentar ke Pantai Kuta dan kembali ke Terminal Ubung untuk bermalam. Sepeda terus saya gowes menyusuri jalanan yang gersang dan panas ini. Lama-kelamaan saya bosan juga menyusuri jalan ini. Sampai-sampai saya merasa salah jalan. Sempat saya tanyakan kepada seorang anak kecil, apakah benar ini jalan ke arah Kuta. Sang anak mengatakan memang benar ini jalan ke arah Kuta. Saya masih on the track. Tapi menurut perassan saya, saya sudah menggowes lama sekali. Mungkin sudah lebih dari 17 km tapi nyatanya kawasan Kuta tidak juga tampak. Tapi bagaimana lagi, saya tidak mungkin balik arah bukan? Dengan susah payah akhirnya saya sampai juga di Simpang Siur (Tugu Dewa Ruci). Dulu saya pernah ke Bali dalam acara outing kantor. Seingat saya dulu di sini Tugu Dewa Ruci menjadi simpang yang sangat ramai. Mungkin simpang dari 4 atau 5 jalan yang menyatu menjadi satu. Makanya simpang ini disebut Simpang Siur.

 

bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s