Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 11-d)

Selesai menghabiskan kopi, kembali sepeda kayuh. Di sisi laut tampak mendung semakin gelap. Kini saat untuk kembali ke Terminal Bus Ubung dan dari penginapan di sana. Semoga saja hujan tidak turun sebelum saya sampai di Ubung. Jujur saja saya tidak tahu sama sekali tentang jalan-jalan di P. Bali. Dengan mengikut petunjuk arah dan rajin bertanya akhir saya sampai juga di Terminal Bus Ubung. Beruntung sekali doa saya didengar Tuhan, saya sampai di Terminal Ubung dan hujan tidak jadi turun. Waktu sudah menunjukkan pukul 17:30 Kini saat mencari penginapan di belakang terminal bus. Ketika melewati loket penjual tiket, kembali saya bertemu dengan Pak Yanto yang sedang duduk di depan loket. Pak Yanto mengingatkan saya untuk datang pukul 6:00 tepat di loket ini besok pagi. Terus sepeda saya kayuh ke sebuah gang di belakang termainal seperti yang ditunjukkan oleh Pak Yanto. Di gang ini saya menemukan beberapa penginapan. Tepat di depan sebuah pasar saya berhenti di sebuah penginapan dan menanyakan apakah masih tersedia kamar kosong. Beruntung sekali di tempat ini masih ada kamar kosong dan itu satu-satunya yang masih tersedia. Menurut petugas penginapan, kamar ini tidak ada televisinya. Saya katakan tidak televisi tidak masalah buat saya. Saya hanya butuh tempat untuk mandi dan tidur saja malam ini. Tarifnya kamar ini Rp 60,000 per malam.

Trotoar jalan Pantai Kuta, Bali

Trotoar jalan Pantai Kuta, Bali

Sepeda saya masukkan ke dalam kamar. Pannier saya turunkan dan semua isinya saya keluarkan. Semua ini pannier harus diatur dan disusun ulang supaya lebih efisien dan praktis ketika naik di bus. Untuk menghemat waktu saya segera mandi. Setelah mandi semua barang termasuk baju kotor yang baru saya pakai saya susun ulang. Kira-kira 30 menit kemudian semua barang sudah teratur dengan rapi. Kini saaat untuk mencari makan. Di sisi depan pasar yang menghadap jalan saya menemukan sebuah warung nasi Jawa Timur. Saya pesan nasi pecel dengan lauk ati/ampela ayam plus jeruk hangat. Untuk menu ini saya cukup merogoh kocek Rp 7,500 saja. Murah bukan.

Selesai makan saya berencana mencari oleh-oleh di depan terminal. Ketika keluar warung nasi, tepat di depan warung nasi ada lapak yang ramai dikelilingi oleh banyak orang. Iseng-iseng saya mendekat dan ternyata lapak ini adalah lapak judi bola. Sebuah lembaran plastik bertulisan sejumlah angka dikelilingi oleh banyak orang. Orang-orang tersebut meletakan uang di angka-angka yang mereka pilih di lembaran plastik ini. Di sisi lain seseorang duduk (bandar) menghadap papan bertuliskan angka seperti yang di lembaran plastik. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Sebuah bola digelindingkan dari sisi papan. Ketika bola berhenti di atas sebuah angka berarti angka tersebut adalah angka yang keluar dan menang. Orang yang memasang uang di angka di atas lembaran plastik tersebut akan dibayar oleh bandar. Saya tidak tahu pasti angka pengali yang diperoleh oleh pemenang. Bagi yang tidak menang, uangnya akan ditarik/diambil oleh bandar.

Saya tersenyum sendiri melihat tingkah laku orang-orang di tempat ini. Persis di sebelah lapak judi bola, saya menemukan penjual lotre. Lotre ini lebih mirip penjual permen telur cicak (permen yang terbuat dari sebutir kacang berbalutkan gula dengan warna yang beraneka ragam). Bentuknya mirip dengan telur cicak dan oleh sebab itu permen ini disebut dengan permen telur cicak. Beberapa butir permen dibungkus plastik dan dilipat. Di ujung lipatan ada kertas kecil yang dilipat dan disteples dengan rapat pada selembar karton tebal. Di bagian atas lembaran ada sejumlah hadiah yang turut ditempelkan. Jika membeli permen ini dan kalau beruntung di kertas tersebut ada tertulis angka. Berikutnya tinggal mencari angka yang tertulis pada hadiah yang ditempelkan di bagian atas lembaran karton dan hadiah tersebut diserahkan kepada pembeli permen. Hadiah yang tampak di di sini adalah berbagai jenis rokok kretek, dvd player, dan handphone dengan merek yang tidak terkenal tentunya.

Jujur saja, saya menemukan permainan seperti ini terkahir kali berpuluh tahun yang lalu. Mungkin ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Di tempat keramaian terutama tontonan seperti pagelaran wayang, ludruk, ketoprak, atau janger selalu saja ada bandar yang menggelar judi seperti ini. Hanya saja bedanya, di tempat saya waktu kecil orang tidak menggunakan bola, terapi menggunakan dadu yang bisa kami sebut judi koprok ” (huruf “O” dilafalkan seperti dalam kata “kodok”). Empat buah dadu dikocok dalam sebuah kotak kayu dan terdengar suara “klothok” (huruf “O” dilafalkan seperti dalam kata “mobil”). Karena bunyi demikian sering pula judi ini disebut judi klothok. Sedangkan untuk judi lotre cukup banyak tersedia di warung-warung kelontong seantero desa. Bahkan di warung-warung jajan dan main anak-anak di sekitar sekolah juga tersedia. Buat anak-anak kala itu, hal ini bukan dianggap judi karena anak-anak membeli permen dengan kemungkinan mendapat hadiah sebagai bonus. Saya sampai saat ini masih terkagum-kagum dengan kedua permainan yang saya lihat ini. Di sekitar saya tinggal, baik di Sumatra maupun di Jawa saya tidak pernah melihat kedua permainan ini sejak saya duduk sekolah dasar. Justru setelah dewasa menemukan keduanya di P. Bali.

Satu lagi yang menarik. Di deretan warung arah terminal, masih sejajar dengan warung nasi tempat saya makan tadi ada satu atau dua kios penjual tembakau. Berbagai jenis tembakau dalam kantong plastik dipajang di kios ini. Aroma harum tembakau begitu kuat tercium di jalan depan kios. Dulu kala saya masih kecil sangat umum orang-orang dewasa melinting rokok sendiri sebelum menghisapnya. Melinting rokok sendiri kala itu disebut ‘tingwe’ alias ‘mlinting dewe’ (melinting sendiri). Kalau sekarang orang tinggal datang ke warung untuk membeli satu bungkus rokok, buka bungkusnya, sambil satu batang, bakar dengan api, dan hisap. Kalau dulu orang sudah biasa ke mana-mana membawa kira-kira dua genggam tembakau, kertas rokok (paper), dan rempah-rempah rokok. Sebelum merokok orang harus mengambil kertas rokok dan diisi dengan tembakau. Di atas tembakau ditaburi dengan rempah-rempah rokok seperti cengkeh. Tapi tidak jarang pula orang menambahkan bubuk klembak dan kemenyan. Tembakau kemudian digulung dengan padat. Besar kecilnyan gulungan tergantung dari banyak sedikitnya tembakau serta tergantung dengan selera masing-masing. Nah, gulungan ini yang dibakar dan dihisap. Cara merokok ini sangat umum ditemui hampir di semua tempat. Bahkan ketika saya duduk di bangku SMA (tahun 90an) saya masih melihat orang merokok dengan cara ini, termasuk orang-orang bule yang saya kenal. Selain itu tembakau juga bisa digunakan para ibu yang mengunyah sirih. Selesai mengunyah sirih mulut yang merah karena buah gambir dibersihkan dengan sejumput tembakau gulung dengan diamater kira-kira 3-4 cm. Tembakau pembersih ini biasa disebut “susur”.

Sama seperti judi yang tersebut di atas, saya tidak pernah lagi menjumpai pedagang tembakau semacam ini sejak duduk di sekolah dasar, baik di Sumatra ataupun di Jawa. Tetapi di sini, kembali saya menemukan ingatan yang lama terpendam. Sangat mungkin di Sumatra dan di Jawa tidak ada konsumen tembakau seperti ini lagi. Kalau di P. Bali masih ada penjual tembakau berarti masih ada konsumen atau pembeli tentunya. Dengan kata lain perokok dengan cara melinting sendiri atau ibu-ibu yang mengunyah sirih (mungkin) masih banyak di sini. Atau tembakau untuk keperluan yang lain selain yang saya sebutkan di atas. Ah, itu hanya logika sederhana yang terlintas dalam pikiran saya.

Selesai melihat-lihat saya suasana pasar saya menuju depan termainal. Saya inginmencari oleh-oleh khas Bali, kacang asin dan brem cair khas Bali. Beberapa toko saya tanyakan kedua jenis oleh-oleh ini dan tidak ada satupun toko yang menjualnya. Justru saya memperoleh oleh-oleh ini di deretan kios-kios dalam terminal dengan harga yang relatif mahal. Oleh-oleh sudah di tangan kini saatnya kembali ke penginapan untuk istirahat tidur.

Di penginapan saya menulis catatan perjalanan untuk hari ini. Secara keseluruhan ada perasaan lega. Semua niat saya sudah terlaksana dengan baik. Terimakasih banyak Tuhan! Selanjutnya adalah perjalanan pulang. Semoga semua nya dapat berjalan dengan baik, sehingga saya bisa sampai rumah dengan selamat dan bertemu dengan malaikat-malaikat yang cantik. Badan saya rebahkan dan tidak lama kemudian saya tertidur.

Berikut ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

 

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Nasi + sayur + ikan peda + kopi + teh manis

17,000

Pocari Sweat (Indomaret Bajera)

6,000

Buah potong (terminal Ubung)

5,000

Nasi soto + kopi (pantai Sanur)

11,000

Kopi hitam Bali + kopi hitam instant

4,000

Kaos Joger (3 pc)

193,000

Pocari Sweat (penginapan)

6,000

Nasi pecel + ati/ampela + jeruk hangat

7,500

Kacang dan brem Bali

186,000

Penginapan

60,000

Total :

495,500

 

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time)

7:10:08

DST (Trip Distance in km)

116.03

AV (Everage Speed in km/hr)

16.1

MX (Maximum Speed in km/hr)

54.2

CAL (Calorie Consumption in kcal)

1557

CO2 (Carbon Offset in kg)

17.40

ODO (Total Distance in km)

1356

 

 

Serpong, 4 Jun 2015

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s