Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 12 dan 13)

Tepat pukul 4:00 WITA, saya sudah terbangun. Untuk menghemat waktu, cepat-cepat saya mandi. Selesai mandi saya hanya perlu mengemasi alat mandi dan baju tidur yang saya pakai semalam. Barang-barang lain sudah saya kemas dengan rapi semalam. Sehingga pagi ini barang yang saya kemasi tidak banyak lagi. Selesai mengemasi barang saya keluar penginapan untuk mencari sarapan pagi. Di depan penginapan persis di depan pasar, warung-warung nasi masih tutup semua. Belum tampak satupun yang buka. Karena warung-warung ini masih tutup, saya berjalan ke arah Terminal Ubung. Dalam benak saya pasti di terminal ada banyak warung nasi yang buka. Tepat sebelum terminal ada warung nasi yang sudah buka. Saya hentikan langkah di warung ini. Seporsi mie instant rebus dan segelas kopi hitam saya pesan. Ketika menu keluar cepat-cepat saya makan walau mie instant masih relatif panas. Saya sudah janji dengan Pak Yanto petugas Bus Kramatjati untuk datang pukul 06:30 dan saya tidak mau tertinggal bus. Kira-kira 20 menit kemudian saya kembali ke penginapan. Saya segera check out dari penginapan. Kunci saya kembalikan dan KTP saya terima kembali dari pihak penginapan.

Sepeda saya tuntun keluar penginapan. Tas-tas panier sudah tidak saya pasang di boncengan belakang lagi. Panier saya gantungkan di stang sepeda sehingga nanti di terminal tidak perlu membongkar lagi. Jarak antara penginapan dan terminal hanya beberapa ratus meter saja. Tidak dibutuhkan waktu lama untuk sampai di terminal. Sesampainya di terminal Pak Yanto sudah berada di ruang loketnya. Segera biaya tiket saya selesaikan dan dengan sigap kru Bus Kramatjati membantu memasukan sepeda dan pannier ke dalam bagasi. Tidak sampai 10 menit semua barang penumpang sudah masuk bagasi. Sayapun segera naik ke atas bus dan duduk di bangku yang sudah ditentukan oleh petugas. Tepat pukul 07:00 bus mulai berjalan meninggalkan terminal. Dalam hati saya berdoa dan bersyukur bahwa saya sudah boleh menyelesaikan perjalanan ini lengkap dengan suka dan dukanya. Saya juga mohon perlindunganNya dalam perjalanan pulang ini. Semoga semuanya lancar dan bisa sampai di rumah dengan selamat. Sementara itu bus terus melaju. Jalan-jalan yang dilalui bus kemungkinan besar sama dengan jalan-jalan yang saya lalui kemarin tetapi saya tidak mengenali jalan-jalan ini. Bus terus melaju meninggalkan Denpasar menuju Pelabuahan Gilimanuk.

Penempatan sepeda di bagasi bus

Penempatan sepeda di bagasi bus

Bus Kramatjati yang akan membawa saya pulang ke rumah

Bus Kramatjati yang akan membawa saya pulang ke rumah

Dalam perjalanan ini saya mulai mengantuk tapi mata tidak mau dipejamkan sama sekali. Dengan terpaksa saya mengamati pemandangan sepanjang jalan. Tanpa terasa bus sampai di kawasan Tabanan. Tepat di pertigaan besar dengan tugu di tengahnya bus belok ke kanan dengan memutari tugu ini. Tak jauh dari pertigaan ini ada terminal kecil. Nama terminal ini kalau tidak salah Terminal Pesiapan. Di sini bus berhenti tidak lebih dari 3 menit. Ada satu atau dua penumpang yang naik. Bus kembali berjalan ke arah tugu. Tepat sebelum tugu, lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Saya memandang keluar tepat di sisi bus kiri. Kebetulan saya duduk di sisi paling kiri dan deretan paling paling dekat dengan pintu belakang. Saya perhatikan batu agak besar di situ. Kemarin saya duduk di situ dengan kondisi kelelahan. Di situ pula kemarin saya sempat ambil beberapa foto. Ya, saya kemarin ada di situ. Batu ini menjadi saksi bisu kalau saya pernah mendudukinya. Mendudukinya dalam waktu relatif lama karena terlalu lelah. Sekarang saya memandanginya dari atas bus. Ada berbagai rasa bercampur aduk di hati antara sedih, senang, bahagia, dan syukur. Setelah lampu lalu lintas menunjukan warna hijau kembali bus belok ke kanan melaju ke arah Pelabuhan Gilimanuk. Selepas dari titik ini saya tertidur walau tidak terlalu pulas. Saya terbangun ketika bus berhenti tidak jauh sebelum Pelabuhan Gilimanuk. Beberapa paket dinaikkan ke atas bus. Beberapa penumpang turun untuk pergi ke toilet. Saya pun ikut turun untuk pergi toilet. Kira-kira 10 menit kemudian bus kemabali melaju. Tidak berapa lama kemudian bus sudah masuk kawasan Pelabuhan Gilimanuk.

Area parkir Pelabuhan Gilimanuk,Bali dilihat dari atas kapal

Area parkir Pelabuhan Gilimanuk, Bali dilihat dari atas kapal

Kawasan pelabuhan boleh dikatakan sepi. Saat bus yang saya naik parkir di area pelabuhan, tidak ada bus lain di sini. Bus cukup lama parkir sebelum memasuki kapal mungkin lebih dari 30 menit. Akhirnya bus memasuki kapal ferry. Di atas kapal saya turun dari bus untuk berkeliling melihat suasana kapal. Perlahan-lahan kapal meninggalkan Pelabuhan Gilimanuk. Kapal bergerak jauh ke utara sebelum berbelok ke arah barat. Mungkin untuk menyiasati arus Selat Bali yang kuat. Dengan kondisi seperti ini kapal tidak mungkin mengambil arah garis lurus ke arah barat menuju Pelabuhan Ketapang. Kalau kapal mengambil arah lurus ke barat, kapal akan terbawa arus laut ke arah selatan. Dengan demikian kapal akan tiba di pesisir P. Jawa jauh di selatan Pelabuhan Ketapang.

Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur dilihat dari atas kapal

Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur dilihat dari atas kapal

Kapal terus melaju ke arah utara dengan melawan arus yang kuat hingga di titik tertentu kapal berbelok ke arah kiri. Ketika kapal mendekati Pelabuhan Ketapang, kapal cukup lama tertahan di laut sebelum bisa bersandar di dermaga. Tampaknya tidak ada dermaga ferry yang kosong. Saya perhatikan beberapa kapal LCT (Landing Craft Tank) jauh lebih cepat bersandar di pantai. Hal ini tampak dari beberapa kapal LCT yang berada di kapal ferry ini lebih dulu sandar, bahkan tampak ada kapal LCT yang sudah menyeberang lagi ke arah P. Bali. Beruntung saat menyeberang ke P. Bali beberapa hari yang lalu saya naik kapal LCT. Jadi saat itu tidak banyak waktu yang terbuang jika dibandingkan dengan naik kapal ferry. Perut mulai terasa lapar dan kira-kira pukul 12:00 WIB kapal bisa sandar dan bus melanjutkan perjalanan lagi. Bus melaju dengan sangat cepat. Ketika bus memasuki kawasan Taman Nasional Baluran saya kembali tertidur pulas. Saya tidak ingat apa-apa lagi. Saya terbangun ketika bus memasuki sebuah rumah makan. Bus berhenti di Rumah Makan Puritama, Situbondo. Rumah makan tampak sepi sekali. Di situ ada dua bus lain yang terparkir untuk makan siang. Tampaknya rumah makan ini adalah rumah makan yang tersisa dari sisa kejayaan bus antar pulau atau antara provinsi. Angkutan bus, terutama antar provinsi sudah hancur dengan banyaknya penerbangan bertarif murah. Hal ini tampak dari konsidi rumah makan yang sepi, kusam, dan kurang terawat.

Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Suasana depan Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Suasana depan Rumah Makan Puritama, Situbondo, Jawa Timur

Semua penumpang bus turun untuk makan siang. Penumpang mendapat jatah makan siang dari pihak bus. Menu makanannya sangat sederhana sekali. Menu makan siang berupa nasi, mie, sayur asam, tahu, ayam, sambal, dan teh botol. Selain makan penumpang juga pergi untuk urusan belakang (toilet). Kira-kira 45 menit kemudian bus mekanjutkan perjalanan. Sebelum naik bus saya menyempatkan diri untuk membeli makanan kecil untuk berjaga-jaga kalau jam makan malam molor lagi. Siang ini saja jam makan siang molor sampai pukul 13:45. Setelah bus melaju, saya kembali tertidur. Sesekali terbangun ketika bus berhenti untuk menaikkan penumpang atau paket. Yang saya ingat, di kawasan antara Situbondo – Probolinggo ada seorang (maaf) kakek bersama dengan wanita muda yang menggendong anak kecil berumur kira-kira 1.5 tahun naik bus ini. Saya sempat berfikir yang tidak-tidak aja. Sang wanita muda duduk di blok kanan sederet dengan bangku yang saya duduki, sedangkan sang kakek duduk di bangku paling belakang.

Di kawasan Probolinggo dua orang naik dengan membawa jerigen (jerry can) 20 liter yang berisi cairan bening. Jerigen dimasukkan di bagasi. Salah seorang dari mereka duduk di sisi saya. Selanjutnya bus berhenti untuk menaikkan beberapa kardus dalam bungkusan besar. Tetapi saya tidak tahu persis lokasinya. Di sepanjang jalan saya banyak teridurnya dan baru terbangun lagi di kawasan Sidoarjo saat jalanan macet parah dan hari sudah gelap. Perut mulai terasa lapar, tapi belum ada tanda-tanda bus berhenti untuk makan malam. Untungnya, saya kembali tertidur sehingga perut lapar tidak terasa. Mungkin saya sudah kelelahan setelah bersepeda selama 10 hari sehingga tubuh memaksa untuk mengistirahatkan diri. Kira-kira pukul 24:00 bus berhenti untuk makan malam (tanpa makan sore tentunya). Belakangan kru bus mengatakan kepada saya kalau bus terkena macet parah yang lama di sekitar Sidoarjo dan Gresik. Kali ini bus singgah di Rumah Makan Mitra di kawasan Rembang. Menu makan malam di sini juga teramat sederhana. Sama dengan makan siang tadi, nasi dengan kualitas beras yang rendah, mie, sayur tahu, opor ayam, sambal, dan teh tawar. Tapi sudahlah tidak usah dipikirkan, yang penting makan kenyang dan tidak kelaparan.

Rumah Makan Mitra, Rembang, Jawa Tengah

Rumah Makan Mitra, Rembang, Jawa Tengah

Selesai istirahat makan bus melanjutkan perjalanan lagi. Lagi-lagi saya tidur dengan pulas. Saya terbangun ketika bus mengisi bahan bakar di kawasan Weleri. Di sini saya sempat turun untuk ke toilet. Rasanya saat itu waktu sudah menjelang subuh. Tapi beruntung di atas bus kembali saya tidur dengan pulas sekali. Menjelang matahari terbit saya terbangun. Penumpang di sebelah saya mengajak ngobrol. Ternyata beliau ini adalah tukang yang baru pulang kerja dari kawasan Probolinggo. Jerigen yang dia bawa berisi cairan thinner. Dalam hati saya sempat berfikir, semoga saja jerigen ini tidak bocor dan menimbulkan kebakaran. Kedua tukang ini turun di kawasan Tegal. Setelah Tegal kembali bangku di sebelah kanan saya kosong.

Hari semakin siang. Matahari semakin tinggi. Bus tetap menderu melaju dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan waktu pukul 09:00, perut juga semakin lapar rasanya. Akhirnya di kawasan Indramayu bus berhenti untuk beristirahat. Kali ini bus berhenti di rumah makan Singgalang Jaya. Semua penumpang berebut ke toilet. Saya juga turut serta dalam antrian kamar mandi. Pagi ini tak perlu mandi, cukup cuci muka dan gosok gigi saja. Selesai urusan mandi langsung makan pagi. Masih seperti makan semalam dan kemarin, menunya cukup sederhana. Menu berupa nasi, sayur, tempe, ayam goreng, orek kentang, dan teh tawar. Di sini ukuran ayam gorengnya kecil sekali dan tiap orang hanya boleh ambil satu potong. Tidak lama kemudian, setelah selesai makan, saya keluar untuk membeli kopi. Masih bagian dari rumah makan ini, kopi seduh instant di jual dengan harga Rp 5,000. Wuih, harga yang fantastis. Luar biasa! Berhubung tidak ada pilihan lain, terpaksa saya merogoh kantong.

Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Sambil menikmati kopi dalam gelas plastik, saya berjalan-jalan di depan rumah makan ini. Tampak jelas sekali kalau rumah makan ini sepi bahkan dapat dikatakan hampir mati. Suasana lingkungan rumah makan sangat tidak terurus. Bangunan rumah makan juga tampak kusam. Saat saya makan di tempat ini tidak ada bus lain selain bus yang saya naiki. Tampaknya jaman keemasan bus antar kota sudah benar-benar habis. Tahun 1980-2000 rasanya masa jaya angkutan bus jarak jauh. Kala itu jalur pantura dipadati dengan bus-bus jarak jauh. Banyak rumah makan di sepanjang jalur ini yang selalu dipadati dengan bus-bus yang berhenti untuk makan atau sekedar istirahat. Tapi sekarang kejayaan angkutan darat ini sudah terganti dengan angkutan udara atau angkutan kereta api. Secara otomatis ekomoni jalur ini jauh mengendur dibandingkan dengan waktu ini.

Suasana depan Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Suasana depan Rumah Makan Singgalang Jaya, Indramayu, Jawa Barat

Saat hendak kembali naik ke atas bus sang kru bus memberitahu saya kalau sepeda dinaikkan di atas bus. Sebelumnya, sepeda diletakkan dalam bagasi di kolong bus. Saya tanyakan apakah posisinya aman. Dia jawab aman. Semalam sepeda terpaksa dinaikkan ke atas bus karenanya banyaknya angkutan paket. Ketika naik ke atas bus saya baru tahu kalau sepeda diletakkan dalam kabin bus. Sebelumnya, saya mengira sepeda diletakkan di atas atap bus. Maka saya sangat khawatir dengan keamanannya. Sepeda diletakkan persis di belakang tempat duduk saya. Belakang bangku saya adalah pintu belakang bus. Di atas tangga dipasangi papan sehingga tangga tertutup dengan papan yang rata dengan lantai bus. Di tempat ini terdapat banyak barang kiriman termasuk sepeda saya.

Sepeda yang sudah dipindahkan ke dalam kabin bus

Sepeda yang sudah dipindahkan ke dalam kabin bus

Bus kembali melaju ke arah Jakarta. Bangku sebelah kanan saya kosong. Kakek yang tadi duduk di belakang pindah di sebelah saya. Dia mulai becanda dengan anak kecil yang digendong oleh wanita muda yang naik bus ini bersama-samanya. Sekali-kali ngobrol dengan wanita muda tersebut. Setelah duduk agak lama dia mengajak ngobrol saya.

“Dari mana, Dik ?” tanyanya.

“Dari Bali, Pak” jawab saya.

“Sekarang mau ke mana?”

“Serpong, Tangerang Selatan.”

“Tugas di Bali?” lanjutnya

“Tidak Pak, saya baru menyelesaikan bersepeda dari Serpong ke Bali”

“Oh, jadi sepeda yang di belakang itu sepeda Anda”

“Iya” jawab saya singkat.

Tiba-tiba dengan suara keras dia bilang ke wanita muda yang duduk di seberang kanannya. “Sepeda itu punya bapak ini! Sepeda itu punya bapak ini!” Wanita itu hanya tersenyum dan saya jadi malu.

Bapak itu akhirnya bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Ia mengatakan kalau dirinya baru pulang menengok ayahnya yang sakit. Usia ayahnya sudah 90 tahun lebih sementara dirinya sendiri sudah berumur 70 tahun. Ayahnya sakit karena jatuh dari pohon saat memotong dahan pohon. Sebelumnya sudah diingatkan oleh cucu yang tinggal bersamanya untuk tidak memanjat pohon tapi sang kakek tetap nekat. Akhir sang kakek jatuh dari pohon. Kakek yang duduk bersama saya ini berusaha menyempatkan diri menengok ayahnya selagi masih ada kesempatan. Karena dirinya sudah cukup tua, dalam perjalanan ini ia terpaksa diantar oleh anak perempuan dan cucunya. Kakek ini tampak gagah dan sehat walau usianya sudah 70 tahun. Bahkan tadi saya melihat sendiri beliau makan karang goreng. Giginyapun tampaknya masih kuat. Wah, hebat sekali.

Lebih lanjut lagi dia bercerita, dulu ia tinggal di sekitaran Terminal Bus Pulogadung. Usaha di sekitaran terminal. Tapi dilihatnya perkembang anak-anaknya tidak sehat dengan lingkungan terminal. Anak-anaknya dengan mudah bisa mendapatkan uang. Caranya bermacam-macam, entah dengan berjual minuman, koran, atau jadi penyemir sepatu. Dia berfikir kondisi ini tidak baik untuk perkembangan mental dan jiwa anak-anaknya. Oleh sebab itu dia memutuskan pindah ke kawasan Cibinong. Di sanalah dia membesarkan anak-anaknya. Saat ini anak-anaknya sudah bekerja dan sudah menikah semua. Tapi sang istri sudah lama meninggal. Anak-anaknya menyarankan agar dia menikah lagi supaya ada yang mengurus dirinya. Tetapi sang kakek ini tidak memilih untuk tidak menikah lagi. Dia lebih mencintai anak-anaknya. Menurutnya, kalau dia menikah lagi pasti akan muncul jarak antara dirinya dengan anak-anak dan anak-anak dengan ibu tirinya. Kondisi ini akan memunculkan banyak masalah-masalah baru. Dia lebih senang dengan kodisi seperti ini yang selalu dekat dengan anak-anaknya. Dalam hati saya hanya bisa merenungkan apa dia katakan. Akhirnya setelah lama mengobrol kakek yang bercelana panjang blue jeans pindah lagi ke bangku paling belakang. Dan saya kembali teridur.

Saya terbangun ketika bus berada di tol Cikampek Km 54. Waktu menunjukkan pukul 11:45. Di luar tampak mendung tebal. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras. Rencananya bus ini akan ke Terminal Rawamangun terlebih dahulu. Baru kemudian ke terminal Pulogadung dan setelah itu ke Terminal Lebak Bulus. Rencananya saya akan turun di Terminal Lebak Bulus. Hujan berhenti ketika bus masuk wilayah Jakarta. Bus terus melaju tol dalam kota dan akhirnya bus berhenti di Terminal Rawamangun tepat pukul 13:00. Banyak penumpang yang turun di terminal ini. Sebelumnya banyak juga penumpang yang turun di sekitar Brebes dan Cirebon. Berhubung tidak ada penumpang yang turun di Terminal Pulogadung, bis langsung menuju Terminal Lebak Bulus. Bus melaju dengan menggunakan jalan tol dan tidak menggunakan jalur arteri, sehingga bus tiba di terminal lebak bulus dalam waktu yang relatif singkat.

Bus masuk Terminal Lebak Bulus tepat pukul 13:45. Sepeda dan tas-tas pannier saya turunkan dan sepeda saya tuntun ke depan terminal. Rencananya saya akan menyewa angkot untuk mengantar saya ke BSD. Dari beberapa angkot yang saya mintai tolong untuk mengantar tidak ada satupun yang mau. Alasanya jauh. Dengan terpaksa panier saya naikkan ke atas boncengan sepeda lagi. Saya kembali akan menggowes sepeda untuk pulang. Di situ ada tukang ojek yang bertanya:

“Mau ke mana Pak?”

“BSD, Serpong” jawab saya.

“BSD sektor berapa, Pak ?”

Saya menyebutkan satu sektor di perumahan BSD, termasuk nama kelurahan. Dia langsung menyebut blok tempat tinggal saya. Dan saya mengiyakan. Ternyata dia warga satu kelurahan dengan saya. Orang tua dan keluarganya masih tinggal di perkampungan tepat di sebelah komplek rumah tinggal saya. Bahkan kakaknya bekerja sebagai tenaga security di blok saya dan salah seorang kakaknya yang lain anggota security di blok sebelah blok tempat tinggal saya. Akhirnya dia mengawarkan untuk mengantar. Wah, bagaimana cara mengantar saya bersama sepeda dengan dengan kendaraan motor roda dua? Dengan halus tawarannya saya tolak. Kebetulan juga semua pannier sudah terpasang dengan kuat dan rapi di atas boncengan sepeda.

Kembali sepeda saya gowes menuju arah Ciputat, tepat di perempatan Sekolah Polwan sepeda saya belokkan ke arah kanan menuju Kebayoran lama. Tidak jauh dari Gedung Fedex bertemu dengan Jl. Deplu terus hingga bertemu Jl.Veteran. Tidak jauh dari petigaan ini bertemu dengan pertigaan Jl. Kesehatan. Terus lurus hingga melewati kolong rel kereta api, Plaza Bintaro, dan rumah sakit Bintaro. Dari rumah sakit ini ambil jalan arah Sektor 9 Bintaro yang tembus dengan Jl. Jombang Raya. Tiba di perempatan Jl. Jombang Raya ambil arah kiri yang menuju Stasiun Kereta Sudimara atau Pasar Jombang. Sebelum stasiun kereta ada jalan ke arah kanan yang biasa disebut dengan kawasan Rawalele. Ambil jalan ini terus lurus hingga melewati Jalur Pipa gas dan muncul di kawasan BSD Sektor 14. Keluar Sektor 14 tepat di sebelah Kantor Pos BSD persis seberang sekolah Santa Ursula. Dari sini sepeda saya arahkan ke gereja yang letaknya tidak jauh dari sini.

Petunjuk arah jalan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Petunjuk arah jalan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Suasana jalan di Kawasan Bintaro, Tangerang Selatan

Suasana jalan di Kawasan Bintaro, Tangerang Selatan

Sesampainya di gereja, sebelum masuk gereja saya membersihkan diri di kamar mandi dan berganti baju. Di dalam gereja saya lepaskan semua yang saya rasakan ke hadiratNya. Segala syukur, terima kasih atas segala kemurahanNya dan perlindungan yang telah diberikan. Saya juga boleh berjalan bersamanNya dalam perjalanan panjang ini. Selama perjalanan ini saya sungguh merasakan kehadiranNya. Dia hadir begitu dekat. Banyak kesulitan selama perjalanan (yang saya percayai) dimudahkan seperti kemudahan memperoleh penginapan, memperoleh makan, sepeda tanpa masalah sama sekali, dan masih banyak hal lainnya. Juga saya merasa di temani dalam kesepian dan kesunyian, bahkan saya merasa Ia banyak mengisi ruang-ruang kosong dalam hati. Perjalanan ini adalah sungguh perjalanan spritual, bukan sekedar jalan-jalan piknik. Ini adalah kemurahan lain yang boleh saya alami dan nikmati. Sunggu besar kemurahanNya dan saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih untuk semuanya ini. Amin.

Selesai berdoa sepeda kembali saya kayuh. Kali ini perjalanan pulang ke rumah. Rasanya semua sudah saya selesaikan. Ada rasa lega dan plong di hati. Tidak lebih dari 15 menit saya sudah sampai di rumah. Tepat pukul 15:45 saya sampai di rumah. Speedo meter menunjukkan angka 1377. Ya, saya sudah mengayuh sejauh 1377 km. Istri dengan wajah khawatir menyambut di pintu rumah, saya cium dan peluk erat-erat. Tak terasa air mata menetes dari sudut-sudut mata.

Posisi terakhir odometer saat tiba di rumah

Posisi terakhir odometer saat tiba di rumah

Seperti tulisan sebelumnya, berikut ini saya lampirkan catatan pengeluaran untuk hari ini dan data yang dikeluarkan oleh speedo meter Cateye Velo 9.

Data pengeluaran (dalam rupiah) adalah sebagai berikut:

Tiket penumpang Denpasar – Jakarta 320,000
Tiket sepeda Denpasar – Jakarta 250,000
Sarpan mie instant + kopi hitam + 2 bungkus keripik pisang 9,000
Nasi + mie + sayur asam + tahu + ayam + teh (Rm Puritama, Situbondo) 0
Toilet 1,000
Makanan kecil 10,000
Nasi + mie + sayur tahu + opor ayam + teh (Rm Mitra, Rembang) 0
Aqua sedang + toilet 5,000
Toilet pom bensin Weleri 1,000
Nasi + sayur + tempe + ayam goreng + orek kentang + teh (Rm Singgalang Jaya, Indramayu) 0
Es cendol (3 bungkus) BSD 15,000
Total : 611,500

Data speedo meter Cateye Velo 9 adalah sebagai berikut:

TM (Elapsed Time) 1:14:08
DST (Trip Distance in km) 20.92
AV (Everage Speed in km/hr) 16.1
MX (Maximum Speed in km/hr) 54.2
CAL (Calorie Consumption in kcal) 235
CO2 (Carbon Offset in kg) 3.14
ODO (Total Distance in km) 21

 

Serpong, 10 Nov 2015

11 Responses to Bersepeda Jawa-Bali: Sebuah Catatan Bikepacker (Hari ke 12 dan 13)

  1. Ikhsan says:

    Selesai sudah membacanya. Sungguh perjalanan yg luar biasa. Salut !

    • Rudi K says:

      Terimakasih.🙂

      Ini perjalanan yang biasa saja. Yang paling penting saya belajar untuk mengalahkan diri sendiri.

  2. Teble says:

    Inspiratif, keren, detail, dokumentasi komplit… T.O.P B.G.T…

    • Rudi K says:

      Sebetulnya catatan ini tidak terlalu detail. Kebetulan saya tidak bisa menulis dengan baik. Jadi saya menulis hanya untuk catatan saja. Syukur kalau catatan ini berguna untuk Teman-teman yang lain.

      Terimakasih banyak

  3. Wijayanto says:

    Sudan selesai says bava semua Om Rudi Kismo, inspiratif jadi pengen ke Bali juga om,

    • Rudi Kismo says:

      Sekarang tinggal bulatkan tekad, kuatkan semangat, dan percaya maka semuanya akan terjadi dengan sendirinya.

      Selamat bersepeda …

  4. Bayu Adhiwarsono says:

    Dear, Pak Rudi.

    Saya sempat baca tulisan Pak Rudi beberapa bulan lalu, saya tak sanggup berhenti baca, sejak Bagian Pertama. Saya selesaikan membaca semua bagian dalam 1 malam. Kalau tak salah, waktu itu tulisannya baru sampai bagian di mana Pak Rudi bermalam di Bali, belum sampai bagian pulangbke Jakarta.

    Sejak saat itu pula, keinginan saya untuk gowes jarak jauh, semakin tebal.

    Dan akhirnya, bulan lalu saya memberanikan diri gowes Jakarta-Bandung (sebuah perjalanan yg tadinya baru akan saya lakoni Idul Fitri 2016 nanti). Sepanjang jalan, ketika rasa putus asa hampir menyelimuti saya, saya selalu teringat tulisan Pak Rudi. Dan akhirnya, setelah menempuh 17 jam 30 menit perjalanan (moving time: 10 jam), saya pun sampai di Bandung.

    Terima kasih sudah menjadi inspirasi saya, Pak.

    Mudah-mudahan suatu hari nanti kita bisa bersua. Dan mudah-mudahan suatu hari saya juga bisa gowes sejauh Pak Rudi.

    Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s